Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c36


__ADS_3

josh🎤


*i'm jealous of the rain


that falls upon your skin


it's closer than my hands have been


i'm jealous of the rain


i'm jealous of the wind


that ripples through your clothes


it's closer than your shadow


oh, i'm jealous of the wind


chorus*


Dara🎤


*Cause, i wished you best of


all this world you give


and i told you, when you left me


there's nothin' to forgive


but i always, thought you'd love back


tell me all you found was


heartbreak and misery


it's hard for me to say


i'm jealous of the way


you're happy without me


i'm jealous of the nights


i don't spend with you


i'm wondering who you lay next to


oh, i'm jealous of the nights


i'm jealous of the love


love that was in here


gone for someone else to share


oh, i'm jealous of the love

__ADS_1


chorus*


Josh 🎤


*Cause i sink in the sand


watch you slip through my hand


oh, i as die here another day


cause all i do is cry Behind this smile


it's hard for me to say i'm jealous of the way


you're happy without me*.


Semua penonton memberi standing applouse. Termasuk Fita, Tyas dan Alan. Saka dan Vian hanya diam tak ingin ikut berpartisipasi memberikan respon terhadap peserta yang telah berhasil membuat penonton terkagum itu.


"waw, berikan tepuk tangan yang meriah untuk best couple kita yang sudah memberikan penampilan terbaiknya," ujar pembawa acara memandu suasana semakin riuh dari penonton.


Dara dan Josh berdiri lalu membungkukkan badan, berdiri bersisihan untuk berterima kasih. Lalu mereka turun dari panggung. Dara tak menyangka lagu yang di bawakan oleh mereka bisa di sambut riuh oleh teman-temannya.


Awalnya ia terkejut saat tau teman menyanyinya ternyata adalah Josh si kakak kelas galak. Tapi, ternyata kolaborasi dadakan mereka sangat mengejutkan. Mereka bernyanyi dengan baik, seakan telah latihan berkali-kali.


"Bagus!" Puji Josh sambil mengusap puncak kepala Andara.


Andara hanya membalas dengan senyum canggung. Menyentuh bekas usapan dari tangan Josh. Laki-laki itu langsung pergi meninggalkannya di belakang panggung.


Semua perlakuan itu terlihat oleh ke lima temannya yang juga terkejut, melihat perlakuan Josh tadi.


"kalian pasti gak percaya kalo gue ceritain kejadiannya," balas Dara pelan.


"Lo, musti cerita ke kita kenapa bisa nyanyi sama dia?!" tuntut Fita dengan segera mengandeng tangan Dara.


"Pantes aja nolak di ajak nyanyi, ternyata..." sindir Saka sarkasme.


"Pa'an deh Lo Ka!" Dara tak terima di tuduh Seperti itu.


"Ya, Lo selingkuh sama dia!" Saka bahkan menunjukkan wajah tak sukanya secara terang-terangan.


"Selingkuh apa deh Ka, gak usah ngomong yang aneh-aneh." wajah Dara juga memerah menahan amarah.


Dara sebenarnya juga tak enak pada Saka dan Vian, Menolak ajakan mereka tapi malah nyanyi dengan orang lain. Tapi ini juga bukan disengaja. Apa lagi melihat wajah Vian yang terlihat pias, menahan kecewa dengan senyum palsu yang semakin terlihat kentara.


"Udah gak usah pada ribut, mending kita kantin yuk?" Ajak Alan yang melihat situasi mulai memanas.


"Males gue makan sama cewek tukang selingkuh!" Ujar Saka meninggalkan mereka.


"Saka, jaga ya mulut Lo! gue gak suka!" Dara langsung mengejar kepergian Saka. Menuntut penjelasan dari perkataan Saka tadi.


"Heran deh mereka kadang bisa saling sayang, kadang juga bisa marah sampe kayak gitu." Tyas menggeleng melihat kedua temannya Seperti itu.


"Iya, kayak pacar buang cemburu!" Sahut Alan.


Vian hanya tersenyum tipis, Tidak ada yang tau betapa sakit hatinya. Memang untuk mendapatkan gadis secantik Andara butuh perjuangan keras, bahkan mungkin harus siap sakit hati. Fita yang melihat sorot kesedihan di mata Vian mulai membahas hal lain untuk mengalihkan fokus tentang masalah tadi.


Di sisi lain Dara masih mengejar Saka yang sedang mengeluarkan rokoknya, Di sana tidak hanya ada Saka, tapi ada anak lain yang sedang nongkrong karena memang ini jadwal classmeeting. Mereka akan seperti pengangguran tak punya pekerjaan, padahal banyak anak yang sedang mempersiapkan untuk masuk perguruan tinggi. Tapi mereka masih belum berpikir untuk hal yang belum ada di depan mata.

__ADS_1


"Saka, gue mau Lo cabut omongan Lo tadi!" kekeh Dara dengan kesal.


"Yang mana?" jawab Saka santai.


"Gak usah pura-pura gak tau! gini deh Ka, bagian mananya yang bikin gue selingkuh? Gue gak mungkin selingkuhi kak Nanta ya!"


"Lo, nyanyi sama orang itu!" balas Saka tanpa melihat pada gadis di sampingnya.


"Gue gak sengaja tadi musti nyanyi sama dia!"


"Bulshit!"


"Lo kok ngeselin sih Ka!" Dara pergi dengan kesal meninggalkan Saka, air matanya juga tak bisa di kontrol untuk tidak keluar.


Saka begok


Dara mengumpat dalam hatinya. Ia lari menuju parkiran. Dara kesal, moodnya hari ini jadi buruk, ia mengusap pipinya kasar. Menyetop taksi meninggalkan pelataran sekolah.


