Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c46


__ADS_3

Kesunyian malam menemani dua lelaki yang sudah putus asa, mereka mencari dimanapun kemungkinan Andara berada, bahkan saat ini mereka sedang berdiri di depan rumah megah milik orang tua Andara. Hanya Saka dan Nanta yang tahu alamat rumah ini.


Mencari selama hampir tiga jam, membuat mereka sedikit putus asa. Sedari tadi Saka sudah mencoba untuk menghubungi ponsel gadis itu. Namun, hanya balasan operator jika nomor yang di hubungi sedang tidak aktif.


"Keknya kita balik dulu deh Ka." Vian yang sebenarnya sudah sangat lelah sudah tidak kuat lagi berkeliling di tengah malam mencari keberadaan gadis itu.


"Gue khawatir! dia kemana sih!" ucap Saka tertahan.


"Atau kita lapor polisi aja Ka?" usul Vian yang di tanggapi Saka dengan sorot mata tajam.


"Gue yakin Andara gak papa, tapi gue bingung aja dia di mana! jadi gak udah bawa polisi dulu sebelum kita selesai mencari!"


Vian tak berani membantah, ia menyandarkan kepalanya pada dinding pagar rumah megah itu. Mereka pasti akan dikira maling jika tak kunjung pergi dari situ.


"Ka rumah semegah dan sebesar ini apa gak sepi ya? di tambah putri satu-satunya kabur dari rumah?" tanya Vian yang sebenarnya lebih ke heran dan kagum dengan rumah di balik pagar tempatnya bersandar.


"Andara punya misteri yang gue juga gak paham. Pertama, ia putri tunggal dari pengusaha terkenal tapi tidak bahagia dan memilih tinggal sendiri. Kedua, Dara bilang warna mata birunya hanya miliknya, orangtuanya tak memiliknya. Yang ketiga, akhir-akhir ini ada pengirim buket bunga misterius ke apartemennya dengan pesan bertuliskan bahasa asing, pokoknya rumit!" jelas Saka lebih ke frustrasi karena Andara belum ditemukan.


"Hah, gue jadi makin khawatir deh Ka sama Andara," Vian jadi resah.


"Udah tunggu di apartemen dia aja kuy, ikut gak?" tanya Saka pada laki-laki yang sudah terlihat sangat lelah itu.


Vian mengangguk, ia seharusnya pulang dari tadi. Tapi, entah kenapa ia ingin ke apartemen Andara dan ternyata gadis itu menghilang. Mereka melajukan motor masing-masing membelah jalanan sepi menuju ke apartemen gadis cantik yang entah ada di mana.


Saka melewati malam tanpa tidur, meski memejamkan mata namun dirinya tidak bisa terlelap. Sedari tadi ia sudah mencoba meminta tolong pada temannya yang adalah seorang hacker, namun tak kunjung mendapatkan kabar darinya.


Denting waktu yang hampir membuatnya menyerah, namun saat ini ialah yang bersalah. Tentang Nanta yang telah menikah, harusnya ia bisa lebih sabar memberitahukan pada gadis itu. Menutup matanya dengan lengan dengan posisi duduk bersandar di sofa depan tv. Baju kemeja yang telah terbuka semua kancingnya dan rambut yang terlihat acak-acakan.


Hingga menjelang pagi,Vian terbangun oleh suara berisik dari dapur. Ia keluar dari kamar menghampiri suara itu. Terlihat laki-laki yang tampak kacau sedang memasak mie instan.


"Lo gak tidur?" Vian menghampiri kulkas untuk menyegarkan tenggorokannya.


"Gue dah dapet informasi tentang Andara, tapi sialnya dia sekarang ada di Bandung!" Saka mengucapkan setiap kata dengan penekanan.


"Lah bagus dong, berarti kita bisa susulin dia."


Saka menoleh sekilas lalu melanjutkan menuangkan bumbu mie di piringnya.


"Dara gak punya siapa-siapa di sana kecuali Nanta!" jelasnya dengan suara yang lebih santai.


"Lah dia ke rumah pacarnya, kita gak perlu khawatir lagi dong Ka," ucap Vian yang langsung ikut duduk di meja makan, karena Saka membuat mie bukan hanya untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Masalahnya Nanta sudah menikah!" Saka menghela napas di akhir kalimat yang di ucapkannya.


