
Saka menarik tangan Dara untuk naik ke atas menyusul Vian dan Fita.
Masuk ke kamar Vian yang super duper nyaman untuk ngumpul. Ya sering kali saat malas ke mana-mana mereka memilih rumah Vian untuk tempat ngumpul. Ruangan luas dengan ukuran 10x12 meter ini kamar dengan fasilitas lengkap. Ada sofa panjang dan tv dengan layar yang memuaskan penonton, berasa seperti bioskop versi mini. Belum game lengkap yang bikin Fita dan lainnya betah.
Dilihatnya Fita dan Vian sedang bermain game. Saka menarik Dara duduk di sofa sedangkan ia berlalu menuju tempat tidur Vian. Dara sudah sangat lapar sebenarnya, dia beranjak menuju kulkas kecil di pojokan kamar, dekat etalase koleksi miniatur tokoh fiksi milik Vian.
Ia memilih makanan yang sebenarnya kulkas ini lebih banyak berisi minuman. Ia mengambil soda dan cookies. Tapi belum juga ia beranjak dari sana Vian sudah mengambil soda di tangannya lalu melemparkannya pada Fita. Kemudian mengambil soda satu lagi untuk dirinya. Vian menarik tangan Dara yang sudah memasang muka sangat kesal.
Vian mendudukkan Dara di dekat dirinya main bersama Fita. Lalu mengambil air mineral yang sudah sedari tadi ada di meja dan menyerahkannya pada Dara. Ia mencubit pipi Dara yang malah semakin membuat Dara kesal saja. ia tertawa lalu melanjutkan gamenya.
Semuanya tadi tak lepas dari penglihatan Saka. Ia sudah tau sejak lama Vian sudah sangat menyayangi Dara meski tau Dara memiliki kekasih. Ia memejamkan matanya erat.
Hingga ada suara telpon pun ia tak ingin membuka mata.
"Saka, ambilin ponsel gue dong di tas."
"Woi Lo tidur apa mati! sialan." Fita kesal karna acaranya main game harus terganggu suara dering telpon yang ia yakin miliknya.
Fita berjalan menuju tempat tidur karna tadi ia melempar tasnya asal ke situ.
Ada telpon dari papanya. ia sangat malas mengangkat jadi ia matikan ponselnya.
"Kenapa gak di angkat Ta?" tanya Dara heran dengan mulut penuh cookies.
"Dari bokap, males gue palingan suruh balik." jelas Fita dan melanjutkan gamenya. Dara hanya mengangguk saja.
"Dia khawatir kali Ta." Vian tak suka jika ada seorang anak yang mengabaikan orang tuanya. Karena dia begitu sayang dan hormat pada orang tuanya. Meski nakal ia tak pernah membantah ucapan orang tuanya. Ditambah lagi orang tuanya juga sangat friendly, memberi kepercayaan dan kebebasan terhadap anaknya bahkan pada teman-temannya juga begitu santai sikapnya.
"Udah gak usah di bahas." balas Fita cuek saja.
"Gak gitu, cuma kan mereka cuma butuh kabar aja Lo lagi di mana, mereka sayang kalik sama Lo Ta," jelas Vian yang tak melihat perubahan mimik wajah Dara.
"Gue gak butuh perhatian, udah lah ntar juga gue balik." Fita masih kekeh untuk mengabaikan saja hal tadi.
"Mereka sayang sama Lo Ta, Vian emang bener coba aja mereka gak nyari'in Lo, pasti Lo bingung Ta," jawab Dara refleks dan bahkan ia juga tidak mengerti apa yang dia katakan.
Saka yang sebenarnya dari tadi mendengar meski terpejam tak tahan lagi. Ia beranjak bangun menarik Dara keluar dari kamar ini. Vian dan Fita masih biasa saja tak mengerti, jika baru saja mengingatkan seseorang tentang luka.
Saka masih menarik Dara menuruni tangga lalu mendudukkannya di kursi ruang makan.
