Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c45


__ADS_3

Senja adalah lukisan indah Tuhan yang dapat di nikmati di kala Matahari mulai tenggelam. Rona merah yang terlukis manis menantang dunia dengan keindahannya. Dara memuja keelokan senja, namun laki-laki yang berdiri di depannya nampak lebih ia puja. Menutupinya dengan bayangan, meraihnya dengan senyum manis tak terkalahkan.


"Bagus kan?" tanyanya menghadap senja yang mulai menghilang.


"Iya, Dara suka. Sangat indah hingga Dara tak bisa berpaling darinya." Matanya bukan terarah pada senja, namun pada laki-laki di depannya.


Senyum terukir tatkala melihat tangannya termakan oleh tanah besar Nanta. Nikmat yang patut di syukuri bisa bersama Laki-laki favoritnya, menikmati sore bermandikan sinar senja.


"Aku bicara tentang senja, kenapa kamu melihatku begitu?" Ia menyentil pelan hidung Andara, rona merah di pipi Dara malah semakin membuatnya gemas.


"Aku juga bilang tentang senja!" Elak Dara mengalihkan pandangannya ke arah samping.


Di sebelahnya adalah pemandangan kebun teh yang terbentang luas memanjakan mata. Dara pasti akan merindukan tempat ini nanti. Pantas saja banyak orang jakarta selalu berlibur ke luar kota ketika weekend, karena di Jakarta tak ada pemandangan yang menyegarkan mata seperti ini. Di Jakarta hanya ada padatnya kota tempat orang berjuang untuk mencari makan, dan hidup untuk masa depan lebih baik.


"Dara suka di sini, Dara pasti akan rindu!" kata itu terucap, dengan tatapan mata yang mengarah tepat pada lelaki di sampingnya.


Nanta tersenyum, ia ingin berdo'a untuk waktu berhenti sebentar saja. Membiarkan kebersamaan ini berlangsung lebih lama. Nanta kini tak yakin akan hubungannya. Bukan tentang perasaannya, karena perasaannya masih untuk Andara saja. Tapi, rumitnya keadaan yang membuatnya putus asa. Bibirnya kelu setiap ingin mengaku tentang pernikahannya. Nanta tak ingin kehilangan Andara nantinya.


"Balik yuk, Dara mulai kedinginan." Andara sedari tadi memang memeluk tubuhnya sendiri, karena suhu udara mulai turun menunjukkan eksistensi malam dingin di Bandung.


"Ayok!" Nanta mengangkat tangannya yang langsung diraih oleh jari lentik Andara.


Mereka melewati jalan setapak menuju ke jalan besar di tempat terakhir ia meninggalkan sepeda. Mereka menitipkan sepeda pada penjual mie ayam.


"Sayang? kamu mau mie ayam enggak?" tanya Nanta saat mereka hampir Sampai.


"Mau! Dara udah kangen banget mau makan mie ayam!" Jawab Andara bersemangat.


"Mau di makan sini atau di bawa pulang?"


"Bawa pulang aja, kan bentar lagi kakak musti sholat magrib." Nanta tersenyum senang mendengar jawaban dari kekasihnya.


Mengusap puncak kelapa Andara, meraihnya dalam pelukan dan berjalan beriringan menghampiri penjual mie ayam tersebut.


Dara juga semakin mengeratkan tangan yang berada di saku jaketnya, sungguh dengan udara saat ini cocok sekali jika makan mie ayam yang baru di bikin, dengan uap mengepul dari mangkuknya. Namun mie ayamnya kali ini harus di bungkus dan di makan di rumah karena hampir mendekati waktu magrib.


"Bang bikinin empat porsi ya!"


"Di makan sini atau bungkus?" sahut Abang penjual mie ayam yang masih sibuk melayani pembeli lain.


"Bungkus bang!" Abang tukang mie ayam mengangguk, melihat sekilas ke arahnya.


"Kok empat yang? kan ada lima orang?" Tanya Andara sembari duduk, tangannya meraih bungkusan kerupuk di depannya.


"Nadia gak suka mie ayam, dia lebih suka makan nasi dan masakan rumahan." jawab Nanta dengan tangan meraih rambut Andara untuk di sematkan di belakang telinga.


Ada sedikit rasa tercubit, ketika bibir tipis Nanta menyebut nama wanita lain. Ia menutup rasa cemburunya dengan senyum tipis melanjutkan memakan kerupuknya.


"Ini mas!" Abang mie ayam menyerahkan empat bungkusan mie ayam yang di jadikan satu dalam keresek hitam.

__ADS_1


"Berapa ini bang? sama tuh satu bungkus kerupuk." Nanta menunjuk ke arah kerupuk yang di pegang Andara.


