Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c18


__ADS_3

Nanta sudah berada di lift. Pagi-pagi sekali Nanta sudah bersiap menuju apartemen Andara. Ia melangkahkan kakinya sambil membawa coklat favorit Andara.


Senyum di wajah tampannya bisa membuat, para wanita yang tadi ia lewati jadi gagal fokus. Ia sengaja datang pagi agar sarapan bersama. Bahkan Nanta sudah excited dari bangun tidur tadi.


Saat sudah hampir sampai pintu Apartemen Andara, Nanta melihat ada buket bunga baby breath favorit Andara. Ia sudah berdiri tepat di depan pintu, ujung sepatunya menyentuh buket bunga di depan pintu Andara.


Ia menunduk mengambil buket bunga itu dengan kening berkerut.


"Siapa yang memberi buket bunga ini pada Andara?" tanyanya dalam hati.


Hanya dia dan teman dekat Andara yang tau jika Baby breath adalah bunga favorit Andara. Nanta mengecek apakah ada surat atau nama pengirim. Setelah di cek memang ada kertas di sela-sela bunga itu.


Tulisan itu berbahasa asing


" spero tu stia sempre Bene. non sei solo "


Nanta yang tidak mengerti pun hanya mengangkat bahunya tidak peduli. Mungkin ini penggemar Joana.IA


Nanta masuk ke apartemen dengan perlahan. Ia ingin mengejutkan Andara. Ia meletakkan bunga di meja depan tv, melangkah lebih masuk ke dalam.


Ia mengecek dapur, karena kosong langsung saja ke kamar. Ia membuka perlahan pintu kamar Andara. Mengintip dengan memasukkan kepalanya lebih dulu. Tapi kenapa kamar ini kosong? Ia masuk karena bingung.


Mengecek di kamar mandi juga tidak ada. Nanta langsung menelpon ponsel Andara. Tapi tidak tersambung. Mukanya pucat, jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba berpikir positif dengan mencoba menghubungi Saka.


Tapi karena Saka yang memang kurang ajar, bukannya di angkat malah di matikan begitu saja. Ia kesal awas saja jika ketemu nanti, ingin rasanya ia mangarungi manusia satu itu. Dia langsung melempar coklat yang di pegang nya sedari tadi ke kasur. Berlalu meninggalkan apartemen Andara.


Nanta bingung, lalu ia mengecek posisi ponsel Andara melalui ponselnya. Tapi sepertinya ini kerjaan Saka, karena ponselnya tidak bisa dilacak.


Nanta langsung masuk ke mobilnya. Ia menuju ke rumah Saka, mungkin Andara menginap di sana. Terlihat jelas guratan kekhawatiran di wajahnya. Ini salahnya yang tidak memberi kabar dari kemarin.


Mobilnya melaju cepat membelah jalanan padat penuh kendaraan. Ini yang mengesalkan jika membawa mobil, tidak bisa kemana-mana kalau sedang terjebak macet.


Sedangkan di suatu tempat yang berbeda, Andara sedang di periksa dokter. Ada Rion yang memang bertugas menemani dokter mengecek Pasien. Saka yang melihat interaksi Dara dengan perawat laki-laki yang kemarin sudah di curiganya, begitu akrab. Matanya memicing memandang Andara dari duduknya, menipiskan bibirnya menatap curiga.


Dokter menganjurkan agar Andara lebih disiplin dalam berolahraga. Setidaknya lari pagi atau yang lain asalkan badannya bergerak. Saka yang mendengar langsung mengangkat tangan, menunjuk Andara yang kebetulan juga menoleh ke arahnya.


Andara hanya tersenyum malu, ia memang malas berolahraga. Dokter dan Rion permisi pergi, tapi sebelum benar-benar pergi. Saka menatap galak pada Rion yang juga menatapnya aneh. Ah Saka memang malu-maluin. Andara yang melihat tatapan tidak suka Saka pada Rion langsung melempar pisang yang ada di atas meja ke arah Saka.


