
Malam itu Dara tidak kembali ke kamarnya, ia sudah jatuh tertidur menempati hampir seluruh bagian ranjang, Saka mengalah dengan tidur di sofa. Saka sengaja ingin memberi kejutan dengan kedatanganya, selain itu juga karena tugas menyelidiki Nanta sudah selesai, tinggal bagaimana ia akan menyampaikan pada gadis itu nanti.
Pagi yang gaduh karena Andara di marah oleh mbak Tia, mereka berdua bangun kesiangan. mbak Tia harus membangunkan mereka dengan amukan. Pasalnya Andara tidak boleh terlambat sampai di lokasi pagi ini.
Dara mandi dengan cepat, bahkan Saka yang ikut kembali ke kamar Dara bersama Mbak Tia pun tidak yakin apakah gadis itu benar-benar mandi. Kaki jenjangnya melangkah ke sana ke mari membuat Saka pusing.
"Lo kan udah tinggal pake jaket terus berangkat. Make up juga nanti di sana kan? gak usah lari-lari Andara!" kesal Saka karena hampir saja Andara terjungkal tersandung karpet.
"Udah buru ambil tas lo! gue tunggu di bawah!" ujar mbak Tia meninggalkan kamar terlebih dahulu.
Mbak Tia sudah menyiapkan semua yang di butuhkan, menunggu di bawah bersama para talent lain.
"Ka gue berangkat ya! noh kalo keluar kamar jan lupa di kunci!" teriak Andara meninggalkan Saka di kamarnya.
Saka hanya memutar bola matanya malas, lalu beranjak merebahkan dirinya ke kasur. Saka tertidur di kamar Andara hingga menjelang siang. Itu pun ia bangun karena merasa lapar, perutnya meronta-ronta ingin di puaskan.
Saka kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap keluar mencari makan. Saka melirik ke arah kasurnya yang masih berantakan, terlihat ada benda mengkilap di tumpukan selimut. Saka meraih benda mengkilap itu, yang sebuah gelang kaki. Mungkin milik Andara pikirnya yang langsung memasukkan benda itu kedalam saku celananya.
Saka langsung menaiki taksi pesanannya. Taksi itu mengarah ke pantai, Saka berniat mencari makanan di sekitar pantai. Menghubungi teman-temannya yang lain, ternyata mereka saat ini juga sedang packing untuk terbang nanti malam.
.......
Dara masih di lokasi, dia akan selesai setelah sebentar lagi. Tapi sedari tadi ia sangat tertarik dengan galeri lukisan yang terlihat dari tempatnya pemotretan. Jiwa seninya seakan meronta ingin di puaskan.
Dara sudah hampir satu bulan vakum melukis. Tangannya sudah gatal ingin menggoreskan warna dalam kanvas putih. Pikirannya bahkan sudah tergambar banyak hal yang sedikit menganggu fokusnya.
"Dara, coba lebih berekspresi lagi. Seakan sungguh ada seseorang di belakangmu." arahan photographer muda yang namanya sudah cukup di kenal di Indonesia.
Dara mengembalikan fokusnya, menunjukkan ekspresi yang di minta. Dia saat ini sedang di photo dengan pakaian khas gadis Bali. Tujuan dari pemotretan ini adalah mempromosikan Hotel mewah yang baru diresmikan berapa bulan lalu.
Para talent yang di pakai juga para model profesional, Andara termasuk model papan atas yang sudah ikut tour keliling Eropa. Dia jadi fokus utama dalam pemotretan ini.
Waktu berlalu hingga Andara cukup lelah, saat ini ia sedang makan siang. Masih dengan menggunakan pakaian khas gadis Bali ia makan dengan lahap, perutnya sudah sangat lapar dari tadi.
"Mbak nanti balik duluan aja ke Hotel, Dara masih mau keliling di sekitar sini."
"Ya, tapi tetep gak boleh capek-capek ya, mbak juga memang harus cepet balik ke Jakarta," jawab mbak Tia yang sedang membereskan barang-barang.
__ADS_1
"Kok cepet banget, kemaren katanya balik malem!"
"Iya, ada perubahan rencana. Ya udah kamu habiskan makanannya, mbak balik duluan ya." mbak Tia memeluk Andara dan langsung berlalu pergi.
Andara juga segera menyelesaikan makannya. Dengan cepat mencuci tangan dan langsung menuju ke depan halaman Hotel, di sana ada galeri besar yang berisi banyak lukisan dan beberapa pigura indah.
"Sungguh memanjakan mata," gumamnya pelan melihat takjub dengan apa yang ada di depannya.
Kakinya melangkah masuk lebih dalam lagi, semakin ke dalam matanya semakin takjub. Ia yakin jika pemilik galeri seni ini adalah seorang pecinta seni berkelas.
Matanya terpaku pada lukisan malam dengan objek perempuan yang hanya memperlihatkan punggungnya, rambut panjang yang terkepang, dan Gaun bewarna merah yang menyala.
Tangannya tergerak untuk menyentuh, lukisan itu memberikan rasa yang begitu mendalam.
"Dia bulan."
Dara melirik ke samping pada sosok laki-laki berumur 40-an yang juga menatap dalam pada lukisan di depannya.
"Dia kesepian!" ujar Andara spontan.
"Wah, kau memiliki pemahaman yang bagus!" puji orang itu tersenyum ramah.
"Ya, lukisan ini saya buat empat tahun lalu. Dia seorang wanita baik yang kuat namun rapuh!"
"Kau ingin mendengar kisah di balik lukisan ini?" tanyanya yang mendapat anggukan dari Andara.
Mereka berjalan menuju kursi samping yang menghadap langsung ke pantai. Bapak itu menyuruh seseorang orang membuatkan teh untuknya.