Ia menepuk kepala Dara pelan kemudian berlalu ke dapur. Dilihatnya mbak Minah yang masih sibuk memasak.
"Belom siap ya mbak makanannya?"
"Belom mas Saka, tapi ini sebentar lagi kok." jawab mbak Minah sopan.
Saka akhirnya menuju ke kulkas mencari es krim yang ia letakkan di sini tadi. Masih pada tempatnya tak tersentuh. Ia mengambil satu cup es krim rasa Coklat mix Vanila favorit Dara.
Dara melamun fikirannya melayang kemana-mana tangannya saling meremas hingga berkeringat. Sampai sentuhan lembut itu menggenggam tangan Dara. Saka tersenyum manis kepada Dara lalu menyuapi es krim ke mulutnya.
"Boleh?" Tanya Dara sebelum membuka mulutnya.
"Boleh, karna ini juga kadang-kadang bisa jadi obat."
"Iyakah? Dara baru tau." ucap dara polos sambil membuka mulutnya.
"Emm enaknya, manis," respon Dara cepat ketika es krim itu terasa meleleh di lidahnya.
"Iyalah manis." senyum Saka pada Dara yang mulai lupa dengan fikirannya tadi.
"Lo juga dong Ka." Dara mengambil sendok di tangan Saka dan balas menyapu Saka es krim.
"Em manis." ujar Saka setelah lelehan itu tercecap di lidahnya. Ia tak begitu suka es krim tapi karena biasa di ajak Dara makan es krim ia pun jadi terbiasa.
Mereka saling meledek dan bercanda, hingga suara Mbak Minah menginterupsi kegiatan mereka.
__ADS_1
"Mas Saka, mbak Dara, makanan boleh saya siapkan sekarang," tanyanya karna Meraka makan es krim di meja makan.
"Oh iya mbak nanti saya telpon Vian dan Fita untuk turun."
Setelah menelpon temannya, mereka melanjutkan menghabiskan es krim yang tinggal sedikit lagi.
"Wah gue udah laper banget." Fita langsung duduk di sebrang Dara sedangkan Vian di dekat Fita.
"Mbak Minah masakannya selalu enak makanya Dara suka makan di sini," ucap Dara pada mbak Minah yang sedang menyajikan makanan.
"Yang bener mbak Dara? mbak Minah mah seneng kalo mbak Dara suka."
"Iya dong Dara suka. enak apalagi kalo ke sini selalu ada ayam kecap favorit Dara."
Mbak Minah reflek melirik Vian. Ia langsung tersenyum dan pamit ke belakang. Memang menu apapun pasti tetap ada ayam kecap kesukaan Dara jika Gadis itu makan di sini.
Mereka makan sambil mengobrolkan apapun, membuat ruang makan jadi ramai. Hingga ada suara anak kecil yang heboh menghampiri Dara.
"Kak Dara maen ke sini yey." Cella langsung minta duduk di pangkuan Dara, yang di sambut oleh Dara dengan cubitan-cubitan kecil di pipinya.
"Kenapa sih kangen ya sama kak Dara."
"Iya Cella Kangen, kak Vian juga kangen." tunjuk tangan kecil Cella pada Vian kakaknya.
Vian langsung tersedak kaget. Semua orang tertawa karena Vian mengumpat kesal pada adiknya itu. Meski Cella tidak mengerti tapi ia merasa itu berarti elakkan dari Kakaknya. Ia malah meyakinkan Dara jika itu benar. Jadilah mereka makin tertawa dan Vian yang makin kesal.
"Sayang kak Dara lagi makan, kamu ikut mama dulu ya," ujar mama Vian agar mereka berhenti menggoda anaknya yang kulit wajahnya saja sudah memerah malu.
"Gak mau Cella mau sama kak Dara." kekeh Cella.
"Enggak apa-apa kok ma, biar Cella sama Dara aja." Dara juga sebenarnya Rindu dengan celotehan Cella.
