
Semua menampakkan wajah sedih di ruangan itu, Para orang tua sedih melihat kondisi Kakek. Sedangkan Nanta dan Nadia masih setia pada keterdiamannya. Bahkan sedari tadi telpon dari Dara ia abaikan. Tak sanggup berbicara pada gadis itu untuk saat ini. Bahkan ponselnya akhirnya di matikan.
"Nak Nanta, bisa kita mulai ijab kabul nya sekarang?" tanya sang penghulu pada mempelai pria.
Nanta tak menjawab, lidahnya kelu. Apakah ini takdir yang sudah Allah tentukan untuknya. Tapi kenapa rasa sayangnya masih untuk Andara. Bahkan tidak ada sedikitpun rasa sayang pada wanita yang akan di nikahinya. Hanya ada rasa hormat karena ia seorang wanita.
Mereka yang berada di ruangan itu saling memandang karena yang di tanya hanya menundukkan kepalanya, setia pada keterdiamannya.
"Nak, pernikahan ini harus di segerakan. Jadilah laki-laki bertanggung jawab!" Ucap Abinya pada sang putera.
Nanta masih diam. Ia menoleh ke arah wajah kakeknya yang masih bernapas namun sangat perlahan. Wajah itu yang dulu selalu tersenyum dengan sabar mengajarinya mengaji. Orang yang selalu membelanya ketika ia nakal. Bagaimana bisa ia mengabaikan permintaan kakeknya. Tapi, bagaimana dengan perasaannya. Tangannya menggenggam erat hingga buku-buku jarinya terlihat.
Semua sedang menunggu Nanta mau bangun dari keterbungakamannya. Umi tak berhenti menangis. Bagaimana jika puteranya tak mau menjalankan amanah dari ayahnya itu. Tangannya meraih tangan tua itu dan mengecupnya berulang. Ia bukan ingin membuat puteranya berada dalam situasi sulit. Tapi ini juga menyakitkan untuknya. Untung Abi selalu setia membantu Umi menopang tubuh lemahnya.
"Ehem!" Deheman keras dari Ayah Nadia menyadarkan semua orang yang sedang fokus dalam pikiran masing-masing.
"Nak, akankah ini di lanjutkan. Pak Penghulu menunggu kesiapanmu," Ayah Nadia berucap dengan pelan.
"Nak,.." Sebelum Abi mengucapkan apa yang ingin di ucapkannya, Nanta sudah menyela dengan cepat.
"Iya, Nanta mengerti," Ujarnya dengan wajah datar.
"Nadia, maukah kau menjalani pernikahan ini denganku." Meski matanya menatap ke arah wanita cantik berhijab itu, tapi wajah datarnya menunjukkan keterpaksaan.
"Bismillah, Jika menikahimu berarti bersedia melalui segala kenikmatan dan kesulitan bersama, Aku ikhlas." Nadia mengucapkan kata itu dengan lantang dan mantap. Berbanding terbalik dengan Nanta.
Nadia sudah memutuskan, ia akan menerima apapun yang terjadi nanti pada rumah tangga mereka. Insyaallah jika Allah menakdirkan ini terjadi, pasti akan ada jalan.
Para orang tua yang mendengar jawaban Nadia jadi lega, Umi juga lega tapi bagaimanapun ia memahami perasaan puteranya. Ia hanya bisa berdoa semoga Allah membuka pintu hati Nanta yang tertutup rapat untuk calon menantunya. Bagaimanapun Allah maha membolak-balikkan hati, Ia pasrah.
"Baik kita mulai sekarang," ujar pak penghulu.
Nanta hanya mengangguk.
"Bismillahirrahmanirrahim
Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” [QS. Adz Dzariyaat ayat 49]
Allah sudah menetapkan kelahiran manusia sebagai takdir yang sudah pasti yaitu jenis laki-laki dan perempuan.
Allah juga akan memberikan jodoh masing-masing untuk setiap mahluknya. Untuk manusia yang sudah dewasa, maka akan datang hari aqil baliq dan akan menuju pernikahan.
Siapa yang tidak ingin menikah?
Semua manusia yang sudah dewasa semua ingin menikah, karena sudah kodratnya bahwa kita diciptakan untuk berpasang-pasangan.
Pernikahan adalah upacara suci yang bertujuan mempersatukan antara laki-laki dan perempuan dalam menjalin ikatan suci yang halal.
