
Mereka sudah membahas banyak hal dan mengerjakan beberapa soal. harusnya itu di kerjakan oleh Andara tapi, jika Vian tak membantu, maka soal tak akan terjawab. Sebenarnya Jika sudah paham, Dara juga bisa dengan mudah mengerjakan soal itu. Hanya saja sayang, Andara sepertinya tak pernah mempelajari ini sebelumnya.
Andara bisa mengerjakan sekitar 10 soal dalam dua jam, tapi di itupun di bantu Vian. Laki-laki itu sangat sabar mengajarinya. Dara tersenyum Melihat Vian yang sedang serius dengan soal di depannya. Teman Laki-lakinya ini sangat baik, dan sangat jenius.
"Kok Lo bisa pinter gitu sih Ian?" Tanya Andara setengah serius Setengah bercanda.
"Ya dong, Gue udah jenius gini dari lahir!" Balas Vian makin songong.
Dara mengerutkan dahinya. Vian di berkahi otak pintar apakah itu anugerah juga? atau sudah takdirnya?
Vian yang melihat keseriusan di wajah Andara, ia mengusap perlahan kerutan di kening Andara.
"kenapa Hem?" Tanya Vian lembut sambil menatap manik mata berwarna biru itu.
"Lo beneran jenius dari kecil?"
Vian tertawa, jadi Andara sedang memikirkan ucapannya tadi. Dia mengangguk saja, mengikuti apa yang di pikirkan gadis di sampingnya.
Dara jelas percaya, Vian anak bandel yang sering bolos bersamanya. Di rumah pun di habiskan dengan bermain game. Ah apakah ini di sebut ketidakadilan untuk alam semesta? Dia jadi iri.
Vian makin tertawa keras melihat Andara masih sangat serius menanggapi ucapannya. Jika saja boleh, ia ingin memeluk erat gadis menggemaskan di sampingnya ini.
"Udah, lanjut lagi. gue mau lanjut nge-game. Setelah selesai kita akan makan malam, oke?" Vian akan beranjak, ia tak kuat jika terlalu lama dekat dengan gadis tak peka di sampingnya.
"oke! Sana lanjut aja. Entar gue tanya lagi kalo gak bisa."
Andara melanjutkan mempelajari pelajaran fisika yang tertinggal saat ia cuti untuk bekerja ke luar negeri kemarin. Ada harga yang harus di bayar di setiap pilihan yang di ambilnya. Ia bisa jalan-jalan ketika yang lain belajar, dan mengganti dengan usaha keras untuk setiap ketertinggalan.
Waktu berlalu, hingga hampir mendekati waktu makan malam. Vian masih asik dengan game di tangannya dengan sesekali melirik gadis cantik jauh di depannya.
"Vian, Napa Isaac Newton atau Albert Einstein enggak menjelaskan tentang cinta aja. Kayaknya manusia juga butuh deh teori tentang cinta." Dara bertanya dengan serius tanpa menatap ke arah Vian.
Vian menengok dan mengerutkan keningnya. Berpikir, tidak ini sedikit sulit. Bagaimana dia akan menjawabnya.
"Cinta terlalu sulit di pahami," jawab Vian reflek tanpa sadar.
"jadi, gak bisa di pelajari? padahal mereka bisa mempelajari tentang buah apel yang jatuh ke tanah, masak tentang cinta gak tau!" protes Dara konyol.
Vian menahan tawanya. Oh ayolah ini cinta, sangat sulit jika berbicara tentang cinta.
"Mungkin karena cinta itu untuk di rasakan secara alami pada manusia. Karena mencintai itu mempunyai caranya sendiri dan itu berbeda-beda." Vian saja kaget dengan apa yang di katakannya.
Dia saja tak pernah memiliki pacar, tapikan setidaknya ia pernah merasakan cinta.
"Bucin Lo!" ejek Andara dengan tawanya.
Tawa yang indah, sangat jarang bisa menikmati tawa indah dari gadis itu. Vian juga diam-diam tersenyum tipis.
"Ada teorinya deh, mau denger?" Setelah memikirkan, ia jadi ingat kata dalam sebuah novel milik prof Yohanes. Dalam bukunya itu ia mengingat ini.
"Apa emangnya?" Dara menjawab dengan menatap langsung pada mata Vian.
"betapapun fisika mencoba membagi rahasianya. Bagi para ilmuan, cinta tetap menjadi keajaiban yang menakjubkan. Yang jelas Einstein ingin sekali menghubungkan cinta dengan teori terkenalnya itu, sampai-sampai dia dengan serius berkata,
'letakkan tanganmu di tungku panas selama semenit, rasanya seperti satu jam. Duduklah bersama dengan gadis pujaanmu selama satu jam, rasanya seperti semenit.' Itulah makna relativitas"
Dara menatap Vian dengan mulut sedikit terbuka, jika lebih lebar lagi akan menetes air liurnya. Ia tak menyangka Vian yang di kenalnya cuek dengan sekitar ternyata tau tentang hal seperti itu juga. Pasti bacanya mencakup banyak hal. Ia sedikit takjub.