"Apa sih pake melotot gitu. Malu-maluin aja!" tegur Andara yang di balas Saka dengan decakan.


"Lo suka ya sama perawat sok oke itu?" tuduh Saka dengan menunjuk hidung Dara. Ia mendekat dan menatap mata Andara penuh curiga.


"Enggak, gue cuma suka kak Nanta seorang ya." kilah Dara tak terima di tuduh seperti itu.


"Terus kenapa dia liatin Lo sampe kek gitu?" Saka melipa tangannya di depan dada.


"Ya suka-suka kak Rion lah. Kan mata dia bukan mata Lo!" Balas Dara galak.


Saka berdecak lalu mencubit hidung Andara. semakin kesal Andara, maka wajahnya semakin imut, Saka gak kuat.


"Gak suka kok sok deket, panggil kak lagi."


Saka bergumam tak jelas yang akhirnya, mendapat pukulan keras dari Andara di lengannya.


"Gak baik tau kayak gitu."


"Bawel." Mereka saling memicingkan mata kesal.


"Udah sana Lo berangkat sekolah aja." Usir Andara tega.


"Ihh, ngusir! awas aja entar manggil-manggil."


Saka beranjak mengambil ponselnya dan jaketnya lalu pergi sambil membanting pisang yang di lempar Andara ke padanya tadi.


Andara heran, bagaimana bisa ia berteman dengan manusia satu itu. Posesif gak ketulungan, belom lagi suka menindas orang, contohnya dia. Ah untung aja sayang.


Mereka memang kadang berantem, kadang saling sayang, kadang ya gak jelas gitu pokoknya.


Dara harus segera sembuh, sebentar lagi ia ujian. Pasti sudah tertinggal jauh. Untung saja semalam Vian mengajukan diri mejadi Guru dadakan untuk Andara. Ah beruntung nya dia punya teman-teman yang sayang. Tyas,Fita dan Alan juga akan membantu Andara dengan tugasnya. Hanya Saka yang tidak mau membantu, tapi mengomel.

__ADS_1


Dara jadi ingat jika ponselnya masih di sita Saka, semalam ia chatingan sampai malam dengan teman-temannya, tapi itu berakhir dengan Saka yang menyuruhnya tidur. Lalu menyimpan ponsel Dara di jaket yang di pakainya semalam.


"Saka!!!" teriak Andara kesal.


Bisa-bisanya ia lupa untuk meminta ponselnya tadi. Ia hanya berharap semoga bunda segera datang, atau Kak Rion mau berkunjung setelah tugasnya selesai.


........


Saka sampai sekolah dengan motornya. Ia memicingkan mata melihat mobil Nanta di dekat gerbang. Ia menghentikan motornya, lalu melepas helmnya. Nanta juga keluar dari mobilnya setelah melihat motor Saka melewatinya tadi.


Mereka saling menatap jengah. Oh ayolah mereka laki-laki tapi marahan nya lama bener.


"Ada apa?" tanya Saka malas.


"Mana Andara?" Nanta semakin kesal melihat sikap tengil bocah di depannya. Jika Nanta termasuk cowok posesif maka berarti Saka lebih parah. Ia tak pandang gender, mau cowok ataupun cewek jika melukai Andara berarti berhadapan dengannya.


"Napa nyari'in? kan Lo cowoknya kok tanya gue." Saka mengangkat wajahnya songong.


Nanta sedang menahan kesal, sungguh! Saka kalau sedang marah kayak gini nyebelin banget. Kayak cewek lagi PMS.


"Gue gak akan nanya kalo tau. gue ulangi pertanyaan gue. di mana cewek gue sekarang!"


Nanta tak ingin main-main lagi. Nada berbicaranya pun cukup tegas untuk membuat Saka akhirnya menjawab dengan benar.


"Rumah sakit!"


"dimana Lo saat Dara butuh? Gak guna Lo." Saka menyalakan motornya meninggalkan Nanta yang terkejut.


Andara di rumah sakit? Nanta langsung berbalik ke mobilnya. Ia bahkan tak lagi memperdulikan sikap Saka tadi. Ia cukup bersyukur Saka selalu ada untuk Andara ketika ia tak bisa hadir di sampingnya.


