
Mereka hanya akan berkeliling di sekitar kompleks. Saka bersepeda di belakang Andara. Muka malasnya sungguh tak enak di pandang. Tapi tetap saja ada yang terpesona dengan ketampanannya, Andara bahkan meledek ketika ada perempuan yang menggoda Saka.
Saka hanya menunjukkan wajah datar, Niatnya memang menemani Andara. Jadi mereka bersepeda dengan perlahan. Sesekali Andara akan menengok kebelakang sambil tertawa riang.
Tak ada yang memperhatikan jika Saka sesekali juga menyunggingkan senyumnya. Ternyata tidak begitu buruk bersepeda, atau ini karena keceriaan Andara yang mempengaruhi nya atau memang ini sedikit menyenangkan. Entahlah Saka tak mengerti, yang jelas ia menikmati moment ini.
Andara berhenti di depan, menunggu Saka sampai di sampingnya. Menghela nafas lelah, ia tersenyum lega melihat wajah Saka. Dia harus lebih sering mengajak laki-laki ini bersepeda pikirnya senang.
"Capek Ka," menundukkan kepalanya karena sedikit pusing.
Saka masih dengan wajah datarnya mengacak puncak kepala Andara. Ia turun dari sepedanya, menyuruh Andara untuk memegang. Ia berlalu pergi yang membuat Andara jadi bingung.
"Ka, mau kemana?" Saka tak merespon panggilan nya.
Karena lelah ia pun menstandar sepedanya dan sepeda Saka. Lalu duduk di tepi jalan yang memang sepi. Dia sangat berkeringat, dan kakinya sedikit pegal, memijit perlahan pada bagian betisnya.
Hingga tak sadar, tiba-tiba ada sesuatu yang dingin menempel di pipinya. Ia menoleh, melihat Saka berdiri memegang minuman. Lalu menyerahkan satu botol untuknya.
"mirip gembel Lo," ucap Saka sambil mengusap keringat di pelipis Andara.
Andara berdecak saja meneruskan minumnya. Ia sangat haus, dan lelah tentunya.
"Ka, cari ice cream yuk." Ajak Andara dengan muka memelasnya.
"Hmm" Saka hanya membalas dengan deheman.
"Enaknya di mana ya? entar gue cari di google map dulu deh." Andara mengecek ponselnya. Mencari toko ice cream yang enak.
"Cari yang deket aja!" Saka melihat Andara sudah kelelahan.
"Iya, kayaknya ada kok di Deket sini!" Andara masih fokus mencari kedai yang menjual ice cream dekat sini.
Dara sibuk dengan ponselnya, sedangkan Saka sibuk memperhatikan gadis cantik di sampingnya, senyum itu, kerutan di dahinya ketika berpikir, dan bibirnya yang selalu mengucapkan kalimat menggemaskan.
Saat pertama kali mengenal Andara, ia begitu kesal dengan sikap manja gadis itu. Tapi setelah dipikir lagi, dirinya yang banyak diam dan menjalani hari dengan baik-baik saja butuh pengacau dalam hidupnya.
Andara adalah pengacau yang datang dalam hidupnya. Awalnya kesal tapi lama-lama rindu jika tak mendengar atau melihatnya. Lalu semakin mengenal ia semakin suka berada di dekat gadis itu.
Ingin menjaganya, ingin melindunginya, ingin selalu ada di sampingnya. Hingga saat ini pun tak berubah. Gadis manja itu ternyata juga gadis yang kuat. Menjalani hidupnya dengan berjuang keras, meski dukungan Nanta juga penting, tapi tetap saja gadis itulah kekuatan itu.
"Lama! Ayo!" Saka beranjak meninggalkan Andara, menaiki sepedanya lagi. Andara terkejut dan langsung ikut naik sepedanya.
"Lo udah tau tempatnya Ka?" Tanya Andara memastikan yang jelas tak mendapat respon dari laki-laki di depannya.
"Kedai ice cream ya Ka? gak mau beli di mini market!" Teriaknya mengejar laju sepeda Saka.
Andara ingin makan ice cream yang di kedainya, karena lebih fresh dan porsi yang lebih banyak dari pada beli yang kemasan di minimarket.
"Hmmm" Jawab Saka sambil tersenyum tapi itu jelas tak di ketahui Andara.
Tak jauh dari tempat tadi, mereka sampai di kedai Ice cream. Andara senang! langsung turun dari sepeda menarik Saka masuk.
"Ayo cepetan Ka, ngences udah gue."
Saka ikut saja saat ditarik Andara, sebenarnya dia juga ingin tersenyum tapi tidak jadi ketika melihat makanan manis itu sedang di sajikan untuk pemesan. Ia benci makanan manis itu!
