Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c31


__ADS_3

Pagi yang sibuk untuk Andara di hari Minggu. Bibirnya bersenandung mengikuti alunan musik keras dari ruang kamarnya, Ia sedang menata kotak makan. Pagi ini Andara berencana sarapan bersama kekasihnya. Dia tidak menelepon karena ingin memberi kejutan.


Kejadian semalam sudah berusaha untuk di lupakan dan menganggap jika wanita itu pasti salah satu teman Nanta. Dara mengambil ponsel dan Slingbag nya dengan salah satu tangannya. Karena tangan satunya, sudah di gunakan untuk membawa kotak makan.


Saat akan keluar kamar, Andara berbalik lagi menghadap kaca di meja rias. Mengecek penampilannya, dengan rambut terikat rapi, make up natural dan mini dress warna dusty pink. Tersenyum pada bayangan di cermin.


"Lo udah cantik Ra!" ucapnya pada bayangannya sendiri.


Berjalan keluar dengan suasana hati yang berbanding terbalik dengan semalam. Bahkan taksi online pesanannya sudah stay di depan apartemen.


"Dengan Joana?" tanya driver itu memastikan.


"Ya pak. sesuai alamat yang saya kirim ya." sang driver mengangguk.


Driver itu sesekali mencuri pandang untuk melihat gadis cantik di belakang. Matanya yang berwarna biru memang sedikit lebih mencolok dari orang biasanya. Dalam hati ia berkata "mungkin pakai softlens seperti Lina istriku."


Sepanjang perjalanan Andara sudah senyum-senyum sendiri, Gadis itu merindukan kekasihnya. Setelah beberapa hari hanya bisa bertemu sebentar, saat ini ia akan membayar dengan waktu yang lama.


Dara sampai dan langsung masuk, menyapa beberapa orang yang memang sudah ia kenal karena penghuni apartemen sini juga sudah hafal, jika gadis bermata biru ini pasti akan mengunjungi kekasihnya.


Tapi langkah kakinya terhenti, di depan sana dari arah berlawanan, Nanta sedang bersama wanita semalam berjalan mendekat. Mereka tak mengetahui keberadaan Andara karena sedang asik dengan obrolan. Andara menyingkir bersembunyi di balik tembok lorong lantai satu.


menyandarkan badannya ke dinding dengan tangan meremas kuat kain dress bagian dada. Rasa nyeri itu datang lagi semakin sakit di rasanya. Air matanya luruh setelah terlihat mereka melewatinya menuju ke arah luar.


"Siapa dia? apakah semalam belum cukup hingga pagi-pagi masih bertemu lagi?"


Andara tertawa di sela isakannya. Hari ini dia harus tau, meski pahit harus diterima. Dengan langkah cepat ia berusaha mengejar dua orang tadi. Mereka keluar dari halaman depan menuju jalan raya dengan menggunakan mobil Nanta.


Andara kalut dan bingung. Ia berlari ke jalan raya, mencoba menyetop taksi atau apapun yang bisa di tumpangi untuk mengejar Mereka. Mengusap air matanya kasar, dengan gelisah berdiri di pinggir jalan.


Hingga ada motor berhenti tepat di depannya. Apakah tukang ojek? tapi kenapa motornya keren gini? Andara diam terpaku saat sang pengendara membuka helmnya.


"Lo ngapain berdiri di sini?"


Andara tak menjawab pertanyaan laki-laki tersebut langsung mencoba naik di boncengan motor itu.


"Anter gue please!" menepuk-nepuk punggung laki-laki itu.


Tanpa banyak tanya sang pengendara langsung melajukan motornya.


Andara clingukan mencari mobil yang sedari tadi di carinya. Ia yakin mobil tadi mengarah ke sini. Bahkan air matanya semakin tak terkendali, karena jantungnya berdegup lebih kencang dan itu menyakitkan.


Josh melihat gadis di belakangnya lewat kaca spion. Gadis itu seperti mencari sesuatu, dan kenapa menangis?


"Josh tolong ikutin mobil itu, yah warna putih di depan sana, please!" Teriak Andara karena yakin suaranya akan teredam angin. Josh mengikuti instruksi Andara, mempercepat laju motornya.


"Dia belok ke sana Josh."


Josh menambah lagi kecepatan motornya. Meski tak tau kenapa harus mengejar mobil itu, Josh tak peduli. Ini pertama kalinya mereka sangat dekat, bahkan salah satu tangan Andara berada di pinggangnya. Ia tersenyum di balik helmnya.


Mobil itu berhenti di rumah sakit. Dara menunggu mereka turun, lalu mengikuti dengan jarak aman. Josh juga mengikuti langkah Andara dalam diam.


