Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c49


__ADS_3

Senja menenggelamkan cahaya itu masuk untuk bersinar esok hari, Gadis cantik dengan rambut panjang yang di kepang, dia tertawa duduk bersama yang lain kenikmati pertunjukan seni tari Kecak. Tawanya menghipnotis hingga kadang pengamat tak menyadari sedang menahan napas karenanya.


Gadis itu berdiri dan berbalik melangkah meninggalkan tempatnya tadi, Saka ikut berdiri dan berjalan di belakangnya namun dengan jarak cukup jauh. Berkat temannya ia mengetahui jika Andara sudah di Bali sejak beberapa hari lalu.


Saka tak langsung menghampiri gadis itu, ia ingin tahu apa yang membuat Andara tak memerlukan pelukan, atau sandaran ketika ia sedang terjatuh sendirian. Masih dengan langkah perlahan mengamati punggung yang terbuka, karena Andara sedang menggunakan gaun bertali pada lehernya, sehingga memamerkan punggung putih yang membuat Saka tak rela.


Gadis itu masih terus melangkah pergi menuju pasar, Saka masih berada di belakangnya mengikuti gerakan Andara ketika menyentuh beberapa barang-barang yang di jual di sepanjang jalan. Dia menyentuh tas yang terbuat dari rajutan bambu, namun tidak membelinya hanya melewatinya saja untuk melihat-lihat yang lainnya.


Sepatu, ia memilih sepatu yang unik lalu membeli satu dan langsung memakainya. Menyimpan sepatu yang sebelumnya ia kenakan. Lalu melangkah lagi pada penjual gelang, Dara memilih beberapa gelang. Namun pilihannya jatuh pada gelang pasangan yang menurutnya sangat lucu dan cantik. Dara hanya membeli satu untuk dirinya sendiri lalu melangkah pergi.


Saka menyentuh pada satu gelang yang sudah tak lagi memiliki pasangan, lalu ia membelinya, mengamati gelang itu hingga tersenyum geli menertawakan kekonyolannya. Saka melangkah lebih cepat untuk menyusul langkah kaki Andara.


Perburuan itu terhenti ketika sudah berada di ujung jalan, Dara masuk ke gang untuk kembali ke hotelnya. Dara sudah sekitar enam hari di sini sehingga sudah hapal dengan jalanan di sekitar sini.


Saka berhenti tepat di gerbang hotel. Ia melangkah mundur, pergi meninggalkan hotel itu untuk kembali ke hotel tempatnya menginap. Dara menginap di hotel yang kemarin baru di resmikan, sedangkan Saka menginap di hotel tempat mereka berlibur kemarin.


Saka membuka pintu kamarnya dan langsung membaringkan badannya di kasur. Ia tertawa karena ternyata gadis itu baik-baik saja, hanya dia yang khawatir berlebihan. Harusnya ia percaya pada gadis itu saat Dara bilang jika ia ingin menyelesaikan masalahnya sendiri.


Saka menatap gelang yang tadi di belinya, gelang yang di tinggalkan oleh pasangannya, Andara kejam sekali membiarkan gelang ini tak memiliki pasangan. Saka tersenyum lalu memakaikan gelang itu pada tangannya. Gelang itu melingkar manis pada pergelangan tangannya.


Dia sudah mengalah untuk melihat gadis yang di sayanginya bahagia, tapi setelah ini ia akan berjuang sendiri untuk terus menciptakan senyum di bibir gadis itu. Mengecup gelang itu dengan mata terpejam erat.


Sedangkan di Bandung, Nanta masih belum mau keluar dari kamarnya. Penyesalan menenggelamkannya pada kebingungan. Ia termenung dalam doanya, ia bingung harus mengadukan apa pada sang pencipta. Bukankah ia sendiri yang membuat Andara terluka, lalu ia akan menyalahkan siapa?


Di balik pintu kamarnya, Nadia sedang menggenggam surat yang di remasnya kuat. Meneteskan air mata ketika memejamkan matanya erat. Dosakah ia telah menyembunyikan semuanya dari Suaminya. Ia hanya ingin hidup bahagia bersama Ananta. Memiliki banyak anak dan menjalani semuanya bersama tanpa ada lagi Andara.


Kertas itu adalah surat yang ditinggalkan Dara untuk Ananta, surat itu tersembunyi di balik buku yang biasa Nanta baca. Namun, Nadialah yang pertama menemukannya saat ia sedang membersihkan debu di rak buku. Tanpa sengaja tangannya menyenggol buku itu hingga terjatuh.


Ada surat yang terlempar keluar dari sela-sela buku. Nadia mengambilnya, ada nama Nanta di sana namun ia penasaran sehingga membukanya. Ternyata itu adalah surat yang di tulis oleh Andara. Nadia sempat bimbang namun langsung menyembunyikan kertas itu di sakunya.


Surat itu bukan surat cinta namun surat perpisahan, Nadia tak ingin jika Nanta mengejar gadis itu jadi ia memilih tak memberitahukan adanya surat yang terselip untuk Ananta.


Untuk kekasihku Ananta

__ADS_1


Kau hadir di saat aku bingung kemana arah Cahaya.


Kau menggenggam erat tanganku pada arah cahaya itu.


Aku selalu merasa bahagia bersamamu, namun mungkin saat ini tidak lagi bisa.


