Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c12


__ADS_3

Nanta sedang berada di cafe bersama teman-temannya. ini hari ke empat tanpa Andara, semalam Andara bilang jika dia sedang di bandara Ataturk, sedang menunggu keberangkatan ke bandara Schiphol, Belanda.


"woi, ngapain Lo bengong?" ejek teman-teman Nanta, mereka tau jika Andara sedang keluar negeri.


"udah entar juga balik kok dia." ujar Bian pada Nanta sambil menepuk bahunya.


"apa'an sih Lo pada. gue cuma kepikiran, takut Dara drop karena kecapean." jelas Nanta yang malah membuat teman-temannya makin menggodanya.


Mereka habis ada kuis pagi ini, jadi sebelum kelas selanjutnya mereka menyempatkan untuk ngopi di cafe ini. tapi tiba-tiba ada yang memanggil Nanta dari pintu cafe. seorang wanita berhijab, dengan senyum manis ke arah rombongan mahasiswa itu.


"eh Nanta Lo di panggil cewek cantik tuh." Bian memperjelas suasana yang sedikit tak enak di hati Nanta.


Wanita berhijab yang tak lain adalah Nadia. dia berjalan menghampiri Nanta.


"eh Nad, kamu ada apa ke sini?" tanya Nanta heran.


"em aku nyari kamu, tadi ke fakultas kamu tapi kata temen kamu ada di sini." ujar Nadia malu karena ternyata Nanta sedang ngumpul bersama temannya. tadinya ia reflek memanggil setelah melihat orang yang di carinya.


"oh kamu ada apa nyari aku? oh ya sini duduk." Nanta menggeser duduknya agar Nadia bisa duduk.


Tapi bukannya menerima tawaran Nanta, Nadia malah mengajak agar bisa berbicara berdua saja. awalnya Nanta menolak, beralasan jika kelasnya di mulai sebentar lagi. tapi Nadia tetap memaksa dengan alasan hanya sebentar.


Nanta menggaruk rambutnya pelan karena merasa canggung. Nadia bersikap seolah-olah mereka sangat akrab. ia takut membuat teman-temannya nanti salah paham. tapi apalah di kata, Nadya sangat memaksa. Nanta yang tidak enak untuk terus menolak pun mengiyakan. mereka duduk di meja dekat pintu.


Nadia memesan minuman, kemudian menanyakan pesanan Nanta. tapi Nanta yang tak ingin terlalu lama bersama Nadia ia tak memesan apapun. Nadia tetap memasang wajah ramahnya, begitupun Nanta meskipun ia tak merasa nyaman.


Tak ada yang memulai pembicaraan, hingga Nadia pun membuka suara.


"Nanta, aku udah fikirin tentang yang kamu bilang kemarin. em aku menerima perjodohan Kita." Nadia berbicara dengan malu-malu.


Nanta kaget, ia fikir Nadia akan mengerti. karena jika di lihat dari cara berbicaranya, Nadia wanita yang dewasa. ia kecewa, ternyata penampilan tidak bisa menggambarkan hati seseorang.


"aku pikir kamu akan mengerti Nad, tapi ternyata nggak!" Nanta berdiri hendak beranjak dari sana. tapi tanggannya di tahan oleh Nadia.


"aku suka sama kamu, apalagi melihat dari cerita kamu, kamu sangat menyayangi gadis itu. aku yakin kamu akan jadi imam yang baik untukku." jelas Nadia cepat, ia tak mau Nanta salah paham dan semakin menjauhinya.


"kamu salah, aku sayang sama dia karena dia kekasihku. belum tentu jika itu orang lain." ucap Nanta dengan penuh penekanan.


"kamu juga akan begitu nanti. kita hanya perlu saling mengenal lagi Nanta." Nadia tidak ingin perjodohannya batal.


"ternyata kamu egois Nad, aku salah menilai mu!" Nanta pergi dari sana dalam keadaan marah dan kesal. sedangkan Nadia hanya memandang kepergian Nanta.


Jika membatalkan perjodohan ini melalui Nadia gagal. maka ia harus berbicara langsung pada orang tuanya. Nanta tidak memasuki kelas kedua. ia langsung menuju lapangan basket yang ada di dekat apartemen Andara.


Di sini adalah tempat pertama ia mengajarkan Dara naik sepeda. karena lapangan ramai saat sore dan malam hari. mereka mengambil waktu sangat pagi untuk belajar sepeda. sebelum sekolah setiap seminggu dua kali Dara akan belajar sepeda dengan latihan yang di selingi canda tawa, karena Andara tak pernah naik sepeda sebelumnya ia sangat susah untuk mengontrol keseimbangan.


Nanta tersenyum mengingat betapa lucunya Andara saat selalu terjatuh dari sepeda padahal teman seusianya sudah belajar naik motor atau mobil. gadis itu masih sibuk belajar sepeda. Nanta mengambil bola basket yang tergeletak di sana. memasukkan beberapa lemparan dari jarak cukup dekat. bayangan Dara yang selalu menyemangatinya saat dia latihan. bayangan ketika Andara minta di ajari memasukkan bola ke dalam ring. tak ada, tak akan ada yang bisa menggantikan Andara di hidupnya.


