
Selesai dengan urusan meja makan, Umi mengajak keduanya untuk ke ruang tengah, di sana sudah ada Abi yang menunggu dan Nanta yang harap cemas dengan apa yang akan di katakan Abinya.
Nadia berjalan di sebelah Umi sedangkan Dara berjalan tepat di belakang mereka. Dara sempat tersenyum melihat lukisan yang dikirimnya di pajang di dinding rumah ini. Lukisan masjid Ortakoy. Dara jadi mengingat Selim, apa kabar dengan laki-laki itu sekarang? Ia rindu Turki.
"Andara kemari nak!" ajak Umi agar Andara duduk di sebelah kirinya, dan di sebelah kanan Umi ada Nadia yang menunduk.
Dara sedikit cemas karena tak mengerti kenapa mereka seperti sedang ingin menyidangnya. Duduk dengan wajah bingung, lalu ia melihat ke arah Nanta yang juga sedang menunduk. Melihat keadaan ini ia jadi sedikit takut, tapi mengingat apa tujuannya kemari maka ia harus yakin.
"Sebelumnya Abi ingin bertanya, Apa yang membuat nak Andara berkunjung ke rumah kami ini?" tanya Abi dengan wajah ramah namun kata itu di lontarkan dengan tegas.
"Dara ingin bertemu Abi dan Umi juga kak Nanta!" jawab Dara jujur, ia sempat menoleh ke arah Kekasihnya yang juga langsung menatapnya begitu namanya di sebut.
Abi berdehem lalu melanjutkan pertanyaannya, "Lantas ada urusan pentingkah yang membuat nak Dara mau mengunjungi kami?"
Pertanyaan itu nampak biasa namun jika diresapi maka akan mengetahui maknanya adalah jika kehadiran Andara harus di dasari alasan, karena tak mungkin Dara datang begitu saja untuk mengunjungi mereka.
Abi dan Umi takut jika rumah tangga putra dengan menantunya hancur karena kehadiran gadis cantik itu di rumah mereka ini, pasalnya mereka tak mengetahui jika Andara masih kekasih puteranya. Dan lagi mereka juga belum tahu jika Andara juga belum di beritahukan mengenai pernikahan ini.
Nanta menghela napas lelah, tak ingin jika Andara mendengar kabar pernikahan ini dari mulut orangtuanya. Bagaimana nanti perasaannya. Tangannya mengepal, air matanya hampir luruh karena ia gagal menjaga gadis kecilnya itu. Bahkan dirinya sendirilah yang melukai dan menyakiti gadis kecilnya.
"Umi, Abi ijinkan Andara tinggal di rumah ini selama seminggu, Dara ingin memastikan sesuatu, Dara mohon!" Kalimat ini meluncur bebas dengan senyum yang ia paksakan.
"Kenapa nak Dara ingin tinggal di rumah ini?" tanya Abi, karena ini akan sangat buruk untuk ketenangan rumahnya.
"Dara ingin memastikan sesuatu, dan lagi kenapa Andara tidak boleh sedangkan kak Nadia boleh?" tanya Andara yang membuat orangtua Ananta terkejut.
Dari pertanyaan itu, berarti gadis kecil di hadapan mereka ini belum mengetahui jika Nanta telah menikah, saat Umi membuka mulut ingin menjelaskan, Nanta menggeleng dengan raut wajah memohon. Sedangkan Nadia ia yang awalnya semangat ingin merebut hati Ananta jadi merasa bersalah. Di tambah Andara masih belum mengetahui pernikahan mereka.
"Tapi sebaiknya nak Andara pulang ke Jakarta," ucap Abi dengan sedikit tak enak, tapi ini ia lakukan demi hubungan putranya yang sudah sangat rumit.
"Dara mengerti kehadiran Andara tidak di inginkan. Tapi Abi, tolong ijinkan Dara tinggal selama seminggu saja. Dara harus memastikan sesuatu!" kata terakhir Andara membuat Nanta ikut lemah dan perasaannya juga jadi kalut.