Ia jadi sering makan makanan manis itu karena terpaksa. Siapa lagi jika. bukan Andara pelaku pemaksaan itu.
Mereka akan duduk mencari meja kosong. Andara berdiri lagi untuk memesan ke depan. Ia memesan rasa Kopi untuk Saka dan rasa Vanila untuk dirinya dengan toping lengkap.
__ADS_1
Andara tau jika Saka tak menyukai makanan manis, ia ingin Saka tau jika manis itu bagus sesekali di rasakannya. Sejak awal mengenal Saka, Andara heran bisa ada laki-laki dingin tak berekspresi seperti Saka. Tapi setelah mengenalnya, kadang laki-laki itu juga bisa bersikap manis kok.
Dengan wajah senang ia duduk kembali di depan Saka.
"Seperti biasa gue pesen rasa kopi buat Lo Ka." Beritahunya sambil memainkan ponsel.
"Hmmm"
Andara memanyunkan bibirnya mendengar jawaban Saka. Tidak ada kata lain yang bisa keluar dari mulut laki-laki itu. Ah apa yang bisa di harapkan. Mau di ajak makan ice cream aja sudah keajaiban.
Ia memotret Saka yang masih dengan wajah datarnya memandang ke kaca luar. Dara lupa mematikan Flash nya hingga, Tentu itu membuat Saka jadi mengerutkan dahi kesal. Mulutnya terbuka, lalu menunjukkan deretan giginya pada Saka.
"Sini'in! Hapus!" Saka berusaha merebut ponsel Andara.
Andara tertawa sambil terus mempertahankan ponsel miliknya dengan kedua tangan. Saka berpindah duduk di sampingnya terus berusaha menggapai ponsel itu. Mereka asik dengan apa yang mereka lakukan. Hingga membuat pelanggan lain di sana jadi iri. Pasangan muda yang romantis pikir mereka.
Saka menyerah, duduk bersandar pada Kursi dan memasukkan tangan di saku celananya. Andara memeletkan lidah nya merasa menang.
"Ahh, gue upload ah. Gue posting ke IG gue ya Ka?" Meski bertanya, sebenarnya Andara hanya memberi tahu saja. Karena tangannya sudah mengetikkan Caption.
"myhero Saka. @SakaCaleo @kedaiGelato"
"Udah Gue tag nah. pasti entar banyak tuh followers gue jadi ikut follow elo Ka." Andara berucap bangga tak melihat wajah Saka sedikit murung.
Saka membiarkan saja, karena toh di larang pun tetap dilakukan. Ah padahal Saka tak pernah memposting fotonya di IGnya, postingannya hanya berisi foto candid Andara dan teman-teman lainnya atau foto alam sekitar. Jika di IG ada fotonya, jelas itu melalui akun Andara dan di upload oleh gadis itu.
Hingga pesanan mereka akhirnya sampai. Dara tersenyum melihat toping ice cream nya begitu meriah.
"makasih mbak!" Ujarnya semangat. Pelayan itu hanya mengangguk dan tersenyum.
Saka memakan makanan manis itu perlahan. Ia tidak suka tapi entahlah, jika makannya bersama Andara, rasanya tidak begitu buruk.
"Kek baru pertama makan Ice cream Lo!" Ejek Saka yang mendapat lirikan tajam dari Andara.
"Eh Ka, tadi gue nemu buket bunga lagi di depan pintu apart gue." Beritahu Andara tanpa menatap pada Saka.
Saka yang mendengar itu jadi diam. Wajahnya jadi serius.
"Penggemar Lo kali." Balasnya santai tapi dalam hatinya ia was-was.
"Masak penggemar ngasih tulisan 'semoga selalu baik-baik saja' Kan aneh Ka."
Saka jadi berpikir, oh jadi itu arti dari pesan dalam bahasa asing itu.
"Kalo penggemar, harusnya kan kalimat penyemangat atau kalimat memuji." Tambah Andara lagi.
Saka mengangguk, ia harus segera membicarakan ini dengan Nanta secepatnya.
"Udah gak usah di pikirin, penting gak berbahaya kan?" Ucapnya menenangkan.
Saka melahap makanan manis itu hingga habis tanpa di sadarinya. Ia fokus memikirkan masalah buket bunga. Hingga ketika ia menyendok lagi sudah tak ada. Ia sedikit heran, biasanya tidak habis. Ia menatap ke arah suara kekehan yang tak lain dan tak bukan adalah Andara.
"Wah, Saka sekarang suka Ice cream. Kasih tau temen-temen ah." Dara iseng meledek yang mendapat pelototan dari Saka.
Mereka memutuskan pulang setelahnya.
