
Andara bangun di tengah malam dengan nafas tersengal, keringat membasahi tubuhnya. Tangannya meraih gelas berisi air di meja nakas. Satu gelas penuh di minumnya. Ada gerakan dari samping, tangan seseorang menariknya untuk berbaring lagi.
"Mimpi buruk?" Tanya Nanta sembari mengusap keringat di dahi Dara.
"Enggak, maaf kakak jadi kebangun." Dara masih membuka lebar matanya menatap plafon kamarnya.
Nanta bergerak mendekat, dapat di rasakan nafas hangat menerpa lehernya. Dara menoleh, mata Nanta masih terpejam erat. Pikirannya kembali terpaku pada mimpinya barusan. Jurang! Ya Dara sangat yakin dalam mimpinya itu, Dara sedang berada di ujung jurang namun saat ia akan menjauh ada tangan seorang wanita menariknya ke dalam jurang.
Tak bisa mengusir gelisah, Ia turun dari ranjang. Kakinya melangkah ke arah dapur. Mencari minum di kulkasnya. Setelah minum lagi pun rasanya masih gelisah. Tak mengerti kenapa. Andara mengambil rokok di laci meja tv milik Saka yang tertinggal, lalu keluar kamar apartemennya.
Masuk ke dalam lift, berdiri bersandar menunggu lift naik ke lantai paling atas rooftop. Dara melihat jam yang melingkar di tangannya. Ini masih pukul tiga pagi. Untung tadi ia sempat menyambar jaket Nanta yang tergeletak di sofa.
Dara duduk di pinggiran atap gedung. Menghembuskan asap melalui mulutnya. Perlahan menikmati setiap rasa yang menenangkan. Dara bukan perokok, tapi akan merokok jika ada. Dan kebetulan ada, milik Saka yang tertinggal.
Matanya menatap pada kesunyian kota, biasanya jam segini yang sudah bangun adalah penjual makanan. Mereka sudah menyiapkan barang dagangan untuk sarapan pada pembeli di pagi hari. Dara menyunggingkan senyumnya. Hidup ini keras, siapa yang bisa bertahan adalah pemenang.
Pekerjaannya sebagai model juga tidak mudah, banyak pesaing di luar sana. Namun, Dara hanya butuh uang bukan ketenaran. Jadi, ia tidak perlu untuk membuat banyak skandal dengan para petinggi, hanya cukup tunjukkan talenta.
Dara yang memiliki penampilan menarik jelas tidak kesulitan, Gadis cantik dengan mata biru, itu sudah cukup menarik. Ini tidak lepas dari usaha keras mbak Tia. Tapi, ada yang tidak di ketahui Andara. Bahwa, dukungan terbesar dalam karirnya selama ini adalah papanya sendiri.
Jejak puntung rokok itu Dara buang ke tempat sampah. Ia merebahkan kembali badannya di lantai yang dingin. Membiarkan angin membelai wajahnya. Menunggu sunrise menghangatkan dirinya.
Terdengar azan subuh, namun Andara masih menunggu terbitnya fajar. Kakinya menekuk, dan tangganya menyatu di belakang kepalanya. Hingga ia merasakan kehadiran seseorang. Tak ingin menoleh, dan tak ingin mencari tahu siapa itu.
"Kenapa gak bilang kalau ke sini. Aku nyariin kamu!" Nanta berujar sambil menatap langit timur, sang Surya mulai keluar dari peraduannya.
Tak mendengar jawaban dari gadis di sampingnya. Nanta ikut berbaring di sebelah Dara. Menatap langit gelap yang mulai memiliki cahayanya.
"Aku ingin selalu seperti ini denganmu. Menikmati waktu dengan sederhana, menunggu sinar hangat bersamamu."
Dara tersenyum tipis mendengar itu, meski sudah di tahan tetap saja hatinya berbunga. Menolehkan kepalanya ke samping. Lalu bergeser mendekati laki-laki itu.