"Seriusan Lo? terus Andara gimana?!" Vian terkejut juga panik, karena ia pun mengetahui jika gadis itu sangat mencintai kekasihnya.


"Dia pasti minta kejelasan, dan dia ingin menyelesaikan masalah ini sendiri. Gue gak habis pikir Dara senekat itu datang ke Bandung!" Saka melahap mie-nya dengan lahap seakan melampiaskan kekesalannya.


"Gue no coment! berarti kita nunggu dia balik ke Jakarta?" tanya Vian sambil mengaduk-aduk mie di piringnya.


Saka tak menjawab, ia pun juga tak mengerti. Saka juga terkejut saat temannya memberitahukan jika Andara tidak landing ke Jakarta, tapi malah ke Bandung. Saka hanya takut jika nanti ada pertikaian, ia khawatir dengan kondisi Andara yang pasti sedang down saat ini.


..........


Suasana di Bandung saat pagi hari juga sama bisingnya dengan Jakarta. Di sebuah rumah juga sedang di sibukkan dengan kegiatan bersiap-siap untuk menghadiri acara pernikahan anak tante Maya.


Abi dan Umi telah selesai bersiap dengan pakaian sederhana namun nampak elegan. Nanta juga sudah bersiap dengan kemeja warna maroon yang kebetulan sama dengan warna baju Nadia. Mereka tersenyum canggung karena tak menduga akan memilih warna sama. Dara masih belum juga keluar dari kamarnya.


Mereka menunggu Andara selesai dengan minum teh dan makan cake yang baru di buat Umi. Dara masih sibuk membongkar isi kopernya. Ia memiliki banyak baju bagus, namun untuk moment ini ia merasa bajunya tak nampak bagus lagi di matanya.


Sudah lima stel baju yang ia coba, namun tak kunjung mendapatkan yang pas. Ia mendesah di depan cermin, dengan rambut kusut dan wajah polos tanpa make up.


Dara melihat pada tumpukan baju di atas ranjang, ia ingin tampil cantik dan terlihat dewasa agar tidak di anggap anak-anak nanti di pesta. Sepertinya Andara salah memahami makna pesta yang di maksud Umi, ia mengira pesta itu seperti pernikahan artis atau pesta mewah yang biasa ia hadiri bersama mbak Tia.


"Ra, kamu dah siap belum sayang?" tanya Seseorang di depan pintu kamarnya


"Bentar lagi kak, Dara lagi make up!" teriak Andara panik.


Nadia pura-pura tak mendengar, ia langsung membantu Umi membawa kue yang akan di berikan sebagai buah tangan. Umi dan Abi hanya saling melihat dan mengangkat bahu acuh, mereka mulai terbiasa dengan suasana seperti itu.


Pilihan Andara jatuh pada gaun berwarna putih selutut, berlengan panjang dan terlihat sangat cocok di kenakannya. Ia memperhatikan bayangannya di cermin, memoles wajahnya dengan makeup flawless, rambut di urai namun bagian depan di jepit ke belakang. Andara terlihat sangat cantik terlebih manik birunya akan menghipnotis setiap yang melihatnya.


Ia keluar dengan tas Selempang bewarna hitam dengan merk terkenal, Umi dan Abi hanya menoleh ke arahnya sekilas, sedangkan Nadia memberikan senyum tulus ke arahnya. Tapi, Nanta memandangnya dengan pandangan memuja seperti biasa.


"Aku sangat beruntung bisa melihat bidadari cantik di rumah ini," bisik Nanta pelan di telinga Andara.


Rona merah di pipinya menunjukkan jika apa yang di bisikan Nanta pasti membuat Andara tersipu. Nadia masih pura-pura tidak melihat dan menyusul Umi yang sudah lebih dulu keluar.


Mereka semua sudah masuk ke dalam mobil siap untuk berangkat, Nanta sebagai supir dan di sebelahnya ada Abi sebagai penunjuk jalan. Di belakang ada Umi dengan posisi berada di antara dua wanita muda yang sedang memperebutkan puteranya.


Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Suasana ramai menunjukkan jika acara pernikahan akan segera di langsungkan. Umi segera menggandeng Abi berjalan paling depan.