......


Andara baru terbangun pukul 09.15 a.m.


itupun karena di bangunkan mbak Tia untuk sarapan. semalam mereka tiba di bandara Schiphol sekitar pukul 11.00 p.m.


"mbak Tia nanti kita ada pemotretan jam berapa?" tanya Andara sambil mencomot makanan di meja, yang langsung mendapat tepukan di tangannya.


"cuci muka dulu, em jadwal pemotretan nanti siang jam satu. kita akan ada pemotretan di Kanal Amsterdam."

__ADS_1


"wah keren dong mbak. tapi kemaren katanya di desa kinderdijk." Dara menikmati makanannya sambil fokus mengecek hpnya.


"gak jadi, tadi asisten pak Cokro hubungi gue. katanya terlalu jauh, sedangkan kita harus segera pindah lokasi."


"masak sih jauh, kayaknya itu 15km dari kota Rotterdam."


Dara memang pernah ke sini tapi ya seperti yang di ketahui, ia ke sini untuk pemotretan. jelas ia tak punya waktu banyak untuk menjelajahi banyak tempat.


"ye Lo kira, dari Amsterdam ke Rotterdam aja butuh waktu sekitar 1 jam lebih belum ke kinderdijk nya." jelas mbak Tia yang sudah paham daerah ini.


"yah padahal Dara kan pengen ke Rijksmuseum, museum seni yang terdapat banyak koleksi lukisan maestro terkenal di Belanda, bahkan seniman lain dari berbagai negara." Dara sangat menyayangkan mereka tidak jadi kesana.


"udah, lain waktu ajak aja Nanta ke sini. lagian kan tadi bahas desa kinderdijk, kok sekarang Rijksmuseum.?" usul mbak Tia, untuk Rijksmuseum itu karena dia tau Dara sangat mengagumi karya lukisan.


Jelas saja Dara kan pelukis. bahkan mbak Tia yang tidak begitu paham lukisan saja, jadi suka, karena Dara bisa menghadirkan emosi dalam setiap lukisannya.


"iya gak papa, liat aja Dara bakal ke sana nanti. sepeda'an bareng kak Nanta, soalnya Dara sering liat di YouTube kayaknya asik liat mereka pada sepedaan di kelilingi kincir angin. uhh Dara gak sabar mbak." heboh Dara.


"udah gak usah ngimpi, cepet di abisin entar kita telat bisa di marah." Dara yang mendengar Omelan mbak Tia jadi cemberut kesal. wajar dong bayangin kebersamaan bareng pacar.


"Dara kagum mbak sama bangunan Rijksmuseum, yang arsitektur nya bergaya Belanda dengan elemen neo-gothic."


Dara masih ingin membahas masalah museum. sedangkan mbak Tia dia kesal karena Andara tak segera menyelesaikan makannya.


"Dara, kita bisa telat dan ketinggalan rombongan untuk sampai Kanal nanti." marah mbak Tia pada Dara.


"iya-iya mbak." Dara buru-buru menyelesaikan makannya. dengan menatap mbak Tia dengan wajah memelas. ia enggak mau mbak Tia marah. bahaya!


semua sudah siap untuk berangkat ke tempat pemotretan. para kru bahkan sudah bersiap di sana.


........


Mereka selesai pemotretan jam 4 sore, Andara dan yang lainnya sudah sangat lelah. Tim mempersilahkan untuk para talent kembali ke hotel untuk beristirahat. karena besok mereka akan pindah lokasi pemotretan di Frisian island. mereka besok akan berangkat jam 3 pagi waktu Amsterdam.


Dara melepas lelah dengan berendam di bathtub, sambil mendengarkan musik favoritnya. lilin aromaterapi terapi membantu pikirannya menjadi lebih rileks. Dara senang dan bersyukur, setidaknya ia masih bisa bekerja sedangkan orang lain di luar sana pontang-panting ngelamar pekerjaan.


Meskipun di usianya seharusnya ia asik nongkrong di cafe bareng temen-temen. ke mall belanja tanpa harus mikir cari uang. belajar tanpa harus mikir gimana cara bayar sekolah. ah dia tak mau terus membanding-bandingkan hidupnya dengan orang lain. beruntung ia mempunyai teman yang hidup berkecukupan tapi tak pernah menilainya rendah. mau berteman dengannya yang selalu sibuk bagi waktu sekolah dan bekerja.


Karena terlalu lama berendam mbak Tia jadi khawatir. ia tak mau Andara kena demam karena di saat fisiknya lelah malah berendam Berjam-jam.


"Dara, Lo masih idup kan?" teriak mbak Tia dari luar.


Dara tak menjawab, tentu itu membuat mbak Tia jadi gelisah.


"Dara buka pintunya. kalo gak di buka, gue dobrak nih." ancam mbak Tia yang berhasil mendapat respon dari Andara


"iya mbak ini udah kok."


