
Sore ini Andara sudah berada di Istanbul Turki. Pesawatnya mendarat di bandara internasional Ataturk tepat pukul 05.00 p.m waktu Turki. Ia sedang menunggu teman-temannya yang lain di lobby hotel bersama Mbak Tia. Mereka akan ada jamuan makan bersama rombongan agensi model pemotretan di restoran mewah di kota Istanbul.
"Mbak, hp saya ada pesan dari Saka atau kak Nanta nggak?" Dara menengok ke arah Mbak Tia yang duduk di sebelahnya.
"Nggak Ada, mungkin mereka lagi tidur. di sana kan udah malem banget."
"Oke." Dara sedikit kecewa. hingga ada teman modelnya dari Kanada, menyapanya.
"Hey, have you been waiting here long?"
"Oh no, me too just now," balasnya pada Nattalie
"Long time no see Andara." Nattalie memeluk Andara sebagai sapaan.
"Yes, we will meet often later." mereka berbincang sambil menunggu yang lain.
Malam ini mereka hanya akan saling berbincang dan saling menyapa, karena besok mereka sudah akan mulai bekerjasama. Mereka Akan mulai pemotretan di Cappadocia, mereka akan pemotretan bersama dengan balon udara. Setelah malam semakin larut, mereka kembali ke hotel.
Di mobil Dara sudah terlelap, Mbak Tia membiarkan Dara tidur di mobil menuju Hotel. Mereka baru transit hari ini tentu mereka sangat lelah.
Sebenarnya dari tadi Saka dan Nanta menelpon, tapi karna mbak Tia tidak enak mengganggu perbincangan Dara dengan yang lain. Ia tidak mengangkat telpon dari keduanya.
......
Pagi sekali Fita sudah sampai di sekolah, ia ada rapat OSIS pagi ini sebelum jam masuk.
Sedangkan yang lain mereka berangkat seperti biasa.
Sekolah hari ini sedang banyak jam kosong karena persiapan ujian yang sekitar dua minggu lagi akan di laksanakan. Para guru sedang mengadakan rapat, jadi para siswa bebas ada yang sibuk dengan tugas akhir, ada yang main basket, ada yang nongkrong di kantin, dan ada juga mereka yang sedang main voli, Seperti Saka.
Saka, Vian dan teman yang lainnya sedang sparing dengan tim dari sekolah lain. mereka main dengan imbang karena sama-sama kuat. Keringat mengucur deras membasahi tubuh para pemain. Hingga permainan berakhir di menangkan pihak sekolah lain.
"Huft, mereka memang hebat," ucap Vian dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
Mereka sedang duduk di bangku tribun. menegak minumnya dengan cepat, beberapa anggota langsung pergi untuk ganti baju. Tertinggal Saka dan Vian. Mereka mengistirahatkan badan yang seperti terbakar, menunggu panas dari tubuh sedikit mereda.
"Lo mainnya terlalu kontrol, mending lepas aja kalo mainnya imbang gitu." Saka memulai percakapan setelah nafasnya sudah teratur.
"Gue gugup karena mereka selalu bisa menangani spike keras dari gue." jawab Vian
"Iya gue juga tadi sempet gitu, tapi saat terdesak kayak gitu mending lain kali mainnya lebih lepas aja." saran Saka sebagai ketua tim.
"Siap bos. tapi kayaknya kita butuh pelatih baru deh Ka."
"Iya, gue paham. tapi belum Nemu gue."
Mereka terdiam cukup lama. Hingga Vian terfikir bagaimana kabar Dara. Ia langsung mendial nomor Dara. tapi tak kunjung mendapatkan jawaban. Vian sudah menelpon hingga lebih dari 5 kali.
"Udah, paling juga sibuk." Saka tau jika dari tadi pasti Vian mencoba menelpon Dara. Dia saja dari semalam belum mendapat respon dari Dara.
"Iya gue udah kangen sama tu anak. biasanya kan dia yang bawa'in kita minum."
Ya Dara tak mengikuti ekstrakurikuler apapun di sekolah. Ia hanya kadang-kadang mengikuti Ivent jika ada lomba melukis antar sekolah. Jadi dia kalo ada jam kosong begini, orang paling gak ada kerjaan dia.
"Entar juga dia bakal telpon balik kalo gak sibuk, lagian kan sini Turki perbedaan waktunya lumayan, sekitar 4 jam."
"Iye sih. sepi aja gak ada dia."
"Itu mah Lo aja." ejek Saka pada Vian.
"Ye, Lo jugak." elak Vian
"Gue gak kayak Lo, bucin." Saka berlalu pergi meninggalkan Vian yang kesal. Vian mengejar Saka, mereka saling mengejek sepanjang perjalanan menuju toilet untuk ganti baju.
......
Tet tet
Bell waktu pulang berbunyi, semua Anak keluar dari kelas masing-masing.