"Namaku Nyoman Mudiarcana. panggil saja Nyoman."
"Saya Andara, saya sudah sangat terhipnotis dengan tempat ini begitu melihatnya." Dara mengatakan kekagumannya.
"Kau penyuka seni?" Andara mengangguk menanggapi.
"Jarang sekali ada anak muda yang mengagumi seni lukisan. Anak saya saja tidak mau untuk mengikuti jejak saya untuk jadi pelukis."
"Mungkin bukan passion-nya pak." jawab Andara bergurau. Wajah ramah milik pak Nyoman ini membuat mereka bisa mengobrol dengan santai.
__ADS_1
"Ya, bisa jadi. Dan untuk lukisan yang kita lihat tadi, itu adalah wanita cantik yang terpenjara dalam pernikahan. Ia mengabdikan seluruh hidupnya untuk sang suami. Namun cintanya tak pernah terbalas, bahkan hingga mereka mempunyai seorang anak pun dia masih tak pernah mendapatkan cinta dari suaminya. Kehidupan pernikahan mereka hanya memberikan luka pada sang wanita. Kesepian itu adalah makna dari lukisan tadi!" Cerita Nyoman sambil menerawang jauh pada kisah itu.
"Maaf, apakah..." belum juga Dara melanjutkan pertanyaannya, Nyoman sudah menjawab terlebih dahulu.
"Ya, itu kisah Bulan yang kesepian di antara gemerlapnya bintang di langit malam. Dia istriku yang sudah meninggal lima tahun lalu." bulir air menetes mengingat sang istri.
Dara mencoba memahami kisah mereka, karena yang terlihat di matanya adalah pak Nyoman sangat merindukan istrinya. Ada kilau sendu di mata pak Nyoman ketika laki-laki itu menyebut nama istrinya.
"Aku terlambat menyadari, dia telah pergi ketika aku sadar akan kehadirannya yang sudah masuk jauh dalam hatiku." pak Nyoman tersenyum miris mengatakannya.
Dara dapat merasakan penyesalan itu, pak Nyoman terlambat tau jika dia telah jatuh hati pada istrinya sejak lama. Dia sadar setelah kepergiannya. Pantas saja lukisan itu juga terlihat begitu dalam, karena ada kisah tragis di dalamnya.
Dara sedikit berbincang membahas beberapa lukisan lain di situ, lalu pamit pulang. Ia memutuskan berjalan kaki karena jarak Hotelnya tidak jauh dari situ. Menikmati pemandangan pantai yang nampak dari jalan tempatnya berdiri. Masih terngiang ketika pak Nyoman memperlihatkan penyesalan yang dalam terhadap istrinya.
Kadang waktu ingin menghukummu, kadang juga kita tidak sadar jika waktu di depan sana tak lagi menunggumu, maka kejar apa yang bisa di kejar dan lepas apa yang harus di lepas.
Di gerbang depan Hotel ia berpapasan dengan Saka yang baru turun dari taksi. Dia berlari menubruk lelaki itu, menggandeng lengannya manja.
"Kok baru pulang sih?"
"Aku mampir dulu tadi ke galeri seni tadi."
Mereka masuk ke Hotel bersama, saling menggoda dan meledek satu sama lain. Kesedihan yang tadi ikut Dara rasakan ketika mendengar kisah pak Nyoman, lenyap seketika terbawa suasana yang di berikan Saka.
Mereka masuk ke kamar masing-masing, dan berjanji bertemu saat makan malam. Pukul sepuluh nanti mereka akan menjemput teman-temannya di bandara.
Dara melepas lelah dengan menikmati waktu berendam di bathtub, lengkap dengan aroma terapi yang menenangkan. Sedangkan Saka memilih tidur sejenak mengistirahatkan badannya, berjemur di pinggir pantai dengan di suguhi pemandangan turis yang berlalu lalang dengan bikini membuatnya merasa lelah, aneh memang tapi itu kenyataannya.
Di tempat lain Nanta sedang bersiap pulang ke Bandung bersama Nadia, atas perintah orangtuanya. Nadia dengan telaten membantu Nanta memasukkan bajunya ke koper, sedangkan Nanta masih sibuk dengan tugas kuliah yang harus di selesaikan sebelum keberangkatannya. Mereka akan pulang bersama untuk pertama kalinya.
Nadia tersenyum senang, dia akan mengunjungi rumah mertuanya. Nadia berharap kepulangan mereka ini nantinya bisa membuat Nanta sadar jika sekarang ia sudah memiliki istri. Meskipun mereka belum melakukan hubungan suami-istri, tapi sedari kemarin Nanta bersikap baik terhadapnya.
Hal itu membuat Nadia jadi yakin, ini karena Andara berada jauh dari mereka. Ia yakin jika terus seperti ini, dia akan bisa membuka hati Nanta untuk dirinya. Sudah sewajarnya seorang istri mengharapkan kasih sayang dari seorang suami. Dan hal itu yang sedang di lakukan Nadia, berusaha mengambil hati suaminya.
Tanpa di ketahui Nadia, jika sebenarnya Nanta sedang setengah mati menahan rindu terhadap gadis kecilnya. Bahkan sesekali matanya melirik ponsel berharap ada pesan masuk dari Andara. Hari ini Andara hanya menghubunginya sebentar, padahal ia masih ingin mendengar suara manja dari kekasihnya itu.
Mereka sedang berada dalam suatu labirin, dan belum diketahui jalan mana yang akan mempertemukan di antara mereka. Akankah cinta yang menang atau takdir itu sendiri yang menentukan.
__ADS_1
_________________
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like n coment di bawah sini. Author akan sangat menghargai apresiasi pembaca. Bari author semangat please. 😉