
Terlelap dalam dekapan hangat sahabatnya. mengistirahatkan tubuh rapuhnya untuk sejenak. Tangan besar itu masih terus mengusap lembut kepala Andara. Andara sekarang tak punya sandaran lagi selain dirinya, tapi yang lebih membuat Saka sakit adalah Andara masih tak mau membicarakan perasaannya. Gadis itu menutup hatinya dari semua orang.
Manik mata biru Andara meredup, dan Saka tak suka itu. Saka tak ingin Andara sedih karena laki-laki yang telah dipercaya namun malah menikam Andara sangat dalam. Saka yang sedari tadi memperhatikan wajah cantik di depannya akhirnya ikut terhanyut dalam mimpi.
..............
Tangannya bergerak mencari, namun tak menemukan. Saka masih malas membuka matanya, jadi hanya tangannya yang berusaha meraih.
Ia membuka matanya cepat ketika menyadari sesuatu, Dara tak lagi di sisinya. Matanya melihat pada sisi yang semalam di tempati Andara. menyentuh permukaan selimut yang tak lagi hangat, itu berarti Dara sudah bangun dari tadi.
Ia memaksakan dirinya untuk bangun, kepalanya sedikit pusing. Matanya kini terbuka lebar memastikan sesuatu.
"Ra?" panggil Saka.
"Dara!"
Masih tak mendapat sahutan ia mengecek ke kamar mandi. Namun kosong, berbalik mencari bajunya dan memakainya cepat. Dia berjalan cepat menuju ke kamar Andara, mengetok pintu cukup lama namun tak kunjung mendapatkan respon. Saka langsung turun ke bawah akan meminta kunci cadangan.
"Mbak, mau minta kunci kamar nomor 203."
"Maaf, ada urusan apa ya mas?"
"Temen saya tak kunjung keluar, saya pikir untuk melihatnya," balas Saka menutupi panik.
"Baik saya cek terlebih dahulu."
Saka menunggu sembari memperhatikan orang bersepeda di luar sana. Kaca tembus pandang di bagian lobi hotel memudahkannya melihat halaman hotel.
"Maaf, atas nama Joana Imelda Andara? dia sudah cek out beberapa menit yang lalu."
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, ia terdiam mencerna apa yang di katakan wanita di depannya.
"Anda tidak salah orang?" tanya Saka memastikan.
"Ya, apa mas yang bernama Saka?"
"Ya?"
"Ini ada titipan dari nona Andara." Saka menerima kertas itu dengan cepat.
Saka kesal, langkahnya pasti dan cepat untuk kembali ke kamarnya. Membuka pintu dengan cepat dan langsung merebahkan badannya. Dengan tangan masih menggenggam kertas ia menatap langit-langit kamarnya. Andara pasti pulang lebih dulu untuk menemui Nanta. Ia tersenyum miris meremas kertas di tangannya. Gadis bodoh itu pasti akan bertanya dan memastikan sesuatu.
"Awas saja jika nanti menangis lagi karena laki-laki berengsek itu!"
Membuka kembali gumpalan kertas di tangannya. Terlihat tulisan tapi yang pasti milik Andara.
**Aku bahagia mengenalmu, terimakasih untuk semua kehangatan yang terus kau berikan tanpa lelah. Biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri kali ini. Sudah saatnya aku berjuang, bertahan atau menyerah.
Sampai bertemu di Jakarta, nikmati liburanmu dengan benar. Ucapkan kalimat itu untuk yang lain juga.
see u mySaka**
Senyum tersungging di bibirnya.
__ADS_1
Di dalam pesawat, Andara menatap ke arah jendela yang menampakkan gumpalan awan putih, membuat senyumnya mengembang. Dara memutar lagi memori manis bersama Ananta. Saat laki-laki itu memasak sarapan untuknya, saat laki-laki itu menemaninya melukis, atau yang paling manis adalah ketika laki-laki itu bertengkar dengan Saka di apartemennya.
Dua laki-laki paling berarti dalam hidupnya, mereka adalah pusat dunianya. Dara jadi kembali mengingat orangtuanya, ia sebenarnya Rindu. Ingin kembali tapi takut, sudah dua tahun dan bohong jika ia bilang tidak rindu.
Mengusap air mata yang mengalir tanpa di sadarinya. Tersenyum menatap ke arah luar, Dara percaya semua akan indah pada waktunya. Hanya tinggal menunggu waktu jika nanti ia telah berusaha.