Nanta melajukan mobilnya cepat. Tangannya sedikit bergetar. jarinya mencengkram kemudi dengan erat. Dia merasa jahat. Pacar seperti apa yang tidak tau kekasihnya sedang sakit. Mukanya merah menahan amarahnya. Ia kesal kenapa kemarin tidak langsung mencari Andara saja.


Andara tak punya siapapun untuk merawatnya. Ia pasti kesepian, Nanta mengacak rambutnya yang biasa tertata rapi menjadi berantakan, tapi itu malah menambah tingkat ketampanannya.


Andara hanyalah gadis kecil yang masih butuh perhatian orang tuanya. Harusnya ia ada di sisi Andara untuk menggantikan perhatian itu.


Ketika sampai, ia langsung memarkirkan mobilnya dan berlari menuju resepsionis. Disana ia mendapatkan info ruang rawat Andara. Nanta terburu-buru menuju ruangan itu.


"Kakak kemana aja deh?" Dara merajuk sambil memeluk Nanta lebih erat.


"Maaf,maaf,maaf." Nanta terus menggumamkan kata itu berulang kali.


"Kakak kenapa deh kok nangis?" Tanya Andara yang merasakan ada air menetes di kelapa nya.


Nanta hanya menggeleng yang jelas saja tidak di lihat oleh Dara. Ia ikut sakit memeluk tubuh lemah di pelukannya. Bunda yang melihat mereka, sepertinya butuh waktu untuk bicara. Bunda keluar meninggalkan mereka.


Sudah sekitar 10 menit, tapi Nanta tak kunjung melepaskan pelukannya.


"Kak, Dara suka di peluk! tapi sampe kapan ini peluknya?" Tanya Dara polos.


Nanta terkekeh, ia mencium gemas pipi Dara. bagaimana bisa bukannya marah padanya, gadis ini malah bersikap menggemaskan.


"Maaf aku baru tau kamu di sini." sekali lagi Nanta memeluk Dara erat lalu melepaskan dengan tidak rela.


"Masih sakit? mana yang sakit?" Nanta mengecek keadaan Andara. Membolak-balikkan badannya khawatir.


"Sayang, aku enggak apa-apa kok"


Mereka saling menatap tanpa banyak bicara. Nanta tak mengerti kenapa Dara tak marah atau menanyakan keberadaan nya yang kemarin tidak ada kabar. Apalagi di usianya, biasanya cewek selalu melampiaskan kesal dengan marah.


"Maaf, aku kemarin baru pulang dari Bandung, aku gak tau kamu di sini." Tatapan Nanta sangat dalam. Ia tulus meminta maaf.


"Dara ngerti kok. Emang sih Dara kesel tapi Dara yakin Kakak gak ada niat kan buat gak ada kabar?" Andara menjawab sambil tersenyum manis menatap kekasih tampannya.


Nanta balas tersenyum, ia mengusap pelan kepala Andara. Bagaimana bisa Dara tergantikan di hatinya. Gadis ini spesial!.


Andara menceritakan perjalanannya kemarin ke luar negeri. Dari situ Nanta tau Andara sengaja mengirim lukisan itu untuk orang tuanya. Ia hanya mengucapkan terimakasih, dengan kondisi Andara saat ini, akan buruk jika ia menceritakan tentang perjodohan nya dengan Nadia.


Bahkan Nanta berharap, Dara tak perlu tau. dan perjodohannya sudah selesai sebelum Dara mengetahui nya. Ia tak ingin. membuat gadis kecilnya sedih dan banyak berpikir.

__ADS_1


"Kak, Dara kemarin ambil penerbangan pulang lebih cepat karena..." Dara menggantung ucapannya. Ia berat menceritakan ini.


"Karena apa sayang?"


"Alin sudah pergi kak." Dara mengucapkan kalimat itu dengan mata yang berkaca-kaca.


Nanta yang mengerti langsung memeluk Andara erat. Jadi ini yang membuat gadisnya bersedih.


