Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c47


__ADS_3

Fokus Rizal yang tadinya jatuh pada wanita berhijab yang berdiri di samping Nanta, kini berpindah pada sosok cantik yang berjalan menghampiri mereka. Warna biru dari manik mata Andara sungguh menenggelamkan fokus mereka yang memandangnya.


Senyum manis menghiasi wajah cantiknya, sosok paling bersinar yang mampu mengalihkan fokus setiap orang yang melihatnya. Bahkan Umi dan Abi yang sedari tadi tersenyum melihat kedekatan Nanta dan Nadia kini jadi sedikit tertegun Karena kehadiran Dara yang ikut berdiri di sisi Nanta membuat mereka jadi tersenyum tertahan.


Secara fisik, Dara sangat unggul jika di bandingkan Nadia, namun Umi dan Abi tau jika Nadia cantik akhlaknya. Mereka saling memandang ketika sekarang Nanta terlihat seperti mempunyai dua istri yang berdiri di kedua sisinya.


"Wah, siapa itu cantik banget. Pacarnya Nanta kah?"


"Iya cantik pisan eui, mana cocok pisan sama Nanta!"


"Iya, Dito itu anakmu pinter pilih pasangan."


Abi hanya tersenyum menanggapi teman-temannya yang salah menafsirkan apa yang ada di hadapan mereka. Umi menampilkan muka kesal karena menantu kesayangannya jadi di salah pahami. Jika Nadia mendengar semua ini pasti juga jadi sedih.


"Bukan! putra saya sudah menikah. Itu istrinya yang ada di sebelah kanannya," tunjuk Umi pada Nadia yang memang berdiri di sebelah kanan Nanta.


"Oh, itu menantumu? ku kira yang cantik di sebelah kiri itu, aku juga gak tau anakmu sudah menikah?" tanya salah seorang teman Umi yang tadi ikut memuji kecantikan Andara.


"Mereka pengantin baru, nanti resepsinya nyusul aja!" Umi sudah bisa tersenyum lagi.


Mereka terus berbincang, Umi membanggakan anak menantunya itu.


"lah ini si cantik ini siapa?" tanya tante Maya penasaran juga kagum pada kecantikan Andara.


"Em, dia ..." belum juga Nanta menyelesaikan ucapannya, Dara sudah lebih dulu menyahut.


"Hallo tante, saya Andara temannya kak Nanta," ucap Andara memperkenalkan diri dengan senyum ramah meski hati menahan pilu.


Nanta langsung menoleh dan menatap tajam pada Andara, namun di acuhkan oleh Andara. Memang siapa yang membuatnya tak memiliki posisi saat ini, lelaki itulah yang mengusirnya dari posisi itu, hingga saat ini ia hampir hancur berkeping-keping.


"Saya tantenya Nanta, dan ini calon mantu saya. Kamu bukan orang Indonesia ya?" tanya tante Maya setelah memperkenalkan dirinya.


"Saya orang Indonesia tante," Dara yang sudah badmood semakin kesal saja mendapatkan pertanyaan itu.


Dulu ia merasa asing berada di keluarganya, sekarang ia juga merasa asing berada di dekat kekasihnya. Andara ingin menertawakan hidupnya yang penuh drama pengusiran. Apakah kehadirannya memang tak pernah di inginkan?


Mencoba menghalau air mata yang hampir keluar dengan tertawa ketika Rizal ikut memuji kecantikannya, lelaki itu mendapat sentilan dari tante Maya karena memuji wanita lain selain putrinya.


Belum juga ia menata hati yang hampir bercerai-berai, sudah di tambah lagi dengan sindiran yang membuat telinganya gatal.


Mereka yang iri dengan kecantikannya membuat ucapan tak berperasaan yang menuduhnya jadi wanita penggoda.


Rasanya panas telinganya mendengar sindiran yang terus menyudutkan dirinya. Dia hanya remaja 17 tahun, kenapa bisa orang-orang berpikir sepicik itu tentang dirinya. Dara hanya tertawa saja ketika ada yang secara terang-terangan menghinanya.


"Eh Nanta, awas nanti kecantol sama yang itu loh. Pengantin baru biasanya riskan jika kedatangan wanita penggoda," teriak seseorang yang membuat Nanta geram, sedangkan Nadia hanya menunduk saja.