"Dara juga, Dara mau menatap matahari terbit bersama kakak. Dara mau kakak yang selalu jadi yang pertama di senyum Dara." Mengecup singkat pipi Nanta lalu menatap kembali pada langit cerah di atasnya.
"Nanti masuk kelas ya! Kan bentar lagi juga libur!"
"Emang Dara nanti mau masuk kok. Tapi biasanya hanya ada remedial, setelah itu bebas kan classmeeting."
"Rapornya, kapan bakal di bagi?"
"Em, Sabtu. Itu dua hari lagi kan! Kenapa?"
"Siapa yang mau ambil rapor, mbak Tia?"
"Enggak tau, kayaknya mbak Tia bakal sibuk siapin pemotretan besoknya deh."
"Kamu ada pemotretan lagi? dimana?" Nanta merubah posisi menyamping, menatap wajah cantik di sampingnya.
"Weekend, kan sekalian liburan bareng anak-anak. Dara belum bilang emangnya?" Dara menolehkan wajahnya, dan sekarang wajah mereka hanya berjarak satu centi.
Napas hangat menerpa hidungnya. Dara merasakannya dan sempat menahan napas, Ia sempat terkejut dan sedikit malu. Wajahnya sedikit memerah karena ini sangat dekat.
Begitupun dengan Nanta, ia juga merasakan debaran jantung yang sama sejak dulu hingga saat ini. Dara, gadis pertama yang bisa menggetarkan hatinya.
"Berapa hari?" tanyanya berbisik
"Entahlah, belum di bicarakan lebih lanjut. Em kakak ngijinin kan?"
"Ada Saka kan? em di mana emang liburannya?"
"Bali, karena pemotretan Andara juga di situ"
"Okey, ayok turun. Kamu harus sekolah!"
Nanta menggendong Andara di belakang. Mereka terus bercerita sepanjang jalan turun menuju kamar Andara. Mereka sukses membuat iri para penghuni apartemen yang melintas.
Dara bersiap, dan Nanta Seperti biasa menyiapkan sarapan. Mereka mendengar musik keras dari ponsel Andara. Menikmati pagi yang menyenangkan.
__ADS_1
Di posisi lain, Nadia hanya menatap pintu apartemen yang masih terkunci dari dalam. Nadia juga bersiap untuk bekerja. Harusnya ia cuti, tapi untuk apa cuti jika tak melakukan apapun. Lebih tepatnya sendirian.
Nadia, menyiapkan makanan untuk dirinya juga untuk suami yang baru kemarin menikahinya. Entah Akan di makan atau tidak, yang penting ia sudah menyiapkan makanan yang adalah tugasnya sebagai seorang istri.
Nadia sedang berusaha membohongi dirinya sendiri dengan tetap tersenyum dan melakukan aktifitas seperti biasa. Namun, batinnya sedang menjerit mempertanyakan sakitnya.
Yah, ini adalah jalan yang telah dipilihnya. Maka jalani dengan melakukan yang terbaik, hasilnya ia pasrah dengan kuasa Allah.
.........
"Lah Dar, kemana Lo kamaren?" tanya Tyas saat melihat Andara duduk di kursinya.
"Sakit, Napa emang? gue kena remedial?"
"Enggak untuk pelajaran selain kimia, karena pelajaran itu belom di umumin!" Tyas sedang memainkan rubik milik Alan yang selalu di tinggal di dalam laci mejanya.
"Lah, gue pesimis kalo itu! Eh, tadi gue ketemu Vira, dia nawarin buat lomba nyanyi."
"Terus? Lo ikut?"
"Iya lah, daftar gue. Tapi pasangan, gue ajak Saka apa Vian ya?" Dara duduk menghadap Tyas.
"Suara Saka bagus, tapi karena sering liat Lo duet bareng Vian. Kayaknya cocok sama Vian deh. Tapi coba tanya dulu, mau kagak tu anak!" Tyas menunjuk pada Vian yang baru mau masuk kelas.