"Ya sudah nanti kalo Cella rewel suruh aja mbak Minah manggil mama di kamar ya."
"Iya ma." Cella melambai ke arah mamanya.
"Udah gak apa-apa aku dah selesai kok." Dara beranjak pergi menggendong Cella yang sebenarnya cukup berat menuju Taman belakang.
......
Setelah selesai main Dara memandikan Cella dan main di kamar Cella sambil tiduran. Jangan tanya yang lain kalau Vian dan Fita jelas melanjutkan main gamenya, sedangkan Saka ia masih tertidur di tempat tidur milik Vian.
"Woy Ka gue mau balik Lo ikut balik nggak?"
Panggilannya tak mendapat respon dari Saka. Ia memukul badan Saka dengan guling, tapi bukannya bangun Saka malah berguling menjauh dari posisi Fita.
"Ye malah pindah! ya udah gue balik duluan deh ya." Masih tak mendapat respon dari Saka. Ia mendengus kesal.
"Vian gue balik duluan ya, ntar Lo bangunin si Saka sebelum di cari orang tuanya. Terus kalo Dara Lo coba hubungi pacarnya aja. tadikan dia bilang balik di jemput Kak Nanta."
"Sip dah Sono keburu di cari bokap Lo ntar."
"Iye bawel." Fita mengambil tasnya dan berlalu pergi.
......
Vian mengetuk kamar adiknya, yang ternyata pemiliknya sedang tertidur nyenyak, bersama gadis cantik yang memeluknya erat.
Ia berdiri di tengah pintu melihat mereka yang tertidur lelap. ini masih pukul 08.00 p.m tapi mereka sudah tidur, mungkin karena kelelahan. Ia masuk membenarkan selimut dan mengecup pipi adik kecilnya itu. ia beranjak ke sisi lainnya akan melakukan hal sama, tapi tak jadi karena merasa tak pantas jika ia melakukannya. Ia hanya seorang teman, pandangannya masih terpaku di wajah damai Dara yang sedang menyusuri alam mimpi.
Hingga ada suara mengagetkannya.
"Udah jangan di liatin terus. Mending temenin gue maen gitar." Saka berdiri di pintu.
"Iya ayok." jawab Vian pendek berlalu melewati Saka menuju kamarnya mengambil gitar miliknya
__ADS_1
......
Mereka sedang ada di balkon menikmati dinginnya angin malam sambil memainkan musik dan bernyanyi. Hingga tiba-tiba, Vian menyanyikan lagu milik Anji yang judulnya menunggu kamu. Saka yang mengerti suasana hati Vian hanya diam ikut mendengarkan.
Mereka sering bersama, tak mungkin ia tak melihat jika rasa Vian untuk Dara itu berbeda. tapi ia juga melihat jika Andara sangat menyayangi Ananta, laki-laki paling berarti dalam hidup Dara. Ia menyayangi Dara jadi asalkan Dara tidak terluka atau menangis ia akan mendukung siapapun yang bisa menyayangi Andara tulus. Ia melihat itu ada pada Vian dan juga Ananta.
Setelah lagunya selesai Vian hanya diam ia menyerahkan gitar pada Saka. Saka menerima gitar itu dan mencoba menyanyikan sebuah lagu, tapi ia masih bingung lagu apa yang cocok untuk menghibur temannya itu.
Hingga ia ingat lagu favorit Dara.
"Ian, nyanyi lagu where is the love yok. kita bagi part ya." Saka tersenyum, jika Dara mendengar mereka bernyanyi lagu ini pasti sangat senang.
"Oke, ini lagu favorit Dara kan. heran kenapa dia suka lagu galau kek gini sih."
"Gue juga gak ngerti." Mereka menyanyikan lagu itu dengan part yang sudah mereka bagi.
Suasana malam membuat kesunyian menjadi makin kentara. Suara dua orang laki-laki itu begitu lembut menyatu menciptakan melodi.
