
Di pagi yang dingin, Dara masih bergelung dalam selimutnya. Semakin mengeratkan selimut pada tubuhnya karena masih dingin. Tapi matanya sudah terbuka menyadari laki-laki itu sudah tidak lagi ada di sampingnya. Dinginnya suhu pagi membuat Andara malas untuk bangkit dari tidurnya.
Ada suara berisik dapur, siapa lagi jika bukan Nanta kekasihnya. Semalam saat mengantar Dara pulang. Nanta baru mengetahui jika suhu badan Andara di atas suhu normal. Barulah ia tau dari mulut gadis itu jika badannya memang sedang tidak enak.
Nanta tak tega meninggalkan gadis itu dalam keadaan sakit, ia memutuskan untuk menemani gadis kecilnya itu. Meski tidur satu ranjang, mereka tidak melakukan kegiatan yang melewati batas. Hanya saling memeluk dan kadang mengecup bibir atau dahi. Nanta laki-laki normal, jelas kadang nafsu syahwat menguasai otaknya. Tapi rasa sayangnya untuk Andara lebih besar. Ia akan menjaga gadis itu bukan merusaknya.
Andara saja yang tidak peka, Kadang Nanta harus mati-matian menahan nafsu saat hanya berdua di kamar. Karena sudah terlalu sering jadi bukan hal yang sulit lagi untuk Nanta meredam nafsunya.
Dara menggeliat dalam selimut. Lalu matanya menoleh ke arah jarum jam, masih jam enam pagi. Tapi kekasihnya itu sudah sibuk di dapur.
Nanta sudah bangun sedari subuh tadi. Mengecek suhu tubuh Andara yang sudah normal namun masih sedikit hangat. Tapi bibir mungil itu terus mengeluh dingin. Nanta mengeratkan pelukannya. Dan bersiap bangun saat azan, kemudian lanjut membuat sarapan.
Dara muncul di sambut senyuman manis dari Ananta saat menoleh sekilas. Dara langsung menubrukkan badan memeluk kekasihnya dari belakang, menyandarkan dagunya pada bahu Ananta. Mengintip masakan apa yang di buat oleh kekasihnya itu.
"Badan kamu udah enakan?" tanya Nanta sambil tangannya sibuk memotong bakso dan sosis.
"Udah tapi masih sedikit pusing yang," ujar Andara manja.
Nanta mengulurkan tangannya ke belakang mengusap kepala gadis itu sayang.
"Kamu semalam mengigau, aku sempet takut. kamu di bangunin gak bangun-bangun. Tapi setelahnya kamu tidur lagi."
"Iyakah? Dara enggak sadar. Emang dara ngigau apa?" tanya Dara menempelkan pipinya pada punggung hangat kekasihnya.
"Em, kamu bilang jangan tinggalin Dara kak, Dara gak mau sendirian. Terus kamu nangis meluk aku semakin erat. Takut banget ya aku tinggal?" Goda Nanta dengan senyum, mata yang menyipit.
"Enggak, Itu kan cuma mimpi. Dara gak takut, wek." Dara mengejek.
"Yang bener gak takut? yakin?" Tanya Nanta dengan nada serius menyembunyikan tawanya.
"Iyalah, kenapa kakak mo pergi dengan wanita semalam. Ya udah sana, dia kan cantik. Sholehah lagi."
Dara masih saja mengingat kata kakek, yang mengatakan jika Nadia adalah wanita Sholehah idaman banyak kaum Adam. Dan sepertinya juga keluarga Nanta menyukai wanita itu di banding dirinya. Sejak semalam ia menganggap wanita ramah dan baik hati itu sebagai rivalnya.
"Wah, ada yang cembukur nih?" Nanta mengoseng sayurnya dengan sedikit susah karena Dara masih menempel di punggungnya.
"Dara enggak cemburu!" Dara mengelak dan duduk di kursi meja makan. Memiringkan kepalanya di atas meja. Menghindari untuk menatap Nanta. Nanta segera menyelesaikan masakannya. Dan menaruh di dalam mangkuk. Membawa Piring beserta gelas ke atas meja makan. Sungguh laki-laki idaman, selain pintar masak juga sangat perhatian.
Setelah selesai menghidangkan sarapan di atas meja, Nanta melihat pada kekasihnya yang ngambek tak mau melihatnya. Biasanya Dara akan membantu menyiapkan Makanan. Sepertinya mood gadis itu sedang buruk.