"Nak selesaikan urusanmu!" ujar Abi meninggalkan ruangan itu dengan hati tak tenang, Umi mengikuti langkah Abi.
Nanta dan Andara juga Nadia saling memandang, Nadia akan beranjak pergi meninggalkan mereka karena mungkin butuh waktu untuk bicara, namun baru saja ia melangkah Andara memanggilnya.
"Kak Nadia tetap di sini. Andara butuh penjelasan dari kak Nadia!" kali ini nada yang di ucapkan Andara sedikit menuntut.
"Kau boleh pergi, aku ingin bicara dengan Andara berdua!" sanggah Ananta.
Nadia menuruti perintah suaminya, ia melangkah pergi meninggalkan keduanya. Umi yang melihat Nadia masuk ke kamarnya dengan wajah sedih pun menghampirinya.
__ADS_1
"Nak, kau bisa membaginya dengan Umi." Umi langsung memeluk menantunya yang terlihat rapuh.
"Dara adalah cintanya Umi, Nadia hanya orang ketiga yang hadir di antara mereka!" Wajah sendu sang menantu juga membuatnya sedih.
"Ini takdir nak, kalian menikah itu sudah takdirnya. Lagipula Dara bukan seorang muslim, Umi takkan bisa menerimanya karena hal itu." jelas Umi yang membuat Nadia terpaku.
Jadi Agama-lah yang sesungguhnya jadi pembatas di antara mereka, di tambah kehadirannya. Nadia juga tak ingin berpisah dengan Nanta, tapi sangat sulit untuk mendapatkan hatinya ketika masih ada Andara dalam hatinya.
"Berjuanglah nak, Umi akan mendukungmu!" yakin Umi, memeluk erat menantunya.
Abi yang tak sengaja melewati kamar itu, mendengar obrolan mereka. Ia menghela napas lelah.
Di ruang tengah, Andara menatap Nanta yang masih bungkam menggenggam tangannya. Dapat di rasakan jika laki-laki itu sedang bimbang. Dara kecewa namun ketika melihat wajah sendu Ananta ia jadi lemah, ingin merengkuh laki-laki itu untuk dirinya sendiri. Namun ia harus tetap pada tujuannya, ia di sini bukan ingin membuat semua orang sedih karenanya.
"Aku mau jalan-jalan keliling!" ucap Andara manja, itu berhasil mengukir senyum di bibir Ananta.
"Yuk, aku ambil jaket dulu ya!" Nanta masuk ke dalam, Andara memudarkan senyumnya. Berdiri, beranjak keluar dari rumah menunggu Ananta.
Tangannya menyentuh kelopak bunga mawar berwarna putih, ia jadi ingat dengan bunga favoritnya. Namun ia juga jadi ingat dengan bujet bunga Baby breath yang selalu di kirim ke apartemennya, apakah selama ia pergi bunga itu masih di kirim ke apartemen?
senyumnya mengembang, menyentuh tiap kelopak bunga, membelai lembut tiap-tiap bunganya. Umi melihat Dara yang tertarik dengan bunganya, ia menghampiri gadis itu.
"Kau menyukai bunga?"
"Apa mamamu juga menyukai bunga?" tanya Umi lagi yang membuat senyum di wajah Andara menghilang.
Dara memutar ingatannya kembali, dan setelah ia ingat-ingat bahkan ia tak tau apakah mamanya menyukai bunga atau tidak.
Dara jadi rindu pada mamanya.
"Kau merindukan mamamu?" tanya Umi yang melihat wajah ceria gadis itu berubah sendu.
Dara mengangguk, ia memaksakan senyumnya ke arah Umi. Tapi bagaimanapun ia tak bisa menutupi kerinduan yang tercetak jelas di manik birunya.
"Mamamu pasti juga rindu, kau tau kadang ada yang tak bisa terucap namun terasa, dan tidak ada orangtua yang tidak merindukan anaknya."
Andara ingin menyangkal, karena nyatanya orangtuanya bahkan tidak mencari keberadaannya. Apakah benar mereka merindukan dirinya.
