
Suara ketukan dari luar ia abaikan, rasa sesak di dadanya tak kunjung mereda, kebingungan yang di rasakannya melumpuhkan otaknya. Jangankan untuk berpikir, untuk mengingat pun tak bisa!
Andara punya kesulitan untuk mencerna masalah ini, bagaimana bisa kekasihnya sudah menikah? Kapan pernikahan itu?
Yang Andara tau Nanta adalah miliknya sejak dua tahun lalu. Bolehkah ia marah, atau memang ia telah kalah tanpa perjuangan. Jangankan berjuang, untuk mempertahankan saja ia tak di beri kesempatan.
Jika itu benar maka kekecewaannya tak lagi bisa di tanggung. Kecewa pada Nanta yang membohonginya dan kecewa pada takdir yang mengkhianatinya. Ya, ia merasa di hianati dalam diam, merasa di permainkan oleh rasa yang memuakkan.
Sekarang bahkan Dara tertawa keras, menggenggam erat tangan di depan dadanya. Dinding membungkam suara tawa memilukan itu. Menutupi kebingungan dengan melepas tawa sekeras-kerasnya. Hatinya masih tak mau percaya, dan ingin membuktikan sendiri nanti.
Setelah tawa yang di Sertai isakan itu terhenti, ia bangkit dan berjalan mendekati jendela kamarnya. Ia bisa melihat Pemandangan di bawahnya. Tersenyum pada lintasan memory yang berada depannya. Menggapai bayang dengan tangannya.
Nanta laki-laki yang menggenggam tangannya ketika ia tak lagi ingin hidup, tak rela hatinya menerima ini. Kilasan memory menari-nari dalam bayangannya. Sesekali ia tertawa dan kadang terdiam.
Di luar pintu kamarnya Saka masih berdiri bersandar pada pintu. Ini sudah malam dan mereka semua khawatir karena Dara tak kunjung keluar kamar dari siang tadi. Saka yang paling merasa bersalah, wajahnya tak menampakkan sedikitpun keramahan.
Tak ada yang berani bertanya, Fita yang biasanya berani juga hanya diam. Mereka seperti orang bodoh yang sedang menyaksikan adegan drama. Yang mereka tahu Dara sedang ada masalah dengan Nanta.
Hingga ada suara pintu terbuka, mereka menunggu dengan gelisah dan juga senang akhirnya Andara mau keluar, mereka sempat khawatir jika Andara akan melakukan hal nekat di dalam sana.
Mereka semua terdiam, memperhatikan senyum manis di bibir Andara, tak sedikitpun menampakkan jejak kesedihan. Jadi, apa makna dari kekhawatiran mereka tadi.
"Kalian ngapain pada berdiri di depan pintu gue?" Tanya Andara yang mendapat tanggapan gelengan dari mereka kecuali Saka.
"laper yuk ah makan!"
"Iyalah Lo kan belom makan siang tadi," sahut Alan yang lebih dulu sadar.
Dara tertawa, ia menggandeng Alan menuju ke lift meninggalkan yang lain, mereka masih mencerna apa yang terjadi. Mereka melirik sinis ke arah Saka karena membuat mereka berdiri khawatir tanpa alasan.
Saka juga tak kalah bingung, ia berjalan di belakang Alan dan Dara dengan pandangan menilai. Dara terlihat baik-baik saja di tambah dengan penampilannya saat ini.
Dara menggunakan kaos lengan pendek di pasangi dengan celana jeans panjang robek-robek di bagian depan. Rambutnya terkepang sedikit berantakan namun itu melengkapi gayanya saat ini. Tak lupa wajah cerianya tadi.
Ia juga merasa bodoh, apa itu artinya Andara tak percaya dengan apa yang dikatakannya tadi?
"kenapa kalian tadi berdiri di depan pintuku?" Bisik Dara mengulangi pertanyaannya tadi pada Alan.
"Entahlah, gue juga tak paham," jawab Alan tanpa dosa.
"Kalian sangat kurang kerjaan!" Balas Dara yang membuat Fita, Tyas, Vian dan Saka yang berdiri di Belakang mereka jadi kesal.
Memang karena siapa mereka kurang kerjaan. Dan lagi mereka melirik sinis ke arah Saka, menyalahkan laki-laki itu. Saka menggaruk tengkuknya tersenyum bingung. Suasana di dalam lift hanya dipenuhi tawa Andara dan Alan saja, mereka yang berdiri di belakang keduanya tak ingin ikut dalam pembicaraan.
