Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c25 Einstein


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Mereka jarang bertemu secara intens, Nanta hanya akan kadang mengantar atau menjemput Dara, tapi mereka jadi jarang mempunyai quality time berdua. Hanya mengobrol sebentar di mobil atau di telpon, itupun tak lama.


Kesibukan masing-masing yang saling bersimpangan, membuat hubungan mereka sedikit renggang. Andara tidak menyadari ada jarak yang cukup jauh karena hal ini.


Nanta merasakannya, hatinya sedikit kacau apalagi dengan hadirnya Nadya dalam hidupnya. Hatinya tetap milik Andara tapi ada sedikit rasa nyaman saat bersama dengan Nadya. Tak bisa di pungkiri itu membuat dirinya kesal. Jahatkah dia? tidak! saat ini dia hanya sedang di situasi berbeda saja. Toh rasanya untuk Andara tak berubah.


Dia sedang menunggu kedatangan wanita itu di cafe ini. Mereka janji bertemu 5 menit yang lalu, tapi wanita itu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Waktu terus berlalu, ia bahkan sudah menghabiskan satu gelas coffee di sini. Ia tak bisa menunggu lagi, saat akan berdiri ternyata yang di tunggu sedari tadi, datang.


"Maaf telat. Aku ada pasien anak-anak tadi, jadi agak lama." Nadya tersenyum berusaha menjelaskan.


Nanta mengangguk. Nadia memang sering cerita, jika pasiennya anak-anak maka harus sedikit lebih sabar dan agak lama. Ya dia paham, membujuk anak-anak untuk ke dokter gigi saja sudah sulit. Apalagi menghadapi mereka saat sudah melihat dokter gigi di depan mereka. Ah membayangkan itu ia jadi teringat Andara, gadis itu sama manjanya dengan anak-anak.


"Iya gak papa, duduklah. Kau pasti terburu-buru kan tadi." Nanta tersenyum tulus.


Sekarang hubungan mereka sudah cukup baik, dengan karakter Nadya yang sabar dan dewasa itu bisa sedikit melunakkan hati Nanta yang sedikit keras.


"Iya, kamu pasti udah nunggu lama. Lain kali aku akan bilang jika datang terlambat." Nadya menunjukkan rasa bersalahnya.


"Tak apa, tapi berarti akan ada keterlambatan lainnya?" Nanta mengatakannya seakan serius tapi dengan wajah menunjukkan jika sedang bercanda.


"Ah, tidak. Tapi lain kali akan ku usahakan lebih lama lagi," Balas Nadya.


"Ahh kau ini." mereka tertawa dengan candaan receh itu.


Mereka melanjutkan perbincangan dengan di temani coffee dan cemilan. Jika bersama Andara maka itu akan menjadi ice cream dan cookies. Perbedaan itu terasa untuk Nanta, Nadya membuatnya nyaman karena sama-sama dewasa tapi Andara membuatnya selalu berdebar akan rasa cinta.


Mereka dua wanita yang sangat baik. Sungguh sebenarnya Nanta tak ingin membuat salah satunya terluka nanti. Bingung dan kalut, itu di rasakannya.


........


Sudah tiga-empat hari ini Dara selalu belajar bersama Vian. Kadang juga di temani yang lainnya untuk belajar bersama. Tapi Saka akan mengusir mereka jika Andara tak bisa memahami pelajarannya. Kasihan sekali mereka, Andara yang kurang pintar, tapi mereka yang di salahkan.


Saka akan mengantar dan nanti kadang juga Nanta yang menjemput di rumah Vian. Mereka sudah seperti pengawas, tak membiarkan Andara bermalas-malasan.


"Vian, kok gue gak bisa ngerjain ini sih?" Dara menatap dengan wajah kesal ke arah Vian yang sedang main game tak jauh dari tempatnya duduk.


"Tentang apa emang?" Vian menengok sebentar ke arah Dara.


Setelah makan siang, Vian langsung mengajak Andara ke kamarnya untuk belajar. Dan ini sudah 1 jam tapi Andara masih belum juga bisa mengerjakan soal-soal yang di berikannya. Vian menggeleng prihatin, cantik sih tapi kenapa ngerjain soal gitu aja gak bisa.


"Kamu liat aja contoh soal yang aku buat tadi. coba di pahami lagi," ucap Vian tanpa menengok, tadi dia bosan, jadi ia mengajarkan sembari main game.


Andara menatap Vian kesal, lalu mencoba memahami lagi contoh soal yang sangat mirip dengan soal yang di buat Vian.


"Masa diam sebuah partikel \=M0. masa partikel tersebut saat bergerak dengan kecepatan 0,8c akan bertambah menjadi?" Dara membaca soal itu dengan agak keras, karena sudah frustasi dari tadi tak memahami sedikitpun.