Allah telah berfirman dalam Al Quran surah Ar-Rum ayat 21:
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum ayat 21).
Dari ayat diatas dapat ditafsirkan bahwa Allah memilki kekuasaan untuk menciptakan kaum istri untuk kalian (kaum laki-laki) dari kaummu sendiri agar jiwa kalian tenang dan damai, dan Dia menjadikan kecintaan dan kasih sayang antara suami dan istri.
Sesungguhnya dalam penciptaan Allah terhadap semua itu terkandung petunjuk atas Kuasa Allah dan keesaan-Nya bagi kaum yang berpikir.
Setelah melangsungkan pernikahan berarti pasangan pengantin sudah mendapatkan restu dari Allah untuk membina rumah tangga. Dan dalam berumah tangga nanti mereka akan melanjutkan keturunannya.
Dengan melakukan janji suci yang direstui oleh orang tuanya serta adanya saksi maka pasangan pengantin sudah menjadi pasangan yang sah lahir dan batin. Prosesi janji suci antara laki-laki dan perempuan ini akan diadakan dalam sebuah akad nikah."
Semua yang ada di ruangan itu mengangguk, Saat pak penghulu akan memulai ijab kabul.
Ayah Nadia juga bersiap untuk melaksanakan ijab kabul. Begitupun dengan Nanta hanya saja wajah laki-laki itu tak menampakkan senyum sedikitpun.
__ADS_1
أنكحتك وزوجتك مخطوبتك بنتي ……. علىالمهر ……. حالا
“Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka binti (Nadia Keisya putri) alal mahri (seperangkat alat sholat) hallan”
Artinya:
“Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, puteriku Nadia keisya putri binti Arman dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar tunai.”
قبلت نكاحها وتزويجها على المهر المذكور ورضيت بهى والله ولي التوفيق
“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq.”
Artinya:
“Saya terima nikah dan kawinnya dengan mas kawin (seperangkat alat sholat) yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah.”
Setelah pengucapan Ijab dan Kabul tersebut, maka akan dilanjutkan dengan ucapan para saksi yang hadir disana untuk mengesahkannya.
Ketika para saksi mengatakan “Sah” maka pernikahan tersebut akan disahkan oleh penghulu.
Semua mengucapkan hamdalah secara bersamaan. Setelahnya Umi menyerahkan cincin sepasang pada Nanta, menyuruhnya untuk memenangkan pada jari manis Nadia. Tadi Abi sempat membelikan cincin ketika menunggu Ashar.
Semua merasa lega, termasuk Nadia. Apalagi saat tadi Nanta mencium keningnya untuk pertama kali. Jantungnya berdegup kencang, meski wajah Nanta tak menunjukkan sedikitpun senyum di wajah tampannya itu, Nadia tetap senang. Ia telah menjadi istri dari seseorang. Sekarang hidupnya bergantung pada bimbingan laki-laki itu. Kekalutannya tadi lenyap bersama ijab kabul yang telah selesai di bacakan.
Berbeda dengan Ananta. Bibirnya kelu setelah mengucapkan ijab kabul. Impian menikah dengan gadis pujaannya hancur. Ia malu dan takut, untuk bertemu dengan gadis pujaannya itu. Bahkan air matanya luruh, meskipun menunduk. Namun, semua orang melihat ketika air mata itu jatuh.
Suasana yang tadinya mulai menghangat kembali lagi jadi senyap. Bahkan Abi juga diam. Entah apa yang dipikirkan besannya terhadap puteranya ini. Umi juga hanya bisa memaksakan senyumnya pada Bunda Nadia.
"Bawalah Nadia ke apartemenmu. Dia pasti lelah, kami akan menunggui kakek di sini. Tidak usah khawatir, kembalilah," ucap Abi pada Nanta yang di setujui oleh orang tua Nadia.
Nanta mengangguk berlalu keluar ruangan meninggalkan pengantin wanitanya. Nadia jadi canggung karena sikap Nanta. Bisakah laki-laki itu menghormati orang tuanya yang masih ada di sini. Tapi karena tak ingin ada masalah, ia ikut keluar menyusul kepergian Nanta.