Mereka memutuskan untuk makan di restoran dalam hotel, Dara memesan banyak makanan. Tawa gadis itu menjawab kegelisahan mereka, Dara baik-baik saja dan liburan berjalan lancar. Besok adalah hari terakhir mereka di Bali.
Getaran berasal dari ponsel Andara di atas meja menginterupsi candaan mereka. Dara mengecek nama pengirim pesan, Made. Nama itu yang tertera di layar ponselnya.
Made
Ra, Jadi Dateng enggak nih?
__ADS_1
Dara berpikir sebentar, lalu memilih bertanya pada yang lain. Fita dan Vian mengiyakan, tapi Alan dan Tyas tak mau pergi. Saka jangan di tanya, ia melarang.
Setelah perdebatan yang alot, Andara bisa datang bersama Fita, Vian dan Saka.
Mereka pergi dengan menggunakan taksi.
Sampai di sana Fita di buat takjub dengan arena balapan yang sudah sangat ramai.
"Hai Ra, hai..." Sapa Made pada Dara dan yang lain.
"Udah mulai?"
"Belom, masih nunggu Alex, pembalap kita." Made langsung mengajak mereka masuk ke arena balap.
Menonton lebih dekat memang lebih menantang. Dara berbaur dengan teman-teman yang lain. Ia meninggalkan temannya untuk menyapa teman yang lain di temani oleh Made.
Mata tajam Saka tak pernah lepas dari memperhatikan keduanya. Vian menepuk pundak Saka, seakan mengatakan jika semua akan baik-baik saja. Meski Vian juga tak suka ada laki-laki lain yang sangat dekat dengan Andara.
"Gue kenalin ke lawannya Alex yuk!" Ajak Made menggandeng tangan Dara.
"Lawannya temen kalian juga?"
"Iya, tapi dia dari luar kota. Dia dari Bandung!"
"Wah, jadi balapan ini buat semua daerah boleh ikut berpartisipasi?" Tanya Andara yang di angguki oleh Made.
Mereka menghampiri laki-laki di dalam mobil balap, mendekat kearah kaca bagian pengemudi. Made menyapa dengan ramah, Dara dapat melihat ada wanita yang duduk di samping kursi pengemudi.
Alex mengalihkan pandangannya ke sebelah Made, "Lah, gue udah sering liat! Lo model kan?"
"Iya, kok tau?"
"Gue sering liat Lo di foto yang di panjang agensi di berbagai platform!" Jawab Nial antusias.
"Wah, ya udah sekarang bisa liat langsung kan."
"Iya, Lo ikut balap juga apa cuma nonton?"
"Nonton aja gue! Di pinggiran sana." Tunjuk Andara ke arah penonton di sisi kiri.
"Gak asik, mending ikut. Nih kayak gue di temenin Gisel. Lo ikut aja temenin Alex." Usul Nial yang sudah terlihat sangat akrab.
Dara memperhatikan cewek dalam mobil yang tersenyum ke arahnya. Ia jadi tertantang ingin merasakan ikut dalam balapan. Dara memandang pada Made.
"Ya udah kita tanya Alex dulu, tuh dia udah dateng!" Tunjuk Made ke arah mobil balap warna merah yang baru saja sampai.
Dara mengangguk mereka menghampiri mobil itu. Dara menyapa Alex dan langsung menyampaikan keinginannya pada Alex, Alex menanggapi dengan senang. Akhirnya ia punya rekan cantik dalam balapan.
Suara gaduh akan di mulainya balapan membuat Saka sedikit gelisah karena tak kunjung melihat Andara. Matanya terus mencari dalam keramaian. Vian juga tak kalah panik mencari keberadaan gadis itu.
Hingga Made datang seorang diri menghampiri mereka. Tanpa banyak basa-basi ia menanyakan dimana Andara. Made menunjuk pada mobil merah yang baru saja melaju kencang meninggalkan garis start. Saka dibuat kalang kabut mengetahui itu. Ia mencengkram baju bagian depan Made dengan wajah marah.
__ADS_1
"Dara yang ingin ikut, karena ia bilang ingin meredakan stress. Gue udah larang tapi dia kekeh ingin ikut!" Jelas Made dengan santai namun jelas.
"Harusnya gue gak biarin dia temenan sama kalian, brengsek!" Maki Saka yang sudah tidak bisa menahan emosinya.
Vian mencoba melerai keduanya, namun pukulan keras tak terelakan mendarat di wajah Made. Made juga membalas pukulan itu dengan keras. Beberapa orang membantu Vian melerai perkelahian mereka.