Dara turun dari pesawat, tapi bukan di bandara Soekarno-Hatta. Dara akan pergi ke tempat yang akan menjawab semua pertanyaannya. Dara sudah berjanji dalam hatinya, apapun yang ada di depan sana nanti ia tidak akan marah.
Menarik koper menuju taksi yang sudah di pesannya via online. Masuk ke dalam taksi dengan hati meyakinkan ia menyuruh supir melaju ke alamat yang baru tadi pagi ia dapatkan dari Bimo.
Jantungnya berdegup kencang, antara yakin dan tidak yakin dengan apa yang akan dilakukannya. Tangannya berkeringat, pikirannya pun jadi tidak fokus, bahkan tidak menyadari jika ia sudah sampai di tempat tujuan.
"Mbak? sudah sampai!" beritahu driver yang mengantarnya.
"Masnya yakin ini alamatnya? kok cepet sampenya?" tanya Dara yang membuat driver jadi bingung.
"Bener mbak! sesuai alamat yang ditujukan!" yakin driver itu.
Sebenarnya bukan karena meragukan sang driver, tapi karena dia sendiri belum siap sampai di rumah ini. Pandangannya mengarah pada rumah besar bergaya sederhana dengan halaman luas. Banyak bunga yang bermekaran menghiasi taman.
Mengedipkan matanya beberapa kali dan menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya dengan kasar. Tangannya membuka pintu mobil dengan pasti, namun perlahan. Langkahnya terhenti di dekat pagar, saat akan berbalik hatinya kembali meyakinkan.
Andara tidak mau lagi berada dalam keragu-raguan, tidak mau berada dalam gelap yang membutakan. Ada banyak hal yang tak terkatakan namun terlihat, jadi pura-pura tuli tak akan membuatmu jadi tak mengetahui apapun, karena indera lainnya masih berfungsi dan peka.
Kakinya melangkah, tangan kanannya menyeret koper dengan genggaman erat, sedangkan tangan kirinya, membawa sekotak kue yang di belinya saat sebelum ke bandara Ngurah Rai, Denpasar. Tak lupa memasang senyum semanis mungkin. Saat sudah di depan pintu, senyumnya yang manis jadi kaku. Dia sedikit takut, rasanya perutnya sedang di kocok membuatnya semakin tertekan.
Tangannya terangkat mengayun dengan gerakan lambat, memberi sedikit tekanan pada pintu kayu menimbulkan bunyi pelan namun cukup terdengar oleh sang pemilik di dalam rumah.
tok tok tok
"Wallaikumsalam!" sahut suara seorang wanita dari dalam rumah.
Ketika mendengar sahutan dari dalam, rasanya Andara ingin lari secepat mungkin dari sana. Namun kakinya membeku tak ingin bergerak. Menunggu pintu terbuka dengan gelisah.
Cklek
Pintu terbuka menampilkan sosok wanita cantik berhijab dengan wajah tak kalah terkejut dari Andara. Yah, yang membuka pintu adalah Nadia. Menghela napas berat Andara memaksakan senyumnya, bukankah ini sudah terprediksi olehnya. Namun tetap saja rasanya jantungnya tertusuk belati tumpul yang membuat dirinya merasakan sakit tak tertahankan.
"Hai kak?" sapa Andara canggung.
Begitupun dengan Nadia, ia sempat berpikir untuk lari dari hadapan gadis cantik di depannya ini.
"Iya, hai Andara," jawab Nadia mencoba tetap ramah meski dirinya dirundung rasa bersalah.
"Ayo masuk Andara, Kebetulan semua sedang makan siang." Nadia mempersilahkan Andara untuk masuk, dengan sedikit menyingkir dari tengah pintu.
"Seakan ini sudah menjadi rumahnya," keluh Dara dalam hati.
Andara masuk ke rumah yang di desain sederhana namun nampak menonjolkan kehangatan di setiap ruangannya. Melangkah perlahan di belakang Nadia. Ia tersenyum miris untuk dirinya sendiri.
Semua terpaku pada memunculkan gadis cantik dengan koper besar di sebelahnya. Terkejut, bahkan semua kompak mengehentikan kunyahan, bahkan Umi Sampai tersedak di buatnya.
Abi mengambilkan minum untuk Umi yang langsung ditenggaknya habis. Nanta menunduk saat pandangannya beradu dengan Andara. Bukan hanya Andara yang tersakiti dalam keadaan ini, tapi Nanta pun sama. Di tambah melihat wajah cantik itu tetap menampilkan senyum, rasanya ada banyak tikaman pada dadanya, ia menekan dadanya kuat menahan sakit dari luka yang tak terlihat.
