Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c39


__ADS_3

Suasana malam di kota Bali tak jauh beda dengan Jakarta, hanya saja banyak turis asing di sini, Andara sendirian menikmati malam di temani teh chamomile di gazebo dekat kolam renang, teh chamomile adalah rekomendasi dokter untuk masalah susah tidur andara. Sedangakan mbak Tia dia sedang ada dinner dengan meneger lainnya.


Minum teh chamomile rutin setiap hari dapat mengurangi masalah migrain. Chamomile mengandung zat yang dapat mengurangi rasa nyeri. Andara sendiri mengalami masalah sulit tidur, ia mencoba mengganti kopi ketika dia sulit tidur dengan minum teh chamomile sebelum tidur. Efek menenangkannya akan membuatnya merasa lebih nyaman.


Dering dari ponselnya menyadarkan Andara dari lamunannya. Melihat nama yang tertera di layar, senyum mengembang dari bibirnya.


"Hallo, Napa deh kangen ya sama gue?" ledek Andara pada penelpon di seberang sana.


'Mana ada, cuma lagi bosen aja!' elak Saka yang malah membuat Andara jadi menahan tawa.


"Iya deh, terus kalo bosen nelpon gue jadi enggak gitu?"


'Gak ngaruh sih!'


"Ihhhh, Lo gak bosen apa bersikap nyebelin kayak gini!" keluh Andara.


'Eng-gak!'


"Dasar kutil badak!" ada suara mendecih di seberang sana menanggapi ejekan Andara.


"Saka Lo udah dapet informasi? gue gak mau tau ya! besok pas Lo ke sini harus udah punya info buat gue!"


Saka tak menanggapi ancaman Andara, karena dirinya sendiri juga bingung, apakah ia mampu memberitahu kenyataannya pada Andara.


"Ye malah diem, udah deh ganggu aja Lo!"


Sambungan di putus oleh Andara. Ia kesal karena perasaannya sendiri juga tak nyaman. Dalam hati kecilnya ia bahkan tak ingin mendengar apapun nanti yang akan di beritahukan oleh Saka. Takut jika sama seperti yang di khawatirkan.


Lamunan Andara kembali di kejutkan oleh suara berisik di seberang tembok pembatas atau mungkin bisa di sebut pagar namun sangat tinggi. Dara berjalan mendekatkan telinganya ke tembok, dan ya memang dari sana asal suara bising itu.


Penasaran membuatnya ingin tahu apa yang membuat suara bising di balik tembok ini. Matanya melihat ke arah gerbang, yang selalu terbuka dengan satpam yang aktif berjaga, Dara memutuskan untuk melihat apa yang ada di balik tembok.


"Ehem, pak? itu di sebelah tembok di sana kenapa ada suara berisik ya?"


"Eh, itu biasanya ada anak-anak muda pada ngumpul neng," ujar pria berseragam keamanan itu pada Andara.


"Bahaya enggak pak?" tanya Andara memastikan.


"Setahu bapak nih, mereka gak jahat kok cuma ya itu bandel."


Dara tersenyum menanggapi, lalu pergi keluar. Sampai di depan ia berbelok ke arah jalan trotoar sebelah kiri, dari sanalah suara tadi berasal.


Ini sudah jam sepuluh malam tapi tak ada kesunyian, bahkan masih sangat ramai orang-orang berlalu lalang.


Dara berhenti saat sudah bisa melihat dari trotoar jika itu memang sekelompok anak muda yang sedang berkumpul atau biasanya di bilang nongkrong. Jika orang dewasa mereka mencari hiburan di bar atau tempat semacamnya, tapi mereka yang di sini masih berusia sekitar 20 an bahkan ada yang mungkin masih seumuran dengannya.


