
Sudah seminggu Andara tanpa kabar, Saka tak bisa menunggu lagi. Saat ini ia memacu motornya cepat menuju ke tempat usaha Nanta. Dari sana ia mendapat info di mana tempat tinggal Ananta dari Bimo rekan kerja Ananta yang juga sahabat Nanta.
Remaja laki-laki itu tidak sedikitpun menunjukkan senyum di wajahnya. Dia sudah tidak ingin lagi beramah-tamah. Bunda dan Ayahnya sudah ingin lapor polisi, namun Saka tidak mau jika nanti Andara masuk dalam kasus pencarian orang hilang.
Saka terlebih dahulu mampir ke apartemen Andara dan seperti biasa ia akan menemukan buket bunga setiap paginya tergeletak di depan pintu Andara. Sepertinya sang pengirim juga belum mengetahui jika Andara tak ada di apartemen. Itu yang membuat Saka tak mencurigai pengirim bunga karena jika itu berhubungan dengan pengirim bunga, maka pengirim tak akan mengirimkan lagi bunga-bunga itu ke apartemen.
Langkah kakinya menuju motor di iringi pertanyaan dari Bimo. Laki-laki itu juga penasaran kenapa ada teman Andara yang menanyakan alamat Nanta. Dia sedikit mengetahui masalah Ananta, namun tidak tahu begitu jauh.
"Hati-hati bro! gak usah ngebut!" teriak Bimo ketika motor Saka mulai melaju meninggalkan halaman kantornya.
Saka menempuh jarak yang cukup jauh, ia hanya sendirian karena Vian sedang sakit. Vian menjadikan ini sebagai beban pikiran, sehingga mentalnya tak kuat dan jatuh sakit karena kurang tidur. Saka sudah tidak mau menunggu tanpa tahu apa-apa. Akan sangat bagus jika Andara benar di rumah Ananta. Tapi jika tidak maka jangan salahkan dirinya yang akan bertindak tegas.
Saka menggunakan bantuan GPS untuk menemukan alamat rumah Nanta. Sekarang ia sudah ada di depan halaman rumah yang luas dengan pagar tak tertutup. Meninggalkan motornya di luar pagar, Saka berjalan memasuki halaman rumah itu.
Saat baru di depan pintu ia dapat mendengar suara seorang perempuan sedang tertawa, ia tak mengenali suara itu. Saat tangannya terayun akan mengetuk pintu terdengar lagi suara laki-laki tertawa, ia mengenali suara yang adalah milik Nanta.
Tok tok tok
"Sebentar!" sahut orang dari dalam rumah.
Saat pintu terbuka menampakkan seorang wanita yang pernah Saka lihat bersama Nanta di Jakarta. Wanita itu sedikit tersenyum canggung saat membuka pintu dan melihat seorang remaja dengan wajah dingin meniti ke arahnya.
"Maaf mencari siapa dek?" tanya Nadia ramah.
"A.. Nanta!" Awalnya ia akan menyebutkan nama Andara tapi ia urungkan dan malah menyebut nama laki-laki brengsek yang di bencinya.
"Oh silahkan masuk," Nadia mempersilakan remaja itu untuk masuk dengan sedikit menyingkir dari pintu.
Tak banyak bicara Saka langsung masuk begitu saja, ia duduk Setelah Nadia mempersilahkannya duduk sembari menunggu wanita itu memanggil Nanta.
"Loh Ka, Lo ngapain di sini?" tanya Nanta begitu melihat tamu yang di bilang Nadia sedikit aneh karena berwajah kaku.
__ADS_1
Saka tak menjawab hanya melirik sekilas lalu menatap lurus ke depan. Nanta yang melihat gelagat Saka jadi merasa aneh, juga karena ia sedikit banyak sudah hapal dengan sikap Saka yang seperti ini, itu artinya laki-laki itu sedang marah. Namun, yang ia tidak mengerti kenapa Saka datang ke rumahnya dalam keadaan marah.
"Ini minum dulu dek!" Nadia menyajikan segelas teh hangat ke hadapan remaja laki-laki itu.
Saka masih bungkam, ia menebak jika wanita di depannya ini adalah istri dari Ananta. Bedecih dalam hati melihat keduanya bersikap seolah-olah tidak tau apa-apa. Wajahnya semakin tak enak di pandang dengan amarah dalam dadanya.
"Berhenti bermain teka-teki, Lo ada urusan apa sampe datang kerumah orangtua gue!" tanya Nanta to the point tak ingin berlama-lama melihat wajah Saka yang tertekuk itu.
"Di mana Andara?" saka mengucapkan setiap katanya penuh dengan penekanan.
"Gak usah becanda! Dara udah pulang dari enam hari yang lalu!" kali ini ganti Nanta yang berteriak.
Saat Dara ijin pulang ke Jakarta setelah balik dari acara pernikahan, Nanta mengiyakan dan akan ikut balik ke Jakarta bersama Dara. Namun, Umi melarang dengan alasan Abi sedang tidak enak badan dan butuh kehadiran Nanta di perusahaan untuk membantunya. Nanta yang saat itu tetap kekeh ingin ikut pulang ke Jakarta pun di halangi oleh Andara.
Andara butuh waktu sendiri dan tak ingin bertemu dulu dengan Nanta, alasan itu malah membuat Nanta jadi ingin pulang bersama Andara. Nanta sudah mengatakan jika pernikahannya karena permintaan almarhum kakeknya sebelum meninggal.
