
Dara memasuki Blumchen Coffee bersama Vian. Sebenarnya Dara akan pergi menggunakan taksi, tapi Vian sudah lebih dulu menjemputnya. Mereka ternyata datang lebih dulu di bandingkan yang lain. Dara duduk di sebelah Vian.
"Vian, boleh pesen dulu enggak sambil nunggu mereka dateng?" tanya Dara penuh harap.
"Boleh, kayaknya kita kecepetan 15 menit," Vian mengangguk menyetujui, lalu memanggil pelayan.
Pelayan menunjukkan menu yang tersedia pada Vian. Vian belum mau memesan jadi ia serahkan daftar menu pada Andara yang langsung di terima oleh gadis itu.
"Saya pesen minum dulu aja mbak, em Vanilla house blend satu y mbak," ujarnya tersenyum pada pelayan itu.
"Lo Ian, pesen apa?" Dara menoleh ke sisinya.
"Em, samain aja deh." Jawaban Vian di angguki oleh pelayan tersebut.
Ia berubah pikiran karena ingin mencoba juga minuman yang di pesan Andara.
Pelayan tersebut hanya tersenyum malu, siapa yang tidak senang bisa mendapat senyum dari laki-laki setampan Vian. meski usianya masih lebih muda tetap saja pelayan itu cukup senang, untung pelayan tersebut dapat bekerja secara profesional.
"Baik, mohon menunggu sebentar." pelayan itu berlalu pergi.
"Ian, kalo Minggu besok gue masuk dalam daftar Siswi yang ikut remedial, Lo masih mau ngajarin gue kan?"
Dara khawatir jika Vian tak mau mengajarinya lagi karena sudah menyia-nyiakan usahanya dalam mengajarinya seminggu penuh kemarin. Yang di tanya malah jadi gemas melihat mata bermanik biru itu menatap melas ke arahnya.
"Iya bawel, lagian kan belum pasti remed. kenapa deh pake di pikir." Ia tak tahan tidak mencubit pipi gadis imut di depannya.
"Ya Lo udah capek ngajarin, tapi masak gue masih dapet nilai jelek!" ujar Andara cemberut.
"Lo lagi nyalahin diri Lo apa nyalahin gue nih," Tanya Vian mengoreksi ucapan Andara.
"Ya salah Lo juga." Dara meledek, menjulurkan lidahnya ke arah laki-laki di sampingnya.
"Salah mulu gue!" meski di ucapkan dengan nada kesal tapi itu hanya candaan.
Mereka mengobrol hingga Vanilla house blend di gelas Andara sudah habis berpindah ke perut Andara, tapi yang lain tak kunjung juga datang. Dara mencoba menelpon Saka, namun tak di respon.
"Mungkin di jalan dia. Kan naik motor pasti dia gak tau ada telpon." Vian yang sedari tadi melihat kecemasan Andara jadi tak tega, ia juga ikut menelpon yang lainnya.
"Mereka kok lama, apa terjadi sesuatu di jalan?" Andara menyampaikan statement dengan wajah panik melotot ke arah Vian.
Vian yang gemas langsung meraup wajah itu dengan gemas, ayolah semakin berekspresi, maka wajah gadis itu semakin menggemaskan seperti boneka.
"Gak usah mikir macem-macem deh, baru juga telat 15 menit kan!" Melihat Mimik wajah Andara masih mengernyit khawatir.
"Atau mau pesan lagi, cookies mau?" Vian menawarkan barang kali itu bisa mengusir kekhawatiran Andara.
"Gak mau! kok mereka kompakan gini sih telatnya," Dara menggerutu kesal.
Vian tersenyum saja hingga pandangannya terpaku pada gitar yang terletak di panggung kecil di depan sana. Cafe ini menyediakan hiburan band atau bagi mereka yang mau menyumbangkan lagu.
"Gue mau nyanyi. Lo mau ikut gak?" Tunjuk Vian pada gitar di depan sana.
Andara bimbang untuk mengiyakan ajakan Vian. Tapi tak urung ia mengangguk juga pada akhirnya. Dan di balas senyum kemenangan dari bibir laki-laki itu.
Vian terlebih dahulu meminta ijin pada pihak Cafe yang tentu di ijinkan. Menarik tangan Andara berjalan menuju panggung kecil itu. Beberapa orang memperhatikan, mereka terpaku pada pasangan yang akan menyumbangkan lagu di depan sana.
Manik mata biru milik Andara cukup menyita perhatian, bahkan ada ibu-ibu yang mengelus perut buncitnya berharap anaknya nanti bisa secantik gadis di depan sana.