Sepanjang jalan menuju apartemen, mereka hanya diam. Wajah cantik Nadia dalam balutan gamis berwarna putih pun, nampak sedih dengan sikap suaminya. Padahal usahanya untuk dekat dengan laki-laki itu cukup berhasil kemarin, tapi, sekarang laki-laki itu kembali bersikap dingin terhadapnya.
Saat sampai pun. Nanta hanya menunggu Nadia turun, lalu menyerahkan kunci apartemennya, tanpa mengatakan apapun ia pergi lagi dengan mobilnya. Nadia yang masih berada di halaman depan apartemen hanya bisa menangis dalam diam.
Nadia tersenyum miris, menguatkan hati untuk tetap kuat. Ini pilihannya, maka ia juga harus menanggung resikonya.
........
Nanta memang pergi ingin menemui Andara, hatinya merasa sangat bersalah.
"Sayang, kamu di mana?"
'Aku di rumah Saka kak. Ini mau pulang kok. Gimana kabar kakek kak?' tanya Dara dari seberang telepon.
"Aku jemput, ini udah di jalan. Kakek masih belum ada perubahan. Ya udah tunggu aku, Jan kemana-mana." Nanta tersenyum miris, akankah Dara masih perhatian pada laki-laki tua yang sudah membuat kekasihnya ini menikahi wanita lain.
maaf sayang
Nanta langsung menuju ke rumah Saka yang memang tak jauh dari apartemen Andara.
Dalam waktu sekitar 20 menit ia sampai di rumah Saka.
"Permisi." Nanta mengetuk pintu rumah Saka.
"Iya, sebentar." Ada sahutan dari dalam yang dapat ia tebak jika itu Bundanya Saka.
ceklek
"Eh nak Nanta, nyari Andara ya? ayo masuk." Bunda Saka memang sudah sangat mengenalnya. Karena Andara lah ia juga dekat dengan keluarga Saka.
"Sayang, ini ada nak Nanta nyari kamu." Teriak Bunda ke arah Dalam.
"Ayo, duduk dulu nak. Andara ada di gudang sama Saka. Tuh gudang nya keliatan kan pintunya dari sini." Bunda menunjuk pintu kayu yang tak berbeda dengan pintu yang lain.
"Oh ya, nak Nanta mau minum apa? biar Bunda buatkan dulu," tanya Bunda ramah pada Nanta.
__ADS_1
"Tidak usah repot Bunda, Nanta hanya akan menjemput Andara. Sebentar lagi pulang." Nanta juga menjawab dengan sopan tak lupa juga senyum yang di paksakan. Moodnya masih buruk untuk tersenyum pun sulit.
"Oh ya, eh itu mereka." Bunda menoleh pada kedua anak yang sudah belepotan dengan cat. Meskipun Saka tak separah Andara.
"Eh cepet banget kakak sampeknya, ngebut ya?" tanya Andara setelah duduk di sampingnya.
"Enggak kok, yuk pulang!" Ajaknya langsung berdiri pamitan pada pemilik rumah.
Dapat di lihat wajah ramah Bunda Saka sangat kontras dengan wajah galak milik Saka. Nanta paham jika Saka masih marah padanya, bagaimana nanti jika tau ia telah menikah dan menyakiti gadis cantik di sampingnya ini. Nanta bergidik ngeri membayangkan itu. Saat ketahuan mengantar wanita lain saja Saka menghajarnya habis-habisan. Lah lalu tau ia telah menikahi wanita lain, bisa mati ia di tangan laki-laki itu.
Sepanjang perjalanan Dara berceloteh tentang melukis, tentang sekolah dan semua yang di ceritakan gadis itu, Nanta tak begitu menyimak. Ia hanya mengangguk saat di tanya atau menggeleng.
Ia cukup senang, setidaknya masih bisa melihat keceriaan gadis itu. Tak bisa di bayangkan saat gadis itu terluka nanti karenanya. Saka menggenggam tangan kanan Andara lalu mengecupnya sayang.
Dara menoleh, ia memperhatikan wajah kekasihnya, Ada raut sedih meskipun sedari tadi tersenyum ke arahnya.
"Kakak sedih ya, karena kakek koma. Jangan sedih ya! Bukannya kakak pernah bilang jika hidup, mati, jodoh dan rezeki itu sudah di atur oleh Tuhan. Kakak harus kuat apapun yang terjadi nanti, kita doakan semoga kakek bisa sehat lagi." Dara berusaha menghibur Nanta.
