Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c16


__ADS_3

Rion yang baru masuk hari ini ia belum tahu jika Andara ada di sini juga. Yang ia tahu, gadis kecil itu sudah pergi. Dengan langkah gontai ia menuju ruangan pasien mengecek keadaan mereka. Hingga tiba di depan pintu VVIP, ia berpapasan dengan seseorang yang baru keluar dari ruangan itu, sepertinya tidak asing. Seperti pernah melihat wajahnya, tapi ia jadi berfikir mungkin ia pernah jadi pasien di sini.


Kakinya melangkah masuk, dan seperti mendapatkan kado ia terkejut senang. Entahlah ia harus senang atau sedih. Mungkin ia terkesan jahat, tapi jujur ia senang bisa bertemu dengan gadis itu lagi.


"ehem, pagi Dara." Rion tersenyum ramah, ia langsung mengecek keadaan Andara.


Andara membalas senyum kakak perawat itu. Ternyata mereka masih bertemu lagi.


"Pagi kak Rion."


"Badan kamu udah lebih baik, tapi coba untuk mengurangi terlalu banyak aktivitas." Rion selesai mengecek keadaan Andara.


"Iya kak, kayaknya Dara memang kecapean," ucap Andara sambil memamerkan gigi putihnya.


"Iya tuh liat, kamu sekarang agak kurusan." Rion duduk di kursi, dekat tempat tidur Andara. Padahal ia masih harus memeriksa pasien lain.


"Bagus dong! Andara gak perlu diet."


"Iya gak diet, tapi masuk rumah sakit lagi."


Rion memperhatikan wajah gadis di depannya. Jelas terlihat lingkar mata di sana dan wajah pucat dengan tulang pipi sedikit menonjol. Keadaan gadis itu seperti sudah sakit berhari-hari.


Karena merasa di perhatikan Andara jadi sedikit risih. Ia memasang senyum canggung, laki-laki di depannya ini sangat tampan dengan tampilan rapi. Tatapan matanya menyorotkan keramahan.


"Okey, tapi bukankah katanya ingin jadi dokter." sindir Rion, sambil melipat tangan di dada.


"Keadaan yang maksa Andara buat begini kak. Padahal Andara udah rutin minum vitamin loh." Bela Andara yang mendapat senyum dari Rion.


"Kamu ini. Ya udah aku tinggal dulu ya." Rion bangkit setelah memberikan senyum manis pada Andara. Tugasnya saat ini lebih penting dan harus di selesaikan terlebih dahulu.


"Kak, Alin udah pergi."


Langkah Rion berhenti tapi tidak berbalik. Ia tak ingin melihat wajah sedih gadis itu.


"Dia terlalu lama menahan sakit, Tuhan menolongnya." Setelah mengatakan itu Rion keluar dari ruangan Andara.


Di depan pintu, sudah ada Saka yang berdiri di sana dengan pandangan menyelidik. Tanpa menghiraukan tatapan laki-laki di depannya ia langsung menuju ke ruangan lain.


Saka masuk dan melihat wajah sedih Andara lagi. Ia jadi curiga dengan laki-laki tadi, karena sebelum di tinggal olehnya mood Andara sedang baik.


"Napa deh tuh muka jelek gitu, bosen gue liat muka jelek Lo."


Meski terdengar sarkasme tapi Andara tak terlalu mengambil hati. Ia hanya berdecak lalu berpaling, berusaha untuk tak memperlihatkan kesedihannya.


"Ya udah Sono buru, ntar Lo telat lagi ke sekolah." Usir Andara dengan kejam.


"Gue juga males lama-lama di sini." Ia menghampiri ponselnya yang tergeletak di sofa lalu melambai ke arah Andara sebelum pergi.


"Huh dasar nyebelin."


Andara ingat tentang Mian kucing kesayangan Alin. Nanti ia akan mengambil kucing itu setelah sembuh.


Andara ingin menghubungi Nanta, ia sudah rindu. Kemanakah perginya sang kekasih.


Tut Tut


Tersambung tapi tak di angkat.


Andara tak lagi menelpon. Ia membuka grub chat kelas. Disana banyak informasi, dan dia mengetahui jika harus segera menyusul pelajaran yang tertinggal.


.......


