Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c20


__ADS_3

Andara masuk ke apartemen tanpa Ananta, karena kekasihnya itu ada kelas siang ini. Setelah dari klinik ia langsung di antar pulang.


Andara masuk ke apartemennya, Di sana ia melihat laki-laki tidur di sofa depan TV. Bergerak tak nyaman karena sofa itu tak muat menampung panjang tubuhnya, mukanya tertutup jaket, Hanya menampakkan sedikit di bagian kepala nya saja.


Laki-laki itu adalah Saka, Ia tahu dari pakaian yang dikenakan dan postur tubuhnya. Ia berjalan sangat perlahan, mendekat tanpa suara. Ia ingin berteriak mengagetkan laki-laki itu. Mencondongkan tubuhnya, mendekat ke telinga Saka.


"please deh Ra, gak usah ganggu!" Ujar Saka tanpa membuka mata.


Dara yang masih akan membuka mulutnya, menjadi terkekeh tanpa suara. Ia masih akan melanjutkan aksinya, dengan mengarahkan rambutnya ke telinga Saka yang memang tidak tertutup jaket. Saka yang terganggu menggerakkan kepalanya.


"Dara! jangan ganggu gue!" Teriak Saka dengan suara terendam oleh jaket yang menutupinya.


Dara memanyunkan bibirnya kesal. mengejek Saka tanpa suara. tapi, sepertinya Saka punya indera lain yang sangat peka.


"Lo udah jelek, tu muka gak usah di jelek-jelekin," ucap Saka cuek.


itu membuat Dara semakin kesal saja. Ia memukul Saka dengan bantal sofa. Saka hanya merespon dengan mengusap bagian yang di pukul tadi.


Andara tertawa puas. Ia tak ingin mengganggu tidur Saka lagi. Ia duduk menyempil di samping kaki Saka. Itu cukup mengganggu Saka tapi Andara tidak merasa.


Ia fokus pada buket bunga di depannya. Di sana ada dua buket bunga baby breath, ia mengangkat salah satu buket bunga favoritnya. Ia memperhatikan bunga itu senang.


"Ka, Lo ngasih gue bunga? kan gue gak ulang tahun." Andara memeluk buket bunga itu tersenyum ke arah Saka yang masih belum mau bangun.


"Bukan gue! Lagian gue ngasih Lo bunga kan bukan pas ulang tahun aja begok!" Tanpa membuka matanya Ia menjawab.


"Lah terus siapa?"


Saka memang sering memberinya bunga baby breath, di hari ulang tahun ataupun memberi bunga itu tanpa alasan. Saka lebih cocok di sebut kekasih dari pada teman. Enaknya punya teman seperti Saka, seperti teman rasa pacar.


Andara mencari surat atau pun note mungkin saja pengirim meninggalkan identitasnya. Tapi ia tak menemukan setelah membolak-balikkan keduanya.


"Gak ada tulisannya Ka." Ujar Andara kecewa.


Andara beranjak menaruh buket bunga itu ke dalam vas kosong milikinya. Jelas saja tak ada tulisannya karena Saka sudah memasukkan ke dalam kantongnya. Ia akan menanyakan terlebih dahulu pada Nanta.


Andara bosan, ia kembali duduk di tempatnya tadi. melihat Saka yang masih saja tidur.


"Ka, masak gih. Gue laper!"


"Gue udah delivery, bentar lagi juga Dateng."


Andara mengangguk saja. Ia bosan menggoyang-Goyangkan kakinya. Menatap jam dinding yang bergerak perlahan.


"Ka, bangun dong!" Andara memukulkan bantal kecil ke badan Saka.


"Apa'an sih Ra." Saka bangun dengan muka kesal.

__ADS_1


Sedangkan Andara terkejut dengan mulut sedikit terbuka dan tangan terulur menyentuh ujung bibir laki-laki itu yang terluka. Saka mengaduh, Dara menatap Saka kesal.


Tanpa banyak bicara ia melangkah menuju dapur. Mencari es batu dan kompresan untuk lebam di wajah Saka. Setelah menemukan kain kompresan, ia mencari kotak P3K di laci. Kemudian kembali ke tempat duduknya tadi dengan membawa semua itu.


Saka yang melihat muka kesal Andara hanya diam. Memperhatikan Andara yang sibuk mengompres lebam di pipi dan pelipis nya.


Ia mengaduh dengan muka memelas, meskipun tidak sakit. Dara yang melihat itu malah semakin menekan tepat di lukanya.


"ahhh pelan-pelan Napa, sakit begok." kali ini itu memang sungguh sakit.


Dara tetap diam, ia meneruskan mengompres bagian lainnya. Dilanjutkan dengan mengoleskan salep. Saat di bagian ujung bibir, Saka mengaduh lagi. Dara kasihan, melihat Saka kesakitan.


"Lo berantem? sama siapa?"


"Enggak! itu si Josh yang nyari masalah sama gue." Ucap Saka dengan wajah datar tapi tangannya mengepal erat.


"Masalahnya apa?" Tanya Andara lagi dengan sabar.


"Dia ngehina temen gue!" Kali ini ada sedikit riak kekesalan yang terlihat.


Andara menyentuh tangan Saka yang mengepal, Ia mengusap perlahan masih dengan memperhatikan wajah Saka.


"Memang harus banget dengan berantem gini." Andara mengusap pelan sudut bibir Saka.


