
"Ya udah, aku berangkat kuliah dulu ya? kalau ada apa-apa panggil dokter langsung. Nanti juga hubungi aku, secepatnya aku akan pulang." Mengecup kening Dara lalu keluar dari ruangan. Baru juga keluar ia balik lagi dengan pintu terbuka sedikit.
"Gon' be alright, oke!" Senyum manis tak lupa terpatri di bibir tipisnya. Dibalas Andara dengan cengiran khasnya.
Pagi ini Nanta ada kelas, sebenernya dia kekeh mau nemenin Dara. Tapi, Dara juga kekeh agar Nanta berangkat kuliah aja.
Perawat masuk ke ruangan, tersenyum ramah pada Andara. Ia mengecek keadaan Andara yang memang masih belum terlalu baik.
"Mbak dara yang tadi, suaminya ya?" canda Perawat itu, karna baru semalam dua sejoli itu, menjadi buah bibir di rumah sakit ini. Bagaimana tidak! mereka terlihat sangat saling menyayangi satu sama lain. Be best couple kata para suster.
"Haha kakak salah, dia bukan suami, tapi calon suami itu juga kalo jadi dinikahin."
"Wah, kalo tidak jadi, kakak aja ya yang nikahin?" mereka terus saling mengejek dan bercanda. Andara memang mudah mengenal orang baru atau lingkungan baru. Sehingga mereka yang di sini, juga tidak kaku saat berbicara dengannya.
"Ini sarapannya harus di habisin ya! gak boleh nyisa, terus langsung minum obat setelahnya!" Meski di ucapkan dengan nada ramah, tapi setiap katanya seperti perintah.
Andara mengangkat tangannya membentuk tanda oke, sambil tersenyum ceria. Mengusir kakak perawat tadi agar segera keluar dengan tangannya. Itu membuat mereka jadi tertawa.
.....
Dara menghabiskan makanannya meski tidak enak. Makanan itu tanpa rasa pedas sama sekali atau rasa rempah lainnya. Menelan obat dengan cepat, lalu menutup mulutnya rapat dengan tangan. Ia tak mau muntah dan mengulangi lagi untuk menelan obat itu.
Andara bosan, ia menengok ke arah jendela, menampakkan sinar cahaya yang menembus kaca. Ia melepas infus yang menggantung membawanya di tangan, lalu beranjak menuju jendela itu. ia melihat taman di depan rumah sakit ini cukup ramai. Mereka berjemur menghangatkan badan dari sinar matahari pagi.
Andara keluar kamar perlahan. hingga ia mencapai taman tersebut. ia duduk di sisi bangku taman meresapi kesendiriannya. mereka di sini bersama keluarga, ah ia tersenyum miris mengingatnya.
"Kak," sapa anak kecil yang duduk di kursi roda di depannya.
"Iya, hei cantik namamu siapa" balas Dara dengan senyum manis.
"Kakak yang cantik, Alin Tidak!" ucapnya serius mengerucutkan bibirnya lucu.
"Kenapa tidak, Alin cantik kok. Punya lesung pipi lagi, kan jadi tambah manis kalo senyum."
Yang di balas anak kecil itu, dengan senyum yang menampakkan lesung pipinya.
"Tapi rambut Alin sedikit, rontok terus bikin tidak cantik lagi." ujarnya sedih.
Dara mengusap pipi Alin. "Siapa bilang, Alin tetap cantik kok! Foto sama kakak ya! bentar."
Dara mengeluarkan handphone dari sakunya, mereka selfie lalu ditunjukkannya hasil foto barusan.
"lihat Alin cantik kan? kalo ada yang bilang tidak, nanti bilang kakak ya" Alin masih cemberut, karena menurutnya botak itu tidak cantik.
"Umur Alin berapa?"
"Alin 6 tahun, besok hari ulang tahun Alin kak."
ujarnya semangat.
"Wah Alin, sudah besar ternyata. Alin di sini sama siapa? kok sendirian sih."