Mereka seperti sedang membicarakan sesuatu yang seru, Dara ingin sekali tau apa yang di bicarakan mereka Sampai bisa tertawa selepas itu. Ia ragu karena tidak ada yang di kenalnya, Dara memutuskan akan berbalik saja. Tapi ada salah satu orang di antara mereka yang sedari tadi memperhatikan Andara yang terlihat akan menghampiri mereka, begitu melihat Andara akan berbalik pergi, dia menghampiri Andara.


"Hei, kau butuh bantuan?" Tanya orang berkulit coklat tembaga dengan wajah cukup tampan.


"Tidak! Maaf aku tidak bermaksud mengganggu, ini aku akan pergi!" Dara sedikit tak enak pada laki-laki itu, juga sedikit malu bercampur takut.

__ADS_1


"Lah kenapa pergi, ku kira kamu mau ikut ke sana, kami tidak jahat kok, kami biasa berkumpul untuk solidaritas, nah itu ada ceweknya juga kok!" tunjuk laki-laki itu ke arah teman wanitanya.


"Ehm, iya tapi kayaknya aku balik ke hotel aja." Andara menolak dengan sopan.


"Oh kamu bukan orang sini, pantas kamu terlihat takut dengan kami!" Laki-laki itu tersenyum memaklumi.


Dara juga membalas tersenyum canggung, karena melihat senyum canggung Andara laki-laki tadi memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.


"Mungkin lebih baik kita kenalan dulu, biar kamu gak merasa takut. Aku Made, rumahku dekat sini. Itu ada rumah dengan pagar putih nah, kelihatan kan."


Dara mengikuti arah pandang Made, ia bisa melihat rumah tertutup tembok tinggi berwarna putih dari tempatnya berdiri saat ini.


Melihat Dara mengangguk Made ikut tersenyum.


"Kau tak ingin memperkenalkan namamu? tak apa mungkin kau masih takut padaku, tapi aku hanya mengajakmu berteman saja, sayang kan kalo ke kota Bali tidak kenal orang asli Bali." Canda Made ingin mencairkan suasana.


"Aku Andara, dari Jakarta," ucap Andara pelan, ia berani memperkenalkan diri karena Made terlihat baik dan ramah. Rasanya tidak sopan jika ia mengabaikan keramahan laki-laki itu.


"Wah, ternyata dari Jakarta? aku kira dari negara mana, karena manik biru matamu sangat indah, dan itu bukan seperti orang Indonesia."


"Benarkah, tapi aku sedari tadi sudah berbahasa Indonesia kan?"


"Oh iya ya, aku hanya terfokus pada warna mata kamu." Mereka tertawa, suasana yang awalnya canggung karena tidak saling mengenal sekarang jadi terlihat akrab.


"Mau ikut kesana?" tunjuk Made pada teman-temannya.


"Boleh?"


Mereka masih terlihat asik dengan tawa lepas dari setia orang. Dara bahkan ikut tersenyum lepas melihat orang-orang itu tertawa.


"Hei, Lo dapet cewek cantik di mana De?" tanya salah satu teman Made dengan di selingi canda dari teman-teman lainnya.


"Orang Jakarta nih, namanya Andara. Nah Andara, mereka temen-temen gue." Made memperkenalkan Andara yang langsung memantik perhatian setiap orang di sana.


Suasana ramai yang menjadi sepi membuat Andara jadi canggung. Apalagi mereka semua terfokus pada dirinya.


"Hallo gue Andara, salam kenal!" Perkenalan kaku dari Andara memantik tawa mereka semua, Andara jadi malu ia bahkan memundurkan langkahnya.


"Hei, kalian bikin dia takut!" tegur Made pada mereka.


"Santai aja Ra, gak usah kaku gitu, kami semua di sini asik kok." Salah satu cewek di sana menarik Andara.


"Duduk sini, Lo di sini lagi liburan?" tanya cewek tadi.


"Em, liburan tapi juga kerja." jawab Andara.


"Kerja apa?" tanya Made penasaran.