Masih terngiang kata-kata Saka barusan. Dara mencari ponsel di tasnya. Mencoba menghubungi kekasihnya. Tapi nomornya tidak tersambung, jadi Dara memutuskan untuk langsung ke apartemen Ananta.


Setelah sampai, ia langsung menuju ke lantai dua, memencet bel apartemen, namun tak ada tanggapan. Dara berpikir mungkin Nanta masih kuliah, ia akan langsung masuk saja seperti biasa. Namun, sandi yang biasanya di gunakan di tolak, Dara memastikan dia tidak salah pintu. Tapi nomor pintu yang tertera di sana benar 2036. Jadi, bagaimana bisa salah.


Mencoba menghubungi Nanta lagi. Tapi, nomornya tetap tidak tersambung. Menghela napas berat, Dara bersandar pada pintu itu. Hingga mendudukkan badannya.


tumben, kenapa ganti kode tapi gak ngasih tau ya?


Dara berniat menunggu Nanta pulang kuliah. Biasanya hari Jum'at, Nanta pasti pulang ke apartemen untuk bersiap sholat Jum'at. Makanya Dara, ingin menunggu saja. Toh ini sudah jam 11 siang, pasti sebentar lagi pulang pikirnya.


Setelah beberapa menit.


Bukan Nanta, yang pulang tapi Nadia. wanita itu ingin menyiapkan makan siang untuk Nanta. Tapi, ia malah di kejutkan oleh kehadiran sosok gadis yang di kenalnya baru-baru ini.


Gadis berseragam SMA itu sedang tertidur bersandar pada pintu. Nadia tersenyum melihat kepolosan Andara. Apakah gadis itu tak takut, jika ada orang yang berniat jahat padanya. Sekarang Nadia tak tahu harus apa!


Ingin membangunkan, tapi nanti malah akan terjadi masalah yang tidak di inginkan. Nadia belum siap untuk bercerita pada gadis di hadapannya itu. Tersenyum miris dengan kerumitan hubungan mereka.


Nadia mengambil foto Andara, lalu mengirimkan ke ponsel suaminya. Entahlah, apa yang terjadi nanti, hanya saja saat ini ia hanya bisa mengikuti permainan takdir yang harus di jalaninya. Setelah cukup lama menunggu, Nanta masih belum juga pulang. Padahal sebentar lagi memasuki waktu sholat Jum'at.


Nadia ikut duduk di sebelah Andara. Ia duduk bersandar pada tembok sambil membaca novel yang ia bawa dari klinik. Mungkin, jika orang lain melihat ini akan merasa lucu. Ada dua wanita cantik dengan karakter berbeda, sedang duduk di depan apartemen seorang laki-laki. Mungkin mereka akan berpikir beruntungnya laki-laki itu. Padahal, Nanta malah di buat pusing berada di antara keduanya.


Menunggu hingga pukul 1 siang, Nanta belum juga datang. Sedangkan Nadia masih harus mengerjakan sholat Dzuhur. Dengan berat hati ia meninggalkan Andara untuk kembali ke klinik. Di sekitar sana ada masjid. Nadia menoleh ke arah gadis cantik di sebelahnya. Berdoa semoga Nanta segera pulang dan membangunkan gadis ini. Takut saja jika nanti Dara sakit karena duduk lama di lantai.


Tak lama setelah kepergian Nadia, Nanta yang baru selesai sholat Jum'at mengaktifkan ponselnya. Ada banyak panggilan tak terjawab dari Andara kekasihnya dan juga satu pesan dari istrinya.


cukup jangan bully Nanta!


Ananta membuka satu-satunya pesan masuk di ponselnya. Ada foto Dara yang tertidur di depan pintu apartemen yang dapat di pastikan jika itu pintu apartemennya. Nanta langsung terburu-buru pulang. Ia takut jika ada perkelahian antara wanita di apartemennya.


Nanta terlalu berpikir jauh, ia lupa jika kedua wanita cantik itu bukan tipe wanita pemarah yang suka melampiaskan amarah dengan bertengkar.


Nanta bahkan berlari ketika setelah sampai di parkiran apartemennya. Ia tak ingin terlambat, tak ingin sesuatu terjadi. Hingga sampai di lantai dua, di depan pintu apartemennya. Nanta melihat Andara tertidur masih dengan posisi sama, Seperti foto di kiriman Nadia.


Nanta mengusap pipi gadis cantik itu dengan lembut. Dara sedikit terusik, tapi itu tak membangunkannya dari tidur siang. Nanta tersenyum, debaran jantungnya masih sama ketika ia menatap gadis cantik di depannya ini. Nanta mencoba menggeser tubuh Andara lalu tangannya meraih kartu di sakunya untuk membuka pintu apartemennya.


Mengangkat Andara ala bridal style membawa masuk ke kamarnya. Meletakkan secara perlahan, tapi memang pada dasarnya Dara kalau tidur tidak mudah terbangun. Jadi, bahkan ketika ia tidak sengaja tersandung karpet dan sedikit menindi* bagian atas tubuh Andara yang sudah tertutup selimut, Dara juga hanya melenguh kemudian terlelap kembali.


Nanta tersenyum kecut, Dara memang tidak terusik, tapi malah dirinya yang jadi terusik akibat posisi yang membuat panas menyebar dalam tubuhnya. Nanta segera berdiri karena pikirannya mulai tercemar. Ia segera ke dapur untuk mengambil air dingin. Berharap itu bisa menyadarkan pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2