__ADS_1
"Woy, nongkrong dulu yok. males balik gue."
"Tumben Tyas si anak baik, pulang sekolah mau nongkrong dulu." jawab Fita
"Iya orang tua gue lagi gak di rumah, udah yok," ajak Tyas lebih dulu berlalu ke arah motor Fita. Tyas kan seperti Dara selalu menggunakan jasa Taksi untuk pulang pergi sekolah.
"Lo ikut gak Ka?" tanya Vian yang juga mau ikut nongkrong bareng mereka.
"Ikut deh!"
Mereka menuju cafe tempat biasa mereka hangout. Di sana juga ada beberapa anak SMA seperti mereka, yang tak langsung pulang dari sekolah.
"Pesen apa Lo berdua." Fita dan Tyas yang lebih dulu sampai mereka sudah pesan duluan.
"Gue moccalatte, kalo Lo Ka?"
"Samain aja."
"Oke deh gue pesenin dulu ya."
Mereka membicarakan banyak hal, tapi tidak dengan Saka yang memang irit ngomong. Ia hanya bicara seperlunya saja.
Tapi pandangannya tiba-tiba fokus ke arah dua orang yang duduk berhadapan. Mereka terlihat sangat akrab. Tapi karena Saka tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, jadi ia hanya memantau saja dari jauh.
"Eh Ka, kemaren ada yang nitip salam buat Lo."
"Wih siapa Fit? anak OSIS juga." kali ini Tyas juga ikut kepo.
"Iya, anak kelas satu, cantik lagi."
"Wih, cie Saka." ledek Vian yang tak mendapat respon apapun.
"Saka mah, gak suka yang model gitu, dia cari yang jenius. ya gak Ka." Tyas yang paham Saka jarang meladeni cewek yang berusaha mendekatinya, yakin jika tipe cewek Saka pasti yang berbeda.
"Hem." Saka hanya membalas dengan deheman. Ia tidak begitu fokus dengan pembicaraan mereka karena fokus memperhatikan pasangan itu.
"Apa hubungannya?" kali ini Vian yang merespon ucapan Fita bingung.
"Ya Dara kan udah kayak ceweknya buat dia." Fita bicara tanpa di pikir. Itu membuat Saka menoleh, ia tersenyum sinis ke arah Fita.
Fita hanya biasa saja. Ia memang bicara menurut apa yang ia lihat. Tanpa ia berpikir jika ucapannya akan mengganggu pikiran Vian.
"Oh." Vian hanya membalas pendek.
"Udah mending Lo pada balik." Saka menatap mereka dengan pandangan seperti perintah. Mereka menurut langsung keluar dari cafe tersebut.
Saka menyeruput moccalattenya dengan perlahan. Pandangannya tak lepas dari pasangan itu.
Hingga pasangan tadi beranjak ke kasir. lalu keluar bersama. Saka juga melakukan hal sama, dan mengikuti mereka yang masuk ke mobil yang sama. Ia segera mengikuti mobil tersebut.
Setelah, beberapa menit mereka akhirnya berhenti di kawasan perumahan. Saka berhenti sedikit jauh dari mobil di depannya. Sang pemilik mobil keluar membukakan pintu pada wanita itu, mereka memasuki rumah dengan halaman luas.
Saka masih menunggu di motornya. hingga satu jam kemudian mereka keluar lagi. Dan menjalankan mobil ke arahnya. ia masih memakai helmnya. Sepertinya juga pengemudi itu tak memperhatikan keberadaannya. Ia mulai menjalankan motor mengikuti mereka.
Mobil itu berhenti di sebuah rumah sakit. Tapi yang keluar dari mobil hanya wanita itu saja. Mobil itu berlalu pergi lagi. Saka masih mengikuti mobil itu.
Hingga sampai di apartemen yang ia ketahui memang milik laki-laki tersebut. Ia turun mengikuti laki-laki tadi hingga saat laki-laki itu akan memasuki pintu apartemen. Saka berlari cepat dan meninju tepat di wajah laki-laki itu.
Laki-laki itu tersungkur dengan darah di sudut bibirnya.
"Lo kenapa hah?" tanya laki-laki itu kesal.
"Lo yang kenapa." balas Saka.
"Gue kenapa?, Lo yang dateng main pukul gitu aja."
"Ya ini untuk Andara, dan gue masih ingin hajar Lo sampe mati."
Saka mulai menghajar laki-laki tadi, hingga mereka akhirnya saling pukul. T.ak lama mereka sudah babak belur dan lelah. Mereka bersandar di dinding apartemen itu.
__ADS_1
"Udah puas? Lo kenapa begok." tanya Nanta kesal.
"G.ue belom puas kalo Lo belom mati." dengan nafas tersengal ia melirik sinis ke arah Nanta.
