Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c24


__ADS_3

Mungkin orang lain akan marah, tapi Andara tidak! setelah Saka mengantar pulang Andara kembali ke apartemen. Dengan janji akan mengembalikan sepeda Andara besok pagi.


Saka memang telah mengobati luka pada lutut Andara, tapi sedikit goresan di hatinya tidak! Meski Andara tidak marah atau kesal tapi Tuhan tau jika ada sedikit celah kekecewaan di hatinya pada Nanta.


Kenapa tidak bilang saja jika ia ada janji lain. kenapa harus memakai alasan menemani kakek untuk menghindari janji bersepeda hari ini. Pernyataan itu ada di hatinya sejak tadi, sedikit gelisah tapi tak mau mengakui.


Siapa wanita yang bersama kekasihnya tadi?. pertanyaan itu bahkan selalu muncul di kepalanya. Tapi tetap saja Andara tak ingin mengakui pada dirinya sendiri jika ia cemburu dan kecewa.


Kakinya melangkah perlahan memasuki lorong menuju pintu apartemennya. Matanya terpaku pada pemandangan senja melalui dinding sampingnya itu. Menoleh tanpa ingin melihat jalan di depannya. Senja itu seperti senyum manis milik Nanta.


Hatinya ragu, apakah Nanta sengaja membohonginya? tidak mau terlalu memikirkannya lagi, dia berjalan lebih cepat. Membuka pintu dan menutupnya. Berbalik memperhatikan ruangan gelap dan sunyi.


Dara tidak takut karena ia biasa sendirian di apartemen ini dan saklar lampu itu tepat di sebelah pintu.


Klik


Lampu menyala tapi sepi tak berubah, senyum tipis melihat Mian menyambutnya semangat. Berlari menubruknya meminta untuk di gendong. Menjilat tangannya saat di angkat, Andara merasa bersalah meninggalkannya terlalu lama sendirian.


'meong'


Mian menatap mata Andara memelas. Andara mengerti jika Mian pasti kelaparan. Mengusap kepalanya, lalu membawa Mian ke dapur.


"Wah kau sangat lapar hmm? baiklah makan perlahan." Mian makan dengan lahap, Andara terkekeh melihat kucing itu makan dengan lahap.


"Baiklah, aku akan mandi. Tunggulah di sini!" anggap saja Mian mengerti, Karena hanya ada Mian di sana.


Melepaskan bajunya sambil berjalan menuju kamar mandinya. Melepaskan ikat rambut melemparkan ke sembarang. Saat akan berendam ia menengok bayangannya di cermin kamar mandi. Lalu tersenyum, berusaha membuat hatinya merasa lebih baik.


Menyalakan shower dengan pengaturan air hangat, Ia tidak jadi berendam karena tak ingin berlama-lama, takut lukanya tidak bisa terendam air terlalu lama.


Andara menyelesaikan mandinya dengan cepat, memakai kaos lengan pendek dan hotpants. Menenggelamkan badannya di bawah selimut, tapi ia baru ingat jika rambutnya masih basah. Terpaksa keluar lagi dari dalam selimut.


Turun dari tempat tidur, menyalakan musik di ponselnya dengan pengaturan suara keras. Duduk di depan meja rias, memperhatikan Wajahnya. Ia punya kulit kuning Langsat tapi dengan mata berwarna biru.


Itu membuatnya sedikit aneh, karena di Indonesia sangat jarang. Jika ada biasanya berkulit putih khas orang Eropa atau yang jelas bukan Asia. Sedikit membingungkan karena orang tuanya semua Asia. Dan tidak memiliki warna mata biru sepertinya.


Dara memiliki lesung pipi yang menambah kecantikannya. Tapi selain cantik, ia juga sering di pandang aneh karena warna matanya. Banyak yang bertanya atau membicarakan ini di belakangnya.


