Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c28


__ADS_3

Mereka sudah ada di restoran, Beberapa pesanan sudah mereka pesan sesuai kesukaan masing-masing. Karena masih sedikit agak lama pesanan mereka datang, Dara menyempatkan untuk membuka ponselnya, mempelajari tentang Integral tak tentu. Ia sudah berjanji pada Vian dan Saka, jadi sebisa mungkin untuk bisa materi itu hari ini.


Pandangan Nanta tak pernah beralih dari gadis cantik di depannya. Dara seperti magnet yang menarik fokus semua orang pada kecantikannya. Nanta bangga meskipun tak suka semua orang yang menatap kekasihnya memuja, Di umurnya Andara masih terlihat manis dan menggemaskan, tapi kecantikannya tak bisa di sembunyikan.


Dia adalah laki-laki beruntung yang sekarang ada di hati gadis cantik itu. Sikapnya yang apa adanya juga menjadi daya tarik lain saat sudah mengenalnya. Awal bertemu, Nanta memang sudah sangat tertarik, Gadis kecil cantik berada di bawah hujan bagai bunga di Padang pasir.


lamunannya tersadar ketika pesanan mereka datang, Andara juga menghentikan kegiatannya.


"Sayangku rajin banget sih," ujar Nanta menggoda gadis di depannya.


"Ya dong, Dara udah janji sama Vian dan Saka, bakal taklukin materi ini." Nanta mengangguk paham, salahkan saja dia yang malah mengambil waktu Dara untuk belajar.


"Iya, pinter. Sekarang do'a dulu. Kita makan." Ajak Nanta. jelas mereka berdoa dengan Cara berbeda namun tetap sama-sama bersyukur pada pencipta.


"Ah kejunya serasa meleleh di mulut." ujarnya dengan raut menggemaskan.


"Seneng banget kamu. Kalo keju sama ayam kecap pilih mana?" Tanya Nanta yang membuat Dara jadi bingung.


"Keduanya lah. Kak Nanta sendiri, kalo opor ayam sama ayam kecap pilih mana?" Tanya Andara balik pada Nanta.


"Jelas opor, tapi karena ayam kecap itu favorit kesayanganku, aku pilih keduanya." Balas nya yakin.


"Ye, kakak mah." Mereka melanjutkan makan sambil terus sesekali melempar candaan.


Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu berkualitas bersama seperti ini. Ananta bahagia, Dara lebih lagi. Hingga Nanta pamit untuk ke toilet. Dara malah menggoda jika Nanta mulas karena tak tahan pedas.


Lama menunggu Nanta kembali dari toilet, Dara fokus pada homeband yang menyanyikan lagu milik demi Lovato berjudul sober.


Tapi dering di ponsel Nanta mengalihkan fokusnya. Dara mengira itu temannya Nanta karena tertera nama Nadia, nama yang cukup asing menurutnya. Ia mengangkat telpon ingin mengatakan jika Nanta sedang di toilet. Tapi suara merdu wanita di seberang sana mendahuluinya.


'Halo, Assalamualaikum. Nanta besok aku mau ke rumah kakek. Kemarin beliau bilang ingin di temani mancing. Dan ingin kamu juga bisa datang besok. Gimana?' Karena terlalu bersemangat akan bertemu dengan Nanta Nadia tak menunggu orang yang di telpon menjawab salamnya.


Dara bingung, tapi dia lebih bingung lagi. Siapa wanita ini? kenapa dia terlihat dekat dengan kekasihnya. Dara yang akan menjawab memilih untuk mematikan sambungan telponnya.


Kecurigaan yang selama ini dia tahan. Jadi semakin besar kerena telpon dari wanita tadi. Dara jadi gelisah melihat ke arah Nanta pergi tadi dan ke arah ponsel. Rasanya tak enak, hatinya jadi sedikit kalut. Mengenyahkan segala kecurigaan dengan berpikir positif. Nanta tak akan mengkhianatinya! yakinnya pada diri sendiri


Dara bersikap biasa saja saat Nanta sudah duduk di depannya lagi. Mereka melewati malam ini dengan saling tertawa dan kadang saling mengejek. Bahkan saat Nanta mengantar Dara pulang juga tidak ada bahasan tentang telpon tadi.


