Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c50


__ADS_3

Bersepeda, lalu berhenti tepi pantai. Andara memejamkan matanya menghirup napas dalam-dalam. Membiarkan angin menerpa dirinya, rambutnya yang di biarkan terurai jadi berantakan tertiup angin. Sudah berhari-hari ia lari dari kenyataan yang menyesakkan, besok ia harus kembali ke Jakarta. Menjalani harinya dengan bersekolah tanpa ada lagi Nanta. Memasak sarapan sendiri dan berangkat ke sekolah sendiri. Andara mencoba meredakan sesak yang mulai menghampirinya lagi ketika mengingat sosok itu.


Matanya terbuka menunjukkan warna biru seperti pantulan dari laut itu sendiri. Kakinya melangkah di atas pasir tanpa alas kaki. Kadang akan sakit saat tak sengaja menginjak batu atau kerang. Masih dengan tersenyum pada cakrawala yang menunjukkan batas melengkung seakan menunjukkan bentuknya.


Senyumnya hanya untuk menunjukkan jika ia baik-baik saja, entah pada siapa ia membuktikan namun, ia hanya tak ingin jika anginpun menertawakan hidupnya. Andara akan berjalan-jalan dari pagi hingga sore hari dan melukis di malam hari hingga lelap menjemputnya.


Berpura-pura baik-baik saja kadang juga bagus, untuk memberikan sugesti pada diri sendiri jika aku akan baik-baik saja. Andara berhenti ketika kakinya menginjak batu tajam hingga terluka, darah keluar menodai pasir yang di pijaknya. Dara mengabaikan luka itu karena itu bukanlah hal yang menyakitkan, jika di bandingkan dengan luka menganga di hatinya.


Ia duduk diatas pasir membiarkan mentari pagi menghangatkannya. Hingga ada seorang anak kecil memberikannya plaster luka dan sandal jepit padanya. Dara tersenyum saja menerima pemberian anak kecil itu.


Dara memakai plaster pada lukanya, dan menaruh sandal itu di dekat kakinya. Tersenyum manis sambil menutup mata menengadahkan wajahnya.


Saka duduk tak jauh darinya, ikut menikmati pemandangan di depannya. Kacamata hitam bertengger manis menambah kesan tampan yang membuat para turis ikut memperhatikannya. Saka jarang tersenyum, namun itu malah membuat kesan cool yang dibawanya.


Andara berdiri memakai sendalnya, ia berbalik pergi menghampiri sepedanya yang di letakkan di pinggir pagar pembatas pantai. Dara menggoes sepedanya menuju ke Gereja. Ada gereja di sekitar situ, ia memasuki gereja dan duduk di bangku paling depan.


Tak bisa di pungkiri ia rindu orangtuanya, ia rindu meski yang ada di ingatannya hanya pertengkarannya. Namun, kadang juga ia mengingat ketika papanya memarahinya karena pulang terlambat atau mamanya yang cuek, namun akan menyuruhnya menghabiskan sarapan dengan wajah tanpa ekspresi.


Dara memejamkan matanya tangannya disatukan di depan dada, ia sudah lama tidak berdoa. Kali ini banyak doa yang ia sampaikan, tentang hidupnya yang ingin ia mulai kembali.


Selesai berdoa ia tak langsung pergi, duduk termenung seakan sepi sedang menemaninya. Menghiraukan orang-orang yang datang lalu pergi, tapi ia tetap duduk termenung sendiri. Hingga ada orangtua yang tersenyum kearahnya, nenek itu memberikan payung.


Dara mengerutkan keningnya heran, hingga ia menengok ke arah pintu dan melihat hujan deras di luar. Dara menerima uluran payung dan berterimakasih. Memegang payung itu tanpa ingin beranjak pergi. Sudah cukup lama ia di sana, dan memutuskan untuk pulang ke hotel.


Di luar masih hujan deras, ia melihat seorang wanita hamil sedang berteduh di emperan toko diseberang jalan. Dara membuka payungnya dan menghampiri wanita itu.


"Kak, ini!" Dara menyerahkan payungnya pada sang wanita.


"Loh adek gimana? gak papa saya nunggu hujannya reda saja." tolak wanita itu ramah.


"Kakak kebasahan, ini pakai saja. Kakak bisa berteduh di gereja sana!" tunjuk Andara kearah gereja, karena berteduh di sini percuma hanya akan basah kedinginan.


"Tapi kamu...?" belum juga selesai Dara sudah pergi dengan mengenakan Hoodie-nya.