"*Apakah dia memakai lensa kontak"


"Bukankah orang tuanya tidak memiliki mata biru"


"warna mata itu tidak cocok dengan dirinya*"


Masih banyak lagi pertanyaan yang membuat dirinya jadi berpikir. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan mereka karena dia juga tidak mengerti. Dari mana warna mata ini berasal. Ia tak pernah punya kesempatan menanyakan itu pada orang tuanya.


Dering suara dari ponsel menghentikan lamunannya. Suara musik keras itu berganti menjadi dering lagu where is the love. Andara berjalan mendekati meja melihat nama yang tertera di ponselnya.


Ya siapa lagi jika bukan Nanta. Mencoba menstabilkan perasaannya dengan tersenyum, baru mengangkat panggilan itu.


'Hallo, Sayang kamu di apartemen?'


"Iya, kenapa kak?" Andara menjawab seperti tidak terjadi apapun.


'Enggak, Aku rindu! Hari ini cukup melelahkan. Pengen meluk kamu' Nada suara Nanta terdengar sangat tulus.


"Iya, Dara juga rindu." Balas Andara singkat. Ia tau Nanta tidak berbohong dalam suaranya.


'Kamu udah makan malem?'


Mendengar nada yg terlihat sangat khawatir di seberang sana, membuat Andara mau tak mau tersenyum.

__ADS_1


"Udah dong, kakak juga udah kan?"


'Udah, tadi bis magrib langsung makan. Aku delivery order tadi.'


'kamu makan sama apa deh?' lanjut Nanta lagi.


"Sama opor ayam, tadi bawa dari rumah Bunda"


'Kamu dari rumah Saka tadi? kapan?'


Nanta terkejut karena Andara tidak bilang padanya sebelumnya. Memang Andara tidak selalu melaporkan kemana ia pergi. Tapi tadi ia berbelanja bersama Nadia di sekitar rumah kakek, yang juga berarti sekitar rumah Saka. Apakah Andara melihatnya? tapi karena Andara tidak menanyakan, Nanta tak ingin membahasnya juga.


"em, pagi tadi. Dara bosen, jadi maen ke rumah Bunda." Tanpa menunjukkan reaksi yang berlebihan.


'Oh iya, Ya udah aku masih ada tugas ini. Kamu istirahat yang baik ya. Inget kata dokter untuk jaga kesehatan!'


Peringatan dari Nanta bukan tanpa alasan. Dokter sudah mewanti-wanti karena pola makan dan tidur Andara sangat buruk.


"Iya Andara tau. Kakak semangat ngerjain tugasnya."


'Iya udah see u sayang.'


"see u"


Senyum di wajahnya tidak bisa di sembunyikan. Meskipun tadi sempat kesal, tapi tetap saja ia tidak bisa berbohong, jika mendengar suaranya saja ia senang. Meski ada kekecewaan, tapi Andara tak mau ketidakjelasan kejadian tadi merenggangkan hubungan mereka.


Biarlah waktu yang menjelaskan, begitu juga dengan perasaannya. Jika memang Nanta pemilik hatinya maka mereka akan bersama. Sebaliknya jika Hati laki-laki itu bukan untuknya maka mungkin mereka tidak ditakdirkan bersama.


Rasanya sungguh besar untuk laki-laki itu. Tapi Dara bukan pemaksa. Biarlah Waktu yang menyingkap segalanya.


Tak ingin berlarut-larut memikirkan kejadian pagi tadi. Andara Naik ke tempat tidur, menyalakan musik di ponselnya lagi, menaruhnya di meja samping tempat tidur.


Andara bohong soal makan. Ia memang membawa sayur opor dari rumah Saka. Tapi itu di berikan pada anak kecil sebelum masuk tadi.


Ya dia berpikir jika ia tak begitu menyukai sayur tanpa rasa pedas. Saka tau itu, tapi bunda tidak tau. Jadi karena bunda sudah menyiapkan sebelum pergi tadi pagi, mana bisa Andara tak membawa bungkusan itu.