Padahal rencana awal Andara yang akan mentraktir, tapi ini Ternyata dompet Andara tertinggal di kasur Saka tadi. Andara tertawa saja melihat wajah masam Saka.
"Yok pulang! tapi Jan lewat jalan tadi ya, bosen Ka. Kita lewat jalan lain ya?" Ajakan itu mendapat balasan wajah masam dari Saka.
__ADS_1
Tapi tak urung ia mengikuti keinginan Andara. Padahal alasan itu tidak jelas. Mereka bersepeda dengan perlahan, tapi kemudian Dara mengebut. Mengejek Saka yang tertinggal di belakangnya. Saka jadi termotivasi untuk menyalip gadis songong itu.
Mereka saling menyalip tapi tak terlalu cepat, karena mereka sambil tertawa dan saling mengejek. Saka ikut tertawa karena tadi Andara hampir terjatuh tapi tidak jadi
Andara sudah lelah jadi memelankan laju sepedanya. Mengambil napas perlahan, melihat Saka di depan sana juga mengurangi laju kecepatan nya.
Saka berada di depan, Andara mengikuti di belakang. Tapi ada sesuatu yang membuat Andara jadi tak fokus dengan sepedanya.
Ia terjatuh cukup keras hampir masuk ke selokan.
Saka yang mendengar suara gaduh di belakangnya reflek menengok. Dan di sanalah bola matanya membesar dan wajahnya terkejut. Langsung menaruh sepedanya begitu saja. Menghampiri Andara panik.
Andara menangis, tapi tak bersuara keras. Hanya isakan kecil tapi air mata yang keluar banyak. Saka langsung mengecek Badan Andara. Untung itu tak melukai tangannya. Sebentar lagi mereka ujian, bahaya jika tangannya cidera.
"Mana yang sakit?"
"jan nangis dong. ngomong mana yang kerasa sakit." Saka terus bertanya tapi Andara hanya terus menangis.
Saka bingung langsung mengecek ulang. Dan ternyata kedua lutut Andara berdarah. Saka mengusap air mata di pipi Andara yang basah.
"Udah gak papa. Ini luka kecil kok, entar di kasih salep bisa ilang bekasnya."
Saka tak mengerti kenapa Andara menangis sampai terisak begitu. Padahal lukanya tidak besar.
"Sakit banget ya?" Tanya Saka lagi mencoba menenangkan Andara. pikirnya mungkin. Andara kaget tadi saat terjatuh. Jadi mengalami trauma.
Andara menggeleng, tapi masih menangis.
Jelas itu membuat Saka bingung.
"Ya udah, kita obati saat sampai rumah ya?"
Ajak Saka untuk naik ke sepedanya. Meninggalkan sepeda Andara di sini. Tapi Andara menolak. Masih dengan menangis Andara meminta di gedong.
Saka akhirnya mau menggendong.
Saka mengerti jika Andara bukan menangis karena lukanya. Toh itu tidak besar hanya lecet saja. Hanya satu alasan yang masuk akal.
Dara melihat apa yang ia lihat di sekitar tempat Andara jatuh tadi. Ia mengepalkan tangannya erat. Andara masih sedikit terisak memeluk lehernya erat. Andara di gendong belakang oleh Saka. Walaupun Andara model yang mempunyai badan agak kurus. tapi tetap saja tinggi badannya membuat Andara jadi tetap berat.
Untung ini sudah lumayan dekat dari rumahnya. Ia berharap Ayah dan Bundanya sudah berangkat ke Surabaya. Karena jika bundanya tau Andara jatuh. pasti ia akan di marah dan Bundanya akan heboh nanti.
Mereka terus diam sepanjang jalan. Andara juga sudah lebih tenang.
"Ka kaki gue udah gak sakit kok. Lo bisa turunin gue sekarang," ujar Andara tau diri jika Saka pasti lelah menggendongnya.
"Diem! gak usah bawel." balas Saka kesal.
Andara jadi makin merasa bersalah. Ia takut Saka marah.
"Sepedanya gimana Ka?" Dara jadi memikirkan sepedanya yang mereka tinggalkan di pinggir jalan tadi.
"Nanti biar di ambil Pak Amir."
Pak Amir adalah satpam di komplek perumahan Saka. Andara memperhatikan wajah Saka dari samping. Nafasnya tepat di telinga Saka. Jelas itu sedikit mengganggu Saka, tapi ia tetap stay cool saja.
"Maaf." Andara berujar pelan.
"Lo kan udah biasa ngerepotin gue." Saka membalas cuek.
__ADS_1
Andara memanyunkan bibirnya, berusaha tidak melihat wajah menyebalkan Saka. Ia jadi tidak tau jika Saka sedikit tersenyum tadi.