Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c14


__ADS_3

Dara menatap kain kanvas yang sudah ada beberapa coretan, tapi belum memiliki objek yang tepat. setelah menyelesaikan lukisan yang semalam. Andara langsung meminta mbak Tia untuk mengirimkan lukisan itu ke alamat di Indonesia. Sekarang, ia sedang sedikit bingung dengan lukisan baru yang belum memiliki objek itu.


Terlukis dengan latar sebuah pantai tanpa objek. Ia ingin memasukkan siluet makhluk hidup dalam lukisannya. Hingga senyumnya mengembang mengingat seseorang. Mungkin menggambarkan keceriaan akan membuat lukisannya lebih bernyawa. Ia sedang merindukan beberapa orang dalam hatinya.


Andara masih di Venice dan akan kembali malam nanti. Ia terus memoleskan kuasnya mengaplikasikan bayangan yang ingin dia sampaikannya melalui lukisan. Ruang sunyi dengan cahaya yang mengintip malu dari jendela kamar hotel tempatnya menginap. Di telinganya terpasang earphone yang memutarkan lagu favoritnya. Hanya melalui lukisan ia tak perlu berbicara banyak, tapi perasaannya bisa tersampaikan.


Di kamar berbeda namun atap yang sama.


Cahaya menembus kaca, menyorot pada sosok anak kecil yang memiliki temperamen berbeda dari anak seusianya.


Iris mata bak samudera yang bisa menenggelamkan. Sorot tajam dengan rahang tegas dan rambut berwarna pasir, itu menggambarkan kemiripannya pada sang ibu yang juga memiliki ciri fisik sepertinya.


Memiliki tingkat kecerdasan tinggi, di barengi dengan koneksi yang mudah di dapatnya.


Ia hanya tau, jika ia tidak sendirian. Di tempat yang tidak di ketahuinya, ia masih memiliki seseorang yang harus ia jaga. Meski tanpa di beri tau seperti apa orang yang di carinya, ia yakin suatu saat perjuangannya tidak akan sia-sia.


"Tuan muda, tuan besar sudah menunggu di ruang kerjanya," ucap seorang bodyguard yang selalu ada di manapun ia berada.


"hmm"


Bodyguard itu mengerti, ia membukakan pintu, menunggu tuan kecilnya mengambil ponsel miliknya. Ia terus mengikuti langkah kecil dari Tuan muda menuju ruang sang pemimpin.


"kau terlalu lama," ujar laki-laki berusia sekitar 40 tahun itu dengan wajah tanpa ekspresi.


"maaf."


"Berhentilah mencari, aku tidak ingin sekolah dan tugasmu terganggu." laki-laki itu menatap laki-laki lainnya yang berbeda usia jauh darinya.


"hmm." balas makhluk kecil itu tanpa dosa.


PRANG.


Ia sangat marah, anak kecil itu tak pernah mendengarkannya.


Pecahan kaca dari gelas yang di lemparkannya tadi, sedikit mengenai kaki anak kecil itu yang memang hanya memakai sandal rumah.


Laki-laki dewasa itu melangkah mendekat, menunduk mencengkram rahang wajah kecil di depannya.


"Berhenti atau aku akan melenyapkannya."


Mereka saling menatap tajam tanpa ada yang mau mengalah. mereka memiliki warna kulit sama yaitu putih pucat. Sifat yang sama keras membuat mereka seperti pinang di belah dua. Yang satu adalah laki-laki dewasa yang terkenal dengan kekejamannya, sedangkan satunya anak berusia 10 tahun yang tak pernah menampakkan senyum di bibirnya.


Cengkraman tangan itu terlepas dengan tembok yang menjadi sasaran tinjunya. Suara geraman membuat ruangan itu semakin mencekam.


"keluar!"


Tanpa mengucapkan kata apapun, anak kecil itu meninggalkan ruangan seperti tak pernah terjadi apapun. Bodyguard yang menunggunya di luar pun tak banyak bertanya, ia hanya menanyakan apakah tuannya akan makan siang sekarang atau di antar ke kamar seperti biasa.


Tuannya itu tak menjawab dan hanya berlalu masuk ke kamarnya. Hotel ini sudah menjadi rumah untuk mereka. karena sang pemilik hotel adalah tuan besarnya. Tak lama Tuan mudanya itu keluar dengan sudah menggunakan sepatu dan membawa laptopnya. ia tak banyak bertanya dan hanya mengikuti.


Di lift menuju ke lobby, hanya ada mereka berdua di dalam. Hingga ada seorang gadis muda masuk dengan terburu-buru. gadis itu memamerkan senyumnya ketika sampai dalam lift. Meski tak mendapat respon dari keduanya, senyum di bibir gadis tak pudar karena sikap keduanya.


