Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c32


__ADS_3

Dara melangkah gontai menuju lift, Beberapa orang yang sudah mengenalnya menyapa saat ia masuk. Pagi yang sibuk untuk mereka dan pagi yang buruk untuk Andara. Ia baru beranjak dari rooftop saat azan subuh berkumandang. Jadilah saat ini badannya terserang demam.


Tak lagi memperdulikan penampilan yang sedikit berantakan. Hanya lebih mengeratkan tangan yang berada pada saku jaketnya. Nanta tadi ingin menjemputnya tapi Dara menolak dengan alasan sudah terlanjur memesan taksi.


Dara melangkahkan kaki keluar apartemen langsung menuju taksi yang sudah menunggunya.


Setelah sampai ia langsung masuk ke rumah Mbak Tia. Ia dia bolos sekolah karena moodnya sedang buruk dan badannya sedikit lemas.


"masuk, bibir Lo kok pucet?" tanya Mbak Tia yang langsung memeriksa badan Andara.


"Lo demam! kenapa gak ke rumah sakit sih!" marah mbak Tia yang langsung menarik Andara ke kamar tamu.


Mbak Tia Sangat tahu jika Andara tak suka di bawa ke rumah sakit. Jadi ia memberi pertolongan pertama dan langsung menelpon dokter.


.......


"Dia hanya kelelahan, jaga suhu tubuhnya tetap stabil. Minumkan obatnya jika nanti panasnya tidak kunjung turun." jelas dokter tersebut.


"Apakah ini berbahaya? adik saya sudah demam dari pagi tadi."


"Tidak apa-apa, hanya saja tubuhnya sedang lemah, sehingga tubuhnya langsung merespon dengan menaikkan suhu tubuhnya. Itu normal." Dokter itu tersenyum dan keluar dari ruangan itu di ikuti mbak Tia di belakangnya.


"Saya rasa dia sedikit stres, apakah dia sering mengonsumsi obat tidur?" tanya sang dokter yang di tanggapi gelengan oleh mbak Tia.


"Dia hanya kadang-kadang sering susah tidur, tapi saya rasa dia tidak pernah berbicara tentang obat tidur."


"Mungkin harus lebih di awasi, anak seusianya kadang bersikap implusif saat mendapat masalah. Dan usahakan untuk menjaga pola makan dan tidurnya."


"baik dok, terimakasih."


Mbak Tia menatap nanar pada gadis yang tergolek lemah di atas ranjang. Bibirnya pucat dan terlihat lebih kurus. Dara seorang model yang tak memperdulikan tubuhnya. sekarang bagaimana? mereka hidup terpisah tak mungkin selalu mengawasi. Sedangkan di usia Andara sekarang sangat dibutuhkan peran keluarga di dalamnya.


"Halo pak."


"Andara sakit, dia tumbang. mungkin sudah saatnya peran orang tua hadir sebagai penguat dalam hidupnya."


"Tidak pak, baik di mengerti."


Setelah menutup panggilan ia membuang napas lelah, apa maksud orang tua Andara, saat mengabari jika Andara sakit. Orang tua itu sangat marah tapi saat di suruh merawat ia menolak dengan keras.


Mbak Tia ikut duduk di atas ranjang melanjutkan pekerjaannya sambil terus mengawasi kondisi Andara.


......


"Lo liat Andara enggak?"


"enggak, dia bolos. kan udah gak pelajaran juga cuma lomba-lomba doang" jawab Alan tanpa menengok.


"Iya tapi sama siapa? noh si Vian aja masuk," balas Saka.


"Ya kan bolos gak harus sama Vian. Lo dah cari di rooftop."


"Udah, gak ada dia." Jawab Saka sambil menoleh ke atas.


"Udah sih, udah gede dia."


Saka memutar bola matanya malas. Ia kembali ke teman-teman volinya. Ia ada sesi latihan hari ini. Tapi gadis itu malah menghilang entah kemana.


"Yas, Lo liat Andara kagak?" tanya Alan pada Tyas yang baru saja duduk di sampingnya.


"Kagak, bolos kali dia."