Vian menengok, melihat Dara yang sudah frustasi. Lalu mereka saling bertatapan, Dara menatap Vian dengan muka melasnya sedangkan Vian menatap Andara dengan gelengan karena heran. Itu soal mudah tentang relativitas, tapi kenapa Andara tidak bisa. Kemana dia, saat Guru menjelaskan saat itu.


"keknya gue nyerah aja deh, gue nyontek Lo aja deh besok pas ulangan." Putus Andara dengan percaya diri. Seakan itu hal paling benar yang ia putuskan.


"No! itu tentang relativitas, dan itu mudah. apa sih yang bikin gak bisa? kan ada rumusnya." Vian tak akan menyerah dengan bujukan Andara.

__ADS_1


"Iya, tapi gue gak paham. Lagian kenapa sih Albert Einstein pake bikin rumus ini segala. Kan hidup itu penting makan, minum dan tidur!"


Dara malah menyalahkan Einstein karena ketidak pintarannya itu. Ah untung dia udah meninggal kalo dia dengar ada yang menyalahkannya hanya karena tidak bisa memahami teorinya, padahal ia melakukan riset itu dengan tidak mudah, pasti Andara akan di setrum hingga sadar!


"Dara, teori relativitas juga berperan penting tau untuk kehidupan umat manusia. Kamu baca dulu deh tuh teorinya. Jangan nyerah dan ngeluh gitu." Vian dengan sabar mencobanya untuk membuat Andara mengerti.


Andara masih menunjukkan muka kusutnya itu. Vian mendekat untuk duduk di sebelah Andara. Mencari buku teori tentang relativitas.


"Ya udah, gue jelasin dulu tentang teorinya ya. Kamu gak boleh nyalahin orang lain atas ketidaktahuan mu!" Vian menyentil hidung Andara gemas.


Andara memegang hidungnya yang sedikit sakit tapi wajahnya menunjukkan senyum lebar untuk menutupi malu.


"*teori relativitas yang di ciptakan Albert Einstein, kedua teori ini di ciptakan untuk menjelaskan bahwa gelombang elektromagnetik tidak sesuai dengan teori gerakan Newton.


gelombang elektromagnetik di buktikan Bergerak pada kecepatan konstan tanpa di pengaruhi gerakan sang pengamat. Nah inti dari kedua teori ini, adalah bahwa dua pengamat yang bergerak relatif terhadap masing-masing waktu dan interval ruang yang berbeda untuk keadaan yang sama. Tetapi di hukum fisika akan terlihat sama oleh keduanya.


Einstein pernah bilang. " A mente que se abre a uma nova ide'ia jamais voltara ao seu tamanho original E\=mc²"


Hukum fisika berlaku di bumi, berlaku di seluruh jagat raya.


Teori tersebut juga menjelaskan perilaku objek dalam ruang dan waktu. Yang juga bisa memprediksi banyak hal dari eksistensi lubang hitam (Black hole). Melengkungnya cahaya oleh pengaruh gravitasi, hingga sifat planet Merkurius pada orbitnya*."


Vian mengakhiri penjelasan yang di bacanya dari sebuah artikel tentang relativitas. Dara masih memandang Vian dengan wajah yang tak bisa di tebak. Apa yang sedang di pikirkan gadis itu, entahlah hanya dia dan Tuhan yang tahu.


"paham enggak?" Tanya Vian memastikan, takut jika apa yang di ucapkannya hanya sia-sia.


"Em, terus apa hubungannya dengan teori ini untuk kehidupan kita?" Tanya Andara yang menunjukkan jika setidaknya Vian tidak sia-sia menjelaskan lagi tentang teori ini.


"Ada manfaatnya Andara, menggunakan teori ini membantu kita dalam banyak hal. Contohnya banyak kok, kamu bahkan sering menggunakannya."


Vian mengalihkan pandangannya dari laptop ke arah wajah cantik Andara yang seakan bertanya padanya, Apa?


"Contohnya?" Benar saja Andara akan menanyakannya. Ia sangat kritis akan hal yang menarik perhatiannya. Berarti penjelasan Vian berhasil mengulik rasa penasaran Andara.


"contohnya banyak ada GPS, Merkuri/raksa berbentuk cair, Emas tak gampang berkarat, Elektromagnet, dan banyak lagi yang menggunakan teori relativitas."


"Apa hubungannya GPS dengan relativitas?" bertanya dengan wajah herannya itu Sengguh membuat Vian gemas


Dia mengacak puncak kelapa Dara yang auto makin membuat kusut rambut yang di kuncir asal itu.


"Jangan di berantakin! entar cantikku ilang."


"Makin cantik kalo pinter!" Balas Vian


"Jadi Lo mau bilang kalo gue begok?" protes Dara mengoreksi kata-kata Vian.


Vian hanya mengangkat bahunya acuh. Jelas itu hanya candaan tapi sukses membuat Dara kesal dan memukulnya.


"Ampun! oke, oke maaf. Kita lanjut ya? tentang GPS tadi y?"


Dara hanya mengangguk kesal. Vian tersenyum saja melihat kekesalan Andara.

