
Seseorang sudah berdiri di depan pintu apartemen, dengan buket bunga di tangannya. Menatap pintu itu cukup lama. Menghela napas perlahan memejamkan mata lalu membuka mata dengan yakin. Ia mengetuk pintu itu padahal biasanya langsung masuk saja.
Tak lama pintu terbuka, menampakkan wajah gadis cantik yang sudah siap dengan seragamnya. Gadis itu tersenyum namun tak selebar biasanya. Ada sorot kebimbangan di matanya.
"Pagi kak, biasanya langsung masuk." Andara jalan lebih dulu untuk masuk untuk melanjutkan sesi sarapan paginya.
"Maaf." Kata itu terucap setelah memeluk gadis itu erat dari belakang.
Andara masih diam, Dia juga tak tau mau ngomong apa. Dia sebenernya tak marah kok, hanya sedikit ada rasa aneh saja yang mengganggu pikirannya.
"Ini untuk yang semalam." Nanta menyerahkan buket bunga baby breath yang sedari tadi di pegang nya.
Buket bunga yang di bawanya kecil jadi tak nampak di penglihatan Andara tadi.
"Makasih kak. Kakak gak perlu minta maaf lagi, Andara gak marah." Andara menerima buket bunga itu dengan senyum tulus di wajahnya.
"Lah itu, kenapa ada lagi?" Tanya Andara ketika Nanta meletakkan buket bunga baby breath yang lebih besar dari sebelumnya di atas meja.
"Yang itu punyaku, yang ini aku Nemu di depan pintu kamu." Jelas Nanta menunjuk buket bunga yang lebih besar.
Keduanya memikirkan hal yang sama. Siapa orang yang selalu mengirimi bunga yang sama setiap pagi untuk Andara.
"Kamu udah coba tanya pihak pengelola apartemen?" Tanya Nanta sambil mengambil posisi duduk di samping Andara.
"Udah. Tapi tetap menjadi teka-teki karena tak ada informasi yang jelas tentang pengirim."
Dara mengambil kertas yang menyempil di antara bunga-bunga itu. Ia telah terbiasa dengan buket beserta kartu ucapan yang sama.
"Ya udah, gak usah dipikirin. Saat ini kamu harus fokus belajar. Dua hari lagi kan ujiannya?" Nanta memperhatikan Dara yang juga memandang tepat di matanya.
Lama terdiam dengan saling menatap, Dara lebih dulu memutuskan pandangannya dengan berdiri mengambil tas di kamarnya.
Nanta masih terpaku pada sosok Andara, Gadis itu mandiri dan kesepian. Teganya dia menambah bebannya dengan adanya Nadia yang saat ini berusaha masuk dalam kehidupannya. Semoga ini segera berakhir, Tak ingin menyakiti keduanya terlalu dalam.
..........
Mereka di mobil hanya diam mendengarkan alunan musik klasik dari ponsel Nanta. Dara juga tak membuka suara, padahal gadis itu biasanya sangat berisik. Nanta tak mengetahui jika saat masuk mobil tadi, Andara tak sengaja menduduki sesuatu yang ternyata adalah lipstik. Karena warnanya yang menyatu seperti jok mobil, itu mungkin membuat Nanta tak menyadari jika ada lipstik di sana.
Andara yakin itu bukan miliknya. Di usianya, Andara tak pernah membawa lipstik di tas, dia menyukai tampil natural. Saat bekerja jadi model pun ada Mbak Tia yang membawakan peralatan make up nya. Jadi itu milik siapa? Suasana hatinya jadi kacau.
Mereka sudah sampai di depan gerbang Sekolah Andara. Andara belom juga turun, ia ingin sekali menanyakan perihal lipstik yang ada di tanggannya ini. Beberapa kali menengok namun bibirnya kelu tak kunjung mengucap.
"Kamu kenapa sih? mau ngomong?"
Nanta mencurigai gelagat Andara yang sedari tadi gelisah dalam duduknya. Dia memegang pipi Andara agar menatap ke arahnya.
"Em enggak." Dara tak ingin jika jawaban Nanta nanti malah membuatnya jadi sedih.
"Ya udah, aku masuk y kak, see you." Dara mengecup pipi Nanta cepat lalu keluar.
Belum juga melangkah, Nanta memanggilnya. Dara berbalik, mengangkat alisnya seakan bertanya, apa?
"Sebagai permintaan maaf, gimana kalo nanti kita dinner?" Nanta menunggu jawaban Dara dengan jantung berdebar.
Padahal mereka sudah lama bersama, tapi mengajak Andara Dinner seperti saat pertama kalinya. Hanya Andara yang bisa membuatnya merasa seperti ini.
Dara tersenyum mengiyakan dengan mengangguk. Senyum itu juga menular pada bibir tipis Ananta. Wajah tegangnya tergantikan dengan senyum kelegaan.
"Oke nanti aku jemput ya?"