__ADS_1
"Assalamualaikum Abi, Umi, kak Nanta." senyum manis terpatri indah di wajah sendunya.
"Wallaikumsalam," jawab mereka kompak namun tak sanggup membalas senyum yang terlalu indah di depan mereka.
"Duduk Ra, sini ikut kita makan," ajak Nadia menyuruh Andara duduk di sebelah Nanta Sedangkan ia duduk di depan Dara yang berarti di sebelah Umi.
Bukannya merasa senang, tapi Andara malah jadi semakin terluka. Nadia bersikap seolah-olah ia pemilik rumah ini, dan lagi sikap bungkam orang tua Nanta menambah luka yang sudah menganga lebar.
Dara duduk dengan canggung, ia menoleh ke arah kekasihnya yang menunduk. Dara memberanikan diri menyentuh paha sebelah kanan Nanta. Mencoba memberi tahu jika ia butuh responnya.
Nanta menoleh, tersenyum dengan wajah sendu dan balas menggenggam tangan yang berada di atas pahanya. Ini genggaman tangan hangat yang menjadi favoritnya. Rasanya ada kehangatan yang mengalir dan menguatkannnya.
Mengembalikan pandangan ke arah depan, mereka semua juga menatap ke arah mereka berdua dengan pandangan yang sulit diartikan. Dara menyerahkan kotak kue yang sedari tadi ia taruh di atas pangkuannya.
"Umi, Dara bawain oleh-oleh dari Bali." kalimat itu terucap tak yakin meski di katakan dengan nada ceria.
"Makasih nak!" jawab Umi tulus.
"Kamu langsung ke sini tadi?" tanya Nanta dengan nada penuh kerinduan.
Dara mengangguk dan tersenyum memamerkan deretan giginya, Ia juga tersenyum ke arah Umi.
"Yuk makan! kamu pasti capek!" dengan antusias Nanta mengambilkan nasi di piring yang baru di ambilkan oleh Nadia.
Dapat terlihat senyum bahagia di wajah Nanta saat berinteraksi dengan Andara, semua itu terekam jelas pada mereka yang melihatnya. Nanta tak pernah seceria ini dari kemarin ia pertama datang.
Nadia menggenggam erat sendok di tangannya, menunduk tak ingin melihat perlakuan manis Suaminya pada wanita lain di hadapannya. Umi melihatnya, mengusap punggung tangan Nadia dan tersenyum menguatkan.
"Ini enak, Dara suka!" puji Andara pada gulai kambing yang di makannya.
"Iya, itu Nadia yang memasaknya!" beritahu Umi sengaja.
Nanta berdehem untuk menghentikan pembicaraan yang tidak akan berakhir mengenakan ini.
"Ya, Dara suka! ini enak Kak Nadia!" puji Andara tulus.
Orangtuanya Nanta dapat melihat ketulusan itu, tapi yang mereka tidak mengerti adalah apa maksud Andara datang ke rumah ini.
"Makasih, nambah lagi kalo suka." Nadia pun senang mendapat pujian dari Andara.
"Iya kalo boleh Andara mau nambah!" Andara memamerkan giginya.
Nanta hanya tersenyum saja melihat kekasihnya makan dengan lahap, ia tak memperhatikan ada wanita lain yang menahan luka.
Mereka makan di selingi canda dari mulut gadis cantik yang baru saja mengejutkan mereka. Selesai makan Andara juga membantu untuk membereskan meja makan. Ia sesekali bergurau dengan Nadia. Umi sedikit terkejut tak mengira akan jadi seperti ini. Ia pikir akan ada pertengkaran di antara mereka, ini malah seperti kakak dan adik.
Nanta duduk di teras belakang bersama Abi. Mereka terlibat pembicaraan serius. Kedua laki-laki itu bingung harus bagaimana mengambil sikap. Abi bingung harus marah atau sedih melihat keadaan ini. Begitupun Nanta, yang dipikirkannya saat ini hanyalah Andara.
_______________
**Penulis akan sangat menghargai setiap like dan komen yang di berikan pembaca, karena dengan ketersediaan kalian untuk meninggalkan jejak di cerita ini membuat penulis lebih bersemangat lagi 😉.
terus ikuti kelanjutan dari novel ini yah
__ADS_1
happy reading 😘**