Nadia berdiri di sisi suaminya, namun sang suami hanya berdiri diam sedang menunggu Andara yang cukup kesulitan dengan hak tingginya. Andara salah mengira jika pernikahan dilangsungkan di sebuah gedung, karena acara berada di kediaman mempelai wanita, dengan pelataran tanah liat yang di tumbuhi rumput yang tertata rapi.

__ADS_1


"Kakak duluan aja deh Dara nyusul aja, tas Andara ketinggalan di mobil." Andara menengadahkan tangannya meminta kunci mobil.


Dengan wajah cemberut Nanta menyerahkan kunci mobilnya, ia kesal karena takut jika tidak bersamanya nanti Dara akan di lirik lelaki lain. Dara yang terlihat paling cantik dan asing akan menarik perhatian dari tamu undangan lain.


Nadia mengangguk ketika Andara menyuruhnya untuk berjalan duluan bersama Nanta. Mereka memasuki sebuah halaman yang sudah di dekor cantik untuk pernikahan. Sudah ada pihak keluarga dari Mempelai laki-laki yang siap menyaksikan acara sakral ini.


"Eh Nanta sini nak!" panggil tante Maya ke arah laki-laki tampan yang sedang celingukan mencari orangtuanya.


Pandangan tante Maya sempat terarah pada wanita berhijab yang berdiri di sebelah laki-laki tampan yang adalah keponakannya itu. Nanta pun menghampiri tantenya itu bersama Nadia yang mengikuti di sebelahnya.


"Tante rindu banget loh sama kamu! udah lama gak ketemu kan?" Nanta mencium tangan tante Maya takjim bersamaan dengan Nadia yang mengikuti apa yang dilakukannya.


"Nanta juga rindu sama tante, si Vira mana deh Tan?" tanyanya mencari keberadaan sepupunya itu.


"Dia nunggu di kamarnya lah, menunggu calonnya resmi jadi suami!" gurau tante Maya yang di tanggapi tawa oleh Nanta.


"Ayok tante kenalin sama calonnya Vira!" ajak Tante Maya pada Nanta.


Mereka mendekati seorang lelaki yang berpakaian pengantin dengan senyum bahagia menghiasi wajahnya. Nanta ikut tertular senyum bahagia dari sang pengantin ketika melihat laki-laki itu tersenyum ke arahnya.


"Nah, ini namanya Rizal, Zal ini sepupunya Vira namanya Nanta!" seru tante Maya memperkenalkan keduanya.


Nanta saling berjabat tangan menyambut uluran tangan dari calon suami sepupunya itu. Pandangan Rizal terarah pada wanita berhijab di samping Nanta, seakan mempertanyakan siapa wanita itu lewat pandangannya.


"Hallo tante Maya, kak Rizal. Saya Nadia istrinya Nanta!" Nadia menjawab sorot mata kebingungan dari dua orang di depannya.


Tante Maya terkejut, ia tidak mengetahui jika keponakannya itu telah menikah. Bahkan ia menutup mulutnya saking terkejutnya. Nanta tak ikut menanggapi hanya diam karena belum ingin membahas masalah pernikahannya pada keluarga besarnya.


"Hallo Nadia, wah kalian pasangan yang serasi!" ujar Rizal ramah.


Mereka melanjutkan pembicaraan tanpa tahu jika ada gadis lain yang juga terkejut, ia memang sudah tau dari Saka, juga sudah menebak karena Nadia tinggal bersama di rumah Abi, tapi ia tetap terkejut ketika mendengar sendiri hal itu dari Nadia yang tak mendapat bantahan dari kekasihnya. Setiap ia akan menanyakan pada Nanta, rasanya bibirnya jadi kelu sehingga tak pernah terucap pertanyaan itu.


Tersenyum kecut, ia hanya bisa berpura-pura tidak mendengar lalu melangkah menghampiri mereka. Mengacuhkan pandangan memuja yang terarah padanya, karena mungkin ia satu-satunya orang asing di sini yang juga mencolok mata.


_____________


**Penulis akan sangat menghargai setiap like dan komen yang di berikan pembaca, karena dengan ketersediaan kalian untuk meninggalkan jejak di cerita ini membuat penulis lebih bersemangat lagi 😉.


terus ikuti kelanjutan dari novel ini yah


happy reading 😘**

__ADS_1


__ADS_2