Dara hanya tersenyum kecut mendengar alasan itu. Kakinya tetap melangkah pergi membawa kopernya, Nanta hanya bisa menunggu hingga Andara mau menemuinya lagi. Hingga kapanpun cintanya untuk Andara tak akan hilang. Nadia hanya berdiri menggenggam tangan suaminya, ia tak tau harus melakukan apa.
"Jadi Andara gak balik ke Jakarta?" kali ini suara wanita yang sedari tadi menyimak pun ikut angkat suara.
Saka hanya mendengus saja, pikirannya melayang menebak kemana Andara sekarang berada. Nanta tak kalah kalut dengan Saka, ia pikir besok akan pulang ke Jakarta dan dapat menemui kekasihnya. Sekarang jika tidak balik ke Jakarta ke mana Andara pergi?
Melihat Nanta masih diam membeku membuat Saka semakin geram. Dia pikir Ananta adalah laki-laki dewasa yang bisa menjaga Dara, sekarang yang ada di hadapannya saat ini adalah laki-laki berengsek yang tidak punya ketegasan sama sekali.
"Gue pikir Lo bisa cepat memutuskan sebelum Andara tau, tapi Lo... malah nikahi wanita jahat ini dan duain cinta Andara!" Sudah banyak pukulan mendarat di wajah Nanta.
Laki-laki itu hanya diam menerima setiap pukulan dari Saka, ia memang salah, ia mengakuinya. Nadia yang melihat suaminya di pukuli jadi berteriak histeris. Ia tak memikirkan hinaan tentang wanita jahat, saat ini yang terpenting adalah memisahkan remaja itu dari suaminya.
Umi yang mendengar keributan langsung meninggalkan halaman belakang dan terkejut ketika melihat putranya di pukuli oleh seorang anak laki-laki.
"Hei! apa yang kau lakukan?!" teriak Umi menarik baju bagian belakang Saka.
__ADS_1
Umi menyuruh Nadia mengambil kotak obat dan berteriak kearah Saka agar menjelaskan masalahnya. Nanta masih diam dengan pikiran berkelana mengingat wajah kekasihnya.
Setelah mendengar cerita singkat dari Nadia, Umi menatap pada kedua lelaki yang sedari tadi diam saling menatap, Saka menatap penuh benci sedangkan Nanta menatap sendu dengan wajah babak belur.
"Jadi, Karena gadis itu?" pertanyaan Umi mendapatkan lirikan tajam dari Saka, kalimat itu seakan sedang meremehkan Andara.
"Begini nak Saka, Andara tiba-tiba datang ke rumah ini lalu pergi ketika ia ingin pulang ke Jakarta. Jadi dimana salah anak saya?"
"Umi!" Nanta akhirnya membuka suara ketika Umi malah membuat suasana semakin kacau.
Saka hanya tersenyum miring melihat kearah mereka, pantas saja mereka memang tidak ada yang peduli pada Andara. Percuma ia datang ke sini, tapi setidaknya ia puas membuat wajah laki-laki brengsek itu penuh memar. Saat akan beranjak pergi Ananta memohon kearahnya.
"Gue mohon! cari Andara dan tetap berada di sampingnya. Gue memang brengsek, tapi perlu Lo tahu jika gue tulus masih sayang sama dia. Gue mohon Lo jaga Andara." kata yang terucap sarat akan luka, Ananta tak lagi memikirkan apapun selain keadaan Andara.
"Cih, tanpa Lo ngomong gue pasti bakal jaga dia. Lo dan cinta omong kosong Lo itu basi, pengecut kayak Lo lebih baik mati!" Saka berlalu pergi dengan amarah memuncak. di dadanya. Keluarga itu gak layak untuk Andara! pikirnya.
Umi menggeleng menyaksikan kelakuan remaja itu yang dengan tidak sopannya berani menghina putranya di rumahnya sendiri. Nanta yang akan di papah oleh Umi dan Nadia pun menepis bantuan mereka. Ia tertatih masuk ke kamarnya, rasa bersalah menggerogoti hatinya.
Ia bahkan tertawa keras di dalam kamar membanting semua barang di atas meja nakas, apa yang di katakan Saka memang benar, ia tidak layak mendapatkan cinta tulus Andara. Gadis itu terlalu baik untuknya. Tawa keras itu berganti dengan suara rintihan yang terdengar menyedihkan. Umi berteriak dari luar pintu menyuruhnya untuk beristighfar. Nadia ikut menangis karena semua masalah terjadi karena kehadirannya.
Saka menaiki motornya melaju menuju ke arah kafe di dekat sana, ia memesan semangkuk ice cream bermacam rasa, ia mengikuti cara Andara ketika sedang meredam amarahnya. Tangannya masih aktif mencoba menghubungi temannya untuk melacak keberadaan Andara. Setidaknya ia harus tahu di mana Andara saat ini.
Beberapa pengunjung cafe sempat melihat kearahnya aneh, karena Saka menghabiskan ice cream dengan wajah tegang. Dia tidak suka manis dan sekarang ia malah menghabiskan satu mangkuk besar itu sendiri. Ia benar-benar merindukan gadis itu, ia menahan wajah mual memaksa menelan ice cream itu masuk kedalam mulutnya.
Andara kemana kamu pergi, banyak orang ikut terluka bersamamu, kamu tidak sendirian karena banyak orang ikut merasakan apa yang kamu rasakan.
__________
**Penulis akan sangat menghargai setiap like dan komen yang di berikan pembaca, karena dengan ketersediaan kalian untuk meninggalkan jejak di cerita ini membuat penulis lebih bersemangat lagi 😉.
terus ikuti kelanjutan dari novel ini yah
__ADS_1
happy reading 😘**