Nanta sedang menatap lantai Sambil mengepalkan tangannya. Hari ini Nadia dan keluarganya datang ke rumah. Mereka ingin bersilaturahmi sembari membicarakan masalah Perjodohan Nadia dan Nanta.


Mereka memandang Nanta terkejut. Tak pernah ia melihat Nanta marah. Tapi hari ini ia sangat marah karena tak ingin di jodohkan.

__ADS_1


"Jaga sikapmu nak," tegur Umi pada Nanta.


"Kamu sudah berani ngomong kasar di depan Abi?" Hatinya sakit, karena melihat putra kesayangannya berteriak di depannya.


"Maaf Abi, Umi. Nanta tak berniat kasar, tapi sungguh Nanta tak ingin di jodohkan."


Jawaban Nanta sebenarnya bisa di terima oleh orangtuanya. Hanya saja karena Nadia masih ngeyel ingin perjodohan ini tetap terjadi, di sini lah mulai ada pergolakan.


"Nak Nadia, apa alasanmu tetap ingin melanjutkan perjodohan ini," Tanya Abinya Nanta pada gadis berjilbab yang duduk di dekat Ayah dan Bundanya.


"Begini Abi, Umi dan Ayah juga Bunda. Nadia merasa dia orang yang baik. Nadia ridho jika perjodohan ini berlanjut."


Nadia berbicara dengan sopan menatap mereka dengan masih tersenyum, namun di setiap ucapannya jelas tergambar keyakinan.


"Maaf, tapi saya tidak bisa." Nanta tak ingin menatap Nadia sedikitpun. Sedari tadi ia menghindari untuk menetap Nadia karena kesal.


Para orang tua di sana juga diam. Bagaimanapun mereka berdua yang akan menjalani, jika salah satu menolak, mereka pun tak bisa memaksa.


"Tolong beri Nadia kesempatan untuk meyakinkan hatimu," ucap Nadia penuh keyakinan menatap ke arah Nanta.


Nanta melotot kesal ke arah Nadia. Ia tidak menyangka wanita yang terlihat lembut bisa begitu keras kepala.


Saat Nanta beranjak pergi dengan wajah kesal, tangan mengepal dan aura yang dingin. Nadia menghentikan langkahnya dengan ucapan yang membuat Nanta berhenti dan semua orang jadi menatapnya.


"Dia berbeda! kalian tak akan bisa bersatu!"


Orang tua Nanta mengerti maksud ucapan Nadia, tapi ia tak menyangka jika Nanta masih berhubungan dengan gadis yang Nanta ceritakan. Nanta pernah bilang sedang dekat dengan seorang dengan agama berbeda satu tahun yang lalu.


Nanta berbalik menatap geram pada Nadia. lalu ia menoleh ke arah orang tuanya yang melihatnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Mungkin ia memang harus mengatakannya, bagaimanapun memang ini tujuannya pulang ke Bandung. Membatalkan perjodohan dan meyakinkan orang tuanya tentang Andara.


"Jangan lihat dia dari agamanya, karena hatinya terlalu indah untuk di nilai," pernyataan tegas Nanta juga di tujukan pada semua orang di sini, bukan hanya pada Nadia.


Orang tua Nanta hanya diam, mereka memang terkejut, tapi mereka memilih untuk membicarakan nanti dengan Nanta saja. Mereka sempat melihat orang tua Nadia yang terkejut, karena ini memang cukup rumit.


"Sadar nak, jadi kau memilih gadis yang berbeda agama dari pada putri kami?" tanya Ayah Nadia memastikan keadaan yang sebenarnya.


Ia melirik kedua orangtuanya, ada sedikit kekecewaan yang terlihat di mata Abinya.


"Nadia, mari pulang nak. Nanta sudah menentukan pilihannya." ajak Ayah Nadia sembari mengangguk sopan ke arah Abi Nanta berniat pamit.


"Nadia tetap pada keinginan Nadia, Abi ,Umi, Ayah, Bunda. Izinkan Nadia mencoba mengambil hatinya." Nadia berujar dengan sopan kepada para orang tua, mengabaikan tatapan marah dari Nanta.


Mereka bingung, tapi bukankah bagus jika Nadia berhasil mengambil hati Nanta. Itu menyelamatkan Nanta dari kebimbangan.