"iya, itu karena dia ngehina Lo Ra!" balas Saka dalam hati.


terdengar bunyi bel pintu. Ia dengan semangat berlari membuka pintu. Ia membalas senyum ramah mas pengantar makanan itu.


Dara menerima paket makanan beserta kertas kecil bertuliskan jumlah harga makanan itu. Di sana tertulis 300 ribu rupiah.


"Ka, bayar nih makanan Lo." Teriak Andara yang mendapat gelengan dari mas kurir.


Saka keluar dengan wajah datarnya, memberikan 3 uang lembaran 100 ribuan. Dan berterimakasih kasih pada mas kurir itu.


Dara langsung masuk membawa paket makanan itu. Ia menata di atas meja semua menu makanan sehat yang di pesan Saka. Bahkan ada salad buah juga di situ.


"Wah,ini enak Ka, yang ini juga enak." Andara dengan semangat mencicipi semua hidangan itu satu persatu.


Saka menatap jengah pada Andara. Tapi ia juga ikut duduk di sebelah Andara. Menemani gadis itu makan, karena dia juga sangat lapar.


"Jangan abisin yang itu!" kesal Andara karena Saka terus mengambil salad buahnya.


Saka yang tangannya dipukul oleh sendok, hanya menyipitkan matanya. Andara berbicara dengan mulut penuh. Tangannya mengangkat, Ia mengusap ujung bibir Andara yang terdapat saus mayones. Lalu menjilat tangannya, Andara tersenyum saja tanpa dosa. Ia sudah biasa makan bersama Saka. Jadi ia juga sudah biasa melihat itu.


Setelah selesai makan mereka kompak membereskan meja bersama. Saka kembali ke ruang TV lalu memindah-mindah channel secara acak karena bosan. Dara yang melihat itu hanya menggeleng lalu masuk ke kamarnya.


Memutar musik keras hingga terdengar sampai ke ruang TV. Ia sengaja melakukan itu, berniat mengganggu kegiatan kurang kerjaan temannya itu.

__ADS_1


Saka yang terganggu hanya memutar bola matanya malas. menaruh remot TV lalu ikut masuk ke kamar Andara.


Ia ikut berbaring di sebelah Andara dengan ditemani musik keras. Tidur menyamping memeluk erat perut Andara. Andara tak terganggu. Alunan musik keras mengantarkan mereka menuju ke alam bawah sadar. Di hitungan ke sepuluh mereka sudah tertidur lelap.


......


Ananta pulang jam 05.00 p.m


Ia langsung menuju ke klinik dokter hewan. Ia akan mengambil Mian, yang tadi di titipkan nya.


"Eh, mas mau mengambil Mian ya?"


Nanta mengangguk dan tersenyum ramah ke arah orang yang ia ketahui sebagai perawat di klinik ini.


"Silahkan." Mereka menuju ke kandang kucing di ruangan khusus. Disana terdapat beberapa Kucing dan anjing yang di tempatkan di ruangan sama, kandang yang terpisah.


Mian terlihat senang melihat kedatangan Nanta. kucing itu seperti sudah mengenal akrab dengan Nanta.


Nanta membawa Mian masuk ke kandangnya. Lalu membawanya keluar. Setelah membayarnya biaya perawatan. Ia menyempatkan untuk mampir ke toko petshop . Membeli beberapa persediaan makanan, dan shampoo untuk Mian.


"Nanta." panggil seseorang dari arah belakang.


Nanta menoleh, ia melihat Nadia bersama satu orang temannya. Mereka menghampiri Nanta yang masih memegang Mian dalam gendongan.


"Wah, kamu punya kucing?" Tanya Nadia sambil mencoba menyentuh Rambut halus Mian.


Tapi ternyata Mian tidak mau di sentuh, malah hampir menggigit. Nanta langsung reflek bertanya.


"Kamu enggak apa-apa?" Tanya Nanta yang di balas gelengan oleh Nadia.


Ia seorang dokter, meski Dokter gigi. Setidaknya ia tahu jika kucing itu tak ingin di sentuhnya.


"Sejak kapan kamu memelihara kucing?"


"Baru hari ini." Jawab Nanta sopan. "Kamu juga memiliki peliharaan?"


"Enggak, aku cuma nemenin temenku beli makanan untuk kucingnya." Nanta mengangguk paham.


Setelah berbincang sebentar Nadia pamit pulang duluan. Nanta menatap kepergian Nadia. Andai saja gadis itu mau melepaskan masalah perjodohan. Mungkin mereka bisa berteman. Wanita itu sangat baik, tapi sungguh hatinya tak tergoyahkan untuk gadis kecilnya, Andara.


Ia menatap Mian yang juga sedang melihat ke arahnya. Seakan kucing itu tau apa yang ia rasakan. Ia tersenyum lalu membawa keranjang penuh dengan banyak makanan dan shampoo ke kasir.


Ia tak sabar ingin melihat reaksi Andara, Mian akan jadi teman baru untuk Andara. Setidaknya gadis itu tak akan kesepian lagi jika ia ataupun Saka sedang sibuk.


Ia menoleh kearah Mian yang tertidur manis dalam kandangnya. Ah andai saja ia sempat melihat Alin, gadis kecil pemilik Mian. Pasti Mian juga sedang merindukan Alin. Namun ada waktu yang tak kembali dan masa yang tak terulang.


Nanta memutar musik klasik. mengendarai mobilnya perlahan karena memang macet.

__ADS_1


__ADS_2