Dara sampai di apartemen jam sembilan malam. Ia melempar tas dan paperbag sembarang arah. Tadi ia tidak pulang dan berganti dengan baju dengan yang di belinya di mall.


Merebahkan badannya lelah di kasur kesayangan. Menutup matanya dengan sebelah lengan, tak lupa di temani musik keras dari ponselnya.


Dara belum pernah di kenalkan ke keluarga oleh Nanta. Nanta bilang nanti saja ada saatnya. Tapi ia jadi berpikir apakah karena perbedaan keyakinan lah yang membuat Nanta tak ingin keluarganya mengetahui sosoknya? lalu apa arti hadirnya selama ini? Dalam hati kecilnya tetap mempercayai jika Nanta tak mungkin membohonginya.


Pikirnya wanita tadi mungkin teman Nanta. Seperti dirinya pada Saka dan temannya yang lain. Dia mengenal keluarga mereka dengan baik. Mungkin wanita tadi juga begitukan? Tapi Andara hampir mengenal semua teman Nanta, karena kadang Dara ikut nongkrong di cafe bersama mereka. Dan nama Nadia cukup asing di ingatannya.


Tak ingin terlalu memikirkan hal yang belum pasti, Andara membuka lagi ponselnya, melanjutkan Mempelajari materi tadi. Hanya musik yang menemani kesepiannya seperti biasa. Malam pagi atau siang akan terasa sama saja jika berada di kamar ini. Andara baru bisa tidur pukul tiga pagi.


.......


Suara alarm membangunkannya dari tidur singkat pagi ini. Menguap sambil tangannya meraih alarm yang terus berdering. Hari ini ia akan berangkat menggunakan taksi jadi ia segera mandi dan bersiap, tanpa sarapan.


Dan ia lupa jika hari ini hari Minggu. Setelah selesai bersiap, ia mengenakan sepatunya, Lalu bergegas keluar apartemen. Saat keluar seperti biasa ia akan mendapati buket bunga di depan pintu. Menaruh itu di dalam langsung mengunci pintu. Berjalan menuju lift yang cukup sepi padahal saat pagi hari biasanya ia akan berdesakan dengan sesama penghuni apartment ini.


Dan baru saja ia menyadari jika ini hari Minggu. Karena kesal ia melompat-lompat sambil membanting tasnya ke lantai lift.


"Aarrggg begok banget sih Lo Dar," teriak Andara pada dirinya sendiri, untung lift sedang sepi. Ia tak kembali ke apartemennya. Tetap melanjutkan langkahnya hanya saja bukan ke sekolah tapi akan ke gereja. Satpam yang berjaga di luar heran melihat Andara menggunakan seragam.


Andara cuek melanjutkan langkah menuju ke jalan depan, menyetop taksi. Masih dengan seragamnya tentunya.


"loh neng ini mau kemana?" Tanya sopir taksi itu heran karena Andara mengenakan seragam di hari libur.


"ke gereja katedral pak. Ini lagi mau ada pentas seni makanya saya pakai seragam," Jelas Andara karena mengerti tatapan heran sang sopir melalui kaca.


"Siap neng." sopir kali ini sangat santai, ia hanya tersenyum saja melihat kelakuan anak muda jaman sekarang.


Setelah sampai ia langsung masuk ke Gereja. Saat di mobil tadi, ia sudah memakai jaket berhodie yang ia bawa. Jadi setidaknya tidak terlalu mencolok berjalan-jalan dengan seragam di hari Minggu. Salahkan saja kenapa otaknya tak mengingat hari.


Jemaat di hari Minggu cukup banyak di gereja ini. Sehingga ia mendapat duduk paling belakang memperhatikan mereka yang datang bersama keluarga untuk berdoa. Memandang acuh pada mereka. Menyelesaikan do'anya lalu pergi dari sana.


Karena bingung Andara hanya berjalan-jalan saja di sekitar sana. Setiap Hari Minggu membuatnya bingung akan menghabiskan waktu dengan melakukan apa. Biasanya akan menggangu Nanta, tapi menurut wanita di telpon semalam mungkin kekasihnya itu sedang bersama sang kakek saat ini. Mengingat telpon semalam membuat moodnya makin buruk.


