Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c37


__ADS_3

Kegelapan menyambut Dara dari tidur panjangnya, tangannya meraba, mencari gelas yang biasa ia letakkan di meja nakas. Namun tak di temukannya, Dara mengerutkan kening, wajah kusutnya menengok ke samping. Matanya tak menemukan gelas ataupun jam wekernya.


Dara meneliti kamar gelap ini dan saat matanya menatap ke arah balkon, barulah ia mengenali jika ini bukan kamarnya, tapi kamar kekasihnya. Dara mengetahui lewat tidak adanya bunga flowercrown yg selalu tergantung di balkon kamarnya.


Menggeliatkan badannya, Menguap dengan ditutup salah satu lengannya. Mengumpulkan kesadaran lalu mencoba untuk bangun. Dara akan bangun tapi sekilas matanya menangkap ada parfum dan peralatan lainnya yang adalah milik wanita. Tak mungkin Nanta menggunakan make up. Jadi itu milik siapa?


Dara terburu-buru bangun dan langsung menghampiri cermin yang di bawahnya ada meja yang biasanya hanya ada parfum dan gel rambut. Sekarang di atas meja ada peralatan make up wanita?


Dara menyambar salah satu lipstik di sana lalu segera keluar dengan perasaan campur aduk, Gelisah, sakit dan marah. Dara biasanya tak pernah mudah marah. Ia lebih suka memendam, tapi kali ini ia benar-benar butuh penjelasan.


Di sana Nanta sedang berkutat dengan penggorengan. Nanta tersenyum saat melihat Andara berdiri di ambang pintu kamarnya.


Tapi wajah Andara tak sedikitpun menunjukkan keramahan. Hatinya seperti tertusuk pisau tumpul, sakit dan terasa mengganjal.


Dara menghampiri Nanta, tanpa banyak bicara ia meletakkan lipstik itu di meja dengan keras, hingga mungkin lipstik di dalamnya patah.


Nanta terkejut, tapi ia bisa menutupi keterkejutannya dengan baik. Ia bahkan terlihat santai seperti tidak tau apa-apa. Nanta dengan santai melepaskan apron dari tubuhnya. Meletakkannya di atas meja pantry.


Nanta masih menatap dengan senyum manisnya. Sangat langka bisa melihat gadis kecilnya ini marah. Ia malah asik menikmati wajah merah Andara, tangannya hendak meraih anak rambut yang dengan kurang ajarnya menutupi wajah cantik Andara. Maklum Dara baru bangun tidur langsung menghampiri kekasihnya.


Dara menepis tangan Nanta dengan kasar, Mata birunya melotot kesal. Napasnya memburu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Kakak punya wanita lain ya! kakak udah Bosen sama Andara?" Ternyata gadis itu bukan marah malah menangis.


Dara kesal dan emosi tapi rasa takut kehilangannya lebih besar, mengalahkan egonya. Nanta juga terkejut ia pikir Andara akan marah seperti wanita pada umumnya. Salah! Andara bukan seperti wanita lainnya. Ia hanya wanita cantik yang sendirian. Dan Nanta berjanji akan selalu jadi sandaran untuk Andara.


Tak menjawab pertanyaan itu, Nanta langsung memeluk erat kekasihnya. Bagaimana bisa ia tega menyakiti gadis sebaik Andara? bahkan ia membenci dirinya karena membuat gadis ini menangis.


Mencium puncak kepala andara berkali-kali, memeluk erat sambil terus mengusap punggung gadis itu, berusaha menenangkan isakannya.


"Sayang?" panggil Nanta pada gadis di pelukannya.


"Kakak jahat! Itu lipstik Siapa?"

__ADS_1


Dara yakin itu milik wanita lain. Pasalnya ini bukan pertama kalinya ia menemukan lipstik, ingat saat lipstik yang tertinggal di mobil Nanta dulu. Dara kali ini harus mendapatkan kejelasan.


"Itu punya siapa?" tanya Andara di sela isakan, mengusap kasar air mata di pipinya.


Mundur untuk menjauh, ia harus tau itu punya siapa!


"Itu milik Umi sayang!" Nanta terpaksa berbohong.


"Dara mau kakak jujur, apapun itu kakak harus jujur!" terdengar nada ketegasan dalam suara Andara.


"Kakak gak akan bohongi kamu. Kakak sayang sama kamu!" Nanta mengatakan itu dari hatinya.


Dara menggeleng, ia tak percaya tapi tak punya alasan untuk menyangkal. Dara berbalik akan pergi, tapi Nanta menahan tangan Andara dan langsung menarik tangan itu hingga Dara masuk ke pelukannya.


"Hei dengar, jika aku sudah tidak menyayangimu lagi, maka aku pasti akan pergi tanpa berpikir untuk bertahan!" Nanta mengatakan dengan menatap tepat di manik biru Andara.


Tangan besarnya berada di kedua sisi pipi gadis itu. Memaksa Andara untuk menatap matanya. tapi mata yang basah air mata itu terpejam erat tak mau menatapnya.


"Hei lihat aku, please sayang," ujar Nanta lembut di dekat wajah Andara.