Mbak Tia kesal melihat wajah tanpa rasa bersalah dari Andara. ia mengambil bantal dan melempar itu tepat kena kepala Andara.


"ih mbak Tia sakit tau." Dara meringis karena kerasnya hantaman bantal yang mengenai kepalanya membuat dirinya hampir terjatuh.


"udah buru pake baju, terus istirahat entar gue bangunin." mbak Tia berbicara sambil berlalu keluar kamar.


"Lo mau kemana mbak?" teriak Dara cepat.


"mau jalan-jalan dong." jawab mbak Tia songong.

__ADS_1


"oh iya kalo mau hubungi Nanta atau Saka, mending cepetan. karena perbedaan waktu sini sana Jakarta itu sekitar 6 jam. keburu tidur entar mereka." jelas mbak Tia panjang, lalu berbalik pergi.


Dara langsung buru-buru memakai baju. ini sudah jam setengah 6 sore, berarti di sana udah setengah 12 malam. jelas biasanya mereka sudah tidur. Dara berharap mereka tidak tidur cepat malam ini.


Pertama Dara menghubungi Nanta, karena ternyata Nanta sudah sedari tadi menghubunginya. tapi setelah beberapa kali menelpon tak ada tanda-tanda akan di angkat. ia sedikit sedih. Dara tak tahu saja, dari tadi Nanta juga sedang menunggu balasan telpon dari Andara. bahkan sampai ketiduran, Nanta padahal sangat membutuhkan suara Andara untuk merilekskan pikirannya yang sedikit ruwet.


Karena tak mendapat respon, Dara beralih menelpon Saka.


Tut Tut


'hallo'


"hallo, Saka Lo udah tidur ya?" tanya Andara antusias, karena masih bisa bicara dengan Saka.


'iya Lo ganggu tau enggak.' jawab Saka yang langsung membuat Dara kesal.


Padahal sedari tadi Saka tidak bisa tidur, hanya karena menunggu telepon dari Andara.


ia yakin, Dara akan menghubunginya, karena Andara memang biasa menelponnya di manapun saat dia tidak lagi sibuk.


"Saka gue capek, badan gue pegel-pegel." keluh Dara sengaja.


'iya nanti kalo dan pulang gue panggilin tukang pijet.'


Saka berbicara cuek saja, padahal di sana ia sampai berdiri dari duduk karena tak mau melewatkan suara Andara sedikitpun. tak ada hubungannya sih tapi tetap saja Saka senang.


"kok tukang pijet? mana gue besok masih ada pemotretan lagi terus sorenya ke Venesia." curhat Dara yang sebenarnya membuat Saka kesal.


'kalo cape ya pulang lah, repot amat.'


"ya kalo pulang sekarang bukan dapet duit, malah gue yang musti bayar pinalti." sewot Dara kesal. bisa enggak sih Saka gak ada usah becanda.


'iya udah pokoknya gue gak mau tau, Lo gak boleh sakit titik!'


putus Saka karena sebenarnya ia tak tega. membiarkan Andara berjuang di luar sana sendirian.


"iya, aku punya mbak Tia yang super duper galak kok." entahlah apa hubungannya tapi saka mengerti, ia juga mengenal mbak Tia orang yang memperkenalkan Andara dengan dunia permodelan.


'iya udah kamu istirahat ya, makan yang bener, jangan terlalu cape oke?'


"iya Saka, btw gue mau tidur nih, Lo juga kan? nyanyi ya Ka." Dara ingin mendengar suara merdu Saka, untuk membawanya terlelap.


'iya tapi tidur ya?' jelas Saka


"iya cepetan."


Saka menyanyikan lagu 'ambilkan bulan bu' iya lagu yang biasa di nyanyikan anak-anak itu. Dara bilang saat kecil ia sangat ingin di nyanyikan lagu itu oleh mamanya. tapi ia tak tau sebenarnya pernah tidak mamanya menyanyikan lagu tidur untuknya. jadilah saat Dara ingin dinyanyikan lagu saat mau tidur, berarti Saka harus menyanyikan lagu itu.


Saka tak keberatan. Dara adalah gadis polos yang berbeda dengan gadis lainnya. ia akan berusaha keras membuat Dara tersenyum dan menjaganya. termasuk Dari Nanta jika laki-laki itu memutuskan untuk menyakiti Dara.


Mereka menatap langit yang sama dengan keadaan yang berbeda dari jendela kamar mereka. Dara menatap langit senja di kota Amsterdam sedangkan Saka menatap langit malam di kota Jakarta.


Jika Nanta selalu menyebut nama Andara dalam setiap doa. maka Saka menjaga senyuman Andara dengan caranya. jika Nanta menjaga Andara melalui sujudnya. maka Saka mencari cara agar dirinya selalu ada untuk Andara.


Andara punya mereka berdua yang tulus menyayangi Andara dengan cara yang berbeda. Nanta kekasih yang sedang berjuang untuknya. Saka sahabat yang selalu ingin ada untuknya.


Andara tertidur lelap ia harus siap menyambut hari esok tanpa rasa lelah.

__ADS_1


__ADS_2