Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c13


__ADS_3

Dara sudah tiba di bandara Venice Marco Polo. Setelah hari ini sibuk pemotretan di Frisian Island, menikmati sunset di pulau itu, malam mereka langsung terbang lagi, jadilah saat ini mereka sudah di Venesia dengan perasaan lelah.


Fin Talent dari Filipina bahkan sampai drop. Ia di bawa dengan ambulance setelah sampai di bandara Venice. Mbak Tia juga jadi mengkhawatirkan keadaan Dara, karena Dara sempat muntah-muntah tadi karena terlalu lelah. Untung sebelum berangkat mbak Tia sudah membawa Dara ke dokter lebih dulu, untuk cek kesehatan.


"Mbak, jangan kasih tau Saka dan kak Nanta ya," ujar Dara yang duduk bersandar di bahu mbak Tia.


"Iya, asal kamu gak ambruk aja di sini. pokoknya harus kuat sampe pulang nanti ya."


Mbak Tia mengusap kepala Dara pelan, ia sangat tau Dara pasti lelah. pekerjaannya memang hanya berpose di depan kamera, tapi prosesnya itu sangat melelahkan.


"Udah yok itu udah di panggil, semakin cepat sampai hotel maka kita semakin cepat bisa istirahat," ujar mbak Tia sambil menarik Dara berdiri.


Dara langsung tidur setelah sampai kamar hotelnya. ponselnya berdering tapi sang pemilik tak kuat lagi untuk membuka mata.


"Hallo, Napa deh? Dara baru dapet tidur ini."


"Iya besok aja biar istirahat dulu dia."


"Oke, besok gue sampe'in."


Tadi telpon dari Nanta, mereka kompak untuk tidak membangunkan Andara. Nanta paham Dara pasti sangat lelah saat ini. Setelah mendapat kabar dari Mbak Tia, Nanta langsung pergi kuliah.


......


"Mbak, ini jam berapa?" tanya Dara yang terbangun dengan tubuh yang terasa tak enak.


"Jam 9 pagi, Venice udah ramai dari jam 6 pagi tadi, Lo baru bangun Ra." jawab mbak Tia yang sudah nampak rapi.


"kita ada jadwal pemotretan jam berapa mbak? Dara kok masih cape ya?" keluh Dara, dengan wajah sedikit pucat.


"iya, badan kamu di forsir untuk kesana kemari selama 6 hari ini. besok hari ke tujuh kita udah free tinggal nunggu balik Indonesia."


Mbak Tia langsung menyiapkan sarapan Andara, dan beberapa Vitamin untuk tubuhnya. Ia sebenarnya kasihan apalagi melihat wajah pucat Andara.


"Cepetan mandi dulu, terus sarapan. habis itu telpon Nanta, semalam dia telpon tapi Lo nya dah tidur."


"Iya mbak, di Indonesia palingan udah hampir sore ini." Dara beranjak keluar dari selimutnya.


Dara mandi dengan cepat. Ia menghabiskan Sarapannya meski dengan paksaan mbak Tia. Bahkan Dara menelpon Nanta sambil rebahan, badannya masih ingin mengajak tidur.


'Hallo sayang.' sapa suara yang di rindukan Andara.


"Sayang aku kangen, perbedaan waktu dan jadwal aku yang gak sinkron sama waktu di sana, bikin kita susah Kontek." Rengek Andara, ia sudah sangat rindu ingin memeluk kekasihnya itu.


'Iya, aku juga. Dara di sana sehat terus ya, cepet pulang.'

__ADS_1


Dara tak kuasa menahan air mata yang tiba-tiba keluar.


"Iya kakak juga ya, Andara capek pengen cepet-cepet pulang." meski berbicara dengan nada ceria tapi isakannya masih terdengar di telinga Nanta.


'loh kok nangis sih. jangan nangis ya, kan aku belom bisa peluk kamu.'


Nanta rasanya ingin menyusul Andara dan memeluk gadis itu saat ini juga.


"ya udah kak, nanti kalo sempet Andara telpon lagi ya. Dara musti lanjut pemotretan lagi."


'iya semangat sayangku.'


Setelah sambungan telpon itu mati. Dara menangis membenamkan wajahnya ke bantal, berteriak lelah. Ia sebenarnya sudah berada di batasnya, badannya sungguh lelah.