Dara membiarkan hujan membasahi tubuhnya, berjalan agak cepat untuk menghampiri sepedanya. Mengayuh sepeda itu dengan hujan deras yang masih terus membasahi tubuhnya. Saka yang melihat di kejauhan jadi kesal, akan menyusul juga tapi percuma Andara adalah wanita keras kepala. Dia memberikan payung tadi agar gadis itu tidak kehujanan, malah payung itu di berikan pada orang lain.


Saka memilih untuk menunggu hujannya reda di sebuah Cafe. Menghangatkan diri dengan sebuah kopi hangat. Masih terpikirkan apakah Andara sampai di hotel dengan selamat. Ia berdecak kesal mengingat kejadian tadi.


"Gadis bodoh! gerutunya pelan.


Andara yang telah sampai di hotel langsung melepaskan pakaiannya dan membilas badannya dengan air hangat. Membiarkan air mengalir mengahapus jejak hujan di tubuhnya. Tak ingin berlama-lama Karena badannya sudah menggigil, Dara segera keluar dengan handuk melilit di dadanya.


Dara mencari pakaian hangat, dan memakainya cepat. Namun, badannya masih merasa kedinginan. Dara bersembunyi dibalik selimut, dengan badan tertutup rapat menyisakan kepalanya saja yang terlihat.


Tangannya meraih remot AC dan mematikannya, lalu meletakkannya asal. Masih dengan lilitan selimut Andara meraih kertas dan pena, lalu menuliskan sesuatu di sana. Menelpon pihak hotel untuk menyuruh orang datang ke kamarnya.

__ADS_1


Tak menunggu lama, seseorang datang dan sedikit terkejut ketika melihat Andara terlilit selimut. Andara menunjukkan cengirannya, memamerkan giginya pada orang itu. Menerima obat yang di pesannya, lalu memberikan kertas tadi pada sang pelayan hotel.


Setelah minum obat, ia jatuh terlelap dalam tidurnya. Berharap nanti tak akan terkena demam karena kenekatannya.


Di sisi lain, Ananta yang juga baru selesai mandi dan sedang memperhatikan tab-nya, mendengar ketukan dari luar pintunya. Meletakkan tab-nya kemudian membuka pintu itu. Ada seseorang yang tersenyum ramah kepadanya.


"Apa anda yang bernama Saka?" tanya orang itu memastikan.


"Iya! ada apa?" balas Saka dengan wajah datarnya.


"Ini ada pesan untuk anda." Orang itu menyerahkan kertas yang terlipat rapi ke arah Saka.


Saka memandang kertas itu aneh, lalu meraihnya. Bertanya siapa yang menitipkan surat ini, namun orang itu hanya menunjukkan nama hotel.


Saka menutup kembali pintunya ketika orang itu telah pergi, membuka perlahan lipatan kertas itu, dan baru membaca bagian atasnya saja sudah membuatnya tersenyum. Mendudukkan dirinya perlahan di atas ranjang masih dengan senyum terpatri indah menghiasi wajah tampannya.


***Hei stalker gila


Terimakasih untuk sandal dan payungnya, oh juga untuk plasternya. Apakah sudah puas mengikuti wanita cantik ini?


Kenapa kita tidak bertatap langsung saja dari pada hanya berjalan berjauhan. Kau sempat membuatku takut bodoh!


Ku tunggu nanti malam di restoran dekat pantai, aku tak mau jika kau terlambat!


Wanita cantik: Joana.I.A***


Merebahkan badannya tak sabar menanti untuk nanti malam, dia bahkan malu pada dirinya sendiri saat ini. Bukankah ia sudah biasa bertemu gadis itu. Lalu kenapa saat ini ia merasa sangat bersemangat?


Nanta sudah siap dengan kemeja rapi dan buket bunga di tangannya, meniti penampilannya di depan cermin hingga membuatnya mengacak rambut yang sudah di tata rapi.


"Ini berlebihan bodoh!" Geramnya melempar bunga itu keatas tempat tidur.


Mengembalikan penampilannya yang seperti biasanya, lalu melangkah keluar dengan wajah tanpa ekspresi. Meski sudah di tahan, tetap saja bibirnya sedikit terangkat menunjukkan senyum tipis. Sepertinya ia sudah gila, bahkan sekarang ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.


Menaiki taksi menuju ke restoran yang di maksud Andara, ternyata Andara juga sudah melakukan reservasi. Saka duduk di meja yang telah di sediakan. Menunggu gadisnya sambil memainkan ponselnya, membalas pesan dari teman-temannya.


Namun, hingga sudah terlewat 20 menit Andara tak kunjung datang. Moodnya jadi buruk menunggu dengan wajah kesal. Waktu terus berlalu dan masih belum terlihat kedatangan gadis itu. Rasa kesalnya kini berganti dengan rasa cemas.


