Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c29


__ADS_3

Ini hari terakhir ujian. Sudah hampir seminggu mereka menjalani ujian. Dan hari ini Andara sedikit kesulitan di pelajaran kimia, Ia tertinggal hingga di detik terakhir. Wajahnya sudah sedikit kucel karena stres bergelut dengan soal yang menurutnya sulit. Teman-temannya sudah keluar sedari tadi.


Dia menjadi siswa terakhir yang keluar di kelasnya. Guru pengawas mempersilakan Andara keluar, dan langsung memungut kertas jawaban para siswa-siswi di atas meja.


Dara menghampiri teman-temannya, mereka sudah mengira jika Andara kesulitan. Fita menepuk punggung Dara dua kali. Dan Tyas mengangguk menepuk punggung tangannya.


Saka tersenyum tipis, Dara sedikit pucat jadi ia menyerahkan air mineral yang sedari tadi di pegangnya. Menghela napas sedih, Andara yakin jika ia pasti gagal di ujian Kimia semester ini.


"Udah gak papa, Lo kan udah usaha keras. Hasilnya ikhlasin aja," ujar Alan yang sedang memainkan rubik.


"Iya, ikhlasin aja," Tambah Fita.


"Huaa, iya kalian ikhlasin karena bisa ngerjain soalnya tadi, lah gue? udah setengah mati tapi tetep aja gak bisa." Teriak Andara frustasi, Ia bahkan jadi siswi terakhir yang selesai, tapi gak ada ngaruhnya ke jawaban dia. Banyak yang ngasal, biasanya Dara nyontek. Tapi kali ini ia sulit beraksi.


Saka menggeleng tangannya terulur menjitak kepala gadis itu.


"Aduh, pa'an sih loh!" Sudah kesal Dara jadi makin kesal.


"Dasar otak udang." Ejek Saka yang mendapat reaksi geram dari Andara.


Pukulan yang dilancarkan tak pernah mengenai sedikitpun dari secuil badan Saka.


Dara terus berusaha memukul akan mengejar Saka yang menjauh pergi. Tapi Vian menahan badannya.


"Udah deh Ra, Saka sengaja bikin kamu kesel. Makin seneng dia kalo kamu ladenin." Ucapan Vian berhasil membuat Dara sedikit tenang.


Tapi tak urung membuat kekesalannya lenyap. Dengan wajah cemberut itu sungguh sinkron dengan mata birunya. Seperti boneka, Membuat yang melihatnya gemas. Bahkan Fita dan Tyas juga gemas.


Tuhan sangat adil, Dara di Anugerahi kecantikan tapi tak begitu pintar. Mereka tertawa melihat Andara melompat-lompat kesal.


"Daripada gabut mending kita lanjutin ngomongin rencana liburan kita." Usul Alan.


"Iya dari kemaren kita belom fix nih." Keluh Tyas.


"Emang jadinya kemana? Kemaren mbak Tia hubungin gue, katanya gue ada pemotretan seminggu lagi." Jelas Andara sambil melempar Alan dengan batu kerikil.


Alan melirik Andara tajam lalu tersenyum tipis. Menghampiri Andara, tapi sudah keburu gadis itu lari. Mereka kejar-kejaran sampai lapangan. Tapi karena tidak memperhatikan depan Dara menubruk seseorang. Ia terjungkal kebelakang.


Menyentuh siku tangannya yang berdarah. Dara meringis sakit. Alan panik menghampiri Andara, yang masih duduk di lantai memegang sikunya. Tapi ia di dahului oleh Josh yang menang posisinya tepat di depan Andara. Iya yang di tabrak Andara tadi adalah Josh.


"Auh sakit," teriak Andara merintih sakit.


Ia melihat orang yang ada di depannya, yang Ternyata adalah Josh. Pria itu tak bicara apapun langsung menyentuh lukanya bermaksud mengusap darah yang keluar.


"Lo gak papa Ra?" Tanya Alan khawatir.


"Gak papa Gimana, berdarah nih!" Protes Andara.


