
Dara membuka matanya, kepalanya terasa sangat berat dan sakit. Tangan kanannya menyentuh pelipisnya memijat perlahan. Ia menengok, matanya menyusuri ruangan yang sepi. Ia tau ini di rumah sakit, karena ada infus di tangannya. Ah kepalanya sakit sekali, Dara mencoba menahan dengan terus memegang kepalanya. Tapi percuma karena rasanya sangat sakit, ia berteriak.
Arrrghh
Tentu tidak ada yang mendengar rintihannya karena ia berada di ruang VVIP. Tak terpikirkan untuk memencet bel darurat. Ia terus merintih sambil mendudukkan badannya. Meringkuk sambil memegang kepalanya. Mukanya memerah menahan sakit, matanya terpejam rapat.
Aaahhhhh
Dara sudah tidak tahan, ia melempar gelas di meja ke arah pintu. Tepat mengenai pintu, hingga perawat yang kebetulan lewat pun langsung masuk dan melihat pasien yang sangat kesakitan. Ia terburu-buru memencet tombol darurat dan mencoba untuk menyuruh Dara tetap berbaring. Infus di tangan Dara terlepas, hingga dokter masuk dan memberi Dara pereda rasa sakit melalui infus yang sudah terpasang lagi.
Bunda masuk ke ruangan, ia panik dan langsung bertanya pada dokter. Bunda tadi dari kantin untuk membeli sarapan. Saka pergi ke sekolah dan menitipkan Dara padanya. Dara sudah seperti putrinya sendiri.
"hei, apa sakitnya mereda?" tanya bunda pada Dara yang sudah sedikit tenang.
Dara mengangguk tapi wajahnya masih sangat pucat. Bunda mengusap rambut Dara sayang.
"Bunda tadi dari kantin, setelah ini Bunda gak akan biarin Andara sendirian di sini," ujar bunda dengan mimik wajah khawatir. Ia melihat pecahan gelas yang sedang di bersihkan suster.
"Dara tadi pasti bingung ya karena tidak ada orang di sini? maafin Bunda ya sayang." Bunda merasa bersalah, harusnya tadi ia tidak meninggalkan Dara sendirian.
"Dara gak papa kok bunda, em Saka mana bunda?"
"Saka, sekolah dong. sebentar lagi ujian tengah semester. Dara harus cepat sembuh, agar bisa mengikuti ujian nanti."
Dara mengangguk, ia berusaha tetap tersenyum meski kepalanya masih terasa sakit. Ia tidak ingin Bunda khawatir, ia sudah sering merepotkan keluarga Saka terutama Saka sendiri.
Ia ingin menghubungi Nanta, tapi kepalanya masih terasa pusing. Lebih baik nanti saja karena ia tak ingin membuat laki-laki itu khawatir. Nanta yang sangat jarang pulang ke Bandung, pasti sekarang ia sedang menikmati waktu di sana.
Andara tertidur lagi karena mungkin obat pereda rasa sakit itu, yang membuatnya jadi merasa mengantuk. Bunda masih setia mengusap kepala Andara, berharap itu bisa meredakan sakit di kepala gadis itu.
Saka pulang sekolah langsung ke rumah sakit. Tadinya ia akan mengajak teman-teman yang lain, karena mereka menanyakan Andara. Tapi, ia mencegah mereka datang untuk saat ini. Karena menurutnya Andara butuh waktu untuk istirahat.
"Bunda, Andara sudah sadar?" tanya Saka pada bundanya.
"Sudah, tadi ia kesakitan. tapi dokter segera memberinya obat." Bunda tersenyum, putranya itu memang sangat menyayangi Andara.
"Bunda bisa pulang, biar Saka yang jaga di sini." Saka duduk di kursi dekat tempat tidur Andara.
"Kamu pasti cape, biar bunda aja yang di sini."
"Kok Saka, jelas bunda yang lebih cape. Sekarang lebih baik bunda pulang, Ayah pasti bingung nyari'in Bunda."
"Biarin, sekali-kali biar Ayah tau kalo Bunda gak ada rasanya gimana," Ujar bunda dengan melipat tangannya di depan dada.
Saka menggeleng saja. Orang tuanya memang terbiasa seperti itu, jika satu tidak ada baru rindu. Jika di rumah ada saja yang membuat mereka barentem meski tidak sungguhan.
"Tadi Saka lewat depan rumah, Ayah sedang mengobrol dengan Tante Nia."
Bunda langsung saja mencari tasnya dan bergegas untuk pulang. Saka tertawa setelah Bunda sudah keluar dari ruangan kamar Andara. Bunda dan Ayahnya meski sudah tua masih sering saling cemburu.