__ADS_1


"Jadi hubungan relativitas dengan GPS adalah agar akurat.


*satelit menggunakan jam dengan akurasi hingga miliar detik (nanodetik). Karena satelit mengorbit pada ketinggian 12.600 mil atau 20.300km di atas bumi dan bergerak dengan kecepatan 6000 mil/jam atau 10.000 km/jam. Maka akan terjadi dilatasi waktu relatif sekitar 4 mikrodetik/hari. Di tambah efek gravitasi, dilatasi bisa bertambah sekitar 7 mikrodetik atau 7000 nanodetik.


meski terlihat sepele perbedaan sangat nyata. seandainya tak ada relativitas, informasi GPS yang menyebut jarak SPBU adalah 0,8km pada hari berikutnya, di titik yang sama GPS akan menyebut jaraknya jadi 5mil atau 8km*.


"Paham kan? GPS butuh relativitas untuk keakuratan."


Dara mengangguk, Ia baru mengetahui jika relativitas juga digunakan pada GPS.


"Ada lagi tentang elektromagnet." tambah Vian.


Vian akan menambahkan beberapa contoh tentang relativitas agar Dara bisa benar-benar memahami dan lebih menghargai setiap hukum fisika yang sesungguhnya sering di gunakan Manusia di setiap aktivitas.


"*Thomas Moore , dosen fisika dari Pomona collage di claramont, California. Menggunakan prinsip relativitas untuk mendemonstrasikan hukum faraday, yang menyebut bahwa Medan magnet yang berubah menimbulkan arus listrik adalah benar.


"karena itu adalah prinsip dasar travo Dan generator lidtrik, siapapun yang menggunakan listrik akan mengalami efek relativitas" kata Moore*.


yang ketiga adalah cahaya.


*jika Isaac Newton benar. cahaya yang kita miliki akan berbeda sangat besar.


"tak hanya magnetik, cahaya pun tak akan ada. sementara relativitas mengharuskan adanya perubahan Medan ekektromagnetis pada kecepatan yang terbatas bukan seketika." kata Moore*.


"Ada lagi yang lebih hebat!" Tambah Vian pada Andara yang sangat serius mendengarkan penjelasannya.


"Apa?" Andara menjawab spontan.


"*Supernova ada karena efek relativitas melalui efek kuantum dalam inti bintang yang besar. yang memungkinkan neutron yang jauh lebih kecil dan lebih keras." kata Moore


Jika tidak ada relativitas, bintang-bintang raksasa yang menua tak akan meledak dan menjadi Katai putih (White dwarf)


bentuk akhir bintang setelah terbakar habis Alias mati (Ein/Riz*)


Vian mengakhiri penjelasan panjangnya tentang relativitas. Melihat Andara yang pandangannya masih terpaku padanya.


"Jadi, relativitas itu bahkan sangat berperan untuk seluruh jagat raya ya?" Andara takjub.


Dara baru mengetahui ini dari Vian. Entahlah kemana dia saat Guru menjelaskan tentang ini. Yang ia ingat jika bahkan gaya tarik menarik saat bermain basket juga dapat di jelaskan dengan hukum gravitasi Newton. Tapi ia hanya mengetahui yang sederhana saja. Sekarang ia yakin ada banyak hal hebat dalam teori itu.


"Ya dong. Sekarang kita liat soal tadi. Mana yang kamu gak ngerti sih. Kan itu ada contoh rumusnya." Vian melihat hasil coretan Andara yang seperti ceker ayam.


Dara menyengir saja karena ia tak bisa mengerjakan. Vian mengambil alih pena dan buku di hadapan Andara. Ia menjelaskan caranya dengan sabar, Andara juga berusaha untuk memahami penjelasan dari Vian.


Vian bahkan bisa mengerjakan soal itu dengan mudah dan cepat. Tapi kenapa ia tak bisa? Andara jadi sedih, dan kesal. Harusnya ia lebih giat lagi belajar dan tidak membolos saat pelajaran. Kalau gini, Vian harus menerangkan ulang. Andara memperhatikan laki-laki di sampingnya yang dengan sabar menjelaskan cara mengerjakan soal itu dengan perlahan.


Ia manggut-manggut saat di tanya. Memperhatikan soal yang sudah di kerjakan dengan mudah oleh Vian. Setidaknya ia sedikit mengerti kan? buku Soal itu di geser ke hadapan Andara. Vian menyuruh Andara untuk melihat dan menanyakan apa yang masih belum di pahaminya.


Gadis di sampingnya dengan serius memperhatikan jawabannya. Vian berharap Andara mengerti sehingga ia tak perlu lagi menjelaskan ulang. Sungguh, mulutnya hampir berbusa mengulangi seluruh materi ini hanya untuk membuat Dara paham. Oh ayolah, ini mudah! Vian mengusap dadanya prihatin.


"Sabar Vian, untung yang di ajari cantik." Kata Vian dalam hati

__ADS_1



__ADS_2