"Eh jangan bilang dia dulu ya, gue mau mikir dulu." Dara berbisik ke telinga Tyas tapi sedikit lebih keras.
"Gue denger! apa deh yang jangan bilang dulu?" Tanya Vian setelah duduk.
"Enggak ya Yas ya, em Lo udah sarapan belom. Sana sarapan dulu gih!"
"Udah dong! eh katanya ada lomba nyanyi, ikut yuk?" Ajak Vian antusias. Sedangkan Dara jadi tersenyum dengan canggung. Tyas, dia menahan tawa.
"Gak, Dara bakal nyanyi sama gue!" sela seseorang yang baru saja datang.
"Kan gue duluan yang ngajakin!" Protes Vian tak terima.
"Lo mau nyanyi sama gue atau dia." Tunjuk nya pada Vian.
"Em, Gue..."
"Udah, suit aja kalian!" Usul Tyas menyela ucapan Dara.
Saat mereka akan suit, Dara sudah lebih dulu memutuskan. Tidak mungkin memilih satu dari keduanya. Jadi lebih baik tidak bukan?
"Gue gak ikut! males!"
Jawaban Andara membuat mereka diam. Lalu keduanya tersenyum saling merangkul. Seakan tidak terjadi apapun tadi. Dara duduk kembali ke kursinya. Masalah selesai bukan! tapi sebenarnya ini awal masalah yang lebih besar.
"Eh, tu ada pendaftaran lomba nyanyi! Ikut gih!" Fita yang baru datang memberikan informasi yang sudah basi.
Tidak ada yang menanggapi, mereka cuek saja. Fita heran melihat mereka, biasanya mereka antusias kan?
"Kalian gak ada yang mau ikut? tu hampir di tutup pendaftarannya!"
"ENGGAK!!!" jawab mereka bersamaan.
Fita hanya mengangkat bahu acuh saja. Kenapa mereka malah ngegas, padahal ia hanya bertanya. Alan yang sedari tadi diam tapi sebenarnya menyimak. Ia menggeleng prihatin untuk mereka.
.........
Lomba sudah di mulai sejak tadi, Dara dan teman-temannya juga ikut mendengarkan di kursi penonton. Panggung dadakan ini juga di buat menarik.
"Fita, Lo kok gak ngabarin dari kemaren sih kalo ada lomba ginian! gue kan bisa daftar jauh-jauh hari!" Protes Andara dengan suara lemah. Ia sangat ingin ikut lomba sebenarnya.
"kan sengaja, biar persiapan para peserta itu dadakan, gue selaku panitia harus bisa jaga rahasia dong!" Fita menjawab dengan santai.
"Payah Lo!"
__ADS_1
Vian dan Saka duduk di kursi depan mereka, jadi tidak tau apa yang sedang para cewek itu bicarakan. Pentas seni emang biasa di adakan di sekolah ini, tapi biasanya dalam bentuk seni teater, bukan seni musik. Jadi mereka semua antusias untuk mengikuti lomba.
"Gue toilet dulu deh, ikut gak?" tanya Dara pada Fita dan Tyas.
"Enggak!" mereka kompak menjawab.
Dara beranjak dari kursinya. Saka yang melihat Andara pergi, bertanya pada Tyas dan Fita di belakangnya. Setelah tahu jika hanya ke toilet, ia kembali fokus mendengarkan peserta yang bernyanyi di Depan sana dengan piano.
Setelah selesai dengan urusannya Dara mencuci muka di wastafel, Ada kakak kelas yang sedang duduk di atas wastafel yang berada di dalam toilet perempuan. Ia menyandarkan badannya ke tembok sampingnya.
"Kenapa kak, Lo lagi sakit?" Dara bukannya sok akrab, tapi memang sepertinya cewek di dekatnya itu sedang kesakitan.
