
Suasana rumah sakit terlihat sepi ketika malam hari. Hanya beberapa orang saja yang masih berlalu-lalang menyelami kesunyian malam. Termasuk pasangan yang masih saling bercengkrama, menceritakan hari mereka. Saling mendengar dan bercerita, ya Dara tidak jadi pulang hari ini, karna keadaannya drop lagi. Itu gara-gara ia hari ini tak istirahat dengan benar. padahal harusnya siang bisa pulang. Jangan tanya Nanta, ia marah tapi tak menunjukkannya langsung.
Saling memeluk mencari kehangatan, tidur di ranjang rumah sakit, yang pasti sempit untuk berdua. mereka berharap kebersamaan seperti ini takkan pernah berakhir. Andara takut jika suatu saat nanti perbedaan lah yang memisahkan mereka. Bukan, tapi sebenarnya melalui perbedaan itulah Andara dan Ananta bisa saling memahami.
Nanta yang dewasa dan Dara yang nakal. Ada hal lain yang mungkin pernah hinggap di fikiran mereka, tapi sungguh mereka hanya manusia yang saling menyayangi. Jangan jadikan perbedaan keyakinan menjadikan manusia menjadi saling memisahkan. Ananta dan Andara sedang berjuang, meski tidak tau akankah saling menyatu.
.....
Ananta masih terfikir akan pertanyaan Dara beberapa waktu lalu.
'Sayang kenapa kematian mendekati Anak sekecil Alin?'
saat itu ia menjawab.
'Karna kematian tidak melihat usia, hidup,jodoh, rezeki dan kematian adalah Destiny'
Nanta jadi berfikir, takdir itu keputusan Allah, bisakah ia meminta jika Dara adalah jodohnya.
Dia menunduk melihat wajah lelap kekasihnya. Kepala Dara miring berbantal bahunya, ia bisa melihat jelas wajah cantik gadis itu. Bagaimana bisa ia menyampaikan pada Dara jika orang tuanya tak ingin ia bersama Dara karna agamanya. Biarlah waktu membuktikan ia akan berusaha bersama Dara dan berharap berujung bersamanya. Diusap perlahan pipi kekasihnya itu, mengecup lembut dahi Dara. Ia ikut terlelap menyelami mimpi untuk menyambut esok hari penuh teka-teki.
....
Pagi ini Nanta berbicara pada dokter yang menangani Andara. Dokter bilang Andara hanya butuh perhatian lebih, makanannya harus gizi yang tepat dan tidurnya harus teratur. Nanta mengangguk dan keluar dari ruangan dokter setelah mendapat izin untuk kepulangan Andara. Ia terus terfikir ucapan dokter sepanjang jalan menuju Kamar Rawat Andara.
Bagaimana caranya Andara mendapatkan perhatian seperti itu? tentu saja Ananta tidak bisa selalu ada 24 jam untuk mengawasi rutinitas Andara. Itu harusnya tugas mamanya Andara. Tapi apalah di kata, bahkan putrinya tidak pernah pulang selama 2 tahun saja mereka tak perduli, sibuk dengan kehidupan masing-masing. Untung saja Andara bisa mandiri memenuhi kebutuhannya.
Andara adalah seorang model untuk sampul majalah remaja. Meski tak banyak itu bisa untuk membiayai sekolahnya dan di tambah lagi uang dari hasil melukisnya, itu bisa membiayai bayar apartemen, makan dan kebutuhan sandang lainnya. Dara menolak bantuannya karna ia bilang Nanta tak punya tanggung jawab untuk menghidupi dirinya.
Hingga tanpa sadar ia sudah ada di depan pintu, ia bersandar di dinding tanpa berniat masuk. Sesungguhnya Ananta ingin memperistri Andara karna tak ingin gadis itu memikul beban sendirian, tapi ia takut akan membatasi Andara yang masih berstatus pelajar.
Matanya terpejam erat. fikirannya menerawang jauh, sungguh cintanya tulus untuk Andara, tapi orang tuanya melarang bahkan sebelum melihat Andara. Padahal Andara adalah gadis baik, di usianya ia sudah mandiri dan tidak pernah menilai orang dari materi. Hubungan mereka di bangun dengan pilar saling percaya. Memang hanya satu kekurangan dari hubungan mereka yaitu perbedaan keyakinan.
Lamunannya di hentikan oleh suara seorang, laki-laki yang adalah perawat di rumah sakit ini.
"Andara sudah di izinkan pulang, tapi saya ingin memeriksa keadaan nya terlebih dahulu," ujar perawat itu ramah karna Ananta sedikit menghalangi pintu masuk.
"Baik silahkan," balas Ananta ramah, ia pun ikut masuk bersama perawat tadi.
"Kak Rion, Dara udah boleh pulang kan?"