Sudah satu jam ia duduk menunggu, menghabiskan dua gelas coffee. Saka tak sabar lagi dan beranjak pergi setelah membayar bill.


Saat keluar restoran ia disambut suasana ramai di ujung jalan sana. Saka menghampiri keramaian itu dengan penasaran, entah kenapa jantungnya berdegup kencang tiba-tiba.


Ada jejak kecelakaan di tempat itu, ada banyak darah di aspal jalan. Bahkan sudah ada garis polisi yang membatasi tempat kejadian. Terdengar krasak-krusuk dari orang-orang di depannya.


"Kasihan ya?"

__ADS_1


"Iya kasihan, sepertinya gadis itu terluka parah!"


"Lihat, dia terpental jauh dari mobil yang menabraknya!" jawab seseorang dengan nada pilu.


Saka tak mengerti, tapi entah kenapa ia merasa badannya jadi sedikit lemas. Hingga memundurkan langkahnya, mencerna semua yang telah di dengarnya.


Menyentuh dadanya yang masih menunjukkan debaran cukup kuat, matanya mencari keberadaan Andara. Mungkin saja Andara ada di sekitar sini. Bibirnya bungkam hanya matanya yang terus mencari, hingga tatapannya terpaku pada tas Selempang yang tergeletak di tengah jalan.


Saka melangkahkan kakinya, menghampiri tas yang sangat familiar itu. Namun belum juga ia dapat menyentuh tas yang tergeletak itu, seorang polisi mengambilnya. Saka terdiam di tempatnya. Suara ramai di sekitarnya jadi hening, dan pandangannya jadi mengabur.


Menguatkan hatinya untuk tetap sadar, lalu berlari mengejar polisi tadi. Dengan langkah tertatih ia menyusul polisi tadi yang sudah masuk ke mobil.


"Pak, maaf itu sepertinya tas milik teman saya!" ucap Saka dengan napas tersengal.


"Kamu yakin?!" Tanya polisi tadi meyakinkan.


Saka menagguk keras meyakinkan. Polisi tadi menyuruhnya ikut masuk kedalam mobil dan memastikan sendiri, apakah benar itu tas milik temannya. Saka pun tak menolak dan langsung mengecek isi tas tersebut. Peralatan makeup dan beberapa barang lain yang sama sekali tak ia sentuh.


Saka hanya menyentuh ponsel yang sangat ia kenali, ia segera memastikan dengan memasukkan sandi kunci layar milik Andara, jika terbuka berarti itu memang milik Andara. Dan setelah memasukkan kode sandi terdengar suara setelahnya.


Klik


Ponsel itu terbuka menunjukkan layar depan yang menampilkan foto Andara. Saka sempat menahan napasnya, ia menoleh kearah polisi di sampingnya yang juga sedang menatapnya. Polisi itu menepuk punggung Saka pelan menyuruhnya untuk ikut dengannya.


Saka menatap tak percaya kearah ambulance dengan pintu terbuka, para perawat rumah sakit sedang mencoba membantu mengeluarkan pasien yang bersimbah darah. Saka menggeleng, memundurkan langkahnya.


"Gak mungkin!" gumamnya pelan.


Air mata menetes tanpa di sadarinya. Seakan waktu berhenti saat itu juga, membuatnya dapat melihat jelas wajah yang ternoda banyak darah, bahkan sampai ikut mengotori rambut panjangnya.


Saka berlari mengejar, hingga pasien dibawa masuk ke ruang gawat darurat. Saka menyandarkan badannya, luruh kelantai dengab terisak pelan. Itu pasti bukan Andara kan? Ia menolak percaya pada kenyataan yang memukulnya keras.


"Dek, bisa kau hubungi pihak keluarga. Kami akan mengkonfirmasi jika nanti dokter sudah mengecek keadaannya." Seorang polisi berbicara padanya, Saka tak menanggapi hanya melihat sekilas lalu menunduk.


Ia termenung menatap ponsel di tangannya, siapa yang akan di hubungi? Saka saja masih menolak percaya, jika itu benar-benar Andara sebelum bisa melihatnya dari dekat. Padahal ia sendiri sudah melihat wajah cantik Andara yang tercoreng darah.


Memukul kepalanya dengan marah, harusnya ia menjemput Andara tadi, bukan sibuk memikirkan penampilannya.


"Saka begok!" teriaknya frustasi.


____________


**Penulis akan sangat menghargai setiap like dan komen yang di berikan pembaca, karena dengan ketersediaan kalian untuk meninggalkan jejak di cerita ini membuat penulis lebih bersemangat lagi 😉.


terus ikuti kelanjutan dari novel ini yah

__ADS_1


happy reading 😘**


__ADS_2