Alan mengangguk saja. Fita tak ikut menyaksikan sesi latihan karena ia sibuk jadi panitia dalam lomba.


Tak berbeda pula dengan Josh. Ia mencari keberadaan gadis itu sedari tadi. Masih teringat wajah sedih Andara kemarin. Ia khawatir ketika tak melihat kehadiran gadis itu hari ini.


.......


"Mbak ini jam berapa?" tanya Dara lemah karena masih pusing.


"Jam satu siang. Lo laper?" tanyanya mengalihkan pandangan dari laptop ke arah gadis di sampingnya.


Dara mengangguk, badannya lemas dan sedikit lapar. Mbak Tia dengan cekatan membantu Andara bangun dan mengambilkan makanan untuk Andara.


Selesai makan Andara beristirahat lagi sambil menonton tv sinema kartun di kamar itu. Dering telpon mengalihkan fokusnya. Mengecek nama yang tertera di layar.

__ADS_1


"Hallo napa kak?" jawabnya berusaha seceria mungkin.


"Nanti mau ikut kakak ke rumah sakit?"


"Em, siapa yang sakit?" jawab Dara pura-pura tidak tahu.


"Kakek, em aku belom pernah cerita emang?" tanya Nanta sambil mengingat.


"Belom, mungkin kakak cerita ke temen kakak yang lain," ujar Andara sedih. Dia jadi orang terakhir yang di beritahu.


"Ikut ya? nanti aku jemput. Ada Abi sama Umi di sana." Nanta membujuk.


"emmm." Andara bingung ini pertama kalinya. Ia takut jika di tolak. "Boleh nanti kakak jemput aja di rumah Mbak Tia."


"Okey sayangku, Miss u my princess."


Dara menutup telpon begitu saja. Masih teringat jelas jika senyum kekasihnya saat bersama wanita itu.


"Siapa yang telpon? Nanta?" tanya Mbak Tia yang baru masuk ke kamar.


"He'em, mau ajakin ketemu kakek dan orang tuanya." Jawabnya tanpa semangat.


"Cie mau di kenalin ke mertua nih. Tapi kok sedih gitu sih?"


"Aku bingung mbak. Kadang aku berpikir jika akan ada orang lain yang lebih pantas untuk orang sebaik kak Nanta."


"Kok gitu jawabnya. Jangan pedulikan kata pantas atau tidak pantas. Jika kamu sayang maka pertahankan tapi jika tidak ya lepaskan. Kadang orang yang mundur dengan alasan akan ada orang yang lebih baik darinya itu basi! Mana ada kata sayang jika saling melepas yang ada adalah saling bertahan." Jelas mbak Tia panjang.


Dara diam memikirkan apa yang di katakan mbak Tia. Dia sangat menyayangi kekasihnya itu. Dan kekasihnya mau berjuang demi dirinya lalu kenapa ia harus menyerah ketika sedang di perjuangkan.


"Mbak Tia bener. Dara gak boleh nyerah, Dara akan buktikan jika Andara layak."


mereka hi five dan tertawa seakan mendapatkan hadiah besar. Mbak Tia senang Andara terlihat ceria lagi. Sayang jika wajah cantik itu jadi murung, ia hanya butuh dukungan dan semangat.


"Mbak pesenin baju yang cocok ya untuk nanti Andara gak mau kalo nanti malu-maluin di depan orang tua kak Nanta."


"Siap, tapi panasnya harus benar-benar turun dulu." Mbak Tia memberikan obat yang tadi di berikan dokter padanya.


........


"Orang tuaku gak gigit kok. Mereka baik, kamu Jan gugup gini dong. Masak ciut gini." Ledek Nanta yang biasanya di tanggapi dengan pukulan ini tidak Andara berlalu gugup.


"Kamu tetep jadi kamu yang biasanya, apapun pendapat mereka itu gak mempengaruhi cinta aku buat kamu."


Dara mengangguk tapi masih tidak bicara. Antara senang dan gugup karena ini pertama kalinya bertemu.


Mereka memasuki ruang rawat kakek, di sana ada pasangan paruh baya dan seorang kakek di atas tempat tidur, sedang menatap ke arah kedatangan mereka.