Hidup sendirian mengacaukan nafsu makannya. Andara tidak nafsu jika makan sendirian.


Saat akan bersiap untuk tidur Andara ingat jika tadi meninggalkan Mian di dapur. Dan ia juga menyuruh Mian untuk menunggunya. Tidak tau apakah kucing itu mengerti atau tidak. Tapi kasian bukan jika Mian benar-benar menunggunya.


Andara bergegas menuju ke dapur hingga hampir tersandung kakinya sendiri. Baru saja sampai ia disambut oleh suara kecil yang terdengar lucu.


'meong'


Beberapa kali Mian menyuarakan suaranya, seakan sedang protes karena di tinggalkan lama oleh pemilik. Andara tersenyum gemas dan duduk di samping meja. Karena Mian sedang menunggunya dengan duduk di atas meja makan.


"Baiklah, aku hampir melupakanmu. Kau marah." Andara mengusap pada kaki Mian.


Mian hanya 'meong' saja. Karena ia tak mengerti apa yang di ucapkan Andara. Ia terlihat senang karena sekarang mempunyai teman. Andara memperhatikan Mian yang menggerakkan ekornya lucu. Ia akan menangkap ekor yang bergoyang itu. Tapi Mian seperti tak suka, ia berpindah jauh dari jangkauan Dara.


Andara tertawa saja melihat tingkah Mian yang tak rela ekornya di pegang.


"Pelit!" Ujar Andara sambil berdiri dari duduknya.


Ia jadi lapar, mencari makanan yang bisa di makan dalam kulkasnya. Hanya ada roti dan susu. Ia mengoles roti dengan selai lalu menuangkan susu ke dalam gelasnya. Melihat Mian yang tertarik pada gelasnya. Dara yang mengerti langsung membagi susu kotaknya pada mangkuk kecil milik Mian.


Andara makan dengan sesekali menggoda Mian. Mereka menikmati makan malam berdua di temani musik dari ponsel Andara yang terdengar dari kamar hingga ke seluruh ruang di apartemen. Tapi tetap terasa sepi jauh di dalam hati Andara


.......


Pagi sekali Nanta sudah berada di apartemen Andara. Ia sedang memberi Mian sarapan paginya. Sambil menunggu gadisnya selesai bersiap.

__ADS_1


Mereka meninggalkan Mian dengan makanan di kandang. Segera memasuki mobil dan melaju ke arah sekolah Andara. Mereka berbincang seperti biasa. Nanta akan menanyakan beberapa hal dan bercerita sedangkan Andara mendengarkan dan kadang menyela saat mengungkapkan pendapatnya.


"Ingat untuk masuk ke dalam kelas dan belajar. Tinggal enam hari lagi ujian, belajarlah dengan Saka atau Vian." Nanta khawatir jika Andara tidak bisa mengejar ketertinggalan selama pergi keluar negeri dan sakit kemarin.


"Iya, Andara akan masuk kelas dan belajar." Andara meyakinkan.


"Nanti gak usah jemput karena Dara akan belajar di rumah Vian." tambah Andara


Nanta mengangguk saja. Mengusap pelan kepala Andara lalu mengecup pipinya. Mereka masih saling menatap. Andara lebih dulu mengakhiri dengan balas mengecup pipi lelaki itu dan bergegas keluar dari mobil.


Setelah melambaikan tangannya, ia berbalik ke arah gerbang. Bersamaan dengan langkah kakinya ada motor lewat di sampingnya.


"Saka" panggil Andara mengejar tapi Saka seperti sengaja, meninggalkan Andara di luar gerbang.


"Saka nyebelin." Andara bergegas berlari ke parkiran.


Disana ada mobil Vian yang sudah terlebih dahulu datang. Sang pemilik sedang merokok seperti biasa. Setelah sampai Andara langsung memukul Saka kesal. Sedangkan Saka ia malah tertawa saja. Vian hanya menggeleng melihat keduanya.