Abi menoleh ke arah Nanta yang hanya menunduk diam dengan wajah kesal. Ia menunggu keputusan orang tuanya, Karena itu akan menentukan sikap yang harus di ambilnya nanti.


Abi menatap Nadia yang tetap menundukkan pandangannya. Nadia gadis yang taat dan pandai mengaji. Tentu Nadia adalah gadis yang mereka inginkan untuk di jadikan menantu. Tapi penolakan Nanta juga sedang ia pertimbangkan.


"Nak, berikan kesempatan pada Nadia. Maka Ayah akan memberikan kesempatan untukmu berpikir." Nada tegas yang Abi suarakan seperti memberi tahu jika keputusannya sudah final.


Abi mengambil resiko jika nanti Nanta tetap memilih gadis pilihannya.


Tapi ia berharap Nanta akan memilih gadis yang se agama dengannya, siapapun itu lebih baik karena seiman.


Nanta melihat Abinya. Ia tak ingin memberi Nadia kesempatan, tapi ia tak ingin menghilangkan kesempatan untuk meyakinkan mereka tentang Andara.


"Baiklah, asalkan itu tetap pada batasannya. meskipun keputusan Nanta tak akan berubah."


Nanta pergi meninggalkan ruangan itu menuju kamarnya tanpa pamit. Hatinya marah, bukan pada keputusan orang tuanya, tapi pada Nadia, ia menyesal telah mempercayai gadis itu. Cover memang tidak menunjukan karakter seseorang.


Ia menatap foto Andara di ponselnya. Senyum Andara yang cantik, bagiamana bisa ia memberi kepada wanita lain untuk mengambil hatinya. Ia tak ingin Andara kecewa, sungguh ia tak berniat membagi hatinya untuk wanita lain.


Di sana ada notifikasi panggilan tak terjawab dari Andara. Nanta belum sanggup berbicara pada Andara. Bagaimana gadis itu nanti, jika tau ada Nadia yang berusaha mengambil posisinya. Andara pasti terluka, sudah cukup luka yang Andara derita karena di abaikan orang tuanya.


Nanta beranjak dari tidurnya, ia menyambar kunci mobil di atas meja lalu keluar kamarnya. Di sana hanya tinggal orang tuanya yang masih duduk dengan wajah bingung dan kecewa. Nanta hanya berbicara sedikit untuk pamit pergi ke masjid, lalu pergi menuju mobilnya.

__ADS_1


Umi menatap punggung putranya yang menampakkan kegelisahan. Jika saja gadis pilihan Nanta itu bukan dari Agama yang berbeda, mungkin iapun akan mendukung putranya itu.


......


Setelah melaksanakan sholat Dzuhur, Nanta tak langsung beranjak meninggalkan masjid. Ia mendengar ceramah dari ustadz yang tadi mengimami. Isi ceramah itu tentang cinta. Ustadz menjelaskan bagaimana harusnya seseorang menyampaikan cintanya. Pada Allah terutama. Karena semakin kita mencintai pencipta maka semakin dekat kita pada keimanan.


Nanta masih belum beranjak sampai semua jamaah sudah habis. Ia masih merenung apakah ia salah jika mencintai Andara. Bukankah Allah yang mempertemukan mereka. Bukankah mereka juga di ciptakan sama. Hatinya tidak ragu atas cintanya pada Andara tapi ia bimbang bagaimana kelanjutan hubungannya nanti.


"Kamu ada masalah?" tanya pak ustadz karena melihat raut kebingungan pada wajah Nanta.


"Eh pak ustadz, em saya hanya sedang memikirkan apa yang pak ustadz sampaikan tadi." Nanta menyalimi tangan pak ustadz lalu duduk bersila di depannya.


"Ada yang ingin kau tanyakan?" pak ustadz memandang Nanta dengan senyum ramahnya.


Nanta ragu menyampaikan kebimbangannya. Ia mengamati sosok ustadz di depannya, sang ustadz memang terlihat bersahabat dan tidak kaku dalam berbicara.


"Apakah pak ustadz pernah mengalami kebimbangan tentang cinta?" tanya Nanta menatap tepat di mata pak ustadz yang juga menatapnya.


"Tentu pernah, saat seusiamu Aku juga pernah berada dalam pilihan sulit tentang cinta."


Pak ustadz berbicara sambil sedikit terkekeh, jadi ini yang membuat anak muda di depannya begitu bingung. Ia sedang bingung dengan cintanya. pak ustadz menepuk bahu Nanta pelan.