Nanta menoleh, sedikit terkejut dengan apa yang di katakan Andara. Dia memang pernah bilang jika hidup, mati, jodoh dan rezeki sudah di atur oleh sang maha kuasa. Itu bukan membuatnya jadi terhibur, itu malah mengingatkannya pada pernikahan yang di jalaninya beberapa saat lalu.
Dara yang melihat raut wajah Nanta terlihat terkejut, ia jadi salah tingkah.
"Salah ya kak, Dara minta maaf kalo salah, Dara tak begitu ingat," Dara berpikir apa yang barusan di ucapkannya adalah salah.
"Enggak, itu udah bener. Pinter ya pacarku." Puji Nanta mengusap sayang rambut Andara.
Dara membalas dengan senyuman. Mata biru itu juga menatapnya dalam. Semakin lama Nanta menatap mata itu, maka rasa bersalahnya semakin membuncah.
Mereka sampai di apartemen Andara. Mereka langsung masuk dan merebahkan diri di sofa depan tv.
"Kamu udah makan malam?" tanya Nanta menoleh, tangannya sedari tadi memainkan rambut panjang gadis itu.
"Udah dong, abis magrib tadi. Kakak sendiri udah makan?" tanyanya balik.
"Udah." jawabnya bohong, Nanta bahkan melewatkan sholat magrib hari ini.
Hatinya masih kacau. Saat ini rasa bersalah yang menguasai hatinya. Cintanya untuk gadis di sampingnya ini sangatlah tulus. Senyum gadis itu juga adalah favoritnya, Dan tangis gadis itu adalah yang paling di bencinya.
"Eh itu udah azan Isya, Kakak ambil wudhu gih. Nanti Dara siapkan peralatan sholatnya." Dara menarik tangan Nanta agar berdiri.
Nanta hanya mengikuti langkah Andara di belakangnya. Andara membawanya ke depan pintu kamar mandi. Kepalanya mengarahkan agar ia segera masuk. Nanta tak tahan dengan sikap menggemaskan gadis di depannya ini. Memeluk erat hingga Dara pun kesulitan bernapas.
"Ih kakak, malah peluk-peluk. Nanti waktunya keburu habis loh," protes Andara yang sedikit teredam karena mulutnya tertutup dada laki-laki yang memeluknya.
"Enggak, kan waktu sholat isya panjang," jawab Nanta.
"Iya, tapikan harus di segerakan!"
"Iya bawel." Nanta mengacak rambut gadis itu lalu masuk untung berwudhu.
Dara berlari ke arah lemari mencari sajadah, sarung dan peci untuk Ananta. Ia sangat suka melakukan ini. Setelah menata pada tempatnya ia menunggu Nanta di atas tempat tidurnya sambil memainkan ponsel.
Setelah selesai sholat, Nanta berdo'a lebih lama dari biasanya. Dara mengalihkan pandangannya ke arah laki-laki itu. Dara tau jika Nanta sedang dalam masalah sulit, ia tau karena sedari tadi wajah Nanta menunjukkan kesedihan. Ia tak tau apa itu, tapi juga tak ingin bertanya lebih jauh.
Nanta memeluknya erat. Dara menaruh ponselnya di meja. Mengusap kepala Nanta yang berada di atas perutnya. Meski terhalang selimut tapi tetap saja Andara merasa geli.
"Kakak!" rengek Andara berusaha mendorong kepala Nanta dari atas perutnya.
"Diem! sebentar aja," ucap Nanta tak mau menyingkir.
Dara mengusap kepala itu pada akhirnya, berharap dapat membantu mengurangi beban yang sedang di pikirkan kekasihnya.
Di tempat yang berbeda, Nadia sedang duduk di atas kasur yang beraroma khas laki-laki yang sekarang telah jadi suaminya. Ia menunggu kedatangan Nanta dengan cemas. Nadia tak pernah tau jika Nanta sering menginap di apartemen Andara. Jadi sekarang ia sedang kalut dan bingung. Tak bisa di pungkiri ia merasa sedih. Tapi kemudian ia mengingat seorang ustadzah pernah mengatakan ini kepadanya.
*J**anji Allah selalu akan di tepati bagi mereka yang selalu sabar dan taat kepada-Nya, Takkan di langgar.
"Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." (QS.Az Zumar:10*).
__ADS_1
______