Andara mendapatkan telpon dari Mbak Tia jika asisten pak Cokro menghubunginya. Mungkin masalah kontrak baru. Entahlah, Dara menyetop taksi pergi ke rumah Bunda. Pasti Saka masih tidur jam segini pikirnya.


........


"Pagi bundaku." Dara memeluk bunda dari belakang. mengusap kepala Mian yang duduk manis di atas meja. Untung Saka mau membantunya merawat Mian.


Setelah tadi masuk rumah itu Ia langsung mencari keberadaan bunda yang sedang membuat cookies di dapur. Padahal di rumah ini yang menyukai cookies hanya dirinya. Yang lain akan ikut makan jika ada dirinya. Bunda memang selalu menyiapkan Setok cookies dalam toples yang nanti akan di antar Saka ke apartemennya. Beruntungnya dia mengenal keluarga ini.

__ADS_1


"Cicip dulu nak, ini resep baru." Bunda menyuapkan Satu buah cookies yang telah matang.


"Enak, Ini ada rasa sedikit pedas, tapi." Dara mengunyah perlahan merasakan rasa pada cookies tersebut.


"Iyakah, Coba tebak rasa apa itu?" Bunda juga menyuapkan Cookies ke mulutnya.


"Emm. Dara tau ini jahe." Dara menjawab dengan keras karena antusias.


"Yap tepat sekali. Pinter anak bunda." Puji bunda dengan menyentil ujung hidung Andara. Mereka berbincang-bincan tanpa tau dari tadi Saka memperhatikan dari jauh, di pintu kamarnya.


"Iya pintar noh dia sampe mau kesekolah di hari libur," Ujar Saka tanpa menoleh pada dua wanita cantik itu, melewati mereka berjalan mendekati kulkas.


Bunda yang tadi belum ngeh, lalu memperhatikan Andara yang memang memakai seragam meski baju bagian atas tertutup jaket. Tetap saja roknya tak tertutup. Bunda tertawa sangat heboh setelah menyadari kekonyolan Andara.


"Ada apa deh, rame bener?" Ayah yang mendengar suara tawa sedari tadi dari teras samping langsung menghampiri mereka di dapur.


"Itu yah, putri kita semangat sekali sekolah," Ujar Bunda menunjuk Andara yang sudah memanyunkan bibirnya.


Ayah yang baru duduk di meja makan, jadi memperhatikan Andara dan hanya menggeleng tak tega saat ingin ikut tertawa melihat wajah cantik itu sudah sangat kesal.


"Dara lupa, dan baru sadar saat di lift. Karena males balik lagi jadi Andara langsung ke gereja." Jelas Andara sedih dan kesal karena di tertawakan.


"Makanya tu otak Jan begok-begok." kata-kata Saka yang kasar itu langsung mendapat pukulan dari Bunda.


"Tu Bunda, Saka tu sering banget bully Dara." Adu Andara yang mendapat pelukan sayang dari Bunda.


Saka dan Ayah hanya menggeleng melihat adegan drama di depan mereka. Saka tadi tak ikut Ayah dan Bunda ke gereja. Karena ia saja baru bangun tadi saat mereka pulang.


Saka yang tak tahan melihat adegan dua wanita di depannya. Ia langsung menarik Andara menuju ke gudang.


"Eh anak Bunda mau di bawa kemana." Teriak Bunda saat Saka menarik Andara begitu saja.


"Mau Saka jual, di pasar loak." Balas Saka berteriak yang langsung mendapat pukulan keras di lengannya.


.........


Saka hanya tiduran santai di sofa satu-satunya di gudang itu. Sedangkan Andara, ia sibuk dengan lukisannya. Gudang bukan berarti kotor. Malah ini sangat bersih, meskipun banyak lukisan yang belum dirapikan dan Cat yang berserakan. Gudang khusus milik Andara.


Andara menghentikan gerakan tangannya dalam memoleskan kuas pada kanvas.


"Ka, menurut Lo. Kalo ada wanita yang lebih dewasa dari gue. Kak Nanta bakal beralih enggak?" Kekalutannya tak bisa di tahan.


"Tergantung." Jawab Saka cuek, meski sempat mengerutkan dahinya.


"Ya tergantung." Jawab Saka sama dan langsung mendapatkan cibiran dari Andara.