"Eh, iya! gue lagi dapet hari pertama!" Kakak kelas itu menjawab tanpa melihat ke arah Andara.
"Em, kenapa gak di UKS aja kak?" Dara juga heran, sakit kok malah di toilet.
"Gue, lagi nunggu temen gue bawain pembalut!"
"Oh, kebetulan gue juga gak bawa kak."
"Udah, bentar lagi palingan temen gue dateng kok! Em, lombanya udah sampe peserta ke berapa?" tanyanya dengan melihat wajah Andara.
"Em, tadi sih pas gue ke sini, udah ke-32 kak, kenapa?"
"Gue, ikut lomba! nomor urut 34. Pasti bentar lagi nih!" panik kakak kelas itu.
Dara hanya menanggapi dengan tersenyum canggung. Saat dia akan pamit untuk keluar lebih dulu, kakak kelas tadi memegang tangannya.
"Tolong Lo gantiin gue nyanyi. Gue tau Lo biasa nyanyi di gereja juga kan? Ya? kasihan temen duet gue kalo pas di panggil gue gak nongol!" Kakak kelas tadi meminta dengan tulus.
Dara ingin menolak, tapi tak enak dengan kakak kelas itu. Akhirnya dia mengangguk saja.
"Emang boleh kak di gantiin orang gitu?"
"Boleh, entar gue telpon pihak panitia!"
"em, iya deh, nama pasangan Lo siapa kak?" Dara sudah keluar tapi balik lagi untuk bertanya.
"Udah lo tinggal maju aja kalo nomor urut 34 di panggil. Pasangan duet gue suaranya bagus kok!" kakak kelas itu tak lupa tersenyum pada Andara.
Setelah Andara pergi, temannya yang membawa pembalut Dateng. membawa pesanan temannya itu.
"Sya, kayaknya gak bakalan sempet deh, itu bentar lagi nomor 33 udah turun. lah giliran elo dong."
"Udah di gantiin kok sama orang!"
"Lah kok bisa, lo buat bisa duet sama tu cowok galak aja susah banget, musti pake ancem-ancem. Bisa marah dia kalo Lo bikin dia malu!" Khawatir temannya itu.
"Enggak, malah bakal seneng dia. Anggap aja gue lagi baik hari ini sama dia. Gue kirim bidadari buat tu cowok pencabut nyawa!" Cewek itu tertawa membuat teman di sebelahnya jadi ngeri. Takut jika temannya sudah di rasuki hantu penunggu toilet.
......
"Untuk peserta nomor urut 34 silahkan maju ke depan."
Merasa nomornya di panggil laki-laki itu maju ke depan. Sebenarnya ia sangat malas ikut acara kayak gini, tapi karena kalah taruhan, Ia terpaksa mengikuti permintaan Sasha untuk ikut ni lomba.
Setelah dirinya bersiap duduk di belakang piano, Para penonton jadi krasak-krusuk membicarakan dirinya. Josh dengan kesal menunggu pasangan duetnya.
"Eh itu si Josh mau nyanyi? gak salah lihat kan gue?" tanya Tyas pada temannya yang lain.
"Lah, palingan juga jelek suaranya. Tukang pukul kayak dia mana bisa nyanyi!" Ejek Vian dengan pelan, namun bisa di dengar oleh yang lain.
"Lah itu Dara ngapain di atas panggung? nyasar dia?" Seloroh Alan, membuat yang lain ikut memperhatikan Dara di atas panggung.
Saka dan Vian semakin kesal, saat melihat Andara memegang gitar dan bersiap bernyanyi dengan laki-laki galak di atas sana.
Josh tak kalah terkejut dengan hadirnya Andara yang naik ke atas panggung, apa lagi saat gadis itu bertanya lagu apa yang akan mereka nyanyikan. Josh, tersenyum miring merasa bangga dan senang.
__ADS_1