......


Hari ini Dara ada pemotretan di Doge's palace, sebuah istana yang di bangun dengan arsitektur gotik. sungguh Venice adalah negara yang memanjakan mata. setiap bangunannya begitu khas Italia.


Mereka sudah memulai pemotretan dari jam 10 pagi tadi. giliran Andara dan Fin tapi karena Fin masih harus di rawat, ia di pasangkan dengan Carloz orang Venice asli.


Mereka bekerja sama dengan baik. Setelah selesai mereka semua makan siang bersama. Andara tidak langsung balik ke hotel bareng rombongan ia menyempatkan untuk ke gereja St. Mark's Basicilia.


Saat memasuki gereja yang di bangun tahun 1094, memiliki julukan chiesa d'Oro Andara begitu senang ia memanjatkan doa dan sempat berjumpa dengan pastur yang tadi memimpin jemaat. Andara duduk, ia rasanya tak ingin segera beranjak dari sini.


Hingga ada seorang remaja seusianya yang menyapanya.


"prima a questa chiesa, ma Venezia ha spesso." Jawab Andara. ya untuk ke gereja ini memang pertama kali untuknya, tapi ke Venesia ia sudah sering.


Dara menatap laki-laki tinggi yang mungkin masih seusianya. Ia nampak sedikit berantakan dengan rambut warna blonde yang acak-acakan.


"Tu non Vai a scuola? tanya Andara lagi.


"Voglio venire qui." dia menjawab, dia ingin ke sini.


Mereka terdiam lama menatap pastur yang sedang memberikan berkatnya pada mereka yang datang.


"Presentani Fabio Mancini." dia memperkenalkan diri pada Andara dengan ramah.


"Holla Fabio, Sono Andara."


mereka saling menjabat tangan. Karena sering ke Italia, Andara jadi sedikit mengerti bahasa mereka sedikit-sedikit. setelah cukup lama saling bertanya, Fabio mengajak Andara ke Rialto bridge. Andara mengiyakan karena ia memang ingin kesana.


Mereka melewati jalan yang bercabang kecil seperti labirin untuk kesana. banyak petunjuk untuk menuju ke Rialto bridge. Mereka berjalan santai, karena memang di sana tidak ada kendaraan untuk mencapai ke jembatan itu. di Venice alat transportasi yang di gunakan adalah melalui jalur air. jadi mereka akan berjalan kaki untuk pergi ke suatu tempat.


Sampai di sana banyak orang menikmati sunset. beruntung ia tak ketinggalan waktu terbaik melihat sunset di tempat terbaik melihat sunset di Venice, jembatan Rialto bridge.

__ADS_1


Cahaya sore yang semakin tipis berganti cahaya lampu-lampu kota. Pantulan cahaya yang terefleksi indah di atas air grand canal. Menambah suasana romantis di sini.


Jembatan yang di bangun pada tahun 1181.


Jembatan batu putih ini awalnya adalah jembatan kayu yang di bangun oleh Nicolo Barattieri. Dia Arsitek dan insinyur terkenal Italia, yang memiliki julukan pote Della moneta. lalu berubah menjadi Ponte De Rialto, pada tahun 1591. jembatan tersebut di desain ulang oleh Antonio De Ponte.


Jembatan ikonik ini menjadi pemisah antara distrik san polo dan san Marco.


setelah beberapa saat mereka menikmati indahnya kota Venezia dari spot terbaik, melihat beberapa orang yang menikmati naik Gondola. sebenarnya tadi Fabio mengajaknya untuk naik Gondola. tapi Andara menolak karena ia ingin segera kembali ke hotel.


Andara pulang di antar oleh Fabio. Andara berterimakasih karena hari ini sudah di temani berkeliling kota Venice. Bahkan Fabio menemaninya membeli peralatan lukis. Begitupun Fabio ia merasa terhibur dengan Andara yang sangat asik ketika di ajak mengobrol, Fabio juga tidak menyangka ternyata Andara bisa melukis. meski cara bicara Andara masih terbata-bata karena pengucapan bahasa Italia sedikit berbeda.


Andara masuk ke kamarnya yang di sambut Omelan dari Mbak Tia. Harusnya Andara beristirahat ini malah tak kunjung pulang hingga menjelang malam.