"Ah gue ngerti, Lo pasti tadi ngeliat gue sama cewek kan." Nanta menduga Saka pasti salah paham setelah melihatnya bersama Nadia tadi.
Saka hanya diam, ia terlalu kesal dan marah.
"Dia cewek yang bakal di jodohin sama gue."
Ucapan Nanta seperti petir yang menyambarnya. Ia berdiri dan menghajar Nanta lagi tepat di wajah yang sudah lebam di mana-mana. kondisi mereka sebenarnya sama. Hanya saja Saka yang sedang marah seperti punya kekuatan lebih untuk menghajar Nanta habis-habisan.
"Lo brengsek." satu pukulan lagi mendarat di wajah Nanta.
"Iya, gue brengsek, gue belom bisa ngomong ke orang tua gue kalo gue masih sama Andara." Nanta tertawa sumbang. dadanya sesak air matanya luruh.
Saka yang melihat itu, tak gentar. Ia duduk bersandar di tembok. mereka duduk saling berhadapan di lorong apartemen yang sepi karena sudah larut malam.
"Gue di jodohin dengan Nadia, cewek yang tadi sama gue, gue dah bilang ke Nadia kalo gue udah punya cewek yang gue sayang."
Saka tetap diam, Nanta yang melihat Saka mau mendengar keluh kesahnya. Ia pun menceritakan jika orang tuanya, ingin ia menikah dengan Nadia.
Hari ini mereka bertemu atas perintah dari orang tua masing-masing. Saka memang tak menolak di depan orang tuanya. Tapi ia menolak saat bersama Nadia tadi ia secara langsung bilang jika hatinya sudah ada yang memiliki. Nadia memang hanya diam, tapi Nanta berharap Nadia akan mengerti dan mau membatalkan perjodohan ini.
"Jangan bilang masalah ini ke Andara. sebelum Lo memutuskan akan bertahan dengan Andara atau perjodohan itu."
Saka beranjak pergi dengan sedikit sempoyongan. Berlalu meninggalkan Nanta.
"Gue akan perjuangin Andara." Teriakan Nanta memenuhi lorong apartemen tersebut, jelas terdengar di telinga Saka.
Nanta juga tak ingin meninggalkan Dara. Ia hanya sedang mencari jalan lain, tanpa harus melibatkan Andara. Nanta tak ingin Dara bersedih. Hatinya juga sakit, tak pernah terbesit di pikirannya untuk berpisah dengan Andara. Wanita hebat dalam hidupnya.
.......
Saka langsung menuju ke rumah Vian. Tak mungkin ia pulang ke rumah dalam keadaan seperti ini. bisa marah bundanya nanti.
"Hallo Napa dah Lo telpon malem-malem gini," kesal Vian yang sedang belajar untuk ujian nanti
"Bukain pintu, gue ada di depan rumah Lo."
Telpon langsung di tutup oleh Vian. Ia beranjak turun menghampiri temannya itu.
Rumah memang sudah sepi karena semua orang juga sudah tidur. Untung Saka tidak mencoba mengetuk pintunya.
"Pa'an deh Lo dan malem juga, lah tu muka kenapa Ka." Vian yang awalnya biasa saja kaget melihat muka Saka yang babak belur seperti itu.
"Gue suruh masuk dulu kali." ucap Saka kesal.
"Ya udah cepetan dah."
Mereka naik ke kamar Vian. Vian langsung menyuruh Saka untuk mandi dulu. Karena seragam Saka saat ini sedikit terkena Darah.
Setelah mandi Vian membantu Saka mengobati lukanya.
"Ini kenapa? ada yang Mukulin elo?" tanya Vian sambil meringis ngeri melihat banyak luka lebam di tubuh Saka.
"Enggaklah, gue kan jago. gue dong yang Mukuli orang," jawab Saka songong.
"Ye jago kok luka banyak gini."
"Ya karena lawannya juga kuat. udah cepetan obatin yang bener."
"Ye iya bawel." Vian segera menyelesaikan dan langsung mencari bajunya di lemari untuk di gunakan Saka.
Sedangkan Saka, ia masih memikirkan masalah tadi. Bagaimana jika Dara tau, pasti ia akan menangis. Saka sebenarnya juga paham jika tak mungkin Nanta dengan sengaja menyakiti Dara. Tapi tetap saja ia tak suka jika nanti Dara yang akan terluka karena masalah ini. Ia juga bingung, perbedaan keyakinan di antara mereka yang membuat masalah ini jadi rumit. Orang tua Nanta tak mau anaknya bersama orang yang memiliki keyakinan berbeda. Jelas mereka ingin anaknya bersama dengan wanita muslim.
"Arrggh."
Saka kesal dan bingung. matanya terpejam erat. Berharap esok akan lebih baik untuk mereka berdua.
__ADS_1