"Mending kita tunggu Dara di garis finis Ka," ucap Fita yang sedari tadi hanya diam saja.
Saka dan Made berhenti saling memukul karena keduanya juga sudah babak belur. Saka menatap sinis ke arah Made, tapi Made hanya tersenyum saja dengan ujung bibir berdarah.
Dara dan Alex berhasil mencapai garis finis lebih dulu, artinya mereka menang. Dara tersenyum lebar merasakan jika pikirannya teralihkan bahkan sesak yang sedari tadi membelenggunya lenyap.
sebelum turun dari mobil ia bertanya pada Alex apakah nanti akan ada balapan lagi? Alex menjawab jika ada balapan sekitar dua minggu dari sekarang. Mereka berjanji akan bertemu dalam balapan lagi dua Minggu ke depan.
Mereka turun di sambut dengan suara riuh penonton. Dara merasakan hal lain dalam hatinya, ia mulai menyukai hal berbahaya ini. Ia seperti keluar dari zona nyaman yang selama ini ia nikmati.
Ada tangan menariknya dari kerumunan. Wajah galak dari Saka membuat senyum Andara lenyap. Gadis itu memperhatikan jika ada luka lebam di wajah Saka. laki-laki itu menarik Andara untuk pulang kembali ke hotel. Mereka duduk diam dalam taksi tanpa ada sedikitpun yang ingin bicara.
Vian dan Fita tak kalah kecewa dengan kenekatan Andara. Setelah sampai pun mereka langsung masuk ke kamar masing-masing. Kecuali Andara, ia ikut masuk ke dalam kamar Saka. Masih sama-sama bungkam, tapi Andara tak ingin merasa bersalah. Ia bahkan tak sabar menanti dua minggu lagi untuk ikut balapan.
Keluar dari zona nyaman yang untuk pertama kalinya membuat Andara ketagihan. Saka duduk di pinggiran ranjang menatap tajam pada Andara yang ikut duduk di sampingnya.
Saat akan bicara panggilan telepon dari seseorang menginterupsi kediaman mereka. Dara mengecek siapa yang menelponnya. Ternyata itu dari Nanta, wajah angkuhnya tadi berubah sendu. Jantungnya berdegup kencang bahkan tangannya sedikit bergetar hampir menjatuhkan ponselnya. Itu tertangkap dalam penglihatan Saka.
Dara mengangkat telepon berusaha terlihat baik-baik saja, "Hallo ia kak?"
'Kenapa kok gak angkat telepon dari tadi? aku khawatir!'
"Andara baru pulang maen sama yang lain. Andara ngantuk, besok Dara telepon lagi ya kak? dah kak!" Dara langsung mematikan sambungan teleponnya.
Dara melihat pada Saka yang juga sedang menatapnya. Dara tersenyum lalu beranjak mencari obat merah di koper Saka. Laki-laki itu selalu membawa obat merah saat bepergian.
Dengan telaten ia mengoleskan obat merah ke luka di wajah Saka, Saka membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"Kalo Lo marah, Lo boleh pukul gue di sini ataupun di sini. Tapi jangan lakuin hak kayak tadi, jangan buat gue marah dan khawatir!" ucap Saka pelan, dengan kedua tangan membingkai wajah Andara.
Dara yang sedari tadi fokus menatap pada luka di wajah Saka kini menatap tepat pada mata Saka. Mereka saling menatap dengan pandangan yang dalam. Dara tak ingin lemah jadi langsung mengalihkan pandangannya.
Saka kembali menarik wajah Dara agar menatap pada matanya.
"Lo boleh nangis, gak ada yang ngelarang karena gue selalu ada buat Lo. Tapi, jangan cari cara lain untuk mengungkapkan rasa sakit Lo!" Saka mengusap wajah Dara dengan sayang.
Dara sungguh tak ingin menangis. Ia menutupi dengan tertawa lalu menenggelamkan wajahnya di dada laki-laki di depannya. Menyembunyikan air mata yang tak bisa di tahan lagi. Tanpa isakan ia hanya semakin memeluk erat sahabatnya itu.
_________
**Penulis akan sangat menghargai setiap like dan komen yang di berikan pembaca, karena dengan ketersediaan kalian untuk meninggalkan jejak di cerita ini membuat penulis lebih bersemangat lagi 😉.
terus ikuti kelanjutan dari novel ini yah
happy reading 😘**
__ADS_1