Dara mengangguk masih dengan sedikit terisak. Bagaimana bisa ia membayangkan jika lelaki ini akan membohonginya. Dara meyakinkan dirinya jika ini salah paham meski jauh di hati kecilnya ia merasa ada yang salah di sini.


"Aku menyayangimu tanpa bisa di jelaskan, rasanya hanya jantungku berdegup kencang saat di dekatmu, aku merasa sakit saat melihatmu menangis." Nanta berhenti sejenak memastikan Andara mau percaya padanya.


"Aku tak mau kehilanganmu apapun alasannya!" Kalimat yang di ucapkan Nanta dari lubuk hatinya yang terdalam.


Dara malah semakin terisak, Lalu memeluk laki-laki di depannya dengan erat. Begitupun dengan Nanta ia lega dan memeluk Andara tak kalah erat. Sungguh ia tak ingin kehilangan Andara dengan cara apapun, termasuk berbohong.


Mengecup berkali-kali dahi Andara dengan sayang, Sungguh! inilah gadis yang sangat ia cintai.


"Dara takut, Dara gak mau kakak punya wanita lain!" ucapan Andara sedikit menyentil perasaan Nanta. Karena pada kenyataannya ia telah berbohong. Nanta memejamkan matanya erat, sakit sungguh perasaan ini menyesakkan. Bisakah jika hanya ada Andara saja dalam hidupnya? Pikir Ananta dengan wajah muram. Ia merasa seperti bajing*n.


Tanpa mereka tahu, sedari tadi ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka. Nadia masuk ke apartemen saat Andara marah tadi. Ia bersembunyi karena tak ingin memperkeruh keadaan, tapi ternyata itu malah seperti menikam dirinya sendiri dengan pisau di tangannya. Miris, ia tersenyum miris dengan air mata mengalir deras di pipinya.

__ADS_1


Nadia keluar dari apartemen dengan perasaan remuk redam, Mencengkram baju bagian depannya dengan erat. Sakitnya rasa ini sungguh menyiksanya.


Seberapa lama ia sanggup bertahan, menanti hati sudah ada pemiliknya. Apakah boleh ia marah pada takdir tuhan, bolehkah ia meminta jika ia lebih dulu di pertemukan dengan Nanta sebelum Andara. Nadia tertawa keras di sepanjang lorong apartemen. Menertawakan dirinya, dia seperti orang ketiga yang mencoba merebut milik orang lain. Tapi laki-laki itu adalah suaminya!


Nadia duduk bersimpuh, berteriak tanpa suara sambil memukul dadanya mencoba mengurangi rasa yang menyesakkan.


Sedangkan di dalam sebuah ruangan Dara juga masih terisak, karena wanita pada dasarnya lebih peka, Dara masih yakin ada yang salah, tapi tak tau apa. Dia bisa merasakan jika Nanta memang menyayanginya tapi entahlah ia hanya merasa sedikit sesak di dadanya.


Nanta dengan sabar memeluk Dara sambil mengusap kepala Andara dengan sayang. Saat ini mereka sedang duduk di sofa depan TV.


Nanta tau jika kebohongan ini akan menjadi bom waktu untuk hubungannya, yang akan meledak suatu waktu dengan dampak ledakan yang luas. Merasakan sesak yang sama, tenggelam semakin dalam pada kebohongan yang sungguh tak di inginkannya.


Mendengar suara napas Andara yang mulai teratur, Nanta tau jika Andara sudah tertidur. Ia mengecup puncak kepala kekasihnya. Berusaha meredakan sesak yang membelenggunya.


Notif suara yang berasal dari ponselnya, mengganggu lamunannya. Tangannya meraih ponsel dalam kantong celananya.


Itu pesan dari Nadia, dan ada beberapa panggilan dari Saka. Mungkin laki-laki itu mencari keberadaan gadis kecilnya.


Mengirimkan pesan pada Saka, memberitahukan jika Andara akan menginap di apartemennya. Lalu beralih membuka pesan dari Istrinya.


Nadia


assalamualaikum.


aku gak pulang malam ini karena kemalaman, jadi aku pulang ke rumahku yang lebih dekat dari klinik. Kamu jangan lupa makan ya.


to Nadia


wallaikumsalam


Iya, hati-hati di jalan. Kamu juga jangan lupa makan.


Nanta langsung meletakkan ponselnya kembali. Tangannya kembali aktif mengusap kepala Andara. Memperhatikan wajah gadis itu yang sedikit sembab karena sehabis menangis. Bibir mungilnya juga memerah alami, dan lagi wajah ini adalah favoritnya.

__ADS_1


Saat ini ia bisa mengelak karena Andara masih mempercayainya. Lalu bagaimana nanti, sungguh ia tak ingin Dara menjauh darinya. Di benci oleh gadis ini, bagaimana ia mampu. Dara pernah terluka oleh orang tuanya, dan hingga saat ini mereka masih belum bertemu. Lalu bagaimana jika nanti Andara juga menjauhinya.


Nanta mengusap wajahnya kasar. Memeluk Andara lebih erat, menggumamkan kalimat sayang untuk mengurangi sesak di hatinya.


__ADS_2