Pandangan Saka beralih ke arah ponsel Andara yang berdering. Saka melihat ada nama Ananta di sana. Ia menampilkan senyum tanpa mau menyentuh ponsel Andara untuk mengangkat telpon itu. Ia memotong buah apel di meja yang tadi di bawa Bundanya. Memakannya perlahan, menikmati buahnya mengabaikan ponsel yang masih terus berdering berulang kali.
.........
Di Bandung Nanta bingung kenapa panggilan telponnya tidak di angkat, karena setahunya Andara pasti saat ini sudah di Indonesia.
Ia mendengar ada suara Umi yang menerima tamu di luar. Ia sedang di kamar saat ini bersiap untuk Sholat Ashar. Kerena tak kunjung di respon ia memutuskan untuk menghubungi lagi nanti.
"Ini dari siapa pak?" tanya Umi pada kurir yang mengantarkan barang dari luar negeri.
"Tidak tau buk, di sana hanya tertera jika pengirimannya dari Venice. Mungkin saudara ibuk," Jawab kurir sambil menyodorkan buku untuk di tanda tangani.
Umi menandatangani dan mengucapkan terimakasih pada sang kurir. Ia membolak-balikkan benda yang masih terbungkus rapi itu. Mencari nama pengirim, disana hanya tertera Alamat rumah ini, dengan nama keluarga Radito. Seingatnya di komplek ini hanya keluarganya yang memiliki nama Radito.
"Abi, kita dapat kiriman barang dari luar negeri." teriak Umi sambil menghampiri Abi yang telah selesai sholat Ashar.
"Mungkin nyasar Mi," ucap Abi santai menuju dapur untuk membuat kopi.
"masak sih Bi, tapi bener kok Alamatnya." Umi mengambil alih gelas di tangan Abi, dan menyerahkan barang yang masih terbungkus rapi itu ke tangan Abi.
__ADS_1
"iya, bener kok. Abi buka ya Mi?" Umi mengangguk memperhatikan sambil tangannya yang masih mengaduk kopi.
Di bukanya bungkusan itu, Abi menatap Takjub pada benda di depannya. Umi yang penasaran juga ingin ikut melihat. Mereka tersenyum takjub dengan lukisan indah di depan mereka. Mereka tak pernah mempunyai lukisan di rumah, karena selain harga lukisan yang mahal, di rumah ini tidak ada yang berjiwa seni.
Meski tak terlalu mengerti lukisan, tapi mereka tetap takjub menatap keindahan gambar yang terlukis di kanvas berukuran 50x30cm itu.
Disana di gambarkan, ada seseorang yang sedang membaca Al-Qur'an, di kelilingi anak-anak yang juga memperhatikan Al-Qur'an masing-masing. Seperti nyata Abi menyentuh lukisan tersebut. Ukiran masjid yang berbeda dengan masjid yang pernah ia lihat.
"Masjidnya indah ya Bi?" ujar Umi yang memperhatikan detail lukisan di depannya.
"iya, ini nyasar kali ya Mi?" Mereka tak percaya mendapatkan kiriman lukisan dari luar negeri. Sungguh aneh, mereka tak mungkin mendapat lukisan dari orang tak di kenal bukan?.
"iya, eh ini ada namanya di ujung itu Bi." beritahu Umi sambil menunjuk ukiran nama tertukis rapi di bagian ujung lukisan.
"Joana.IA. Siapa ini Mi?"
Nanta memang pernah menyebut jika sedang dekat dengan seseorang tapi dengan nama Andara. jadi tentu saja mereka tak mengenal nama Joana.
Nanta yang baru selesai menunaikan sholat Ashar, masih dengan mengenakan sarung. Ia menghampiri Umi dan Abinya yang sedari tadi heboh.
"apa itu Bi?" Tanya Nanta sambil berusaha menengok apa yang sedang di lihat orang tuanya.
Nanta tertegun, ini lukisan masjid!
"Tumben Abi beli lukisan." Nanta masih memperhatikan keindahan lukisan itu dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. Lukisan itu bagus!
"Abi tidak beli, ini di kirim oleh seseorang," ujar Abi santai sambil mencoba untuk memasangkan di tempat yang cocok.
"Iya, ini kiriman dari Venice nak."
Nanta yang mendengar itu membeku, ia tidak jadi duduk malah reflek berdiri kaku menatap lukisan yang masih di pegang Abi, karena Abi ingin memasangnya di dinding ruang keluarga.