Nanta berjalan hingga tepat berada di depan gadis itu. Duduk jongkok di depannya, Menatap pada manik mata biru yang juga sedang menatapnya.
"Kenapa sih di tekuk gitu wajahnya. Entar cantiknya ilang loh." Tangannya terulur mengusap pipi itu dengan punggung tangannya.
"Dara gak kenapa-kenapa kok." Elak Dara tapi masih dengan wajah cemberut.
Nanta paham jika gadisnya ini sedang cemburu. Gadis ini tak pernah marah atau menyuruhnya menjauhi gadis-gadis yang berusaha mendekatinya. Tapi ia hanya cemberut Seperti ini hingga moodnya kembali membaik. Itu yang membuat Nanta semakin sayang. Nanta tak pernah di tuntut ini itu, Karena Andara termasuk gadis mandiri. Meskipun sikap manjanya kadang sedikit merepotkan. Tapi malah terlihat manis di mata Ananta.
"Sayang, tau enggak? Bahkan senyuman Bidadari-pun tak seindah senyum cantikmu. Aku yakin itu." Nanta mengecup bibir itu sekilas.
"Gombal, Pagi-pagi udah ngereceh aja Lo kak." Dara menahan senyum yang hampir mengembang mendengar gombalan Nanta. Tapi pipinya yang memerah tak dapat di sembunyikan.
Nanta jadi gemas, mencubit pelan pipi merah itu. Dara bukan tipe cewek yang marah dalam waktu lama. Karakternya yang takut sendirian, membuatnya selalu menghargai setiap hubungan. Bukankah gadis ini paket komplit, Nanta mengecup dahi Andara.
"Kamu gadis tercantik pemilik hatiku, apa yang membuatmu ragu sayang."
yang membuat ku ragu, ya karena kamu dan keluargamu dekat dengan wanita itu.
__ADS_1
Tapi itu tidak benar-benar Dara ucapkan. Ia memeluk laki-laki di hadapannya. Tatapan hangat dari mata laki-laki itu ikut menghangatkan Hatinya.
"Dara sayang banget sama kakak."
Nanta mengusap punggung gadis itu. Gadis kecilnya sudah semakin cantik dan dewasa.
"Udah makan dulu, entar capcainya jadi dingin. Kan gak enak kalo dingin. Oh ya aku buat udang goreng juga ini." Tangan Nanta dengan sigap mengambilkan lauk dan sayur ke piring Andara.
"Makasih kak." Biasanya perempuan yang melakukan itu pada laki-laki. Kekasihnya memang idaman.
Melirik pada wajah tampan kekasihnya yang masih sibuk mengambil lauk dan sayur. Hidung mancung dan rahang tegas tapi selalu menampilkan senyum, itu yang membuatnya terkenal ramah.
Mereka menghabiskan makanan dengan di selingi candaan. Lalu, mencuci piring bersama. Namun, dering telpon dari ponsel Nanta menghentikan keseruan mereka.
"Angkat aja kak, biar Dara yang selesai'in."
"ya udah, bentar ya," Nanta mencuci tangannya dan langsung meraih ponselnya yang terus berdering.
"Hallo, assalamualaikum Umi," sapanya pada penelpon
"Apa! iya Nanta akan segera ke sana sebentar lagi."
"Siap, wallaikumsalam." Wajah Nanta yang berubah tegang membuat Andara ikut terdiam.
"sayang aku mau balik ke rumah sakit. Kamu baik-baik y di sini. Kalo kesepian, maen aja ke rumah Saka. Oke?" Tanyanya sambil memegang kedua pundak Andara.
"Em kenapa, ada apa kok kamu kayak panik gitu," tanya Andara ikut panik.
"Kakek koma, nanti aku jelasin y, sekarang aku pergi dulu ya?" Nanta tak menunggu jawaban Andara, ia langsung masuk ke kamar mengambil kunci mobilnya.
"Jangan, kamu harus istirahat. Gak mau kamu sakit lagi. Jadi nanti di rumah Saka juga jangan banyak aktivitas dulu. Jan keluyuran kemana-mana dulu. Oke?" Nanta memastikan sebelum keluar dari pintu.
Dara mengangguk patuh. Nanta menghadiahkan senyumnya, Ia keluar dan melihat ada Buket bunga di depan pintu Seperti biasa. Memberikan buket itu pada Dara, dan langsung berlari menuju lift.