"Sorry."


Mereka berdua terpaku mendengar kata itu terucap dari bibir laki-laki di depannya itu.


"Em ini gue kok yang salah."


"Iya tapi karena yang kamu nabrak aku, kamu jadi jatoh," balas Josh menatap manik biru yang sedikit berkaca-kaca.


Alan bahkan membuka mulut kaget, si Josh ngomong pake aku-kamu? gak salah denger dia?


Menatap keduanya, ia menggaruk belakang kepalanya canggung. Beberapa orang mulai menghampiri, menanyakan keadaan Andara.

__ADS_1


"Gue gak papa kok cuma lecet dikit," Ujar Andara berdiri dari duduknya.


"Ya udah langsung di obati di UKS aja itu Ra, entar infeksi," Ujar salah satu siswa yang ikut melihat.


Dara mengangguk, berjalan menuju ke UKS bersama Alan di sampingnya yang merasa bersalah.


Tapi yang mengherankan Josh juga mengikuti mereka menuju ke UKS. Yang membuat canggung suasana adalah laki-laki itu tak bersuara sama sekali. Membuat aura di sekitarnya jadi menyeramkan.


"Eh napa itu Ra?" Tanya Cleo yang bertugas jaga UKS hari ini.


"Enggak, ini gue jatoh."


"Ya udah gue ambilin alkohol sama obat merah dulu." Dara dan Alan mengangguk.


"Lo sih tadi lari kenceng banget." Alan mengusap darah yang keluar di sekitar luka.


"Iya, gue salah. Eh iya sorry ya Josh gue tadi nabrak elo." Dara meminta maaf dengan tulus. Mata birunya membulat dengan bibir di gigit menahan perih.


"Hmm."


Josh hanya menjawab dengan gumaman. Dara jadi tersenyum paksa mendengar tanggapan dari Josh. Bagaimana tidak takut, wajahnya tak menampakkan senyum sedikitpun.


"Awas dulu Lan, gue obati dulu." Usir Cleo, Alan dengan besar hati menyingkir.


"Untung udah selesai ujian. Kalo enggak Lo pasti bakal jadi'in ini alasan buat gak ikut ujian," ujar Alan tanpa saringan.


"Ye ngeselin Lo."


Dara akan memukul dengan Tangan yang lain, tapi mengingat sikunya yang satu juga sedikit lecet ia tak jadi melakukannya. Kulit bersihnya membuat Luka itu jadi terlihat lebih dramatis, padahal tidak parah.


"Gak papa kok ini. Entar sebelum tidur di obati lagi ya." Cleo ganti mengoleskan obat merah di siku satunya.


Yang satu di plester, yang satu tidak karena tidak terlalu dalam. Mereka akan kembali ke kelas tapi melihat Josh tak kunjung pergi, suasana jadi tak enak. Kenapa laki-laki itu masih di sini sih? gak ngomong apa-apa lagi. Dara sedikit melirik ke arah laki-laki itu.


......


"Lah, kenapa itu Ra tangan Lo?" Tanya Tyas yang pertama menyadari.


"Wah, Alan bahaya. Sekalinya gak nge-game orang di hajar pulak." Fita menambahkan.


Alan yang tau jika itu hanya candaan hanya mendengus saja. Vian bergerak cepat menghampiri, menarik Andara duduk di kursinya.


"Lo jatoh di mana?"


"Tuh di lapangan. Nabrak tembok beton." Jawab Dara asal.


"Temboknya bisa jalan pula." Tambah Alan lagi.


Vian menipiskan bibirnya mendengar jawaban tak jelas dari keduanya. Tapi ada yang lebih tak jelas lagi. Yaitu orang yang baru saja masuk ke kelas dengan napas terengah-engah.


"Sakit ya? ayok ke rumah sakit." Tanya nya cepat tanpa menunggu jawaban akan menarik Andara. Dia tadi mendengar Dara jatoh dari anak-anak yang melihat Andara jatoh di lapangan.