Vian yang di lihat sampai seperti itu oleh Andara, jadi salah tingkah. Mengusap tengkuk belakangnya canggung. Apakah ia berlebihan dengan pembahasan ini.
__ADS_1
"Baru tau jika cinta bisa sehebat itu." Andara manggut-manggut seakan mengerti.
"mau denger lagi gak?"
Tanya Vian sambil mendekat ingin membuktikan teori yang di ucapkannya tadi, tentang relativitas duduk dengan gadis pujaan hati. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dalam hatinya ia tertawa jahat. Salahkan Andara yang tak pernah peka terhadapnya.
"Ada lagi, apa?"
"Seseorang pernah menulis pemikirannya tentang cinta. Ditulis dalam sebuah buku 'Secret of power Negotiating' Di dalam buku itu Dawson menulis. 'Apakah lawan cinta itu adalah benci?', Tidak! Lawan benci itu adalah ketidakpedulian. Jadi jika kamu tidak peduli dengan seseorang, maka kamu tidak mencintai orang itu." Jelas Vian panjang
"Kalo benci berarti cinta?" Tanya Dara.
"Entahlah, rasa cinta itu sulit di pahami."
"Bahkan seseorang pernah bersyair. Ya kekasih, daripada engkau memalingkan wajahmu dariku, lebih baik sakiti aku dan marahi aku, itu lebih baik sebab kemarahanmu dan kebencianmu itu adalah salah satu bentuk kepedulianmu." Lanjut Vian Sambil menatap manik biru itu dengan tulus.
Dara yang memang tak peka Hanya tertawa saja. Memukul dada Vian di sela tawanya.
"Lah kok Lo jadi bucin sih." Canda Dara tak berhenti tertawa.
"Lo gak akan ngerti. Itu bukan bucin Tauk."
Vian beranjak dari sebelah Andara tak ingin kelepasan jika terlalu lama memperhatikan tawa itu dari dekat.
Dara mengira Vian marah dengan candaannya. Ia berhenti tertawa menatap punggung tegap laki-laki itu.
"Gue canda kok Ian, Apa yang Lo bilang tadi keren. Gue gak tau kalo ada banyak orang yang mencoba menjelaskan tentang cinta." Andara merasa bersalah.
"Udah, tau gue. Cukup di rasain aja, entar bakal tau kok." balas Vian cuek memainkan game di ponselnya.
Andara mengangguk. Ia membereskan buku-buku yang berantakan itu. Vian sudah baik mau mengajarinya, Setidaknya harus membereskan kekacauan yang di buatnya.
"Vian gue laper, Lo gak ajakin gue makan." Dara mendekat duduk memunggungi Vian dengan menyandarkan kepalanya ke punggung laki-laki itu.
"Ya udah yok turun, Kita tanya Mbak Minah dulu." Ajak Vian menarik Tangan Andara.
Andara menampilkan wajah sumringah. Berpikir juga menguras tenaganya, Butuh energi ekstra. Bahkan kemarin ia hampir drop lagi karena kurang istirahat.
.......
Setelah makan Vian menemani Dara duduk di teras, menunggu jemputan. Nanta akan menjemput, karena ia bilang kebetulan sedang ada di cafe tak jauh dari rumah Vian.
"Nyanyi deh dari pada diem gini. Gih suara Lo kan lumayan."
"Suara gue bagus ya, bukan cuma lumayan." protes Vian tak terima.
"Iya percaya, ambil gitar Lo. Entar gue yang main."
Andara cukup pintar main gitar karena Vian atau Saka sering mengajarkan padanya.
"Ya udah bentar," Ucap Vian sambil tangannya mengacak rambut Andara.
"Ih jail banget deh tangan Lo." Teriak Andara kesal.
Tak lama Vian datang dengan membawa gitar kesayangannya. Memberikan gitar itu pada Andara. Suasana sepi di malam hari, dengan angin malam yang berhembus menerpa mereka, Vian tau jika Andara pasti kedinginan. Ia memberikan jaket yang di ambil tadi.
"Pake," ujarnya cuek lalu duduk bersebelahan dengan Andara.
Teras rumah Vian lebih tinggi dari pelataran rumahnya. Jadi sangat pas sekali untuk duduk menikmati malam. dengan bintang yang menghiasi langit gelap.
__ADS_1
"kenapa laki-laki bisa punya aroma yang segar tapi berbeda-beda. Parfum kalian gak wangi tapi aromanya enak." Gumam Andara saat memakai jaket Vian, itu terdengar di telinga sang pemilik.
"Karena laki-laki punya feremon yang berbeda-beda, untuk menarik lawan jenisnya, Dan aroma itu punya ciri khas tersendiri." Jelas Vian tanpa menoleh.
Dara menoleh ke samping.
"Iyakah, bukan karena parfum?"
"Parfum juga memberi aroma, tapi kami setiap laki-laki memang punya feremon atau aroma khas sendiri." Jelas Vian menengok, sehingga sekarang keduanya jadi bertatapan.