Mereka yang menyukai musik akan melebur dalam lagu untuk menenangkan hati.
Hingga malam sudah larut mereka memutuskan masuk. Saka menghampiri kamar Cella bermaksud membangunkan Dara, tapi melihat wajah cantik itu begitu lelap membuatnya tak tega. Mungkin lebih baik ia menghubungi Ananta. Ia tadi ke sini menggunakan motor jadi tak mungkin membonceng Dara yang kesehatannya masih harus di jaga. Angin malam tentu tak baik untuk Andara.
Sebenarnya bisa saja ia membiarkan Dara tidur di sini. Tapi rasanya tak baik saja karna ada dilema di antara mereka. Setelah menelpon Ananta dan memastikan laki-laki itu akan menjemput Andara, ia menghampiri Dara lagi mengecup lembut kepala Dara kemudian berlalu keluar kamar.
Ia sudah menaiki motornya akan pulang. Orangtuanya tadi sudah menelponnya karena belum pulang.
.........
"Permisi, assalamualaikum."
mbak Minah membukakan pintu dilihatnya ada laki-laki yang berdiri tersenyum ramah kepadanya.
"Maaf mas nyari siapa?"
"Saya menjemput Andara."
"Oh saya panggilkan den Vian terlebih dahulu, mas silahkan duduk dulu." mbak Minah masuk memanggil Vian jika ada orang akan menjemput Andara.
"Hei kak, ayo masuk aja." Vian menyapa dari pintu menyuruh Nanta masuk.
"Iya Dara mana ya."
"Dara tidur di kamar adik gue, ayo kakak masuk aja udah."
Mereka berjalan beriringan sambil sedikit berbincang.
"Wah sudah lelap dia." Nanta tersenyum melihat kekasihnya sudah lelap
Vian hanya diam saja berdiri di dekat tempat tidur. Nanta akan menggendong Dara menuju mobil.
"Vian tolong bantu gue bukain pintu mobilnya ya nanti."
Vian mengangguk mengikuti Nanta.
Dia bisa melihat jika Nanta bahkan mengangkat Dara dengan begitu perlahan takut membangunkan gadis itu. Ia bisa melihat mereka adalah pasangan yang begitu cocok, bagaimana bisa ia menyukai gadis yang sudah memiliki kekasih, apalagi kekasihnya begitu baik seperti kak Nanta.
.......
Di bukanya pintu mobil, Nanta perlahan membawa masuk Dara meletakkan dengan perlahan, mengusap pipinya ketika melihat Dara sedikit terganggu tak mau jika nanti Dara terbangun.
"Apa tadi dia merepotkan kalian?" tanya Nanta ramah sambil masih memandang wajah lelap Dara.
"Enggak kok kak, slow aja." memang di antara teman Dara hanya Saka yang sudah akrab dengan Nanta, jadi nampak sekali kecanggungan di antara mereka berdua.
"Ya udah, thanks ya udah bantu gue jaga Andara. dia beruntung punya temen seperti kalian," ujar Nanta tulus karena sungguh ia senang Andara punya teman baik seperti mereka.
__ADS_1
"Justru kami yang beruntung punya temen seperti Dara kak, dia baik." Mereka saling melempar tawa sebelum mobil Nanta berlalu pergi meninggalkan Vian yang termenung memikirkan perasaannya. Perasaannya hadir begitu saja, tanpa pemberitahuan jadi bukan salahnya kan?.
Berawal dari teman sebangku dari kekas satu SMA, Vian yang pintar namun cuek saja. Luluh dengan kepolosan gadis itu. dan pertemanannya dengan Saka membuatnya jadi akrab dengan Andara. Bahkan sering bolos bareng karna mereka sama-sama malas masuk kelas. Perasaan ingin menjaga gadis itu juga muncul begitu saja. Yang Vian tau, ia hanya ingin bersama Dara lebih lama lagi.