Dara tak memperhatikan Buket di tangannya itu, ia fokus pada Nanta yang sudah menghilang. Dia juga khawatir, meskipun kakeknya Nanta menyebalkan. Tapi orang tua Nanta baik, mereka pasti sedang sedih. Sebenarnya ia ingin ikut, tapi urung karena tak ingin menambah beban Nanta di sana nanti.
...........
Nanta sampai di rumah sakit hanya dalam 20 menit, Itupun sudah sangat mengebut, ia mengendarai mobilnya. di lihatnya di lorong rumah sakit, orangtuanya sedang menangis dan berpelukan. Nanta jadi makin khawatir dan berlari.
"Kenapa bisa koma Bi, kan semalam juga baik-baik aja," tanya Nanta sedikit panik, melihat Uminya sudah menangis dan tubuhnya sedikit lemah. Makanya Abi berusaha menopang tubuh Umi.
"Entahlah, dokter bilang kita hanya bisa berdoa, semoga kakek bisa bertahan," jawab Abi dengan raut sedih.
Nanta duduk di kursi tunggu dengan cemas, tak lama Nadia datang dengan berlari ke arah mereka. Nanta sedikit heran dengan kehadiran Nadia.
apa orang tuanya juga mengabari wanita itu?
Nanta menundukkan pandangannya ke arah lantai. Teringat kenangan bersama kakek, mereka cukup dekat. Sehingga rasa sayangnya untuk kakek juga besar.
"Nak kamu sudah datang. Ayo kita bicarakan ini pada Nanta juga," ajak Abi, menarik pelan Umi untuk duduk di sebelah Nanta.
Sedangkan, Nadia juga duduk. Berjarak satu kursi dari Ananta. Nanta jadi bingung, apa yang perlu di bicarakan saat genting seperti ini.
"Nak, sebelum kakek koma tadi, Ia sempat meminta untuk kalian menikah sebelum ajal menjemputnya," Ucap Umi dengan suara bergetar. Ayah mertuanya itu sangat ingin melihat Nanta menikah sebelum kematiannya.
"Nikah? dengan siapa?" Jawab Nanta jadi sedikit menaikkan suaranya.
__ADS_1
"Dengan Nadia, itu permintaan kakek. Abi juga sudah menelpon Orang tua Nadia, Kalian akan menikah hari ini!" Abi mengatakan itu dengan tegas.
Nanta membisu, menggelengkan kepalanya kuat. Ia menengok ke arah Nadia. Wanita itu juga hanya diam, menunduk tanpa mau mengangkat wajahnya.
"Nak Nadia mau kan, memenuhi permintaan kakek, untuk menikah dengan Ananta?" Tanya Abi memastikan.
Nanta membuka mulut tak percaya, Abinya bahkan tidak menanyakan ini terlebih dulu padanya. Sebelum Nadia menjawab, Ananta sudah lebih dulu menyela. Ia berdiri dari duduknya.
"Nanta gak mau Bi, Nanta hanya akan menikahi Andara! Abi tidak bisa memaksa Nanta!" Jawabnya dengan emosi.
"Sabar nak, duduk lah. Kita bicarakan ini dengan kepala dingin," Umi membujuk Ananta, karena puteranya sudah bersikap tidak sopan terhadap Abinya.
"Umi, Nanta gak mau Mi. Nanta menyukai Andara, hanya Dara Mi." Nanta memeluk Uminya meminta pertolongan.
Nadia yang mendengar itu hanya semakin menundukkan pandangannya. Ia sedih, mendengar laki-laki yang akan di nikahinya mengungkapkan rasa untuk gadis lain. Ia pasrah, ini takdir Allah, jika memang Allah berkehendak agar ia menikah dengan Nanta dengan cara seperti ini, Ia akan ikhlas.
Melihat sekilas pada Nanta yang mengis, Sampai Seperti ini laki-laki itu menolaknya. Miris, namun Nadia menganggap ini adalah jawaban dari do'anya selama ini. Ia berharap bisa mengambil hati laki-laki yang di cintai nya ini. Tapi, sebelum ia bisa mengambil hatinya, Allah sudah menakdirkannya untuk menikah dengan laki-laki itu.
"Kalian akan menikah secara agama terlebih dahulu, karena untuk mengurusnya secara hukum itu agak lama. Kita sedang terburu-buru saat ini," Ucap Abi ada keduanya.