"Ibuk bisa tolong jangan buat masalah ya di sini!" tegur tante Maya yang tak menyukai ada kericuhan di acaranya.


"Lah saya hanya mengingatkan saja, apalagi jika penggodanya secantik itu!" celetuk orang itu lagi yang membuat beberapa pasang mata terarah kepada mereka terutama pada gadis cantik bergaun putih.


Dara hanya tersenyum saja, Ibuk itu secara tidak sengaja sedang mengakui kecantikannya, meski dengan cara menghina.

__ADS_1


Dara melihat jika wajah Nanta sudah tidak enak dipandang. Tangan yang mengepal itu ia raih, lalu menggenggamnya sambil memberikan senyum untuk memberitahu jika ia baik-baik saja.


Nanta yang melihat wajah kekasihnya masih menampilkan senyum di wajah cantiknya jadi semakin kesal. Gadis sebaik kekasihnya masih di hina, bahkan yang menghinanya juga belum tentu baik akhlaknya.


"Tolong ibu tarik ucapan ibu tadi, dia gadis baik-baik!" tegur Nanta pada ibuk itu yang menghina Andara.


Melihat suasana jadi seperti ini tante Maya menyuruh mereka duduk sembari menunggu ijab kabul di laksanakan. Dara memilih duduk agak jauh dari Nanta, tapi ia lupa jika ia sedang menjadi fokus utama selain pasangan pengantin yang sedang duduk di depan penghulu. Banyak laki-laki yang mencoba untuk duduk di sebelahnya, itu mengundang cibiran dari wanita-wanita yang iri kepadanya.


Dara menanggapi orang yang duduk di sebelahnya dengan ramah, untung laki-laki yang duduk di sebelah kirinya sebagai salah satu pengisi acara itu sangat supel. Dia akan mengisi dua lagu setelah ijab kabul nanti. Dara mengobrol dengan laki-laki itu dengan akrab, baru diketahui namanya adalah Jack.


Nanta sedari tadi memperhatikan keduanya terlihat sangat akrab jadi kesal, matanya terus melirik tajam hingga menusuk ke dalam jiwa. Nadia yang berada tepat di sampingnya merasa lengannya sedikit terbakar, ia hanya tersenyum melihat suaminya bersikap seperti anak-anak.


Nadia cemburu suaminya menatap wanita lain, tapi bukankah sebenarnya dia yang merebut Nanta dari Andara? harusnya Andara marah padanya, tapi gadis itu bahkan tak sedikitpun menunjukkan sikap permusuhan terhadapnya. Nadia mulai mengerti kenapa Nanta bisa jatuh hati pada gadis beragama Katolik itu, karena Andara adalah gadis baik.


Ijab kabul telah selesai di laksanakan, sekarang Rizal dan Vira telah sah menjadi sepasang suami istri dihadapan Tuhan juga secara hukum. Ada acara sungkeman setelahnya, Nadia dan Nanta sebagai sepupu ikut dalam prosesi tersebut.


Dara hanya terdiam di kursinya. Ia tersenyum dibalik luka berdarah yang ada dihatinya. Bukankah ini yang ingin dia pastikan, melihat orang yang ia cintai bahagia. Nanta tak akan bahagia jika bersamanya karena Andara tak akan bisa memberikan keharmonisan keluarga seperti itu, terlebih mereka berbeda keyakinan. Tawa dari Umi dan Abi juga membuat senyum mengembang di bibirnya.


Andara melihat semua orang tertawa bahagia, bahkan ada yang menangis haru setelah ijab kabul di lantunkan. Andara jadi membayangkan jika dia menikah dengan Ananta, bagaimana cara mereka menikah? Mungkin ini yang disebut mencintai tanpa bisa memiliki.


Butir air mata yang menetes mengaburkan pandangannya, setetes air mata di balik senyum yang masih tampak di wajah cantiknya. Hingga sebuah panggilan dari panggung mengejutkannya.


Disana Jack berdiri memegang gitarnya selesai menyanyikan sebuah lagu dengan sukses, laki-laki itu melambaikan tangannya, memanggil tanpa suara, Dara yakin dari gerakan bibir laki-laki itu sedang menyuruhnya ikut bernyanyi. Dara menggeleng, bagaimana bisa ia bernyanyi ketika dirinya saja sedang menahan lelehan air mata.


