
Selepas pertengkaran mereka malam itu, Dara jadi lebih banyak diam. Nanta menoleh ke arah samping di mana kekasihnya duduk. Mereka saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke bandara. Nanta sendiri yang meminta akan mengantarkan kekasihnya itu menuju bandara.
"Nanti setelah sampai hotel langsung hubungi aku ya!"
Dara mengangguk tersenyum ke arah Nanta. Sesungguhnya Nanta tak suka Andara yang banyak diam seperti ini. Nanta menggenggam tangan kekasihnya lalu mengecupnya. Dara suka perhatian Nanta yang seperti ini. Dara suka semua sikap dewasa Nanta dan semua kasih sayang yang di berikan laki-laki itu. Tapi, itu membuatnya jadi tamak! Ia tak mau jika ada wanita lain selain dirinya.
Rasa takut kehilangan membuatnya lupa jika bukan hanya kepercayaan yang di butuhkan dalam sebuah hubungan namun keikhlasan. Dara terlalu takut jika nanti Nanta menemukan wanita lain yang akan menggantikannya.
Beberapa hari ini ia selalu murung, bahkan saat pengambilan rapor, ia tidak nampak ceria seperti biasanya. Mendapatkan nilai yang tidak buruk, itu sudah bagus untuk Andara. Saka yang memang peka terhadap sikap Dara juga menanyakan. Jawaban Andara juga membuatnya jadi ikut diam.
Saka yakin, Nanta belum menentukan pilihan. Namun, bagaimanapun Saka hanya bisa mendukung dan tidak bisa terlalu ikut campur dalam hubungan mereka.
Beberapa hari lalu Dara meminta Saka mencari tahu pemilik lipstik yang di temukannya di kamar kekasihnya itu. Dara tidak bodoh, tak mungkin itu lipstik Uminya Nanta. Karena bukan hanya lipstik tapi juga ada alat make up lain yang Andara yakini milik seorang wanita muda. Uminya Nanta adalah sosok yang sederhana. Dapat di tebak bukan, jika itu milik wanita lain.
Dara kecewa karena Nanta menyembunyikan sesuatu darinya. Oleh karena itu, ia memilih mencari tahu dari pada terus bertengkar tanpa kejelasan.
"Saka dan yang lain akan pergi kapan?"
"Besok atau lusa! Dara lebih dulu aja biar cepet selesai kerjaan bisa menikmati liburan," jelas Andara pada lelaki tampan di sampingnya.
"Ya, aku mau ikut tapi lagi banyak tugas banget dan usaha rental mobil yang aku jalani bareng Bimo lagi butuh banget kahadiranku. Maaf!"
"Enggak papa, Dara ngerti kok. Lain waktu kita bisa liburan saat kakak enggak sibuk!" Dara mengusap punggung tangan kekasihnya.
Mata biru itu ikut melengkung bersama dengan senyum cantik di bibir gadis itu. Rasanya seperti terhipnotis, ingin sekali bisa bersama gadis itu lebih lama. Tapi kuliah dan pekerjaannya tak bisa di tinggalkan.
"Okey, baik-baik ya di sana. Aku tunggu kamu pulang. Dan gak boleh nakal!" tangan besarnya menyentil hidung mancung kekasihnya.
"Iya, Dara kan anak baik." pujinya sendiri yang membuat mereka jadi tertawa.
Setelah sampai bandara di sana sudah ada Mbak Tia yang menunggu dengan dua koper besar. Tersenyum memperhatikan dua sejoli yang sedang bergandengan tangan tersenyum ke arahnya.
"Udah! bikin mbak jadi kangen sama pacar!" keluh mbak Tia dengan canda.
"Harusnya mas Ibran di ajak aja liburan!" balas Dara.
"Ye, kita kan mau kerja, setelah itu gue juga langsung pulang gak jadi ikut liburan kan!" Jelas mbak Tia lagi.
"Harusnya mbak Tia ikut nemenin Andara," keluh Nanta karena menurutnya ia akan merasa tenang jika ada Mbak Tia di sana.
"Gak bisa lama gue, kayak yang udah pernah gue bilang, gue masih harus urus banyak file, kerjaan gue bukan cuma menejerin nih anak!" tunjuk mbak Tia pada Dara yang masih menempel pada kekasihnya.