Dara berjalan mendekat ke jendela mobil Vian yang terbuka. Ia terbatuk dengan asap rokok yang memenuhi mobil. Vian langsung membuang rokoknya.


"Makanya! sini." Vian menarik Andara masuk mobil setelah membuka atap mobilnya. Membiarkan asap keluar agar Andara tidak menghirup asap mematikan itu.


"Lo ngerokok Mulu deh." Protes Andara yang tak mendapat tanggapan dari Vian.


Saka, Vian dan Alan memang perokok tapi Vian yang terparah. Andara sering menegur mereka dan hanya akan di abaikan oleh mereka.


Vian memberikan susu kotak pada Andara. Jelas saja langsung di terima dengan senang hati oleh Dara.


"Vian tau banget deh." Dara menunjukkan senyum manisnya.


Vian tau Andara sedang meledeknya. Vian mengusap kepala Andara gemas. Itu mendapat protes karena rambutnya jadi berantakan.


"Gak usah resek deh, Ah susunya tumpahkan di mobil Lo." Karena berusaha menghindar dari tangan besar Vian. Susu yang di pegangnya tumpah tanpa sengaja.


Semua juga tau jika Vian tak suka mobilnya lecet atau kotor. Ia akan marah Jika ada yang mengotori mobilnya. Bahkan saat hujan, ia tak ingin membawa mobil kesayangannya ini keluar.


Tapi berbeda jika itu Andara. Ia bahkan tak memikirkan sedikitpun tentang mobilnya tadi.


"Udah gak papa entar mau gue cuci kok."


"Ye, Lo gak mau nyuruh gue nyuci ni mobilkan?" Tanya Andara was-was.


"iya lah, bantuin gue nyuci entar." Ide bagus untuk nycu mobil bareng.


"lah biasanya juga di kirim ke tempat cuci mobil." Andara sudah memanyunkan bibirnya.


"Ya kan ini bentuk dari tanggung jawab Lo." Vian masih terus menggoda gadis itu. Semakin kesal gadis itu semakin terlihat lucu.


Saka yang menyaksikan sedari tadi memutar bola matanya malas. Menghampiri keduanya dengan wajah datarnya itu.


"Gak ada bolos hari ini. Awas kalo sampe kalian gak ada di kelas saat bel masuk!" Ancam Saka pada keduanya lalu meninggalkan parkiran menuju kelasnya.


Kedua orang itu mengangguk sambil mengangkat tangan hormat hingga Saka menghilang dari pandangan. Mereka tertawa, Saka sudah seperti pengawas kalo masalah bolos pelajaran.


"Udah ayo masuk, Nanti ada serigala yang marah."


"Yap. Yuk" Jawab Andara keluar dari mobil.


Membaur bersama siswa yang lain menuju ke kelas mereka. Tangan Vian merangkul pada leher Andara. Itu sudah menjadi pemandangan biasa. Tapi sedikit mengganggu bagi mereka yang tak suka atau cemburu.


Di ujung lorong Josh memperhatikan keduanya kesal. Meski sedang mengobrol dengan teman-temannya. Tapi sedari tadi fokusnya mencari keberadaan gadis itu. Gadis bermata biru emerald. Saat menemukan keberadaan gadis yang di carinya sedari tadi melakukan kontak fisik dengan laki-laki lain. Itu membuatnya kesal tentu saja.

__ADS_1


Josh orang yang di takuti di sekolah ini. Ia tak pernah terlihat dekat dengan gadis manapun. Tapi itu karena hatinya sudah terpaut pada gadis cantik bermata biru emerald. Ia awalnya memang tak pernah memikirkan tentang perempuan. Josh berhati dingin pada siapapun. Suka membuat masalah, tapi sejak bertemu Andara, Ia merasa ada yang berbeda. Perasaaannya, ada yang berbeda setiap melihat gadis itu.


__ADS_2