"Nanti kakak cek dulu, meski sudah boleh pulang. Dirumah nanti harus jaga pola makan ya, katanya ingin jadi dokter," jelas Rion sambil memeriksa keadaan Dara yang memang mulai membaik.
Ananta melihat interaksi mereka berdua yang cukup Akrab dan saling melempar senyum seperti sudah lama kenal. Sebenarnya ia tak heran, karna Dara memang mudah mengenal orang.
"Kakak tadi belom makan kan? nanti kita mampir ke minimarket ya kak, beli bahan masakan." menoleh ke arah Nanta yang berdiri di dekat Rion.
Rion hanya diam ia sebenarnya agak risih berada di antara mereka, karna ntahlah perasaannya tidak nyaman dan sedikit kesal.
"Iya sayang," balas Ananta dengan senyum manis di wajah tampannya.
"Sudah, jadi ingat pesan dokter ya Dara," ucap Rion cepat dengan senyum yang masih terpasang di wajahnya. Ia ingin segera keluar dari sini.
__ADS_1
"Baik kak." senyum Andara bisa melunakkan hati Rion yang kesal. ia pun mengangguk dan mengucapkan permisi sebelum berlalu pergi.
"Kamu terlihat akrab dengan perawat tadi." tanya Ananta sambil membereskan barang-barang mereka, karna selama Andara di rawat di sini, Ananta banyak membawa barang yang mungkin di perlukan Andara. Agar Andara nyaman di rumah sakit ini.
"Kak Rion itu kakak perawat yang semalem Dara cerita'in kak, maaf lupa ngenalin." menampakkan giginya yang rapi. Mana bisa Nanta kesal pada gadis manisnya itu.
.......
Mereka sedang berbelanja di bagian rak buah.
"Kak, mau ini apa yang ini?" Dara memegang apel di tangan kanan dan buah alpukat di tangan kiri. Keduanya adalah buah favorit Nanta.
"Yang kiri, kakak pengen bikin jus alpukat buat kita nanti," balas Nanta sambil memilih buah jeruk di sebrang Andara.
"Oke." cengiran khas Andara adalah yang tercantik.
Mereka masih berkeliling dengan troly yang sudah penuh buah. Pergi ke arah rak berisi macam-macam buah kurma. Itu buah favorit Andara dan Nanta. Sambil bercanda mereka terus memilih buah itu dengan semangat. Tanpa tau jika mereka sedang menjadi perhatian di sekitar itu. Kebetulan sekali di minimarket itu orang tua Nanta juga sedang mampir, membeli minum dan cemilan sepulang dari rumah Kakeknya Nanta.
Sebenarnya Nanta dan orang tuanya tinggal terpisah, berbeda kota karena kuliah Nanta yang menuntunnya untuk tinggal di kota ini.
Uminya Nanta penasaran dengan pasangan muda yang sedang di perhatikan beberapa orang di sini. Karna posisinya yang berada di belakang Nanta dan Andara ia tak bisa melihat jelas wajah mereka. Ia berlalu saja menuju kasir karna suaminya sudah menunggu di mobil cukup lama.
"Udah yuk ke kasir, udah terlalu banyak belanjaan kita. seperti belanja untuk sebulan." Canda Dara sambil tertawa yang di ikuti juga oleh tawa Nanta. mereka menuju kasir yang sayangnya sedang antri. Jadi Nanta mengajak Dara berkeliling lagi mencari susu untuk Dara.
.....
Setelah selesai dengan urusan pembayaran, mereka keluar minimarket dengan plastik belanjaan di tangan kanan dan kiri mereka. Tapi karna Dara lupa membeli sesuatu untuk kebutuhan tamu bulanannya. Ia kembali masuk lagi dengan alasan ingin membeli roti.
Nanta mengiyakan dan berlalu menuju mobilnya. Membawa semua barang belanjaan dan memasukkannya ke bagasi mobil.
"Nanta," panggil orang itu.
Nanta berbalik dan terkejut, "Umi." Ia langsung mencium tangan Uminya
"Kamu kenapa kemarin tidak kerumah kakek? padahal Abi dan Umi kan rindu kamu."
"Maaf umi, emm umi sudah mau pulang? dimana Abi?" tanya Nanta khawatir karena tak ingin Dara bertemu Uminya sekarang. Ia ingin mengenalkan Dara pada keluarganya dengan cara yang benar suatu hari nanti.
"Ada di mobil. kamu kapan pulang? kenapa pulang saja harus di suruh atau di telfon dulu. Kamu tidak sayang Umi?" ucap Uminya dengan nada sedih yang juga membuat Nanta jadi sedih dan merasa bersalah.
"Nanta sayang Umi juga sayang Abi, tapi Nanta belum bisa pulang karna jadwal kuliah padat," balas Nanta sambil menggenggam tangan Uminya.
"Lalu, sekarang kamu lagi gak ada kelas?" tanya Umi karna ini masih jam 10 pagi.