Mereka duet menyanyikan lagu favorit Andara Where is the love, dengan saling bersahutan. Meski bukan lagu yang bahagia, namun bisa merasakan feeling yang hebat ketika mendengarnya.
Belum juga selesai menyanyikan lagu tersebut, temannya telah datang hampir secara bersamaan. Di dahului Saka kemudian Alan, Fita dan Tyas menyusul di belakangnya.
Mereka sudah lebih dulu di sambut dengan duet maut Andara dan Vian. Mereka tersenyum saja, dan duduk di meja tempat Vian dan Andara duduk. Mereka tahu karena ada tas yang mereka kenal sebagai milik Andara di atas meja. Tas rancangan desainer terkenal, dengan model sederhana yang pas untuk di kenakan anak remaja. Itu hadiah dari seseorang karena Andara telah melukiskan foto keluarga yang memang di pesan oleh orang tersebut, dan hasilnya memuaskan.
"Buset, mereka bikin baper para pengunjung Cafe." Tunjuk Fita pada wanita yang sedang menangis di seberang meja mereka.
Alan yang sedari tadi fokus pada ponselnya mendongak, melihat ke arah yang di tunjuk Fita.
"Lah itu mah dia bukan baper! lagi berantem sama pacarnya." Alan memutar bola matanya malas, terlihat jelas jika wanita itu menangis karena sedang cekcok dengan laki-laki di depannya.
Saka dan Tyas ikut tersenyum, Alan meskipun tak menggubris apa yang terjadi di sekitarnya, tapi ia tahu hanya dengan pandangan sekilas. Alan memang sangat peka terhadap suasana lingkungan di sekitarnya di banding teman yang lain.
__ADS_1
"Pesen deh, sekalian mereka berdua di pesenin," Ujar Tyas yang langsung di tanggapi Fita dengan memanggil pelayan.
"Nih gelas siapa? kok gak di beresin?" Tanya Tyas pada yang lain, tapi langsung di tanggapi oleh Pelayan yang sedang mencatat pesanan.
"Oh itu milik mbak yang nyanyi itu." Tunjuknya pada gadis yang menyanyi di panggung.
"Udah mbak pesan itu aja." Ujar Fita setelah selesai menyebutkan pesanannya tadi.
"Siap, mohon menunggu sebentar," ucapnya sopan.
Mereka mengangguk, suasana Cafe ini sangat nyaman. Di tambah lagu yang di bawakan Andara dan Vian cukup menghidupkan suasana bagi mereka yang bisa mendapatkan feeling dari lagu tersebut.
Saka membuka tas milik Andara yang kebetulan ada di depannya. Ada suara dering telpon lagu yang sama dari tas tersebut. Saka melihat notif dua panggilan tak terjawab dari Ananta.
Telpon yang sudah di letakkannya di meja itu berdering lagi dari nomer yang sama. Saka malas mengangkat telpon tersebut, masih teringat wajah kalut Andara di gudang gara-gara laki-laki bodoh itu. Tapi teguran teman-temannya membuatnya terpaksa mengangkat panggilan itu.
'Hallo sayang, kok lama angkatnya?' sapa suara di seberang sana.
"Hmm." Saka hanya menjawab dengan deheman.
Nanta yang mengenali suara itu langsung bertanya. "Kok Lo yang angkat sih? Dara mana?"
"Ada!" Jawabnya ketus.
Nanta sudah biasa dengan sikap Saka, jadi ia mengabaikan sikap Saka dan menanyakan ulang keberadaan Andara.
"Kalian lagi di mana? itu kek suara Andara!" Memang Nanta tentu dapat mendengar suara kekasihnya sedang menyanyikan lagu yang cukup di kenalnya.
"Nongkrong, udah deh. Lo urusin aja dulu masalah Lo! Jan seret masalah ini terlalu lama. Hatinya bisa terluka makin dalam! brengsek!" Sentak Saka yang langsung mematikan sambungan telpon secara sepihak.
Alan, Tyas, Fita yang mencuri dengar pembicaraan Saka dengan orang yang mereka tebak adalah Nanta itu cukup bikin mereka penasaran. Apa yang membuat Saka sangat marah? dan hati siapa yang akan terluka? Tapi mereka tak berani menanyakan jika tidak Saka sendiri yang berinisiatif untuk cerita. Menelan rasa penasaran, meminum cappuccino dengan saling bertatapan.
"Ih kalian kok lama!" Protes Andara pada ke empatnya.
"Macet, ini kan jam pulang kantor. Kami kejebak lama di lampu merah dekat sini." Tyas menjelaskan sambil menarik Andara untuk duduk.