Nanta dan Nadia memasuki salah satu ruang di sana. Dapat di lihat jika ada seorang kakek terbaring dengan selang infus di lengannya. Senyum kakek itu mengembang melihat kedatangan cucunya.


"Tidak perlu terlalu sering mengunjungiku, Kamu kan harus fokus sama tugas kuliah," Ujar kakek menutup buku bacaannya.


"Tadi Nadia datang ke apartemen, ngajakin Nanta ke sini karena khawatir tidak ada yang jagain kakek. Tapi nanti siang, Abi dan Umi pasti udah sampe sini buat jagain kakek."

__ADS_1


"Kakek, udah makan?" tanya Nadia berdiri di sebelah Nanta dengan menundukkan pandangannya.


Nadia paham apa itu ghadul Bashar. meski akhir-akhir ini dia sering dekat dengan laki-laki di sampingnya, tapi ia selalu menjaga pandangannya.


يَا عَلِيُّ، لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ؟ فَإِنَّ لَكَ الأُوْلَى، وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ)) [رواه الترمذي وأبو داود وحسنه الألباني].


Wahai Ali, jangan kamu ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, karena yang pertama itu boleh (dimaafkan) sedangkan yang berikutnya tidak. (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud dan di-hasan-kan oleh Al-Bani).


"Sudah tadi, kalian sendiri sebelum ke sini sudah makan kan?" tanya kakak menatap keduanya.


Nadia menggeleng, Karena terburu-buru ia tidak sempat sarapan tadi.


"Nanta juga belom, kamu kenapa tadi gak sarapan dulu?" Tanya Nanta pada Nadia.


"Iya, aku langsung ke apartemenmu tadi."


Nanta menggeleng, Nadia punya penyakit lambung tapi tidak makan dengan teratur.


"Ya udah ke kantin dulu yuk. Kakek Nanta tinggal sebentar ya?" ajaknya pada Nadia yang juga sekalian ijin pada kakek.


"Ya sudah sana. Kalian makan dulu nanti baru ke sini lagi." Kakek melambaikan tangan tanda mengusir.


Mereka tertawa dengan apa yang di lakukan kakek. Dara yang sedari tadi berdiri di depan pintu, menyaksikan apa yang terjadi di dalam dari kaca pintu ruangan tersebut.


Ia segera menyingkir dan bersembunyi di balik tubuh Josh yang mempunyai badan kekar yang mungkin tidak menutupi seluruh badannya, tapi cukup untuk membuatnya tak terlihat. Entah karena mereka yang terlalu asyik atau memang ia yang tak terlihat.


Dara menggenggam erat kotak makan di tangannya. Ia tertawa miris melihat kotak itu, padahal ia sudah membuatkan nasi goreng spesial untuk kekasihnya itu. Tanpa berlama-lama ia masih mengikuti kemana mereka pergi.


Ikut duduk di meja yang dekat dengan dua orang itu namun dengan posisi membelakangi. Josh juga ikut duduk di depan Andara meskipun sedari tadi di abaikan.


Ikut memperhatikan dua orang yang sepertinya berhubungan dengan gadis di depannya. Ia tak pernah tau saat Nanta mengantar jemput Andara jadi wajar jika ia tak mengenali kekasih dari pujaan hatinya.


"Hachhii."


"Hachhii." Nanta bersin hingga dua kali.


"Yarhamukallah," Ucap Nadia mendengar Nanta bersin. Ia tersenyum dan mengulurkan tissue di sebelahnya.


"yahdikumullah wa yushlih baalakum." Sahut Nanta.


Mereka jadi tertawa, karena Nanta memang sering bersin. Dara tak mengerti apa itu, tapi kenapa mereka jadi tertawa? Wajah murungnya tertangkap oleh mata Josh. laki-laki itu memicingkan mata pada pasangan yang sedari tadi mereka ikuti.


"Nanta boleh aku mengenal kekasihmu?" Tanya Nadia sedikit takut.


"Untuk apa?" Nanta tidak mau jika Nadia mengenal Andara. Tak ingin jika gadis kecilnya jadi tau tentang perjodohan konyol ini.


"Karena aku ingin mengenalnya, aku ingin tau gadis seperti apa yang membuatmu begitu menyayanginya." Masih dengan tersenyum Nadia berkata lembut.


"Dia gadis yang baik, dia lucu dan.... em sangat istimewa." Nanta menjawab sambil tersenyum membayangkan gadis kecilnya.


"Apakah dia tau soal kita?"


"Dia tidak akan pernah tau. Karena ini akan segera berakhir Nadia!" Sentak Nanta dengan suara sedikit lebih keras.


Nanta sudah sering menjelaskan jika hatinya hanya untuk Andara, ia tak ingin jika nanti Nadia akan kecewa dengan terus berharap padanya.