"Tidak ada Umi, ayo ke mobil Abi, Nanta mau memeluk Abi dulu." ajak Nanta sambil menarik tangan Uminya pelan.
"Iya Abi pasti senang kita tidak sengaja bertemu di sini, semalam ia kecewa kamu tidak kerumah kakek. Abi menunggumu gelisah karena rindu."
"Maafkan Nanta ya umi." mereka terus berjalan menuju mobil sang Abi.
......
__ADS_1
"Loh kak Nanta di mana? kok mobilnya kosong?" Dara bingung karena saat ia sampai mobil ternyata di kunci dan pemiliknya tidak ada di mobil. Ia menunggu bersandar di pintu bagian depan sambil tanggannya memegang ponsel. Ingin mencoba menghubungi Nanta.
Ia clingukan mencari keadaan kekasihnya. panggilannya tidak di jawab. Ia berdiri menundukkan kepala menunggu kedatangan Nanta.
5 menit kemudian
"Hei, maaf ya nunggu lama!" ditatapnya sang kekasih yang wajahnya sedikit kesal dan khawatir.
"Kakak dari mana? aku bingung kirain kakak pulang," ujarnya tanpa mau menatap mata Nanta. dan Nanta sudah hafal jika sudah begini pasti ia sedang kesal.
"Iya kakak tadi bertemu Abi dan Umi, mereka baru saja mau pulang." Nanta menjelaskan sambil membukakan pintu mobil dan mendorong pelan Andara masuk ke mobil.
Selama perjalanan mereka hanya diam hingga Andara membuka percakapan.
"Kenapa kakak tidak memanggil Dara. Kakak malu ya mengenalkan Dara ke orang tua kakak?" tanya Andara dengan suara pelan. ini masalah yang sedikit sentimentil untuk mereka.
"Enggak! hanya saja mereka terburu-buru. makanya kakak tidak memanggilmu," jawab Nanta dengan tersenyum tanpa menatap mata Andara karna tak mau memperpanjang pembicaraan ini.
Dara juga tak ingin melanjutkan pembicaraan ini lagi.
"Oh iya kak, tadi Dara lupa pamit ke Alin. Besok pasti dia nyari'in Alin ke kamar tadi."
"Besok kapan-kapan kita jenguk dia bersama. Kakak juga ingin melihat senyum manis gadis kuat itu."
Mereka mengakhiri percakapan dengan senyuman dan mendengarkan musik melalui handphone Nanta.
Alunan musik bergenre pop klasik menemani perjalanan mereka menuju apartemen.
.....
Mereka sampai dan langsung menyiapkan makanan untuk makan siang nanti. Nanta bertugas memotong sedangkan Andara bertugas memasak. Mereka memasak dengan di selingi candaan dari Nanta. Tawa mereka memenuhi ruangan.
"Gimana enak nggak?" tanya Dara antusias.
"Em enak! kakak bisa habiskan ini semua karena seperti makanan restoran bintang lima," jawab Nanta sambil mengunyah tanpa melihat Andara.
"Aih kakak pujiannya malah bikin Andara tau kalo itu bohong tau." Andara memukul paha Nanta cukup keras tanpa sengaja.
"Ah, sakit sayang. merah nih pasti," ucap Nanta dramatis
"Eleh, biarin. ini lumayan enak tau kak." Dara sudah mencicipi masakannya tadi dan rasanya cukup enak kok di lidahnya.
"Iya memang enak sayang, kan aku bercanda tadi." melihat wajah memelas Nanta membuat Dara kesal tapi tak urung senyumnya akhirnya merekah.
Suara Azan zduhur terdengar merdu di telinga mereka. Nanta buru-buru menghabiskan makanannya. begitu juga dengan Dara.
.....
Nanta mengambil air wudhu di kamar Dara, karna hanya ada satu kamar mandi di sini yaitu di kamar Dara. Sedangkan Dara ia sibuk menata sajadah untuk sholat Nanta nanti. Kebiasaan Dara ketika Nanta di sini dan melaksanakan sholatnya, ia akan duduk di ranjang menghadap ke arah Nanta yang sedang melaksanakan sholat. Baginya saat terindah bersama Nanta bukan saat ngedate, atau makan malam romantis di restoran mewah, bukan. Tapi saat ia melihat laki-lakinya sholat. baginya sangat indah, apalagi saat Nanta mengaji. Tapi sangat jarang ia dapat mendengar Nanta mengaji.
______
__ADS_1
Orang lain punya persepsi nya masing-masing, melalui sudut pandang yang berbeda. Maka jangan samakan apa yang kamu lihat dengan apa yang orang lain lihat. Karena semua orang punya pendapat masing-masing.
Bagi sebagian orang cinta adalah memiliki, tapi ada juga sebagian orang yang melihat, cinta itu adalah saling memahami.