"Nih pesanan Lo! Lagian Lo kan nunggu gak sendirian." tambah Alan, tangannya terulur mendekatkan bubble milk, dengan mata masih terpaku pada ponsel.
Vian hanya mengangguk saja, bagaimana bisa gadis manja seperti Andara hidup sendiri di apartemen.
Dara yang akan protes lagi, mulutnya sudah penuh cookies yang di suapkan Saka. Ia melirik kesal ke arah laki-laki itu. Mengunyah dengan keras seolah sedang mengatakan jika dia makin kesal.
Suasana yang tadi tegang akibat Saka yang marah dengan orang di seberang telepon. Sekarang sudah kembali normal, dan tawa menghiasi wajah masing-masing dari mereka, melupakan kejadian tadi.
hingga sudah cukup lama mereka di sana, ini sudah jam delapan malam. padahal mereka ke sini tadi jam lima, memang saat kita menikmati waktu maka waktu terasa lebih cepat.
Fita pamit pulang terlebih dahulu karena orang tuanya sudah berkali-kali menghubunginya. Tyas juga ikut pulang bareng Alan karena gadis itu memang nebeng Alan tadi, rumah mereka berdekatan.
"Vian pulang yuk." Ajak Andara tapi belum juga Vian menjawab, Ia mengurungkan niatnya.
"Gak jadi deh, sepi di apartemen. Kan Mian masih di rumah Bunda," ujarnya tertawa miris.
Saka pura-pura tak mendengar kalimat yang di lontarkan gadis itu. Tapi beda dengan Vian yang menyambut ungkapan Dara dengan antusias.
"Ke rumah gue aja yuk?" Ajaknya semangat.
"Males, ke rumah Lo gue ke inget belajar Mulu!"
"Ye, masak gitu!" Protes Vian.
"Iya, gue trauma sama kamar Lo!" Dara mengucapkan dengan yakin tapi wajahnya menunjukkan jika sedang menggoda saja.
Vian yang gemas langsung mengapit kepala Andara gemas. "Ampun gak! besok gak gue ajarin lagi Lo ya!" Ujarnya di sambut tawa dari bibir gadis itu.
"Iya, ampun." Tawanya tak berhenti hingga Vian melepaskan dekapannya.
"udah malu noh di liatin semut." Saka menggeleng melihat mereka.
"Semutnya entar aku injek!" Tantang Dara pada Saka.
"Entar aku balasin dendam mereka. aku injek juga kamu!" Saka membalas dengan ekspresi meremehkan.
"Berani?" ujarnya galak.
__ADS_1
"Kenapa gak berani? kamu aku tendang juga melayang!"
"Saka kejam." Cibirnya pada Saka.
Vian mendapat telpon dari Mamanya. Ia langsung pamit pulang pada keduanya. Dara benar-benar tak ingin pulang. Jadilah Saka harus menemani gadis itu.
Saka pamit ke toilet, Dara membuka aplikasi di ponselnya. Membalas chat dari beberapa orang penting, dan salah satunya dari Mbak Tia dan Ananta. Tapi matanya yang tadi menatap ponsel jadi terangkat karena merasa mendengar suara Nanta di sini.
Dan benar saja, di sana ada Nanta yang baru duduk, tapi ia tidak sendirian. Ada wanita cantik berhijab menemaninya. Dara meremas dadanya kuat. Siapa wanita itu? padahal ia baru berbalas pesan dengan Ananta yang katanya dari rumah kakek.
apa dia ke rumah kakek dengan wanita itu?
kenapa mereka terlihat akrab?
Pikirannya terus berputar di pertanyaan itu. Andara tidak pernah mengenal keluarga Nanta. Melihat mereka, hatinya merasa kecil. Wanita itu terlihat sangat cocok dengan kekasihnya. Ingin sekali ia menghampiri, tapi sepertinya keberadaannya hanya akan jadi pengganggu. Matanya mulai berkabut, tapi ia tahan dengan meyakinkan
"mereka pasti hanya temenan!"
sekeras apapun ia meyakinkan hati kecilnya merasa pemandangan di depannya ini salah.
"apa wanita itu yang akhir-akhir ini membuat Nanta jadi sibuk dan mengabaikannya?
Dara menggeleng mengusir pemikiran buruk yang merasuk ketika melihat mereka tertawa bahagia. Ia tersenyum miris, tapi tetap mengatakan pada dirinya sendiri.
"mereka pasti hanya teman!"
Dara memaksa senyum tanpa ia sadari Saka juga melihat apa yang di lihat Andara. Tangan laki-laki itu mengepal erat. Bagaimana bisa mereka tidak sadar dengan jarak sedekat ini. Padahal biasanya perasaan seseorang sedikit peka terhadap orang yang sudah di kenal akrab. Mungkin mereka sedang terbuai hingga tak menyadari sekitar.