"Dua puluh ribu saja, kerupuknya saya gratiskan untuk adeknya."


Jawaban dari Abang mie ayam membuat Nanta tersenyum kecut, sial mereka di kira kakak beradik. Dara malah cekikikan mendengarnya, ia tersenyum ke arah Abang mie ayam karena sudah memberinya kerupuk gratisan.


Nanta membayar dengan cepat lalu berjalan ke arah sepedanya meninggalkan Andara yang masih tersenyum menggodanya.


"Kan kak Nanta memang kakakku!" elak Andara menyusul kekasihnya.


"Tapi kamu itu kekasihku!" jawab Ananta gemas Karena Andara masih menertawakannya.


"Udah yuk ah, nanti telat magribnya. Ini juga udah mulai gelap, kan sepeda kita gak ada lampunya." Dara menaiki sepedanya menunggu Ananta yang masih sibuk meletakkan kresek mie ayam di pegangan sepedanya.


"Yuk!" sepeda mereka melaju membelah jalanan yang mulai gelap, di temani bintang Sirius yang sudah menunjukkan sinarnya.


Mereka sampai rumah tepat saat azan berkumandang. Abi dan Umi menunggu kepulangan mereka dengan cemas di dalam rumah.


"Assalamualaikum."


"Wallaikumsalam," sahut suara seorang wanita dari dalam, Dara tau itu suara Nadia.


Ceklek


"Kalian kok baru pulang?" tanya Nadia begitu pintu terbuka.


"Kami tadi mampir beli mie ayam dulu!" jawab Nanta berlalu cepat menuju kamarnya, karena harus mandi terlebih dahulu baru sholat magrib.


"Maaf Umi, Tadi kami beli mie ayam. Nih kami beli empat bungkus, buat Umi, Abi, dan karena kak Nadia gak suka mie ayam, kami tidak belikan.


Dara langsung menjelaskan karena takut terjadi salah paham. Nadia juga mengangguk ternyata suaminya tau jika dia tidak suka mie ayam, itu cukup membuatnya senang. Mungkin mereka jarang berinteraksi, namun karena tinggal bersama mereka jadi sedikit tau tentang kebiasaan masing-masing.


"Sudah kalau begitu kamu mandi dulu, Umi sama Nadia mau sholat habis itu kita makan malam bersama." Dara mengangguk, ia juga lelah ingin segera mandi karena badannya juga terasa lengket.


Andara saat ini sudah berada di kamar mandi yang ada di luar kamar, dekat dapur. Karena kamar tamu memang tidak memiliki kamar mandi sendiri di rumah ini. Dengan suhu yang sudah dingin ia terpaksa bermandikan air dingin karena tidak ada shower pengatur air panas di sini, bahkan ia mandi menggunakan gayung.


Andara selesai mandi dengan badan menggigil, ia sudah menggunakan pakaian Karena tak mungkin keluar kamar mandi masih dengan menggunakan handuk. Dara langsung kembali ke kamarnya untuk menyisir rambutnya.


Fokusnya menyisir rambut terhenti ketika mendengar alunan ayat suci Alquran. Dara termangu, ia sangat suka mendengar lantunan itu namun ketika menyadari suara orang yang melantunkannya ia jadi sedih. Dara merasa kalah, ini semakin menunjukkan perbedaan di antara keduanya. Nadia memiliki suara merdu sehingga saat lantunan ayat suci itu di bacakan dari bibirnya, itu menjadi lebih indah di dengar. Andara tersenyum dengan air mata tanpa sengaja menetes di pipinya.


Kakinya melangkah menuju ke ruang yang di fungsikan untuk sholat, ia melangkah perlahan hingga sampai di pintu ruang itu, tempat suara merdu itu berasal. Pemandangan indah namun memilukan untuknya tersaji di depan matanya.


Umi dan Abi yang sedang fokus pada buku bacaan yang entah Andara juga tidak tau, mereka hanya menunduk membaca dalam diam dengan saling berdekatan. Kemudian, ada Ananta yang duduk di depan Nadia yang sedang melantunkan kitab suci dan ada kitab suci juga di pangkuan Nanta. Dapat di tebak jika Ananta sedang bertugas menyimak bacaan Nadia. Dara tersenyum namun hatinya sedang tersayat sembilu.


Ia mundur dan bergeser dari pintu, menyandarkan tubuhnya ke dinding. Meremas baju bagian depan dadanya dengan kuat.


Air matanya semakin deras mengalir, ini kan yang ingin ia lihat! lalu kenapa ia masih menangis? bukankah ini yang ingin ia Pastikan. Nanta bahagia bersama Nadia, Lalu apa lagi masalahnya? Masalahnya sekarang adalah dirinya yang belum ikhlas.