Jika ditanya apakah aku kecewa? maka aku jawab iya!


Tapi aku sadar jika inipun bukan salahmu sayang.


Mungkin kita tak lagi bisa saling bercerita namun kuharap kita bisa saling mengerti jika kita memang tidak ditakdirkan untuk merangkai cerita itu bersama.


Nadia wanita yang baik, ku harap kau bahagia bersamanya.


Aku belum bisa ikhlas, jadi kuputuskan pergi menghilang sejenak saja.


jangan khawatirkan aku, aku hanya sedang berlibur Karena kemarin aku melihat banyak hal yang belum aku puas melihatnya.


Terimakasih sayang, aku pergi, berbahagialah.


Aku takut jatuh lagi dalam cinta yang semu.


Terakhir kali aku ingin mengatakan aku tulus mencintaimu.


Joana.IA


Kertas itu menjadi gumpalan, ia tak mengetahui jika teman Andara akan datang. Saat ini apa yang harus di lakukannya?


Ananta keluar dari kamar dan bertemu tatap dengan Nadia. Ananta melihat tanpa ingin menyapa dan berlalu ke dapur untuk ikut makan malam bersama.


Umi dan Abi juga bungkam, mereka tak ingin membuat suasana hati putranya semakin kacau. Ananta mengambil nasi ke piringnya, saat akan mengambil lauk, Nadia sudah lebih dulu mengambilkannya. Nanta melirik pada piringnya, menyendok lauk itu di kembalikan pada piring berisi lauk. Tangannya mengambil sayur di letakkan di piringnya, ia makan dengan nasi dan sayur saja.


Abi menghela napas lelah, apalagi ketika melihat menantunya jadi bersedih. Melirik Umi yang juga sedih melihat keduanya. Ia meletakkan sendoknya dengan kasar.

__ADS_1


Semua jadi berhenti mengunyah dan melihat ke arah wajah Abi yang menampilkan kekesalan.


"Nanta kau bukan lagi anak-anak. Kau seorang suami yang punya tanggung jawab terhadap rumah tanggamu! Abi sudah mendengar kejadian tadi pagi, dan Abi sudah mengambil keputusan!"


Umi dan Nadia jadi menanti apa keputusan Abi. Tapi tidak dengan Nanta, laki-laki itu hanya melanjutkan makannya dalam diam.


"Besok Nanta akan pindah kuliah di Bandung! dan Nadia juga akan membuka klinik di Bandung saja!"


Nadia sedikit keberatan karena klinik tempatnya bekerja sudah seperti rumahnya, ia nyaman bekerja di Jakarta. Sedangkan Ananta sangat keberatan karena itu akan sangat merepotkan, di tambah dia memiliki usaha bersama Bimo di Jakarta, namun yang membuatnya lebih keberatan adalah dia tidak akan lagi bisa melihat Andara jika pindah ke Bandung.


Sebelum mengutarakan keberatannya, Abi sudah lebih dulu menambahkan jika ia tidak ingin di bantah. Nanta tersenyum miris, sungguh inikah jalannya. Ia merasa semakin jauh dari apa yang ia inginkan. Ia hanya bagai boneka yang harus dengan terpaksa menjalani takdirnya.


"Aku setuju Abi!" akhirnya Nadia mengiyakan karena jika tidak lagi tinggal di Jakarta maka akan kecil kemungkinannya Ananta bertemu dengan Andara.


"Kau sangat puas rupanya!" sindir Ananta sarkasme dengan senyum mengejek tanpa melihat ke arah Nadia.


Nadia tersinggung, begitu pula Abi jadi marah karena putranya berkata tidak baik pada Nadia padahal wanita itu adalah istrinya.


"Jaga ucapanmu nak, ingat dia istrimu!" tegur Abi yang tak dihiraukan oleh Nanta.


Nanta pergi meninggalkan makanan yang masih di makan beberapa suap saja. Itu membuat Nadia dan Umi menjadi sedih, Abi jadi semakin marah karena Nanta bersikap tidak sopan.


Nanta masuk ke kamarnya mencari ponselnya, ia mengecek tidak ada balasan pesan dari Andara. Teleponnya juga tak pernah diangkat, Nanta sudah sering mencoba menghubungi Andara sedari Andara berkata akan pulang ke Jakarta.


Ia membuka galeri foto yang terdapat beberapa foto mereka, kebersamaan mereka yang selama ini telah mengisi hari-harinya. Gadis berirish biru yang begitu cantik dan baik. Gadis manja yang akan membuatnya sangat rindu. Bolehkah jika ia meminta waktu untuk kembali ke masa di mana ia bisa mengubah semuanya, memperbaiki kekacauan yang membuatnya hanya bagai orang bodoh seperti saat ini. Melepaskan gadis cantik yang sudah membuat harinya begitu indah.


"I wish, i could turn back time!" bisiknya pelan memeluk ponsel yang menampilkan foto Andara.


_______________


**Penulis akan sangat menghargai setiap like dan komen yang di berikan pembaca, karena dengan ketersediaan kalian untuk meninggalkan jejak di cerita ini membuat penulis lebih bersemangat lagi 😉.


terus ikuti kelanjutan dari novel ini yah

__ADS_1


happy reading 😘**


__ADS_2