
Pagi-pagi mereka sudah sibuk untuk lari pagi bersama, Tapi rencana tiba-tiba berubah ketika Andara melihat ada orang bersepeda. Ia merengek agar acara jalan pagi di ganti
dengan bersepeda saja. Akhirnya mereka memutuskan mengikuti keinginan Andara, untung pihak Hotel memang menyiapkan fasilitas sepeda untuk para tamu.
"Lah sepedanya cuma empat!" keluh Tyas melihat hanya tersisa empat sepeda saja.
"Ya udah ada yang boncengan aja, ya kan?" usul Vian yang mendapat anggukan dari Alan.
"Tapi gue mau sendirian!" suara protes dari Andara membuat yang lain menggeleng sedikit kesal.
"Gue sama Alan deh, berdiri di bagian handle ban belakang," usul Tyas yang mendapat persetujuan dari Alan, ia tak keberatan karena Tyas cukup kurus, sehingga tidak membuatnya keberatan.
"Lah gue sama siapa?" tanya Fita melihat Dara dan Saka sudah memegang sepeda masing-masing.
"Noh sama Vian aja!" teriak Andara melaju menyusul laju sepeda Alan yang membonceng Tyas.
"Lo mau sama gue apa Saka." tanya Vian pada Fita.
"Emm gue sih terserah aja."
"Sama Vian deh!" teriak Saka meninggalkan keduanya.
"Yuk ah, ketinggalan entar kita!" ajak Vian yang langsung ikut melaju bersama Fita.
Pancaran kebahagiaan dari anak-anak remaja itu sungguh ingin membuat mereka yang melihatnya ikut tersenyum. Mereka saling menyalip tertawa dan saling meledek.
Dara dan Saka ada di bagian paling depan. Karena mereka hanya sendirian jadi tidak begitu berat, sedangkan untuk pasangan yang berboncengan akan sulit mengejar laju sepeda mereka.
"Woi jan ngebut-ngebut!" teriak Fita yang ada di urutan paling belakang.
"Kalian aja lambat! blwee," ledek Andara menjulurkan lidahnya ke arah belakang.
Mendapat ejekan dari gadis bermata biru itu, Alan dan Vian jadi semangat ingin menyalip Andara. Sedangkan Saka, ia hanya melaju tepat di belakang Andara. Tak berniat ingin menyalip, sengaja ingin membiarkan Dara di atas angin. Tapi, begitu mendekat ke arah jembatan yang telah mereka sepakati sebagai garis akhir, Saka menyalip Andara dengan mudah.
Andara kesal, karena menurutnya Saka berlaku curang. Padahal dari awal dia lah yang berada di garis depan. Andara duduk di pinggiran tepi pantai, dengan wajah merah karena lelah dan bulir keringat yang mengalir di pelipisnya.
Saka, Vian dan Alan datang membawa minum untuk ketiga gadis itu. Dara yang masih kesal tak mau menerima air mineral yang di berikan Saka. Saka dengan sabar meletakkan minumnya lalu membantu membuka botol minum Andara dan menyerahkan pada gadis itu.
"Minum dulu ini!" kalimat tegas yang keluar dari bibir Saka membuat Andara mengambil botol yang di sodorkan sedari tadi.
Saka meminta tissue pada Tyas, lalu membantu Andara mengelap keringat di dahi dan lehernya. Vian yang melihat itu hanya berusaha mengalihkan pandangannya. Jika saja ia lebih berani untuk melakukan itu, mungkin saat ini ia sudah lebih dekat dengan gadis cantik bermata biru itu.
Suasana pagi di pantai Kuta Bali sudah sangat ramai, banyak dari mereka memanfaatkan waktu untuk berjemur, ada yang hanya bermain di pinggiran pantai.
Saka mengajak Vian lomba menggunakan jetski, mereka ahli dalam hal itu. Dara ingin ikut tapi tak diperbolehkan. Jadilah ia hanya ikut berjemur di pinggiran pantai dengan di temani es kelapa muda. Mereka berbincang dan bergosip, biasa wanita jika bertemu jadi sok asik sendiri. Alan yang merasa di abaikan memilih untuk berjalan-jalan di sekitar sini.
__ADS_1
Tapi kedatangan beberapa remaja laki-laki mengagetkan ketiga gadis itu. Ternyata itu adalah Made dan teman-temannya. Dara tak mengenali yang lain selain Made, karena malam itu gelap, hanya Made yang di lihatnya dengan jelas.