"Apaan sih Ka? Sakit Lo tarik-tarik!" Andara menarik tangannya dari genggaman Saka.


"Kok bisa gini?" Saka berjongkok di depan Andara memperhatikan luka di sikunya.


"Noh gara-gara Alan." Balas Vian memanas-manasi.


Alan yang di salahkan langsung melotot ke arah Vian dan langsung menggeleng meyakinkan Saka.

__ADS_1


Saka sudah menunjukkan wajah kesal ke arah Alan. Teman yang lain cuek saja. Seakan senang di atas penderitan Alan. Kasihan Alan, di hianati teman-temannya. Biarlah sekali-kali Alan merasakan bogeman mentah dari Saka.


"Udah deh, ini salah gue. Lagian udah gak sakit kok, udah di obatin." Dara mengusap plaster di tangannya.


Menurut Andara itu keren. Tapi menurut Saka itu gak keren. Luka jatoh dari sepeda kemaren aja belom ilang bekasnya, lah ini nambah lagi.


"Eh Ka, gimana kita jadi liburan ke mana? Gue ada jadwal pemotretan seminggu lagi." Jelas Andara yang masih colek-colekan dengan Tyas.


Saka mengamit tangan Dara menyuruhnya untuk melihat ke arahnya. Saka menatap mata biru itu galak.


"Lo pemotretan di mana? gue gak ikut liburan kalo Lo gak ada!" Putus Saka spontan.


"Lah makanya kita dari kemaren diskusi'in ini gak dapet-dapet tempatnya." kata Fita sedikit kesal karena dari kemaren masih saja belum fix liburan di mana.


"Ya udah maunya pada kemana? musti kompak dong." Alan menyela.


"Gimana kalo Singapura." Usul Vian yang mendapat pelototan dari Tyas.


"Jan ke luar negeri dong, lagi bokek gue." jawaban Tyas mendapat anggukan dari Alan.


"Ancol aja deh." Fita putus asa dengan pembicara tanpa akhir ini.


"Emang kamu ada pemotretan di mana?" Tanya Saka pada Andara.


"Di Bali, kayak promosi wisata gitu loh."


"Berapa lama emang kamu?"


"Bentar kok cuma sehari aja, terus balik deh."


Saka manggut-manggut, mengacuhkan temannya yang lain.


"Gimana kalo ke Bali aja?" Tanya Saka meminta persetujuan teman lainnya.


"Kalo gue sih oke-oke aja." Vian tak mempermasalahkan, karena dia manapun asal liburan.


"Gue juga oke deh, Lo gimana Yas?" Fita menoleh kearah Tyas.


"Iya boleh deh, tapi jangan lama-lama ya." Tyas tak ingin nanti di omeli abangnya.


"Lo Lan?" tanya Saka.


"tinggal gue nih, emang kalo gue gak mau kalian bakal pindah tempat lagi?" Alan menjawab tapi matanya fokus ke arah ponsel.


"Kalo Lo gak mau ya tinggal aja ya gak geez?" Fita kesal karena laki-laki itu malah sibuk main game.


"Oke fix ya ini ke Bali?"


"Ya!" Teriak mereka bersamaan.


"Ini kan hari terakhir kita ujian, entar refresh otak yuk kita nongkrong ke kafe?" Ajak Vian.


"kemana? cafe biasanya?" Andara yang sedari tadi diam jadi semangat.


"Ke Blumchen coffee aja yuk. Kita belom pernah ke sana kan?" Ajak Tyas antusias.


"Gue udah tuh sama Saka, ya Ka?"


Saka mengangguk saja, dia dan Andara pernah ke sana sekali. Dan tempatnya not bad. Malah asik buat nongkrong atau ngerjain tugas.

__ADS_1


"Oke, kita nanti balik langsung ke sana apa pada balik dulu?" Tanya Dara menatap mereka satu persatu.


"balik dulu deh ganti baju, gerah gue." Saka menjawab cuek, tapi seakan keputusannya jadi keputusan bersama, mereka hanya mengangguk saja.


__ADS_2