"Kita ketemuan aja kak, kakak share lokasinya," Jawab Andara, karena tak tau apakah nanti akan belajar lagi dengan Vian atau tidak. Jika belajar pun Berarti hanya sebentar.
"Oke see you sayang."
__ADS_1
Andara masih berdiri terpaku menatap kepergian mobil Ananta yang mulai tak terlihat lagi. Mungkin nanti ia bisa menanyakan kegundahan di hatinya. Ia melihat ke bawah pada lipstik di tangannya. Siapa? Pertanyaan ini harus terjawab nanti.
Tin tin
Suara klakson motor milik Fita menyadarkannya, Dara menoleh pada Fita yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Karena tertutup Helm, ia tak bertanya apapun langsung saja menghampiri.
Fita menyuruh Andara naik ke motornya dengan gerakan tangan. Andara naik ke motornya, mereka memasuki gerbang sekolah menuju ke parkiran.
Di sana sudah ada motor Saka dan tak jauh dari sana ada mobil Vian sudah terparkir dengan sedikit asap keluar melalui jendela yang terbuka. Sudah bisa di tebak bukan itu asap apa.
Andara turun dari motor dan menghampiri mobil berasap itu di susul Fita di belakangnya. Dara menggebrak bagian samping mobil hingga mengeluarkan suara keras. Kedua makhluk di dalamnya kaget reflek membuang rokok di tangan mereka, mengira jika guru yang melakukannya.
Dara tertawa keras melihat reaksi kaget dari keduanya. Fita hanya menggeleng dengan senyum tipis. Ternyata di dalam sana tidak hanya ada Vian, tapi juga ada Saka.
"Untung sayang, kalo enggak udah gue celupin Lo ke Empang belakang rumah," Ucap Saka dengan wajah masam.
"Lagian noh mobil Lo ngasep kek kebakaran." Celetuk Andara sambil menggeleng dengan tawa yang masih tersisa.
"Iya, harusnya Lo padamin pake aer Ra?" kata Fita cuek dengan wajah datarnya.
"Ini namanya menikmati hidup." Vian berucap sambil menyalakan rokok lagi.
"Iya menikmati hidup yang tersisa!" Andara menyambar rokok itu lalu melemparnya jauh.
"Apa'an sih Ra!" Vian akan menyalakan rokok lagi tapi rokok sudah di masukkan ke kantongnya oleh sang pemilik.
Saka tak mau rokoknya habis di buang sia-sia. Andara mengangguk puas, Sedangkan Vian dan Saka mencibir ke arahnya.
"Udah yuk pada masuk." Ajak Fita dan berjalan duluan tanpa menunggu mereka.
"Yok ah masuk." Ajak Dara yang tak di tanggapi keduanya.
Melihat tak ada respon bahkan dua orang di dalam mobil itu tak ada niatan Bergerak, Dara ganti mencibir ke arah mereka.
Mereka saling pandang sebelum akhirnya mencapai kesepakatan diam-diam mengikuti Andara.
Langkah kaki mereka bisa dengan cepat menyusul gadis itu. Dara melirik pada keduanya yang telah berada di sampingnya. Mereka berjalan menuju ke kelas.
"Eh Ian, entar gue gak belajar ya?" Andara baru ingat tentang dinner nanti malam.
"Kenapa?" Balas Saka cepat.
Data tak menggubris Saka ia menatap ke arah Vian. Vian berpikir sebentar lalu akan menjawab tapi sebelum menjawab sudah di dahului Saka lagi.
"Emang harusnya hari ini belajar tentang apa?" Saka tak bertanya pada Dara ia bertanya pada Vian.
"Harusnya sih selesaiin materi Matematika yang waktu itu,"Jawab Vian menengok ke arah Saka.
"Woi yang nanya tadi kan gue, malah di kacangin." Dara memanyunkan bibirnya berjalan lebih cepat.
Kedua laki-laki itu saling menatap lalu mengangkat bahu, Menyusul langkah kaki Dara.
"Emang kenapa kok gak belajar?" Tanya Saka dengan nada lembut. Karena tau gadis itu sudah kesal.
"Gue nanti malem mau dinner sama kak Nanta!" Jawab Dara sedikit keras.
Kedua laki-laki itu saling menatap dengan pemahaman yang sama lalu mengangguk saja.
"Emang matematika nya udah bisa? Emang kemaren udah sampe mana?" Pertanyaan pertama Saka tujukan pada Dara dan yang kedua pada Vian.
"Bisa, entar gue pelajari lagi yang belom bisa." Jawab Andara meyakinkan, yang jelas saja di ragukan oleh kedua laki-laki itu.
"Sebenarnya sih tinggal materi tentang Integral tak tentu, dia masih sering bingung di situ saat bikin kurvanya. Untuk Statistika, Peluang, Trigonometri, Limit dan lainnya tinggal di pelajari ulang aja." Jelas Vian.
__ADS_1
Saka menatap pada sosok gadis di sampingnya. Tidak yakin pada ucapannya, Dara yang di tatap tajam seperti itu jadi salah tingkah.