"Hai, aku dari tadi sebenarnya liat kamu. Tapi, takut salah orang!" jelas Made dengan senyum ramahnya.
"Oh, sini ikut duduk. Wah nih kenalin temen aku. Yang agak tomboi ini Fita dan yang manis ini Tyas!" tunjuk Andara mengenalkan Fita dan Tyas pada mereka.
Mereka saling memperkenalkan diri masing-masing, Tyas dan Fita juga merasa asik mengobrol bersama mereka yang ternyata sangat friendly. Bahkan saat ini Fita terlihat sangat akrab berbincang dengan Made.
"Kalian berapa lama liburan di sini?" tanya salah seorang teman Made.
"Belom tau deh, palingan tiga hari ya Gais?" jawab Dara melirik temannya.
"Wah, kok sebentar?"
"Itu juga udah lama! bengkak entar tagihan Hotel kalo lama-lama," canda Fita menyahuti.
Melihat mereka terlihat sangat akrab, Made mengajak Dara berjalan di sekitar pantai. Dara mengiyakan. Mereka berdua membicarakan banyak hal, kadang Made akan menggoda Dara, tapi itu semua masih dalam batas wajar pertemanan. Made adalah teman yang asik dan tau batasan-batasan dalam pembicaraan. Sehingga Dara pun juga menikmati waktu mengobrol hingga mereka memutuskan berbalik ke tempat tadi.
"Oh iya, nanti malam Alex akan ikut balapan mobil, kamu dan teman-temanmu kalo mau ikut liat, boleh loh!" ajak Made tanpa ada kata memaksa.
"Em gak tau deh, soalnya kita udah punya daftar tempat yang ingin kita kunjungi. Tapi entar kalo mereka mau aku ajakin, kamu save ya nomorku!"
Made dan Andara saling bertukar nomor telepon, mereka sampai di tempat temannya tadi. Tapi suasana canggung membuat Dara heran, kenapa tiba-tiba suasana jadi aneh. Dan baru disadarinya jika Itu karena tatapan tajam Saka ke arah Made.
Melihat tatapan tajam Saka yang menghunus tepat pada Made yang tetap pasang wajah santai saja. Dara jadi gugup, ia padahal tidak salah, tapi jika Saka sudah merah, Andara juga jadi takut. Tak ingin terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, Dara menarik Saka menjauh, tak lupa pamit pada Made dan teman-temannya hanya dengan senyum canggungnya. Fita dan Tyas mengekor di belakang mereka.
"Hem Lo ngapa deh pasang muka galak gitu, nakutin tauk!" Protes Andara pelan karena sedikit takut.
Melihat tak ada tanggapan dari Saka, Andara terus menjelaskan sepanjang perjalanan menuju ke hotel. Bahkan ia juga menyerahkan sepedanya pada Fita, ia ikut naik di sepeda Saka. Ia duduk miring di bagian depan Saka.
Fita, Tyas, Alan dan Vian sampai setelah Andara dan Saka. Mereka saling berbisik membicarakan kejadian tadi. Mereka tau jika Saka sangat posesif berhadap Dara, jadi mereka hanya bisa memaklumi sikap tak sopan Saka pada Made dan teman-temannya.
Dara masih mengekor di belakangnya Saka. Ia ikut masuk ke dalam kamar, duduk menunggu Saka yang sudah masuk ke dalam kamar mandi. Ia menghela napas lelah, jika Saka sudah marah itu lebih mengerikan dari cewek yang lagi PMS.
Karena tau jika Saka sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi, Dara berteriak di depan kamar mandi jika akan kembali ke kamarnya untuk mandi juga. Tak mendapatkan sahutan dari dalam, Dara dengan murung kembali ke kamarnya.
Setelah Dara pergi, Saka keluar kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya. Dia bukan tak mau keluar bukan karena marah, tapi karena lupa tak membawa pakaian masuk ke kamar mandi, sedangkan ada gadis di kamarnya. Tak mungkin ia keluar hanya menggunakan handuk yang menutupi area pribadinya.
Dara meminta Tyas, Fita , Alan dan Vian untuk pergi tanpa dirinya dan Saka. Dara tau jika nanti Saka akan merusak suasana karena masih marah padanya.
Dara masih berdiri di depan pintu kamar Saka, Ia menundukkan pandangannya. Mengayunkan kaki atau berjalan bolak-balik. Entahlah, si penghuni kamar sungguh tega menyuruhnya menunggu di depan pintu.