"Iya udah, tuh udah mau berangkat. Kamu harus jaga kesehatan, dan terus kasih kabar ke aku!" pesan Nanta menatap manik biru kekasihnya.
Mereka saling memeluk lalu Dara berlalu pergi dari hadapan Nanta. Entah kenapa Nanta sangat berat melepas kepergian Andara kali ini. Dia hanya bisa berdoa semoga Allah selalu menjaga Andara di manapun ia berada.
Setelah itu Nanta berjalan dengan langkah lebih berat dari langkah biasanya. Jantungnya berdegup kencang, Bersamaan dengan semakin jauh langkahnya semakin kencang debaran jantungnya.
__ADS_1
Reflek berbalik lagi mencari Andara di waiting room. Clingukan mencari keberadaan kekasihnya. Berlari kesana kemari, namun sudah tidak ada. Nanta melihat pesawat yang ia ketahui adalah maskapai penerbangan yang mengantarkan Andara ke Bali, dan ia terlambat pesawat itu sudah terbang.
Menatap sendu ke arah landasan. Debaran jantungnya juga sudah mulai stabil. Ia tak mengerti kenapa, tapi ada sesak yang merundungnya.
Nanta kembali ke mobilnya. Langsung menuju ke kampus, Mengabaikan rasa tak enak pada hatinya.
Seharian berkutat dengan tugas, Nanta memacu mobilnya menuju tempat usahanya bersama Bimo. Mereka mendengar musik yang di bawakan fourtwnty-fana merah jambu.
Sama halnya dengan Bimo, Nanta juga Sangat menikmati alunan lagu itu. Bayangan Andara muncul di benaknya. Sedari tadi Andara belum juga menghubunginya, tapi kata mbak Tia Dara langsung tidur begitu sampai hotel, Mereka bisa menebak jika Dara pasti semalam tidak tidur lagi.
Akhir-akhir ini mereka tahu jika Andara memiliki masalah dengan tidurnya. Dan makan, Nanta atau Saka kadang yang mengirimkan makanan ke apartemen atau memastikan langsung jika gadis itu telah makan.
Karena melamun, mobil Nanta hampir saja menabrak mobil di depannya. Nanta tak memperhatikan jika di depan sana ada lampu merah.
"Napa deh Lo, kalo mau mati jangan ajak-ajak dong!" protes Bimo kaget.
"Sorry Bim, gue lagi mikirin Andara."
"Udah, entar juga balik kan. Lo kan udah biasa di tinggal kerja keluar kota. Parno banget dech Lo!" Bimo hapal sifat Nanta yang jika berhubungan dengan Andara, temannya itu pasti akan berlebihan.
"Bim, gue kok ngerasa gak enak ya. Kayak ada yang salah gitu. Tapi gue gak tau apa?"
"Lo punya salah kali sama Andara!" Ceplos Bimo cuek dengan jenuh menatap kemacetan di depannya.
Nanta merasa tersindir, ia melirik kesal pada Bimo, tapi memang benar ia sedang menyembunyikan sesuatu dari Andara. Tapi, ini berbeda! rasanya ada yang salah dengan semua ini. Entah apa, yang pasti rasanya menyesakkan.
Perbincangan di kemacetan tadi tidak berlanjut, mereka diam sepanjang jalan hingga sampai di tempat rental mobil.
"Gue kemaren ada proyek besar, Lo musti liat!" Bimo dengan antusias mengajak Nanta segera menuju ke ruangannya.
Setelah waktu berganti malam, Nanta pulang ke apartemen. Sepanjang jalan ia masih dengan memutar musik lagu yang sama, fana merah jambu. Sesekali bibirnya mengikuti alunan lagu, terkadang melirik ke arah kursi sampingnya.
Nanta sudah merindukan gadis itu. Entah kenapa ponselnya belom bisa di hubungi.
Nanta sampai apartemen di sambut oleh aroma masakan. Perempuan berhijab itu sedang menyajikan makanan di meja makan.
"Wah, kamu masak apa?"
"Banyak, ada opor ayam, perkedel jagung, sambal dan ini ada kerupuk tadi Bundaku mampir ke sini bawain ini." tunjuk Nadia pada kerupuk di atas meja.