Vian menatap dengan penuh kasih, sedangkan Andara menatap dengan serius, ia baru tau itu.
"Udah Lo mau nyanyi apa deh?" Tanya Andara sambil memetik gitarnya.
"Apa aja, Lo maunya lagu apa?" Tanya Vian balik.
"Em, gimana kalo Menunggu kamu dari Anji." Menurut Andara itu pas dengan situasinya yang sedang menunggu jemputan dari Nanta.
Vian mengangguk.
"Oke. yok." Vian memulai dan Dara mengiringi.
Suara Vian yang ngebass terdengar sangat merdu, Vian biasa bernyanyi di acara gereja. Suara yang mengalun menyelami keheningan malam. Duduk berdua dibawah langit bertebar bintang sebagai saksinya. Bahkan mungkin angin yang bertiup dan Daun bergoyang bisa tau perasaan nya.
Vian sesekali menyanyi sambil melirik sendu gadis di sampingnya. Mungkin ia hanya bisa menatap dan menikmati waktu berdua sebagai teman. Itu sudah cukup untuk mengobati kerinduan.
Lagu itu selesai di nyanyikan, tapi Nanta tak juga datang. Mereka tak tau jika Nanta harus mengantarkan Nadia terlebih dahulu, mobil wanita itu tiba-tiba mogok. Jadilah Nanta yang harus mengantarkan wanita itu lebih dulu. Tak mungkin ia akan meninggalkan Nadia pulang sendirian.
Jarak yang memutar dari rumah Vian saat ini, membuat laki-laki itu jadi sedikit lebih lama. Mungkin ia terlihat seperti ****. Mengantar pulang wanita lain, lalu menjemput kekasihnya setelahnya. Nanta tak ingin seperti ini, tapi keadaan yang memaksanya.
"kayaknya Nanta kejebak macet deh," ucap Andara lesu, Ia lelah.
Sebenarnya tadi saat Nanta menelpon, ia sudah mengatakan untuk tidak menjemput , ia akan naik taksi saja. Tapi kekasihnya itu memaksa. Andara sudah ingin tidur di kasurnya. Untung saja tadi ia meminta Saka untuk mengambil Mian. Jika tidak pasti kucing itu akan kelaparan menunggunya pulang.
"Bentar lagi mungkin, tapi malam begini sih harusnya gak macet di daerah sekitar sini."
Jawaban Vian membuat Dara sempat berpikir, apa Nanta bohong padanya. Tapi Andara segera menampik pikiran itu. Gak boleh nethink.
Vian yang menyadari keterdiaman gadis di sampingnya jadi mengusap wajahnya. Kayaknya dia salah ngomong deh.
"Em, mau cookies enggak? sambil nunggu cowok Lo Dateng."
Dara mengangguk mengiyakan itu. Vian masuk lagi ke dalam mencari cookies, semoga masih ada. Untung tadi Cella tidak menghabiskannya. Ia membawa cookies yang tersisa itu keluar.
Tapi hingga cookies itu habis pun Nanta belum juga datang. Hatinya terasa tak enak. Jantungnya berdegup kencang. Menahan kekecewaan dengan terus berpikir positif.
"Gue anter aja ya?" Vian yang melihat wajah sendu Andara jadi tak tega. Gadis itu juga terlihat lelah.
"Ya deh, tapi gue jadi ngerepotin elo dong. Pesen taksi aja deh." Dara mengurungkan niatnya karena tak ingin membuat temannya jadi repot.
"Udah, Lo tunggu sini bentar." Vian masuk lagi ke dalam untuk mengambil kunci mobilnya.
Mama Vian menyaksikan putranya yang sangat antusias pada seorang gadis untuk pertama kalinya. Ia tersenyum saja. Anak muda memang lucu, pikirnya.
Dara yang masih menatap kegelapan di depannya, jadi sedikit sedih. Ia mengambil ponsel di tas, ingin menghubungi Nanta untuk tidak usah menjemputnya. Ia awalnya akan menelpon, tapi karena tak ingin Nanta menyadari kekecewaan di hatinya. Ia lebih memilih untuk mengirimkan pesan saja.
From princess Joana 💕
Kak, gue di balik di anter Vian aja deh. Kakak langsung pulang aja ya. See you.
__ADS_1
Saat membaca pesan dari kekasihnya, Nanta meremas setir mobilnya dengan kuat. Ini salahnya, pasti Andara menunggu lama. Menghela napas lelah sambil memejamkan matanya. Dia merasa brengsek dengan membuat gadis kecilnya jadi menunggu, di tambah itu karena ia mengantarkan wanita lain.
Memukul keras kaca jendela di sampingnya. Sepertinya ia harus mampir ke masjid itu dahulu. Sholat akan membuat hatinya lebih tenang. Bahaya jika ia memutuskan melanjutkan perjalanan dengan perasaan kacau saat ini. Ada masjid tak jauh dari tempatnya berhenti tadi. Andara nama itu terucap dari bibirnya pelan.