Saat Saka keluar pun Dara masih di abaikan. Dara mengekor saja mengikuti langkah Saja dalam diam. Saka baru berhenti ketika sampai di gazebo dekat kolam renang. Duduk tenang mengabaikan Dara yang ikut duduk di sebelahnya.
"Lo kok marah sih Ka?"
__ADS_1
Tak mendapat jawaban membuat Dara jadi kesal tapi tetap ia tahan.
"Dia cuma temen doang kok, kan gue cuma cinta sama kak Nanta," jelas Andara kesekian kalinya.
"Lo masih gak paham!?" tanya Saka tak habis pikir.
"Bukan tentang Nanta, gue gak peduli dengan laki-laki brengs*k itu. Tapi gue gak suka Lo deket sama cowok yang baru Lo kenal, gue gak mau Lo kenapa-kenapa!" bentak Saka karena Dara tak kunjung mengerti.
Dara terkejut, mengedipkan mata beberapa kali.
"Lah, kok Lo jadi bentak-bentak sih, pake ngatain cowok gue brengs*k lagi!" balas Dara tak kalah keras.
"Ya, nyatanya cowok Lo itu brengs*k! Lo aja begok mau di bo'ongin sama tu cowok!" Saka juga terkejut menyadari apa yang telah di katakannya.
"Bo'ong apa!?" Dara menjawab dengan suara pelan namun menuntut.
"Lupain, gue asal ngomong! karena kesel sama Lo!" Saka mengelak bahkan dia mengalihkan tatapannya yang tadi menatap tepat pada Andara.
"Gue tau Lo tau sesuatu! gue harap Lo gak nutupin apapun dari gue!" Dara tak lagi kekeh tapi dari kata-katanya dapat dipastikan jika Dara menuntut kejujuran Saka.
Mereka terdiam cukup lama, Saka dengan pikiran bingung harus bilang apa, sedangkan Andara kalut menunggu jawaban laki-laki itu dengan gusar.
Dara takut karena hari ini Nanta juga tak mengangkat panggilannya. Bahkan pesannya juga tak kunjung di lihat. Dara jadi nethink karena memang sudah ada kecurigaan dalam hatinya, sedikit saja ada hal yang tak sesuai maka akan timbul rasa curiga. Dara tak mau hubungannya terdapat kecurigaan, oleh karena itu ia menyuruh Saka menyelidiki. Tapi, sekarang ia yang tak siap dengan apa yang akan di dengarnya.
"Nanta..." Saka ragu melanjutkan kata-katanya, tapi melihat Dara di bohongi oleh laki-laki itu juga membuatnya tak rela.
"Dia... em sudah menikah!" Saka langsung meraih Andara dalam pelukannya, ia tak sanggup melihat Wajah gadis di pelukannya.
Dara tertawa, mencoba memberontak dalam pelukan Saka. Tapi meski tertawa karena menganggap ini lelucon, air matanya tetap menetes tanpa ia mau.
"Jangan bercanda kayak gitu!" Teriak Anda keras semakin memberontak, bahkan sekarang ia sedikit terisak.
"Lo becandanya gak lucu, Lo jahat!" Dara mulai meracau tak jelas.
Saka tak melepaskan dekapannya, merengkuh Gadis itu agar tidak hancur, mencoba menguatkan. Namun Dara masih saja menuduhnya bercanda. Dara tau Saka tak mungkin bercanda tentang masalah seperti ini. Gadis dalam pelukannya itu sekarang menangis terisak.
Dara tak bisa mempercayai, kekasihnya yang sangat di percaya dan sangat di cintai nya telah menikah. Dara tak masih tak mau percaya, bahkan kemarin laki-laki itu mengantarkannya ke bandara, masih memeluk dan menciumnya. Lalu, kenapa bisa kekasihnya sudah menikah.
Dara tak lagi terisak, hanya diam mencoba. mencerna semuanya. Saka melihat Dara diam tak bergerak malah jadi khawatir. Sedikit menjauhkan badannya, memegang pundak Andara dan mencoba menatap wajah gadis itu. Namun Dara mendorongnya sangat keras, menatapnya tajam, berbalik menjauh tanpa bicara.
"Dara, dia gak layak Lo pertahankan!" teriak Saka kesal. Ia kesal melihat Andara sedih, ia kesal karena lengah hingga terjadi hal ini. Saka tak dapat menebak apa yang di pikirkan gadis itu saat ini.
___________________________
Apa yang bakal terjadi selanjutnya??? tunggu kelanjutannya ya... 😉
__ADS_1