"Balik yuk?" Ajak Saka pura-pura tidak melihat.
"Em jalan-jalan dulu yuk Ka? gue pengen jalan-jalan malem. Di sekitar sini aja kok."
Saka mengangguk mengambil tas Andara di atas meja lalu meraih tangan Andara untuk di genggam. Mereka keluar dari Cafe dan berkeliling di sekitar situ menikmati semilir angin yang sebenarnya cukup dingin malam ini.
"Ka, orang tua gue kok gak pernah nyari gue ya?" tanya Andara dengan pandangan kosong.
Andara merasa sendiri lagi. Orang tuanya tidak peduli dan Nanta juga sekarang punya orang lain yang lebih pantas untuknya. Akankah ia sendirian lagi setelah ini?
"Mungkin mereka udah tau keberadaan Lo, mengawasi dari jauh." Saka yakin dengan apa yang di ucapkannya.
Dara pernah cerita jika kadang rekeningnya dapet kirimin atas nama orangtuanya, meskipun Dara mengirim balik uang tersebut, besoknya maka akan terkirim lagi.
Orang tua Andara tidak sadar, jika itu membuat Andara jadi bingung. Seolah-olah mereka memang senang Andara pergi dari rumah dan tak mengharapkannya kembali. Tak pernah sekalipun mereka mengunjungi putrinya ini.
"Mereka mungkin memang bukan orang tua kandung gue deh Ka." Meski di katakan dengan lemah, tapi itu penuh keyakinan.
Pasalnya, dia juga punya warna mata yang tidak bisa di jelaskan, dan orang tua yang tidak mencari anaknya.
"Kan ada gue, Bunda dan Ayah yang ada di sisi Lo."
Mereka berjalan perlahan dengan pandangan fokus kedepan. suasana seperti ini, Saka sangat benci. Saka tidak pandai menghibur orang, ia hanya akan mengatakan apa yang menurutnya bisa sedikit mengurangi kebimbangan Andara.
"Untung ada kalian, gue gak sendirian. Tapi gue lebih seneng kalo kak Nanta menjadi salah satu dari kalian," ucapnya sedikit bergetar.
"Dia juga ada kok buat Lo. Jangan mudah percaya dengan apa yang Lo lihat. Coba denger penjelasan dia dulu." meski terdengar membela tapi dalam hati Saka ia merutuki kebodohan Nanta.
"Lo juga liat ya? dia cuma temennya kan Ka?"
Saka menoleh, tangannya menggenggam tangan Andara lebih erat.
"Lo gak yakin sama dia?"
"Gue yakin tapi gue juga seorang wanita Ka. Gue peka dengan pandangan mata .wanita itu berbeda ke kak Nanta." Andara berhenti berjalan dan memutar badan ke arah Saka.
Mata biru itu tampak berkabut hampir tumpah tangisnya. Namun senyum yang ditunjukkan di wajah cantiknya itu menguatkan untuk tidak menangis. Saka tersenyum mengulurkan tangan membelai sayang kepala gadis di depannya.
"Kenapa tadi gak di samperin aja, kan bisa langsung tanya ke mereka."
Andara menggeleng, ia tak mau jika kenyataan nanti benar-benar akan menamparnya. Ia belum sanggup menerima jika Kekasihnya di ambil wanita lain. Senyum. manis itu adalah milik Andara, dan pelukan itu juga miliknya. Dara mengklaim jika Nanta adalah hanya miliknya.
Kejadian dirinya yang di abaikan orang tuanya, menjadi trauma yang membentuk karakter Andara jadi ketakutan jika apa yang di milikinya di sentuh orang lain. Saka paham dan mengerti itu, makanya ia tidak pernah mau dekat dengan cewek manapun. Memang Andara tak pernah mengatakan bahkan saat Nanta di dekati teman kuliah wanitanya, yang memang menyukai laki-laki itu pun Dara tidak pernah membicarakan. Dara menyimpan ketakutan itu sendiri. Tidak percaya diri dan merasa jika tidak pantas untuk mempertanyakan.
Saka memeluk Andara di dekapannya saat mereka kembali untuk pulang, ia melihat Nanta keluar dari Cafe bersama wanita tadi. Menyembunyikan kepala Andara di dadanya agar tidak melihat jika Kekasihnya berada dalam mobil yang sama dengan wanita lain. Jelas mereka bukan cuma ketemuan, tapi memang kencan. Saka memandang kearah mobil itu dengan wajah mengeras menahan amarah.
__ADS_1