Dara berusaha memasang senyum semanis mungkin, tapi saat pandangannya bertemu dengan tatapan gadis berhijab yang selama ini ia pertanyakan, Andara jadi mengernyit tidak suka.


Setelah sadar ia hanya diam saja ketika Nanta Salim pada orang tuanya. Dara jadi makin tidak enak dan langsung mengikuti apa yang di lakukan Nanta tadi.


Dapat di lihat ekspresi dari orang-orang di depannya yang sedang diam-diam menilai penampilannya. Tapi meski begitu mereka tak menampakkan raut tidak suka.


Keluarga Ardito punya prinsip kuat untuk tidak menilai orang dari penampilan saja. Itu juga mereka tanamkan pada anak-anak mereka.


"Ini siapa nak?" tanya Umi masih dengan tersenyum.


"Ini.... Andara." Jawab Nanta yang fokus memperhatikan ekspresi kedua orang tuanya.


"Oh Andara yang itu." Jawab Abi spontan.


Dara jadi canggung. Ia tersenyum dengan mimik wajah gugup.


"Salam kenal Om Tante, kakek dan em.." Dara belum mengetahui nama wanita cantik yang berdiri di dekat Uminya Nanta.


"Iya, salam kenal Andara. Jangan gugup, Umi gak gigit kok. Dan ini namanya Nadia, dia..." Umi juga bingung mau mengenalkan Nadia sebagai siapa. Tak mungkin jika menyebutnya sebagai menantu.


"Assalamualaikum Andara, saya Nadia." Salam hangat yang di tunjukkan wanita itu membuat Andara jadi lebih rileks.


"Wallaikumsalam kak." Jawab Andara sopan.


Abi dan Umi tidak menyangka Andara akan membalas salam dari Nadia. Sedangkan kakek yang melihat tangan Dara masih bertengger di lengan Nanta berdehem keras.


"Ehmm." Sambil melirik ke arah tangan yang terkait itu.

__ADS_1


Nanta yang mengerti langsung melepas tangan Andara perlahan. Ia tersenyum manis ke arah gadis di sampingnya.


"Em ini tadi Dara bikinin Cake matcha tanpa gula untuk kakek." Andara menaruh cake itu di meja.


Tapi kakek hanya tersenyum saja dan mengalihkan tatapannya. Terlihat jika mungkin kakek tidak suka padanya. Tapi Andara tidak mengambil hati dengan tetap memasang senyum di wajah cantiknya.


"Wah kamu bikin sendiri ini?" tanya Umi yang membuka bungkusan itu dan mencoba kue yang di bikin Andara.


"Iya Tante, Andara suka makan cake, jadi sering bikin kue sendiri kalo sempet." Balas Andara sedikit antusias karena Uminya Nanta mau mencicipi cake buatannya.


"Em enak, Coba deh Bi." Umi menyuapkan kue itu ke mulut Abi. Abi mengangguk setelah merasakan Kue itu di lidahnya.


"Kalo masak bisa enggak? Nadia pinter masak, dan masakannya enak," ucapan kakek membuat suasana jadi tegang lagi.


Nadia, yang namanya di sebut juga jadi tak enak dengan Andara.


"Bisa kok, Andara biasa masak sendiri di apartemen. Tapi hanya masakan yang sederhana saja." Andara mengucapkan itu Seperti anak kecil yang mainannya di ejek orang lain.


"Wah, kamu tinggal sendiri?" Tanya Umi lagi.


Nanta berdehem, lalu menjawab.


"Dara tinggal sendiri. Karena lebih dekat dengan sekolahnya."


"Oh, orang tuamu tidak khawatir anak gadis tinggal sendirian." Kakek masih menjawab dengan nada tidak suka.


Oh ayolah Andara hanya anak berusia 17 tahun. Tapi kakek menganggap Andara sebagai gadis dewasa yang akan merebut Nanta dari calon cucu menantunya. Ia memang sangat menyukai Nadia sebagai pendamping Nanta, begitupun dengan orang tua Nanta. Hanya saja Orang tua Nanta tidak mau menyinggung hati gadis cantik yang berdiri di samping puteranya itu.