"Dara gak tau, tapi Dara memang rindu Mama!" ujarnya jujur untuk pertama kali ia bisa mengatakan dengan jelas jika ia merindukan mamanya.
"Percayalah, mereka pun sama!" Umi tersenyum tulus pada gadis cantik di depannya. Ia seperti melihat sosok putrinya yang saat ini masih menuntut ilmu di ponpes.
__ADS_1
Nanta menghampiri dua wanita cantik paling berharga di hidupnya. Senyumnya mengembang melihat keduanya begitu dekat.
"Umi, Nanta mau keluar mengajak Andara jalan-jalan." Nanta bahkan tak sadar jika ia langsung meraih tangan Andara dan menggenggamnya.
Umi melihat itu sedikit tak suka, bagaimanpun mereka bukan muhrim. Dapat di tebak jika mereka sudah biasa bersentuhan seperti itu sebelumnya. Umi berdehem melirik ke arah tangan yang saling bertaut, Nanta yang sadar akan teguran Uminya langsung melepas genggamannya dengan perlahan, tak ingin menyinggung Andara.
"Ayok, tapi Andara pengen naek sepeda aja ya jalan-jalannya." rengek Andara menampilkan mimik paling menggemaskan.
"Memang nak Dara tidak cape kalo harus goes sepeda. Mending naik mobil aja!" bujuk Umi karena jika naik sepeda artinya hanya jalan-jalan di sekitar sini.
Bisa berabe jika nanti putranya jadi bahan gunjingan para tetangga yang telah tahu jika putranya telah menikah dengan Nadia. Masak malah jalan-jalan dengan wanita lain. Takut terjadi fitnah!
"Dara pengen naik sepeda Umi!" eyel Andara lagi.
Nanta yang tak mau terjadi perdebatan langsung menarik Andara ke garasi, setelah dengan cepat meraih tangan Uminya mencium punggung tangab Uminya takjim, di ikuti oleh Andara di belakangnya. Menyiapkan sepedanya, ada dua sepeda di sini. Punya Nanta dan adiknya. Dara dengan semangat mencoba menaiki sepeda itu.
"Sini aku pompa dulu itu bannya!" tangannya terayun menyuruh Andara membawa sepedanya mendekat.
"ini punya adik kakak ya?" Nanta mengangguk saja karena masih sibuk memompa.
" Nanti Dara mau makan es krim kak!" ia sudah membayangkan makanan manis itu meleleh di lidahnya.
"Boleh, tapi sini peluk dulu!"
Nanta sudah menahan untuk tak memeluk kekasihnya itu sedari tadi, ia rindu dengan gadis cantik itu. Dara tertawa dengan syarat yang di ajukan kekasihnya. Menubruk badan kokoh itu langsung memeluk erat.
"Dara rindu kakak!" bisiknya pelan.
"Aku juga, sangat merindukan gadis cantikku!" Nanta mengecup puncak kepala Andara.
"Yuk ah, sepedaan. Pelukan Mulu kayak Teletubbies!" canda Dara karena air matanya hampir saja menetes jika terus berpelukan seperti itu, takut hatinya lengah dan menyerah.
"Ya udah, Jan ngebut-ngebut loh ya!" Nanta menaiki sepedanya memperhatikan Andara yang melaju lebih dulu.
Mereka keluar dari garasi, tertawa ketika ternyata mereka sudah lama tidak sepedaan bareng kayak gini.
Mereka berlalu meninggalkan rumah, tanpa tau jika ada wanita yang merasa cemburu melihat kedekatan keduanya. Tidak ada wanita yang suka jika suaminya dekat dengan wanita lain. Bahkan dengannya saja Nanta belum Pernah tertawa selepas itu.
___________
**Penulis akan sangat menghargai setiap like dan komen yang di berikan pembaca, karena dengan ketersediaan kalian untuk meninggalkan jejak di cerita ini membuat penulis lebih bersemangat lagi 😉.
__ADS_1
terus ikuti kelanjutan dari novel ini yah
happy reading 😘**