Mbak Tia pergi makan malam bersama yang lain karena hari ini sudah selesai projek mereka. tapi Andara tidak ikut, ia memilih makan di hotel. karena Andara berencana untuk melukis.


Andara sudah memanjakan matanya dengan pemandangan indah di kota ini. Saatnya ia memanjakan mata orang lain melalui lukisannya. Andara menyiapkan alat lukisnya. Ia mencoba mengingat setiap detail kejadian di masjid itu. Ia ingin mengirimkan lukisannya pada seseorang.


Andara mulai memoleskan kuasnya di kanvas putih itu. mencoba menggambarkan keindahan arsitektur Masjid Ortakoy. Ia bahkan masih mengingat saat Selim dengan serius membacakan Al-Qur'an di hadapan Anak-anak itu. senyumnya tak pernah luntur saat menggambarkan indahnya apa yang ia lihat saat itu.


Lukisan ini untuk orang yang belum pernah di temuinya. hingga jam 12 malam Andara baru bisa terlelap. mbak Tia pulang agak malam, ia masuk ke kamar di sambut oleh Andara yang tertidur di kursi dengan lukisan di depannya.


Mbak Tia melihat lukisan setengah jadi itu dengan takjub. karya Andara begitu memukau, ia seperti melihat langsung apa yang Andara gambarkan dalam lukisan itu.


Mbak Tia mengambil bantal dan selimut. membantu Andara berbaring di sofa itu, dan menyelimuti tubuhnya. gadis berusia 17 tahun sudah bekerja keras seperti Andara. ia melihat Andara bangga, pasti lelah, semoga Andara bisa menemukan bahagia suatu hari nanti.


Tadi mbak Tia sempat bertemu dengan papa Andara, ia bersama wanita Italia sedang menikmati makan malam bersama beberapa orang. miris ia melihat Andara bekerja keras berusaha memenuhi hidupnya sedangkan orang tuanya, hidup bahagia tanpa memikirkan putri kecilnya ini. meski tanpa saling menyapa tapi bisa dirasakan jika tadi Papa Andara sempat melirik ke arahnya.


Air matanya menetes, di usapnya dengan kasar. hatinya ikut sakit, ia menyaksikan betapa Andara sangat gigih untuk bekerja sejak usia 16 tahun. keadaan membuat gadis itu harus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.


Setelah mbak Tia mengganti bajunya, ada suara bel pintu. saat ia membuka pintu ada seorang kurir membawa buket bunga berukuran besar, tapi tanpa nama pengirim.


Karena bingung ia taruh saja itu di atas meja. siapa yang mengirimkan bunga, dan untuk siapa bunga itu? entahlah dia tak mau memusingkan pengirim misterius itu. di tengoknya lagi Andara di sofa, lalu melangkah ke tempat tidur.


Venesia tempat paling indah tapi di antara ke indahan itu ada seseorang yang merindukan putrinya. hanya berani menatap dari jauh tanpa bisa menyapa atau bahkan memeluknya. Menatap foto gadis cantik sedang menghadap keindahan sunset di kota cantik ini.


Di tempat yang jauh ada beberapa orang yang menahan rindu. Nanta yang menyesap aroma kopinya sambil menatap langit. berharap seorang gadis yang dirindukannya baik-baik saja.


Saka yang sedang berada di gudang rumahnya atau saat ini bisa di sebut galeri lukisan milik Andara. Ah dia merindukan wajah serius gadis itu ketika sedang fokus melukis.


Dan di suatu rumah sakit ada gadis cilik yang sedang berjuang. ia ingin bertemu Andara, untuk sebentar saja. sang Ayah mengiyakan, nanti ia akan membawa kakak cantik untuk putri kecilnya. Alin tersenyum bahagia ketika Ayahnya mau membawa kakak cantik itu kesini.


Mereka semua sendirian di tempat yang berbeda. mereka semua menanti kejutan indah dari Tuhan. Saat di gereja St. Mark's Basicilia, Andara sengaja meninggalkan fotonya bersama Nanta di Gereja. berharap Tuhan mau menyatukan mereka suatu saat nanti.


Semua orang berhak punya harapan. Maka berharap lah karena Tuhan tau dan melihat.

__ADS_1


Bermimpi lah selagi bisa masih bisa bernafas.


__ADS_2