Nadia mengusap dadanya pelan, setidaknya ia masih punya waktu untuk mengambil hati Nanta setelah halal nanti. Ia akan berusaha meyakinkan Nanta tentang perasaannya.
Nanta hanya diam dengan pandangan kosong. Baru tadi pagi ia bilang pada gadis kecilnya, tidak akan meninggalkannya. Sekarang apa? bahkan ia akan menikahi wanita lain. Tak terbayang bagaimana hancurnya hati gadis kesayangannya itu. Mengusap kasar pada wajahnya. Tidak! Nanta tak ingin membuat orang yang di cintai nya sedih.
"Aku punya syarat!" Ucapnya tanpa mengangkat pandangan pada mereka. Tangannya mengepal erat.
Mereka hanya diam, Nanta menganggap itu sebagai persetujuan atas syarat yang akan di ajukan nya.
"Nanta mau menikahi Nadia, tapi dengan syarat..." Nanta menunda ucapannya menatap satu persatu wajah yang menantikan apa yang akan di ajukan nya. Dengan mengucap bismillah ia mengatakan dengan yakin.
"Nanta mau asalkan tidak ada yang mengetahui ini selain kita, dan orang tua Nadia. Demi kakek, Nanta akan menikahi Nadia dengan syarat ini, jika disetujui." Ia membuang muka ke arah lain, berusaha tak menatap wajah terkejut dari orang-orang itu.
"kenapa hah, kamu masih mau dekat dengan gadis non muslim itu setelah menikah!?" ucap Abinya dengan suara keras.
Emosinya tak dapat lagi di tahan, bagaimana bisa puteranya itu mengucapkan kata, seakan meremehkan ikatan sebuah pernikahan.
"Sadar nak, kamu sadar apa yang kamu katakan itu menyakiti hati Nadia? terlebih Andara itu berbeda dengan kamu nak," tanya Umi sambil menggeleng tak menyangka.
Nanta hanya diam. Dia tak mencintai Nadia, dia hanya mencintai Andara, dan mereka saling mencintai.
Nadia juga diam, meneteskan air mata. Mengusapnya perlahan agar tidak diketahui oleh mereka. Ia tidak ingin memperkeruh suasana yang sudah memanas antara Nanta dan orang tuanya. Bibirnya kelu, ia ingin mengucap tapi ragu, menatap mata Nanta. Di sana hanya ada Andara, wajar karena gadis itu sudah hadir lebih dulu dalam hidup Nanta. Bahkan mungkin namanya sudah tertanam dalam di Hatinya. Kuatkah ia menjalani pernikahan ini nanti?
Mereka hanya diam saat menunggu kedatangan Orang tua Nadia. Masalah tadi tak lagi di sebutkan. Berharap jika tak berarti apapun nanti setelah pernikahan ini terjadi. Orang tua Nanta sangat berharap puteranya dapat ikhlas menjalani pernikahan wasiat ini.
Dokter yang baru saja masuk mengecek kondisi Kakek, sudah angket tangan. Infus tak lagi bisa masuk ke pembuluh darah kakek. Dengan gusar dan kalut semua hanya bisa menangis dalam diam.
Saat hari menjelang siang, orangtua Nadia datang bersama penghulu. Nadia dan Nanta gugup, jantung berdegup kencang pada keduanya. Nanta yang ragu karena ini pernikahan suci yang akan di saksikan malaikat dan bukan permainan. Sedangkan Hatinya hanya untuk Andara, bagaimana ia nanti akan mempertanggung jawabkan di hadapan sang kuasa, Allah SWT.
Nadia juga sedikit ragu, bisakah ia bertahan. Kuatkah ia menikah dengan laki-laki yang mempunyai wanita lain di hatinya. Seperti apa kehidupan rumah tangga mereka nanti. Dan ia juga tak mampu jika bertemu dengan Andara suatu hari nanti. Ia seperti pencuri, bukan seperti ini yang di harapkan. Ia ingin mengambil hati Nanta terlebih dahulu. Bukan seperti penjahat dalam hubungan mereka. Air matanya luruh, hatinya kalut.
Para orang tua memutuskan untuk menikahkan mereka setelah sholat Ashar berjamaah di mushola rumah sakit. Pernikahan harus segera dilaksanakan selagi kakek masih bernapas.
........
*look into my eyes, you Will see. what you mean to me, search your heart, search your soul. And when you find me there, you'll search no more!
Nadia*
__ADS_1