"Aku ada pemotretan di sini, tapi nanti temen-temen gue pada nyusulin, nah jadi liburan deh," jelas Andara menatap mereka yang juga menatapnya. Tak lupa senyum manis ia tunjukkan.


"Lo model?" teriak cewek tadi histeris.

__ADS_1


"Lebai Lo!" tegur teman di sampingnya.


"Lo nyambi kuliah sambil kerja? atau lg fokus kerja aja?" tanya cewek yang menariknya tadi penasaran.


"Gak, gue masih sekolah kelas 2 SMA." jawaban Andara itu mengejutkan mereka.


Pasalnya, tinggi badan Andara tidak memperlihatkan jika ia masih siswi SMA. Melihat reaksi mereka Andara jadi memegang wajahnya.


"Mukaku kelihatan tua ya?" tanyanya yang mendapatkan gelengan dari mereka.


Mereka tak lagi membahas itu karena lebih penasaran dengan topik yang baru di bicarakan oleh Liam, salah seorang teman Made juga.


"Em, udah malem gue balik duluan deh ya?" pamit Andara pada Made yang berdiri di sebelah tempat duduknya.


"Yuk gue anter."


Tanpa menunggu jawaban Andara Made sudah berjalan lebih dulu.


"Lo kalo kapan-kapan kesini lagi maen aja ke rumah gue, dari pada di hotel mahal kan?" mereka berjalan pelan sambil mengobrol.


"Enggak tau, itu udah termasuk fasilitas dari job pemotretan gue, tapi gak tau juga sih. Meneger gue yang urus!" jawab Andara menunjukkan barisan gigi rapinya.


"Lah enak dong, kamu bisa mandiri di usia segitu. Aku pas usia segitu lagi bandel-bandelnya bolos sekolah!"


"Lah gue juga, males sekolah gue. Tapi gue punya temen yang selalu ngawasin gue, jadi jarang bolos deh. Lo emang sekarang lagi ada kegiatan apa?" tanya Dara.


"Ehm kuliah, tapi jarang absen!" mengangkat bahunya tanda tak peduli.


"Eh udah sampe, gue masuk y. Makasih udah boleh gabung tadi."


"Iya, besok lusa kami bakal ngumpul lagi, kalo belom balik Jakarta gabung lagi aja."


Dara mengangguk berlalu masuk menuju pelataran hotel melambaikan tangannya pada Made. Ia merasa bebas saat bersama lingkungan baru, ia sangat suka berada di antara orang tidak dikenal seperti tadi.


Baru sampai di loby hotel ia dikejutkan oleh kehadiran Saka yang juga tersenyum kearahnya. Dara langsung menghambur memeluk lelaki itu. Saka tertawa mendapatkan respon berlebihan dari Andara.


"Baru juga gak ketemu sehari, kangen banget ya?" ledek Saka sambil mengecup puncak kepala gadis itu.


"Gue seneng plus kaget tau Ka! Lo kok bisa di sini sih?" Dara masih tak mau melepaskan tangannya dari leher laki-laki itu.


"Kejutan dong!"


"Berarti tadi Lo telpon gue udah di Bali?"


"Iya, di bandara tapi tadi siapa ya yang marah?" sindir Saka yang langsung mendapat pukulan dari gadis di depannya.


"Lo sendirian, yang lain tetep besok kan?"


Saka mengangguk, ia menarik gadis itu menuju lift. Dara menceritakan kisahnya tadi bertemu dengan Made dan teman-temannya, sepanjang jalan menuju ke kamar Saka, Dara tak kunjung berhenti berbicara. Ia sangat senang dengan kehadiran Saka.


Saka tersenyum melihat gadis di sampingnya tersenyum ceria seperti itu. Tapi senyumnya tiba-tiba lenyap mengingat apa yang akan ia katakan nanti tentang kekasih gadis itu, si Nanta berengs*k! Saka masih kesal di buatnya.

__ADS_1


__ADS_2