Namun bukannya menyerah, Jack malah memanggilnya dengan berteriak keras. Dengan terpaksa ia berjalan ke arah panggung. Wajahnya masih dengan mimik wajah menolak.


"Gue gak mau nyanyi bang Jack!"


Tadi mereka sempat berbincang mengenai jenis musik yang biasa Jack nyanyikan di sebuah pesta, dan dari pembicaraan itu Jack mengetahui jika Andara bisa bernyanyi.


"Gue gitar aja bang! kalo piano gak hapal notasinya!" rengek Andara yang di tanggapi pandangan tak percaya dari Jack.


"Serius gue!" tambah Andara meyakinkan.


"Ya udah, nih." Jack menyerahkan gitarnya pada Andara.


"Lagu apa dah ini bang?"


"Serah aja, sesuai suasana hati Lo!" jawab Jack yang seakan tau apa yang sedang dirasakan Andara.


"Emmm, gue kayaknya lagi gak mood nyanyi lagu bahagia bang!" jawab Andara pelan sambil menunduk, ia tak mungkin menyanyikan lagu sedih di acara pernikahan.


"Ya udah, lagu sedih juga gak papa. Ini buat hibur tamu undangan. Kayak nyanyi biasa aja, biasanya juga ada yang request lagu sedih, marah, kecewa no problem Dara." jawaban bang Jack membuat Andara mulai memilih lagu yang saat ini pas dengan apa yang dirasakannya.


"Pelukan yang salah-singgah. Bisa gak bang?" pertanyaan Andara hanya di jawab anggukan oleh bang Jack.


Sejujurnya melihat Andara membuat Jack jadi ingat adiknya yang juga seusia dengan Andara, hobi menyanyi juga, tapi ia sudah meninggal dua tahun lalu. Jack memang orang yang easy going, namun tak pernah dengan perasaan yang lebih akrab seperti ketika dengan Andara. Entah itu karena Andara cantik atau karena mengingatkannya dengan sang adik, yang jelas Jack ingin sekali lebih akrab dengan Andara.


Lantunan nada mulai di mainkan, awalnya masih belum mendapatkan perhatian dari para tamu, tapi begitu suara seorang wanita terdengar mengalun merdu dan dalam mereka mulai memperhatikan ke arah panggung.


🎶

__ADS_1


*Aku tak pernah menyangka


tiba-tiba saja kamu hadir


orang terindah yang tak pernah kubayangkan


sebelumnya


yang kini membuat hariku menjadi indah


dan bila terjalin terlalu lama


aku takut bosan


dan kau jatuh pada pelukan yang salah


pada pelukan yang salah


Aku sadari tak mudah menjaga dirimu


yang sepenuhnya bukan milikku


dan ku tak rela bila


bila kau dengan yang lain.


Dan bila terjalin terlalu lama


aku takut bosan


dan kau jatuh pada pelukan yang salah


dan aku takkan rela


bila kau jatuh pada pelukan yang salah*.


Lagu itu mengalun begitu dalam menyentuh hati mereka yang mendengarnya, begitupula dengan Nadia dan orangtua Ananta, terutama Ananta sendiri. Ia ikut tersayat mendengar tiap lirik yang di nyanyikan oleh kekasihnya itu.


Dara yang menyadari jika ia merusak suasana bahagia dengan suasana pilu yang di hadirkannya jadi tersenyum sendu ke arah para tamu yang masih melihat kearahnya.


Namun tanpa disangka ia malah mendapatkan tepuk tangan dari mereka, yang tadinya mereka menghujat jadi ikut terenyuh dan memberikan tepuk tangan untuk gadis cantik itu.


Nanta tak sanggup melihat lagi kearah Andara, ia hanya tertunduk dengan air mata yang jatuh menetes tanpa bisa dicegah. Ingin sekali ia memeluk gadis itu saat ini, ia adalah laki-laki jahat yang telah melukai gadis cantik di depan sana. Sanggupkah ia sekarang menatap manik biru itu lagi seperti biasa, ia saja merasakan pedihnya, apalagi Andara yang merasakan luka lebih dalam.


______________


**Penulis akan sangat menghargai setiap like dan komen yang di berikan pembaca, karena dengan ketersediaan kalian untuk meninggalkan jejak di cerita ini membuat penulis lebih bersemangat lagi 😉.


terus ikuti kelanjutan dari novel ini yah


happy reading 😘**

__ADS_1


__ADS_2