"Lo jawab itu terus, gak ada jawaban lainnya apa!" Kesal Andara menatap Saka.


"Ya itu tergantung pertanyaan Lo dong." Jawabnya lagi yang mendapatkan lemparan kuas yang sudah di celup ke dalam cat berwarna merah.


"Begok ya Lo. Kotor baju gue!" Saka reflek berdiri mencoba mengusap noda di bajunya.


Dengan tanpa rasa bersalah Dara mengambil kuas lain dan melanjutkan kegiatannya. Saka yang kesal langsung menghampiri gadis itu. Mengapit kepalanya dengan tangannya tak diam saja. Tangannya aktif menggelitik bagian pinggang Andara. Gadis itu menjerit minta ampun. Berakhir dengan mereka yang terjatuh di lantai. Dengan posisi bersebelahan.


Tanpa ada niat berdiri, mereka sama-sama memandang plafon di atasnya.


"Lo ragu sama Nanta?" Saka khawatir, takut jika Dara sudah mengetahui masalah perjodohan Nanta.


"Enggak tau juga sih. cuma rasanya aneh, kayak ada yang nusuk tapi gak kerasa." Jawab Andara asal.


"Ambigu begok." Kesal Saka menjitak kepala Andara.


Andara menyentuh dahinya yang mendapat sasaran kekerasan dari tangan Saka.


"Gue ngerasa ada yang salah, tapi gue gak tau apa."


"Udah tenang aja, apapun nanti yang ada di depan sana, Gue akan selalu ada di sampingnya Lo!" balas Saka meyakinkan. Dara adalah kesayangannya, tak kan di biarkan gadis itu merasa sendirian.


Dara menengok ke arah Saka yang juga sedang menatapnya. Tersenyum haru lalu memeluk laki-laki itu, menyandarkan kepalanya di bahu Saka.


Saka mengusap kepala Andara sayang.


"Ra, Lo sadarkan perbedaan kalian nanti bakal jadi masalah untuk kalian?"


Dara yang mengetahui maksud Saka hanya mengangguk. Ia sadar perbedaannya dengan Nanta akan sulit diterima di masyarakat.


"Tapi gue sayang banget Ka sama kak Nanta. Dia separuh hati gue," ucap Andara dengan suara sendu.


Saka yang mendengarnya hanya makin memeluk gadis itu erat. Tak akan di biarkan gadis cantik ini menangis nanti. Apapun yang akan di hadapi Dara nanti dengan hubungannya, Saka akan menjaga Dara apapun resikonya.

__ADS_1


"Lo mau denger gue nyanyi enggak?" tanya Saka pelan.


Data tak menjawab namun anggukan pelan yang di rasakan Saka di dadanya ia anggap sebagai jawaban iya.


🎶


look into my eyes


you Will see


what you mean to me


search your heart


search your soul


and when you find me there


you'll search no more


don't tell me it's not worth tryin' for


you can't tell me it's not dryin' for


you know it's true


every thing i do


i do it for you


look into your heart


you Will find there's nothin' there to hide


take my as i am


take my life


i would give it all


i would sacrifice


don't tell me it's not worth fighting for


i can't help it, there's nothin'


i want more


you know it's true


everything i do


i do it for you


there's no love


like your love


and no other


could give more love


there's now here


unless you're there


all the time


all the way


Tak menyelesaikan lagu itu, karena Andara sudah terlelap sedari tadi. Saka tau dari napas teratur yang terdengar di telinganya.


Mengusap kepala Andara, dengan tangan besarnya.


"Kamu gadis bermata biru yang mengalihkan duniaku," ujar Saka pelan.


Karena merasa lantai ini dingin Saka perlahan duduk, menyanggah kepala Andara pada lengannya. menyelipkan tangan di bawah lututnya, lalu mengangkat perlahan. Membawa Gadis itu ke kamar. Meskipun jarak gudang ke kamar cukup jauh dan Andara cukup berat, Itu membuatnya sedikit kualahan, mukanya memerah mempercepat langkahnya.


_________

__ADS_1


siapa yang lebih cocok Saka atau Nanta? Tapi sayangnya Dara punya pilihan sendiri... 😂


Jan lupa ya like dan komen. jangan sider 😜


__ADS_2