"Alin sama ayah, tapi ayah sedang bekerja jadi Alin sendirian." jelasnya lucu, dengan mimik muka serius.
Dara tertawa karena Alin sangat menggemaskan. Dia mengusap kepala Alin yang sudah mulai botak, rambut hanya tersisa beberapa helai saja.
"lalu yang bawa Alin ke taman tadi siapa?"
"Suster dong kak. Alin harus berjemur hingga jam delapan."
__ADS_1
"Wah bentar lagi dong" Dengan mimik wajah yang di buat sedih, itu mengundang tawa Alin.
Meong meong
Ada kucing yang langsung naik ke pangkuan Alin. Itu membuat Dara terkejut hingga spontan akan menyingkirkan kucing itu dari pangkuan Alin.
"Jangan kak, ini kucing Alin. Ayah yang bawa setiap kesini, agar Alin tidak rindu sama Mian." Sambil mengelus rambut lebat kucing lucu itu.
"Mian?" tanya Dara sambil memiringkan kepalanya.
"Haha kakak lucu. Itu nama kucing ini, Mian" sambil menoel pipi Dara dengan tangan kecilnya.
Dara spontan memegang pipinya. Entah kenapa ia suka. Kasihan anak seusianya harus menanggung sakit, di tubuh kecilnya.
"Sayang ayo kembali ke kamar," ujar laki-laki paruh baya yang terlihat sangat ramah. Karena senyumnya mirip dengan Alin, manis dengan lesung pipi.
"Ah, kok Ayah balik lagi? kan harus kerja." tanya Alin pada pria itu yang ternyata Ayahnya.
"Ayah balik lagi karna tadi hanya mengantar file saja. Kan, Alin hari ini mau kemoterapi, lupa ya?" Duduk jongkok di depan Alin sambil ikut mengelus rambut panjang Mian.
"Oh iya lupa!" senyum ceria terpatri di wajah manisnya
"Eh Yah, ini kakak cantik temen baru Alin." tunjuk nya pada Dara. Tapi belum sempat sang Ayah merespon, Alin sudah bertanya pada Dara dengan serius.
"Nama Kakak cantik siapa?"
"Kakak Andara, boleh di panggil Dara. Oh iya salam om, nama saya Dara." mereka merespon perkenalan Dara dengan tawa.
Jelas itu membuat Dara bingung.
Ia malah tersenyum canggung karena mereka masih saja tertawa.
"Kakak lucu," ujar Alin yang mendapat anggukan Ayahnya.
"Ayo dokter Faisal sudah menunggu Alin." ajak sang Ayah yang mendapat anggukan dari Alin.
"Dah kakak cantik. Alin mau Kemo dulu, jangan lupain Alin ya nanti, kalo kita ketemu lagi." Mereka berlalu setelah Dara tersenyum dan mengiyakan ucapan Alin.
Andara menatap kepergian mereka. bagaimana bisa anak sekecil itu masih tersenyum saat akan di Kemo. Andara mungkin tidak tau rasanya, tapi ia banyak membaca atau mendengar kata Kemoterapi.
Bukankah rasanya sakit? tapi kenapa Alin tersenyum ceria?
Dilihatnya lingkungan taman ini. Mereka bersama keluarga, Dara jadi rindu Nanta, siapa lagi yang dara harapkan selain Nanta.
Ia berdiri untuk kembali ke kamarnya.
Saat sampai, di bagian depan meja resepsionis, ia bersisian dengan kakak perawat tadi. Sang perawat menggelengkan kepalanya.
"Kenapa ada di sini? kamu masih harus istirahat total." Perawat tersebut memasang muka kesal, yang Andara tau itu tidak sungguh-sungguh.
"Dara bosan kak! ini mau balik kok" elak Dara yang akan berlalu dari sana. tapi , sebelum dara melangkah jauh. Kakak perawat menyusulnya, lalu membantu Dara membawa botol infusan nya.