Bodyguard itu memperhatikan gadis di depannya, yang tepat berdiri di samping tuan mudanya. Mereka terlihat kontras dengan warna kulit berbeda, gadis itu membawa paperbag, dengan penampilan yang sangat ceria. Berbeda dengan tuannya yang di penuhi hawa dingin tak tersentuh. Hingga lampu lift yang tiba-tiba mati dan terdengar teriakan seorang gadis memenuhi lift.


Dengan sigap sang bodyguard menyalakan senter di ponselnya. Terlihat gadis muda itu duduk meringkuk menempel pada dinding lift. Tapi ada yang lebih mengejutkan yang membuat matanya membulat. Tuan mudanya sedang berjongkok di depan gadis itu.


Ia langsung menelpon pihak keamanan untuk mengatasi lift yang tiba-tiba macet sambil memperhatikan sang Tuan muda yang ikut duduk di samping gadis itu.


Suara tangis tersedu Andara memenuhi lift. Ia terbiasa hidup sendiri di apartemen, tapi ia tak pernah menyukai gelap. Bagaimanapun suasana ruang sempit dan gelap mengingatkannya ruang sempit di dalam lemari.


Ada tangan kecil mengusap tangannya yang sedang memeluk lututnya sendiri. Tangan itu terus mengusap lembut menyalurkan ketenangan. Andara mengangkat wajahnya, nampak air mata membasahi pipi dan kerutan samar di dahinya. Keringat menetes, matanya menatap takut ruangan lift, yang hanya terdapat cahaya dari ponsel seseorang.


Dia secara reflek menutup kedua telinganya, menutup kedua matanya rapat. Mulutnya seperti menggumamkan sesuatu.


Anak kecil yang sedari tadi memperhatikan Andara tau, jika gadis itu terserang panik. Dengan kecerdasannya itu ia mengetahui cara mengatasi seseorang yang di landa kepanikan. Ketenangan tergambar jelas di wajahnya. Suara kecil itu mengisi pendengaran Andara.


"Tenanglah, bukankah aku juga ada di sini?" Suara tegas namun tenang itu mengalihkan perhatian Andara.

__ADS_1


Andara menengok meski dengan ekspresi wajah takut, ia mengangguk ke arah anak kecil di sampingnya.


"Sekarang coba genggam tanganku dan bernafaslah dengan baik."


Andara menurut ia menurunkan tangan yang menutup telinganya, lalu dengan cepat menggenggam tangan anak kecil itu.


"Bagus, sekarang bernafas perlahan."


Bukannya bernafas Andara malah terisak, genggaman tangan itu mengencang.


Tanpa sadar Andara langsung memeluk anak kecil di sampingnya dan menangis sambil memanggil nama Nanta.


Setelah 10 menit Andara sudah cukup tenang ia melepaskan pelukan tapi badannya masih bergetar hebat.


"Hei, kau orang Asia?" tanya anak itu mencoba mengalihkan fokus Andara.


Andara mengangguk saja


"Aku menyukai warna kulitmu, itu seperti Mommyku." karena merasa sudah mendapatkan fokus gadis di sampingnya ia melanjutkan bercerita.


"Ia cantik sepertimu." Anak itu menoleh ke arah Andara dan memperhatikan wajah gadis itu dengan ekspresi tenang.


"Kulitnya kuning langsat khas orang Asia, dan rambutnya panjang dengan warna pasir sepertiku, matanya biru seperti mataku." Anak itu berbicara sambil menerawang membayangkan wajah seseorang.


"dia orang Asia?" Tanya Andara yang membuat Anak itu sedikit mengangkat bibirnya, ia berhasil.


"Hem, dia keturunan Indonesia-Amerika."


"Oh, kalian sedang berlibur di sini?"


"Tidak, aku tinggal di sini."


Sebelum Andara bisa merespon, Lift terbuka paksa dari luar. Mereka langsung berdiri dan bisa bernapas lega. Andara mengusap pipinya yang basah dan mengambil paperbag yang tadi sempat terjatuh. Mereka keluar, Andara mengucapkan terimakasih pada Anak itu, yang hanya di respon anggukan.


Andara langsung pamit karena ia ada janji bertemu dengan Nattalie sebelum mereka pulang ke negara masing-masing. Sambil berlalu Andara berbalik menyebutkan namanya.


Anak itu mematung setelah mendengar Nama Andara. Itu nama orang yang selama ini ia cari, tapi mungkin hanya kebetulan sama. Meski di hatinya sedikit ada getaran, tapi ia tak lagi memikirkan dan berlalu pergi sambil meyakinkan hatinya jika mungkin hanya kebetulan nama yang sama.