Tanpa di sadari olehnya, Abi yang telah selesai yang bacaannya ingin keluar dari ruangan itu. Namun, Isak tangis tertahan yang terdengar dari luar ketika ia mendekati pintu membuatnya mengurungkan niatnya.

__ADS_1


Abi terdiam, ia bingung harus bagaimana. Ia tahu Andara begitu menyayangi Ananta, begitupula puteranya. Tapi takdir memang tidak menyatukan keduanya, mereka harus bisa menerima kenyataan ini. Setelah tak lagi terdengar isakan tangis, Abi baru keluar melanjutkan langkahnya.


Andara membasuh muka yang sudah basah dengan air mata. Ia tak boleh menunjukkan luka ini, ia harus ingat tujuannya kesini.


Saat di meja makan, semua hanya diam membisu. Nanta yang kadang akan tersenyum ke arah Andara dan Andara yang akan membalas senyum Ananta. Yang lain melihat itu namun berusaha untuk tak memperdulikannya.


"Oh iya, besok kita jadikan untuk menghadiri acara pernikahan anaknya Tante Maya?" tanya Umi memecahkan kecanggungan di antara mereka.


"Jadi dong, Abi sudah membatalkan janji dengan klien untuk menghadiri acara di rumah Maya."


"Nanta juga ikut ya nak bareng Nadia, kan Tante Maya udah pesan untuk ajak kamu juga," ujar Umi tanpa melihat suasana jadi semakin canggung karenanya.


Nanta jadi bingung ingin menjelaskan ke Andara, kenapa Umi menyuruhnya untuk mengajak Nadia. Terlihat jika Andara hanya fokus makan tak ingin terlibat pembicaraan. Nanta menghela napas lelah, bagaimana ia bisa meninggalkan Andara sendirian? bahkan ia bingung menjelaskan tentang kenapa Nadia yang ia ajak.


"Em, Nadia di rumah aja Umi, menemani Andara," sahut Nadia karena juga merasa tak enak.


"Kamu harus ikut karena Tante Maya ingin kamu hadir di acara itu," balas Umi masih belum menyadari jika suasana sudah tak terkendali.


"Ehm, Bagaimana jika Andara juga ikut? untuk menemani Nadia juga kan?" usul Abi pada semuanya.


"Dara di rumah aja Abi!" jawab Andara tanpa menatap ke arah Abi, ia hanya menunduk.


"Aku gak mau kamu di rumah sendirian!" Nanta meremas lembut tangan Andara yang berada di atas meja, "Aku gak ikut, kalian aja yang pergi!"


Abi dan Umi jadi bingung, mereka merasa jika ada ketegangan yang kuat di ruangan ini. Menghela napas lelah, Abi memutuskan dengan tanpa ingin ada bantahan.


"Besok semua harus ikut! tidak ada yang di tinggal!" Abi bangkit berdiri menuju ke kamar di susul Umi yang hendak protes.


Nadia yang sedari tadi diam kini tangannya mulai membereskan meja makan, ia bungkam Karena tak tahu akan bagaimana. Dara yang melihat itu segera membantu Nadia membereskan meja makan.


Nanta menghela napas lelah, ia pun bangkit melangkah ke arah luar. Keluar dari ruangan yang membuatnya sesak, ia serba salah.


Sedangkan di Jakarta, Vian sedang bingung karena apartemen Andara kosong. Tak ada sahutan ketika ia terus memencet bel cukup lama. Ia memilih menghubungi Saka. Setelah sampai bandara Vian langsung ke apartemen Andara sedangkan Saka dan yang lainnya pulang ke rumah.


"Halo Ka, Andara gak ada di apartemen!" panik Vian yang di tanggap santai oleh Saka.


"Mungkin lagi keluar dia."


"Kalo keluar kenapa ponselnya tidak aktif?"


Dara memang sengaja mematikan ponselnya Karena ingin fokus pada tujuannya. Namun itu membuat yang lain jadi panik.


"Iya memang dari tadi juga ponselnya gak bisa di hubungi. Gue nyusul ke sana deh, Lo jangan kemana-mana dulu."


Sambungan terputus begitu saja. Mereka berdua bingung Andara kemana, karena ini sudah malam. Mereka mengira pasti ada yang tidak beres, Andara tiba-tiba pulang sendiri dari Bali dan saat ini sudah malam Andara tidak ada di apartemen.


_______________


**Penulis akan sangat menghargai setiap like dan komen yang di berikan pembaca, karena dengan ketersediaan kalian untuk meninggalkan jejak di cerita ini membuat penulis lebih bersemangat lagi 😉.

__ADS_1


terus ikuti kelanjutan dari novel ini yah


happy reading 😘**


__ADS_2