"Tanyakan itu pada Tuhan. Kamu hanya harus yakin dengan pilihanmu dan bertanggung jawab atas apa yang kamu pilih." Nanta tak menjawab, ia masih menunduk seperti ada beban berat di atas kepalanya.


Pak ustadz yang mengerti jika anak muda di depannya ini masih bingung.


"Apakah gadis yang kau sukai juga menyukaimu?" tanya pak ustadz santai


Nanta mengangguk bingung kenapa pak ustadz mempertanyakan ini.


"Apakah kau juga menyukainya dengan tulus?" tanya pak ustadz lagi dengan senyum di bibirnya.


Nanta mengangguk cepat hingga membuat pak ustadz terkekeh dengan tingkah Nanta.


"Baiklah, jika begitu masalah apapun yang kalian jalani nantinya, lalui itu dengan hati tulus dan sabar. Jangan lupa bawa Allah dalam urusan cintamu. Cintai dia karena Allah, jangan paksakan perasaan! karena rasa yang ada di hati itu Anugerah dari Allah. Jangan di lawan, ikuti saja alurnya. Nanti kau akan menemukan jalan. Allah akan mempersatukan kalian jika memang ia menakdirkan kalian berjodoh."


Pak ustadz mengucapkan itu pada Nanta yang juga menatapnya. Ia tidak mengerti masalah apa yang di alami anak muda di depannya. tapi, jika mereka membawa Allah dalam setiap urusan, pasti Allah akan membimbing jalan mereka.


"Tapi pak ustadz, ini tentang Agama kami yang berbeda." Ucap Nanta pelan.


"Agama?" pak ustadz tertawa mendengar nada tidak yakin Nanta saat mengucapkan itu padanya.


"Yakinlah jika kamu meyakini Allah telah menentukan semua yang terjadi, termasuk pertemuan juga perpisahan, itu adalah yang terbaik untuk makhlukNYA." pak ustadz tersenyum menepuk bahu Nanta dan beranjak pergi.


Nanta tak mengerti apa maksud dari perkataan itu. Apakah itu berarti ia hanya harus menjalani apa yang ia pilih dan pasrah akan ketentuan Allah. Atau apakah ia harus berhenti?


Meski Nanta tak yakin atas apa yang di pahaminya. Ia tidak lagi ragu, ia punya Allah yang akan menunjukkan jalan. Bukankah perpisahan akan tetap terjadi jika memang tidak di takdirkan bersama? bukankah pertemuan tetap akan terjadi meski sudah di hindari.


Ia membaca Alquran terlebih dahulu sebelum pulang. Hatinya tenang saat ia mengaji. Pikirannya tenang saat ia melantunkan Ayat suci Alquran.


Ia membawa mobilnya melaju ke arah cafe dekat kompleks rumahnya. Disana sangat ramai, penuh dengan canda tawa mereka yang sedang bersama teman atau orang terkasih.


Ia memesan kopi hitam dengan sedikit gula. saat pesannya datang ia sedikit terkejut karena kopi pesannya sangat pahit. Ia menyesal memesan kopi dengan gula yang tidak terasa ada ini.


Kepalanya menoleh ke arah anak-anak di taman kompleks yang bisa ia lihat dari cafe tempatnya duduk. Disana para orang dewasa terlihat mereka sedang menikmati waktu, dengan duduk mengobrol sambil mengawasi anak-anak yang berlarian. Suatu hari nanti bolehkah ia berharap bisa seperti itu bersama Andara. Ah bahkan melihat anak-anak sedang menikmati es krim, ia jadi teringat dengan Andara.


Mungkin besok ia harus segera pulang. Ia rindu gadis itu. Ia bahkan sudah membayangkan wajah kesal Andara karena ia tak memberi kabar pada gadis itu. Entahlah siapa yang akan terkejut nanti saat bertemu. Nanta belum mengetahui jika kekasihnya sedang di rawat di rumah sakit.


___________


Bukankah kita belajar berjalan setelah terjatuh.


Bukankah kita belajar tersenyum setelah menangis.


Jangan takut! Tuhan ada untukmu.

__ADS_1


Cukup yakini jika takdirNYA adalah yang terbaik untukmu


__ADS_2