.........


Andara sudah sampai di cafe tempat mereka janjian di sana Nattalie sudah menunggu.


"Sorry Natt, I'm late."


"No problem, Andara."


Mereka berbincang, hingga ponsel Andara tiba-tiba berdering.


"hallo."


"apa? om serius." Mimik wajah Andara menunjukkan kepanikan yang membuat Nattalie ikut berdiri khawatir.


"what's wrong Andara?"


"I have to go, now." Andara langsung meminta maaf pada Nattalie. berlari keluar langsung menuju ke hotel, dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Andara langsung menelpon mbak Tia untuk membantunya mengubah jadwal penerbangan. Ia harus segera pulang ke Indonesia sekarang. Kakinya berlari menabrak beberapa orang yang berlalu lalang di sana. Jantungnya berdegup kencang.


.........


Setelah 1 jam ia sudah ada di bandara bersama Mbak Tia. Air matanya tak mengalir lagi, tapi dari tadi ia hanya diam. Mbak Tia terus mengusap punggung Andara, agar tetap tenang. Perjalanan mereka memakan waktu berjam-jam. Sedangkan di tempat lain Gadis kecil itu belum tentu bisa bertahan hingga Andara sampai.


Ia sudah menghubungi Saka untuk menjemputnya nanti. Karena di sini sudah malam, jelas ia akan sampai di Indonesia mungkin esok pagi. Nanta sedang pulang ke Bandung, ke rumah orangtuanya. Ia beralasan sedang rindu ingin pulang. Padahal ia ingin membereskan urusan perjodohan sebelum Andara mengetahuinya.


Di hotel Tuan muda kecil itu sedang berselancar di laptopnya mencari informasi tentang gadis yang di temuinya tadi. Bagaimanapun ia tetap harus memastikan kemungkinan sekecil apapun. Meski tak banyak yang ia dapat, tapi tahun kelahiran yang sama, dengan sosok yang selama ini ia cari membuatnya memiliki peluang.


Tangan mungilnya menggenggam erat, jantungnya berdebar kuat. Kenapa bisa kebetulan mereka bertemu jika memang dia orang yang sama. Mengingat tangis gadis tadi, membuatnya sedikit merasa aneh, karena biasanya ia tidak peduli dengan orang di sekitarnya. Ia hanya akan pergi sekolah, pergi berlatih bela diri, dan belajar memfokuskan pikirannya.

__ADS_1


Ia berdiri melangkah menuju meja dekat tempat tidur, membuka laci dan mengambil foto yang ada di dalamnya. Foto seorang wanita yang sedang menggendong gadis kecil berusia 1 Tahun.


di sentuhnya pelan wajah di foto itu yang tak lain adalah Mommy nya yang sedang menggendong Kakaknya. Gadis kecil itu adalah kakaknya yang menghilang 16 tahun yang lalu. Mommy nya berpesan sebelum pergi untuk melindungi kakaknya itu dari Daddy nya. Masalah rumit yang di latar belakangi kesalahpahaman.


Matanya menyorotkan tekad, wajah kecilnya menampilkan kesungguhan. Jika suatu hari mereka bertemu. Ia akan menjaganya dengan nyawanya sendiri.


Mommy tidak bisa bertemu kakaknya demi melindungi secara tidak langsung. Bahkan dirinya bertahan berada di sisi laki-laki itu juga demi Mommy nya.


.......


Begitu sampai Andara langsung menelpon Saka, ia menunggu dengan gelisah. Hingga terlihat di kejauhan motor yang di kenalnya milik Saka. Dara meminta mbak Tia membawa kopernya pulang, nanti ia akan mengambilnya setelah urusannya selesai.


Begitu sampai di depannya, ia langsung naik ke motor Saka dan menggunakan Helm yang di berikan Saka. Mereka berlalu meninggalkan Mbak Tia yang juga khawatir.


"Ka, agak cepetan dong."


"Lo gak liat ni macet," ujar Nanta sedikit kesal karena Dara memintanya menjemput pagi-pagi untuk ke rumah sakit. Ia tidak mengerti kenapa tapi yang jelas ia menurut saja.


"Udah nyelip aja yuk."


"Gak bisa Andara, Lo gak liat itu polisi jaga di Deket lampu merah. kalo kena tilang malah panjang urusannya," jelas Saka sambil terus memperhatikan wajah gelisah Andara lewat kaca spionnya.


"Cari jalan lain aja deh."