Ia langsung merebut lukisan itu, dan lebih memperhatikan, jika memang bisa jadi ini dari Andara. Dia melihat tulisan kecil di bagian ujung. Yah Joana.IA itu kan nama yang di gunakan Andara di setiap lukisan yang di buatnya.
Nanta menatap orang tuanya yang melihatnya aneh.
"kamu kenal sama pengirimnya?" tanya Umi yang melihat gelagat aneh Nanta.
Apakah ini memang jalannya, mungkin Nanta memang harus segera mengenalkan Andara pada orang tuanya. Kemarin Nanta sudah membicarakan ini, tapi orang tuanya bilang jika Nadia adalah gadis yang cocok untuknya. Meski tak memaksa tapi tetap saja, artinya orang tuanya itu menyukai Nadia untuk di jadikan menantu.
..........
Sedangkan di sebuah rumah sakit, Andara sudah terbangun tapi ia hanya diam, matanya menatap kosong pada langit-langit ruangan itu. Ia baru bisa mengingat tentang kejadian kemarin. Ia belum percaya jika Alin sudah benar-benar pergi.
Saka hanya diam, tapi ia tak tahan jika harus melihat Andara tak kunjung berbicara padanya. Ia membantu Andara duduk, kemudian dia juga ikut duduk bersandar di atas tempat tidur berukuran kecil itu.
"Lo mau denger gue nyanyi ngga?" tanpa menengok ia melihat lurus ke pintu. Andara menolehkan wajahnya, ia tak menjawab tapi menyenderkan kepalanya di bahu Saka.
"Ka? dia pergi," ujar Andara pelan tanpa ekspresi.
"Iya, dia udah gak kesakitan lagi." Dara menoleh lagi mendengar jawaban Saka.
Keheningan dalam ruangan itu membuat dua orang manusia di dalamnya semakin tak bersuara. Bahkan semut yang berjalan pun akan memperdengarkan suaranya, di ruangan yang terlalu sunyi itu.
Hingga terdengar suara merdu memecahkan kesunyian. Suara indah milik Saka.
🎶*Baru saja berakhir
hujan di sore hari
menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi
Â
Tak pernah terlewatkan
dan tetap mengaguminya
__ADS_1
kesempatan seperti ini
tak akan bisa di beli
Bersamamu ku habiskan waktu
senang bisa mengenal dirimu
rasanya semua begitu sempurna
sayang untuk mengakhirinya
Walau keterbatasan
walau sedikit kemungkinan
tak akan menyerah tuk hadapi
hingga sedih tak mau datang lagi
Bersamamu ku habiskan waktu
senang bisa mengenal dirimu
rasanya semua begitu sempurna
sayang untuk mengakhirinya
janganlah berganti
janganlah berganti
janganlah berganti
tetaplah seperti ini
janganlah berganti
janganlah berganti
tetaplah seperti ini*.
Â
Saka menoleh ke arah Dara yang masih bersandar di bahunya.
"Gue juga seneng ada Lo di sini Ka," ujar Dara pelan, yang mendapat respon senyuman di bibir Saka.
"Nanti temenin gue ke makam Alin ya Ka?"
Saka mengangguk meski tak ada yang saling melihat, mereka sudah saling mengerti.
"Cepet sembuh, Lo ngerepotin kalo sakit." Dara yang mendengar itu langsung saja memukul Saka, meski sakitnya tak seberapa. Saka tetap merintih ingin menggoda Andara.
"Besok mau ujian, Lo musti cepet sembuh. Belajar jangan nyontek terus." Andara yang tersindir hanya berdecak kesal.
"Lukisan gue pasti udah sampe apartemen. tapikan gak ada siapa-siapa di sana Ka." Dia memikirkan bagaimana kabar lukisannya.
"Udah gue urus, gue bawa pulang ke rumah dong," ujar Saka santai
"Lo kapan ke apartemen gue Ka?" Andara menatap heran Saka hingga ada kerutan di dahinya.
Saka mengusap dahi Andara.
"Tadi pas ngambil bukunya Vian. kasian dia nanyain, Lo pinjem gak di balik-balikin." sindir Saka sambil melirik meremehkan ke Andara.
Andara hanya nyengir saja merasa memang ia salah.
"Gue gak sabar balik ke sekolah. kangen gue dah seminggu lebih gak masuk." Dara semangat memikirkan teman-temannya.
__ADS_1
"Makanya cepet sehat ya." Saka turun dari tempat tidur kecil itu. Mengupaskan buah untuk di makan Andara. Suasana hati Andara yang sudah membaik menciptakan senyum di wajah keduanya.