"Bandel kamu!"
"Dara emang bandel, wek," ejek Dara, mereka berbincang sambil terus berjalan menuju ujung ruang inap Andara
"Eh nama kakak siapa? Dara belum tau."
"Rion, aku baru sekitar 7 bulan di tugasin di rumah sakit ini."
__ADS_1
"Oh nanti, Dara juga mau jadi dokter kak."
Rion menengok ke arah Dara, ia tersenyum mengejek.
"Masak mau jadi dokter jaga kesehatan aja gak bisa."
"Ye emang, kalo dokter gak boleh sakit."
"Boleh dong, tapi setidaknya sebelum kamu mengobati orang lain, kamu harus belajar menjaga dirimu dulu. Sayangi tubuhmu selagi masih bisa di jaga."
"Iya Dara akan jaga kok. Emnh, kak tadi Dara ketemu anak kecil di taman. Dia sakit, rambutnya rontok. dia juga duduk di kursi roda."
"Oh itu Alin, hanya Alin di sini penderita kanker yang sudah parah. Ia tidak bisa berdiri karena tubuhnya sudah sangat lemah."
"Kanker? apa sudah separah itu? tapi kok dia gak keliatan kesakitan ya?" Dara sempat berhenti berjalan, lalu lanjut lagi karna Rion tak berhenti, kan botol infusnya di bawa Rion. Ia tidak mau tangannya di tusuk ulang jarum infus.
"Alin tidak mau menunjukkan sakitnya pada siapapun. termasuk ayahnya, dokter juga heran. Bagaimana cara anak sekecil itu, tetap tersenyum saat orang lain pasti kesakitan."
"Iya Dara jadi kasihan, harusnya di usianya dia masih sekolah kan? bukan di rumah sakit bergelut dengan obat-obatan." Dara bahkan meneteskan air matanya, ia selalu mengeluh untuk hal kecil, tapi bagaimana anak kecil itu tidak!.
Rion tau yang di rasakan Andara. Bahkan dirinya sudah sering bertemu anak itu saja masih heran. Kenapa senyum manisnya tidak luntur di hantam kanker stadium akhir?
Semua orang lupa bersyukur ketika susah. Hanya mengeluh menghitung kekurangannya, tanpa menghitung kelebihannya.
Mereka terdiam dengan fikiran masing-masing. Malu dan resah itu menghinggapi hati Andara.
"Sampai sini aja ya? aku ada pasien lain yang musti di cek," ujarnya sambil menyerahkan botol infus yang di bawanya.
"Iya kak, makasih ya kak" Andara sedikit berteriak, karna Rion sedikit berlari meninggalkan Dara.
Andara tertawa kenapa Rion menemani sampai ruang inapnya, jika memang sedang terburu-buru. Ah kakak perawat itu sedikit menghiburnya.
Hp-nya berbunyi, dicek ternyata dari saka.
"Hallo" sapa orang di seberang telepon.
"Iya, apa deh?"
"Kok belum masuk sekolah sih Lo Dar"
"Gue di rumah sakit"
"Siapa yang sakit?" Dara memutar bola matanya jengah.
"Gue! kenapa? mo jengukin gue Lo?"
"Ye maunya, tapi oke deh. Entar gue kesana bareng anak-anak."
"Siip, tapi bawa buah ya? Jangan tangan kosong! gue usir pokonya kalo gak bawa apa-apa." Dara meletakkan kembali infus itu di gantungan. ia senang, akhirnya Saka mengingat dirinya.
ia rindu celotehan Saka.
"Okey, siap bosku."
Telepon mati, ia menunggu kedatangan mereka dengan menonton tv yang ada di ruang rawat nya.
-----------
Beberapa orang sibuk menghitung hartanya.
__ADS_1
Ada yang sibuk menghitung ketenarannya.
Tapi ada yang lebih bingung, iya bingung menghitung sisa umurnya.