"Maaf. Aku tak akan menyerah!" Nadia menunduk, tak ingin melihat wajah lelaki itu yang selalu marah ketika mereka mulai membahas tentang hubungan mereka.

__ADS_1


"Aku menyayanginya, mengertilah Nadia." Nanta mencoba tetap sabar, ia melunak melihat Nadia yang juga terlihat takut padanya.


"Kau tau jika kalian berbeda!" Nadia masih kekeh dengan hatinya.


"Jangan, cukup! aku tak ingin membahasnya."


"Kau pun tak bisa menghindari masalah ini, Kau akan membuat sedih orang tuamu."


"Aku akan pikirkan nanti!" Nanta menjawab dengan pelan, menoleh ke arah lain.


"Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNYA ialah Ia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. Diantaramu rasa kasih dan sayang." (QS. Ar Rum:21)


"Sudah Nadia! Kau tak akan memahami perasaanku." Nanta berdiri dan pergi dengan kesal.


"Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orangtuanya. ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kalian kepadaKU dan kepada orangtuamu. Hanya kepadaKU lah kalian kembali." (Luqman:14).


Nanta sempat berhenti tapi melanjutkan langkahnya tanpa menengok ke arah wanita berhijab itu. Sungguh ia juga tak ingin melawan orangtuanya. Dan memang Nadia adalah wanita Sholehah menantu idaman orangtuanya, atau bahkan idaman laki-laki di luar sana. Tapi baginya hanya Andara yang ia cintai.


Nanta tidak kembali ke ruang kakek. Ia duduk sendirian di kursi tunggu luar ruangan itu.


Setelahnya Nadia juga ikut berdiri dari duduknya. Andara masih menatap kosong dengan pikiran sedikit kacau. Bibirnya tersenyum tapi air matanya luruh.


"Josh, menurutmu mereka cocok enggak?" Dara bertanya karena menurutnya wanita tadi memang sangat cocok dengan Nanta. Sholehah dan terlihat baik.


"Entahlah." Josh tak ingin jika ia menjawab iya pasti Dara semakin sedih.


"Lo percaya takdir?" tanya Andara lagi.


"Enggak!" karena menurut laki-laki bebas, seperti Josh dialah yang menjalani hidupnya menurut keinginannya, bukan takdir.


"Tapi gue percaya!" Dara mendongak menatap netra hitam itu sedih.


Andara berdiri membawa kotak makan menuju tempat sampah dan membuangnya. Itu tak lagi ada artinya, untuk apa lagi di bawa.


"Kenapa di buang?" Tanya Josh tak suka.


"Gue mau pulang sendiri, makasih udah mau nganter gue." Dara tau itu tak sopan, tapi ia memang butuh waktu sendiri saat ini.


Josh tak lagi mengikuti, masih terdiam di tempat menatap kepergian gadis itu. Tangannya terulur mengambil kotak makan yang tadi di buang. Membuka isi di dalamnya yang ternyata nasi goreng. Karena di bawa naik motor dan di lempar di tempat sampah, makanan itu jadi berantakan. Tapi Josh tetap membawa kotak itu bersamanya.


Dara keluar dari rumah sakit. Tujuannya sekarang, entahlah ia hanya ingin sendirian saat ini. Ia menyetop taksi untuk pulang.


Kepalanya sedikit pening memutar beberapa kejadian dan perkataan yang masih melintas di ingatannya.


"Siapa wanita tadi? kenapa dia ingin bertemu dengannya dan kenapa dengan orang tua Nanta? kenapa dengan berhubungan dengannya itu membuat mereka sedih?


Dara tak tahu harus apa. Ia ingin bertanya pada kekasihnya tapi, kenapa Nanta tak ingin ia tau. Masih jelas di ingatannya itu tak menjawab keraguannya.


Dara tak beranjak dari rooftop apartemennya hingga malam. Dara terbiasa sepi dengan tidak melakukan apa-apa. Maka dari itu Saka dan Nanta sering mengajak Andara keluar dari kesepiannya. Karena mereka tahu itu tak baik untuk mental Andara.


Saka juga hari ini sedang ada acara keluarga sehingga sama sekali tidak menghubungi Andara. Ia tidak tahu jika gadisnya sedang butuh pelukan atau setidaknya sandaran.


Dara sudah mengabaikan panggilan telepon di ponselnya sejak tadi. Entah siapa yang menghubungi, Andara tidak bergerak sedikitpun. Suhu dingin di malam hari bahkan tak sedikitpun menggerakkan niatnya untuk pergi dari sana.


Tak ada yang bisa menebak apa isi hatinya.


Tak lagi menangis namun juga tak bersuara.

__ADS_1


Tenggelam bersama gelapnya malam dan Melebur bersama sepercik cahaya malam.


__ADS_2