"Udah please. Dia udah tenang di sana. Jadi jangan sedih lagi sayang."


"Dara tau, tapi kayaknya Alin kemarin masih tersenyum ke Andara"


"Dara do'ain Alin biar tenang di sana."


Dara mengangguk. Ia jadi teringat tentang Mian, kucing kesayangan Alin. Ia sudah tau Alamat rumah Ayah Alin. Tapi ia belum sempat mengambil kucing itu.


"Kak Alin kemaren minta Dara untuk menjaga Mian, kucing nya." lapor Dara, ia sebenarnya bingung karena belum pernah memelihara hewan sebelumnya.


"iya nanti kakak bantu buat rawat Mian." Nanta menyentil hidung Andara gemas.


Mereka saling menggoda melepas rindu. Hanya Andara yang bisa membuatnya tersenyum seperti ini.


Bunda yang melihat itu saat akan mengambil tasnya. Ia ikut bahagia melihat senyum Andara. Nanta seperti separuh Andara, jiwanya seperti utuh saat Nanta ada di dekatnya. Bunda tidak jadi masuk takut mengganggu. Ia memutuskan pulang tanpa tas, biarlah nanti Saja yang ambil.


"Sayang, aku ketinggalan banyak pelajaran."


Rengek Andara, yang mendapat sentilan di hidungnya.


"belajar dong. jangan nyontek!"


"Iya kok, Andara nanti emang mau belajar sama Vian."


"Ah, tapi kalo belajar, nanti ngerjainnya ya tetep nyontek! percuma kalo gitu." Sindir Nanta tepat di hatinya.


"Aaahhhhh, kakak! Andara gak gitu ya." bela Andara


"Gak gitu tapi gini " Nanta sengaja menggoda Andara, entahlah kekasihnya ini sangat suka mencontek.


Biasanya ia akan meminta Saka untuk mengawasi Andara. Bahkan, sekolah pun harus di awasi, karena Andara punya kebiasaan buruk membolos.


"Besok Andara beneran belajar, biar gak nyontek!"


"Iya. semangat ya sayangku." Nanta mengecup singkat tangan Andara.


Sebenarnya Nanta tetep sanksi dengan ucapan Andara. Nilai akademiknya kecil karena malas sekali untuk belajar.


Jika ada tugas, biasanya Nanta atau Saka yang akan membantunya. Bahkan, jika Andara lupa jika ada PR. Nanta akan menemaninya lembur. Nanta akan menginap dan jadilah ia mengantuk saat ada kelas pagi.


"sayang mau makan buah itu." tunjuk Andara pada buah apel di atas meja.


Nanta mengerutkan kening, menoleh ke arah buah di meja. Ia memicingkan mata.


"Manja." Ujar Nanta pura-pura kesal.


Dara tau jika Nanta hanya bercanda. Ia memperhatikan kekasihnya itu. Dara rindu sekali dengan Nanta. Wajah tampan itu adalah favoritnya.


"Coba kakak yang dari kemaren di sini. Saka gak mau, tau kak kupasin buah untuk Andara. Dia marah-marah kalo Andara minta tolong kupasin buah."


Nanta hanya tersenyum saja mendengar aduan Andara. Ia sudah hafal, Saka dan Andara memang kadang akur, kadang berantem tanpa alasan. Tapi ia jelas tau, mereka hanya sedang mengungkapkan sayang dengan cara yang berbeda.


"Kamu nakal mungkin, jadi Saka gak mau." Nanta menyuapkan buah ke bibir mungil kekasihnya.


"Dara selalu baik, yang nakal ya saka!"


Nanta hanya menggeleng tak percaya. Automatis ia langsung mendapatkan pukulan beruntun yang tidak terasa sakit.


Bagaimana bisa mereka berpisah jika yang mereka tau adalah bersama.


Ananta adalah bintang di langit gelap.

__ADS_1


Nanta adalah pelangi sehabis hujan


Seseorang yang selalu ada di hati Andara.


__ADS_2