"Dara ingin mandiri kakek." Jawab Dara dengan masih ceria padahal hatinya sedang teriris. Ini yang di takutkannya, masalah orang tua yang Dara sendiri juga tak mengerti.


"Sudah, duduk dulu yuk." Ajak Nanta menarik Andara duduk.


Abi dan Umi juga ikut duduk bersebelahan dengan Nadia dan Nanta yang bersebelahan dengan Dara.


"Kamu punya kegiatan apa selain sekolah?" tanya Nadia mencoba untuk lebih akrab.


"Dara kerja, jadi model," Jawab Andara tersenyum ke arah wanita itu.


Jawaban Dara membuat Umi dan Abi jadi saling pandang. Mereka bukan tidak tau jika jadi model berarti berpose di hadapan orang banyak, yang pasti memamerkan kecantikan pada orang banyak.


Nanta yang memahami pemikiran orang tuanya menambahkan.


"Dara juga pelukis, di usianya dia bisa membiayai kebutuhan hidupnya, termasuk sekolah dan tempat tinggal." Nanta mengatakan dengan bangga.


Dara yang jadi malu karena Nanta berlebihan, itu bukan sesuatu yang patut di banggakan. Hidup tidak di inginkan orangtuanya sendiri itu sebuah aib baginya.


"Wah hebat dong. Aku di usiamu masih cuma belajar dan les." Puji Nadia tulus.


"Iya, emang gak sulit bagi waktunya?" tanya Abi untuk pertama kalinya.


"Awalnya sulit dan jadi sering sakit karena kecapean, tapi lama-lama biasa kok om" Jawab Andara jujur.


"Panggil Abi dan Umi saja seperti Nanta, jangan panggil Tante atau om." Umi tersenyum cantik di usianya yang sudah menginjak kepala empat.


"Iya, Umi." Dara senang karena tidak dianggap sebagai orang asing.


Meskipun sikap Abi dan Umi ramah tapi Nanta tau jika mereka tetap tidak ingin membatalkan perjodohan karena agama mereka yang berbeda. Tapi Nanta ingin berjuang selagi mampu dan bisa.


"Aku dulu juga ingin jadi pelukis tapi gak Sampai karena gak ada bakat."


"Kak Nadia bisa kok, asal tetap latihan terus."


"iyakah, tapi sulit aku sudah sering belajar. Kamu harus bersyukur di beri bakat oleh Tuhan." Nadia mulai menyukai Dara karena gadis itu ternyata pantas mendapatkan perhatian Nanta, mandiri dan kuat.


"Dara bersyukur, tapi itu karena Andara memang harus bekerja. Mungkin Tuhan ingin Andara bisa bekerja di usia dini. Tapi kadang Dara juga kesal ingin sering main kayak temen yang lain."


Jawaban Andara di tanggapi senyuman oleh orangtua Nanta, tapi dari jawaban itu mereka jadi semakin yakin Dara lebih cocok jadi adik saja untuk Nanta. Masih terlalu muda dan yang paling penting untuk mereka adalah perbedaan keduanya.


"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. sesungguhnya Allah maha benar, maha pengampun lagi maha penyayang." (QS. An Nahl:18)


Umi dan Abi tersenyum mendengar apa yang di ucapkan Nadia. Wanita itu selain suaranya indah tapi juga penghafal Al-Qur'an. Semakin senang mereka di buatnya. Tak sabar ingin segera mengambilnya sebagai menantu.


Tapi kemudian mereka menyadari termasuk Nadia, ia jadi tak enak karena lupa jika Andara seorang Katolik. Tapi dia malah menyampaikan ayat Quran di hadapannya. Takut dianggap menghina, Nadia meminta maaf.


"Gak papa kok kak, Dara juga sering denger kak Nanta mengaji. Dara suka lantunan ayat suci itu." Jawab Dara yang membuat mereka jadi semakin bingung dengan keadaan ini.

__ADS_1


Nanta tau ini tidak akan mudah. Dara juga tau takkan mudah, tapi Dara hanya ingin berjuang untuk perasaannya.


__ADS_2