Saka menurut saja dan memutar balik, melewati jalan lain menuju rumah sakit tempat Andara dulu di rawat.


Mereka hanya diam setelahnya, Andara tidak ingin mengganggu konsentrasi Saka. Ia juga tak mau menambah buruk mood Saka.


Selama perjalanan Saka juga berusaha menebak kenapa Andara terburu-buru ke rumah sakit? hingga ia teringat satu hal. Ya ini pasti terkait dengan Alin!


Ia memacu motornya lebih cepat, menyelip di antara kendaraan lainnya. Dara mempererat pegangannya pada pinggang Saka, saat menyadari jika Saka menambah laju motornya.


Setelah sampai, Andara langsung turun tanpa menunggu Saka, ia melepas helmnya cepat. Saka sedikit kesal karena tadi bahkan Andara hampir terjatuh tersandung kakinya sendiri, berlari cepat menuju ruangan Alin.


Andara terpaku pada senyum gadis kecil di ruangan itu. Ia melangkahkan kakinya perlahan sambil berusaha memasang senyum di wajahnya. Ia duduk di samping gadis kecil itu, yang nampak seperti tak sadar namun tersenyum ke arah Ayahnya.


"Sayang itu ada kak Andara," Ucap sang Ayah ketika melihat kehadiran Andara.


"kakak." meski tak mengeluarkan suara tapi Andara mengerti. Ia mengangguk menggenggam tangan kecil yang sudah tidak bisa lagi merespon genggamannya. Andara mengusap kepala Alin perlahan, yang sudah tidak memiliki rambut lagi. Air matanya menetes, hatinya sakit melihat keadaan Alin yang tak berdaya"


"Alin rindu kakak."


"Kakak juga sangat rindu dengan Alin." karena tidak bersuara, Andara harus lebih memperhatikan gerakan mulut Alin.


"Alin mau pergi," kata Alin dengan di sertai senyuman.


Andara tak kuasa lagi menahan isakannya. Ia menggelengkan kepala tapi Alin malah cemberut.


"Alin mau ketemu mama, Kakak jangan sedih."


Semua yang ada di ruangan itu menahan pilu, Dokter, suster dan Ayah Alin sudah pasrah. Ini akhir dari perjuangan Alin yang berat. Mungkin ini memang yang terbaik untuk Alin, yang sudah tak lagi bisa merespon sentuhan, bahkan jarum infus tak bisa lagi masuk ke pembuluh nadinya. Tubuhnya sudah menolak karena mungkin sudah tak mampu lagi bertahan.


Saka yang baru sampai di ruangan langsung memeluk Andara dari belakang. Menguatkan dan memberikan bisikan-bisikan agar Andara tetap tenang.


"Alin titip Mian ya kak." Andara langsung mengangguk dan tersenyum. meyakinkan Alin jika ia pasti akan menjaga kucing kesayangan gadis itu.


Tak lama senyumnya memudar. matanya tertutup. Andara panik, Dokter yang sedari tadi memperhatikan langsung sigap mengecek keadaan Alin. Dokter menatap Ayah Alin dengan muka yang sudah menjelaskan semuanya.


"jam 08:45 WIB pasien di nyatakan meninggal"


Dara menangis tersedu dalam pelukan Saka. Saka mengusap punggung Andara yang bergetar karena menangis terisak. cengkraman erat di bajunya terlepas, Andara pingsan yang langsung mendapat respon dari Saka. Ia membawa Andara ke ruang rawat dengan suster yang mengikuti di belakangnya. Entahlah mungkin. ini pertama kalinya ia bertemu Alin, tapi bagaimanapun ia pernah membuat lagu untuknya.


Hatinya ikut teremas sakit tapi lega, karena gadis kecil itu telah terbebas dari rasa sakitnya. Ia sedikit berlari menuju ruang rawat, dengan Andara dalam gendongannya. Meski mukanya menunjukkan ketenangan tapi sebenarnya ia juga sedikit khawatir. Pasalnya Andara yang pasti kelelahan di tambah kejadian ini, pasti membuat tubuhnya drop.


Menatap pilu sambil terus mengusap kepala Andara sayang, ia akan selalu ada di sisi gadis ini. menggenggam erat tangannya agar ia kuat. Di kecupnya tangan Andara yang sudah terpasang infus. Ia berjanji tidak akan membiarkan Andara menangis sendirian.


Ia tidak menghubungi Nanta karena memang Meraka belum baikan. Biarkan saja Nanta tidak tau, biar dia merasakan kesalnya tidak tau apa-apa. Ah Saka jadi tersenyum membayangkan wajah kesal Nanta nanti saat tau Andara di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2