"Bener kok, entar gue pelajari lagi materinya!" Andara meyakinkan lagi.
"Masalahnya, Lo suka lupa tuh sama pangkatnya." Ucapan Vian mendapat anggukan dari Saka.
"Udah deh bisa-bisa gue, entar gue pelajari lagi kok. Ya?" Dara menatap keduanya dengan puppy eyes andalannya.
Tangan besar Saka meraih Badan Andara masuk dalam pelukannya, melanjutkan jalan menuju kelas.
Karena Senin besok ujian di mulai, Sabtu ini mereka banyak jam kosong.
Andara, Tyas dan Alan menemani Vian dan Saka yang sedang latihan voli.
Mereka duduk di tribun, Dara berteriak ketika mereka berhasil spike dan mencetak poin, Tyas sibuk mendengarkan musik melalui earphone dan Alan yang sibuk dengan gamenya.
Di seberang sana juga ada siswi-siswi lain yang ikut berteriak seperti Andara.
Andara yang sedari tadi berdiri merasa lelah dan haus. Minum sedikit lebih banyak. Tapi setelahnya ia jadi ingin ke kamar kecil. Kebetulan di gedung olahraga Raga ada toilet juga.
"Yas, gue toilet dulu." Setelah mendapat anggukan dari temannya itu, Ia langsung menuju ke toilet.
Tapi ada rombongan anak-anak nakal yang menghalangi jalan di lorong menuju toilet. Dara akan mengurungkan niatnya, tapi ia sudah kebelet banget.
"Misi kak, Gue mau lewat dong," Ucap Andara santai pada kelima orang itu.
"Wah Andara cantik mau kemana sih?" mereka malah sengaja menghalangi jalan Andara.
"Apa'an deh kak gue mau ke toilet nih." Jawab Andara agak keras.
"Wah ikut dong, aku juga mau ke toilet." Ujar salah satu di antara mereka.
"Please deh, gak usah resek!" Andara kesal.
Mereka berempat seakan sengaja menggodanya, ia menyesal tadi ke sini, kakak-kakak kelas ini emang terkenal nakal.
Ada satu di antara mereka yang terkenal sadis, tapi laki-laki itu hanya berdiri menyandar pada dinding memperhatikan tanpa mau menolong atau setidaknya dia tidak ikut mengganggunya sih. Dara sedikit takut jika berhadapan dengan laki-laki satu itu.
Setelah beberapa lama, Dara semakin kesal dengan kelakuan mereka. Ia akan berbalik, tapi malah di tahan. Ia harus berpikir bagaimana cara terbebas dari keduanya. Saat ia sudah akan berteriak, ada tangan yang menggenggam tangannya erat. Menariknya menuju ke toilet.
Dara bingung, tapi ia tak melawan. Ia takut melihat wajah dingin dari laki-laki yang menariknya ini. Tapi teman-temannya yang tadi tak mengikuti, malah seperti takut.
Karena laki-laki itu berhenti tiba-tiba, Dia jadi menubruk punggung laki-laki itu cukup keras. Meringis sakit memegang dahinya, ia menengok ke atas. Laki-laki tadi malah menunjukkan wajah khawatir.
"Masuklah." Ujar laki-laki tadi.
Dara masih bingung tak mengerti, ia hanya diam dengan wajah cantik yang nampak kebingungan. Laki-laki itu jadi gemas sendiri.
"Lo mau ke toilet kan?" Tanya laki-laki itu tanpa melihat ke arah Andara.
"Oh iya, makasih kak." Dara akan masuk ke toilet, tapi tangannya masih belum di lepaskan.
"Josh, panggil gue Josh." Dara mengangguk dengan tersenyum. Ia jadi tau ternyata laki-laki itu tidak jahat seperti yang orang-orang bilang.
Tanpa Dara sadari, responnya tadi membuat Josh jadi tertegun. Belum pernah ia mendapat senyuman dari seorang gadis. ini pertama kalinya, karena para wanita yang melihatnya cenderung takut dan menghindarinya. Tidak tau saja Josh jika tadi Andara sempat takut padanya.
Tak lama Andara sudah selesai dengan urusannya. Saat keluar dari toilet ia di kejutkan dengan kehadiran Saka yang sedang bertatapan tajam dengan Josh. Tadi setelah selesai latihan,ia langsung menyusul Andara karena khawatir. Kata Tyas dan Alan, Andara pergi ke toilet tapi tak kunjung kembali.
Di sinilah ia, menemukan Josh di Depan pintu kamar mandi perempuan. Ia menatap tajam pada Josh yang juga menatapnya tak suka.
Dara yang merasakan suasana tak enak langsung saja menarik Saka menjauh.
"Makasih ya Josh, gue duluan." teriak Andara dengan tersenyum tak enak pada Josh yang padahal sudah mau menunggunya.
__ADS_1
Josh hanya mengangguk, ia menatap tangan Andara yang menggandeng tangan Saka, jika tatapannya bisa membelah mungkin tangan mereka sudah terpisah dengan tatapan tajamnya.