"Bunda mampir sama Ayah?" Nanta meletakkan tasnya di kursi, ia berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangannya.
"Iya, em Bunda juga bawa banyak cookies. Kata Umi, kamu sering minta di bikinin cookies untuk di bawa ke Jakarta tiap pulang ke rumah, di Bandung. Jadi Bunda juga bawain kamu cookies." Nadia bersemangat menunjukkan cookies yang di bawa Bundanya.
Mereka mengira jika Nanta sangat menyukai cookies, karena di apartemen ini pun, selalu ada toples macam rasa cookies.
"Oh, sampe'in makasih ku ke Bunda. Sebenarnya aku gak begitu suka. Itu cookies di toples persediaan Dara kalo main ke sini."
__ADS_1
Nadia yang tadinya tersenyum lebar, kini jadi berubah sendu. Ternyata ia bahkan tidak tau kesukaan Nanta kecuali kopi.
Hatinya berdenyut tiap Nanta menyebut nama Dara dari bibirnya. Dulu tidak, tapi sekarang laki-laki itu adalah suaminya.
"Oh, ayo makan!" ajak Nadia mengabaikan perasaannya.
"Iya, aku laper banget!" Nanta akan mengambil nasi tapi tangan Nadia sudah lebih dulu menggapai piringnya.
Nadia sedang berusaha jadi istri yang baik untuk suaminya. Nanta tau itu, tapi Nanta masih tidak bisa melihat Nadia lebih dari teman. Perasaannya masih utuh milik Andara.
"Tadi kami jadi antar Dara ke bandara?" Nadia mencoba membuka pembicaraan karena tak nyaman dengan situasi yang terlalu canggung.
"Iya, dia sampai siang tadi."
"Em, aku belum pernah melihat orang tua Andara, mereka orang sibuk?" Nadia sudah penasaran karena Nanta lah selama ini yang selalu ada untuk Dara, bahkan yang mengambil rapor kemaren juga Nanta.
"Iya, mereka sibuk!" Nanta menjawab sambil tersenyum ke arah Nadia.
Pembicaraan tentang orang tua Andara tak pernah lagi ia bicarakan dengan Andara. Jadi cukup aneh saat mereka membicarakan hal ini.
"Orangtuanya tinggal di daerah mana?"
"Aku lupa!" Nanta menunjukkan raut tak yakin.
Selama ini Dara selalu menghindari topik tentang orangtuanya. Dara memang pernah menyebutkan alamat rumahnya, tapi ia lupa karena itu sudah sangat lama.
"Kamu gimana sih, masak deketin anaknya terus tapi gak ijin dulu ke orangtuanya." ledek Nadia berniat bercanda tapi ternyata Nanta menganggap itu serius.
Suasana kembali diam. Semenjak mereka resmi jadi suami istri, sangat jarang untuk bisa mengobrol Karena Nanta selalu menghindarinya.
"Maaf aku gak maksud menyinggung!" Nadia berucap pelan sambil menatap wajah laki-laki di depannya.
"Enggak kok, kamu bener. Harusnya sejak dulu aku temui orang tuanya!" Jawaban Nanta malah membuat Nadia jadi sedih.
Sepertinya Nanta belum menganggapnya sebagai istri, selain tidur terpisah, mereka juga punya jarak cukup jauh meski satu atap.
"Kamu mau nambah lagi?"
"Enggak aku dah kenyang." Nanta segera membawa piringnya ke wastafel, langsung mencucinya seperti biasa. Nadia juga langsung membereskan makanan di meja.
Nanta berbicara akan mandi dulu baru sholat isya jadi itu artinya Nadia jangan masuk kamar terlebih dahulu. Kerena kamar di apartemen Ananta hanya ada satu kamar yang sangat luas. Mereka jadi berbagi ruang, tapi untuk tidur, Nanta akan tidur di sofa depan TV.
Ada pesan dari Andara, Nanta terburu-buru membuka pesan yang sudah di tunggunya seharian ini.
*princess Joana
Kakak maaf baru balas pesan, Dara ketiduran. em Dara kangen kakak, tunggu Andara pulang ya 😉*
__ADS_1
Pesan singkat yang berhasil mengukir senyum manis di bibir laki-laki itu.