Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c22


__ADS_3

Pagi ini Andara sedang bersiap, padahal ini masih jam 6 pagi. Ia sudah siap dengan pakaian olahraga nya, dan sepatu warna pinknya. Dara mendekati Mian yang masih bergelung mencari posisi nyaman. Ia memasukkan tangannya ke kandang... mengelus kepala Mian gemas.


"Gue pergi dulu ya, Jan rewel! tu dah gue siapin makan dan susu. Jadi tunggu gue balik ya, Jan sedih!" Kata Andara panjang yang jelas di abaikan oleh Mian, Dia masih nyaman dalam lelapnya.


Andara mengambil ponselnya lalu keluar dari Apartemen. Tapi baru saja ingin beranjak setelah apartemen terkunci. Ia hampir menginjak buket bunga baby breath di depan pintu.


Matanya menyipit, tangannya meraih bunga itu. Ini sama persis seperti bunga yang kemarin. Karena penasaran Ia mencari tulisan di sana. Dan hanya ada tulisan dalam bahasa Italia.


"spero tu stia sempre Bene"


Arti dari kalimat itu adalah "semoga kamu selalu baik-baik saja".


Andara sedikit bingung siapa yang akan mengirimi ia bunga dengan kalimat seperti itu. Sempat terpikir olehnya jika itu adalah orang tuanya. Tapi ia segera menampik kemungkinan itu.


Papa dan Mama nya memang kadang pergi ke luar negeri. Tapi mereka tinggal di Indonesia, jadi kenapa mengiriminya ucapan dalam bahasa Italia. Jadi itu tak mungkin orangtuanya. Lalu siapa?


Andara pergi ke bagian ke amanan. mencari penjaga yang memang bertugas menjaga keamanan di unit apartemen ini.


Setelah mencari ia akhirnya ketemu di lantai bawah.


"Pak, tau orang yang ngirimin saya bunga ini nggak?"


"Maaf non, setahu saya tidak ada orang membawa bunga sebelumnya," jawab petugas keamanan itu.


"Ah iya. kemarin juga ada teman nona yang biasa bareng nona, menanyakan hal yang sama." tambah petugas itu lagi.


Dara mengangguk saja, mungkin itu Saka atau Nanta.


"Terimakasih pak." Andara memegang bunga itu dengan kening berkerut.


Ia balik ke apartemennya untuk menaruh bunga itu. Ia jadi heran, mana mungkin bunga ini ada di sini begitu saja kan?


Mengabaikan keanehan itu, ia terburu-buru untuk ke bawah lagi menuju parkiran. Ia mengambil sepedanya, lalu mengayuh sepedanya perlahan keluar dari kawasan apartemen.


di sekitar apartemen adalah perumahan mewah dan di sekitar sini ada taman dekat lapangan bola basket. Dara menengok ke arah lapangan yang ramai ada orang-orang yang sedang bermain basket.


Di sana, ia pertama kali belajar sepeda. Ah ia jadi malu jika ingat. Bagaimana tidak, beberapa anak melihatnya aneh saat itu karena mereka bahkan pintar naik sepeda sedangkan Andara di usianya masih sering terjatuh.


Saat sudah sampai taman, dan ia pun sudah berkeringat tinggal menunggu kedatangan Nanta. Ponselnya berdering, dengan cepat Dara mengangkat telpon dari kekasihnya itu.


Wajah ceria nya berganti sendu. Ia tersenyum terpaksa. Nanta membatalkan janjinya karena harus menemani kakeknya. Dara sebenarnya tidak apa-apa, dia kecewa karena sudah terlanjur berharap.


"Iya kak, gak papa kok. oke nanti Andara kabarin. iya love you." Panggilan berakhir.


Matanya meniti mereka yang sedang menikmati waktu bersama keluarga. wajah ceria anak-anak di sana seperti menamparnya. Bukan jahat, hanya saja ia jadi teringat masa kecilnya. Jangankan ke taman bersama, makan bersama saja sangat jarang.


Ia menyandarkan kepalanya di bangku taman. Mendongakkan kepalanya ke atas. Langit cerah dengan cahaya matahari yang muncul malu-malu. Matanya tertutup tapi bibirnya tersenyum.


Ia teringat ucapan Nanta.


"Bersyukur adalah cara termudah untuk bahagia, tersenyum adalah cara termurah untuk mengawalinya, dan tertawa adalah yang kau dapat jika bisa merasakannya."

__ADS_1


Andara belajar menikmati hidupnya dari Nanta. Laki-laki itu mengajarkan ia untuk tersenyum dan tertawa selagi bisa.


Setelah hatinya merasa baik, Andara memutuskan untuk sepedahan lagi. Tapi gak asik kalo sendiri. Hingga tercetus lah ide mengajak seseorang yang kebetulan rumahnya hanya 300m dari taman tempatnya berdiri saat ini. Wajah cerianya kembali lagi.


Mengayuh sepedanya santai namun semangat, yang membuat beberapa laki-laki sempat terpesona dengannya. Gadis cantik mengendarai sepeda dengan senyum manisnya, jelas itu menarik perhatian kaum Adam yang melihatnya.


Sudah terlihat rumah Saka dari jauh, bahkan ia sudah berteriak memanggil Bunda yang sedang mengawasi Tukang kebun merawat tanaman.


"Bunda, Saka masih tidur ya." Teriaknya padahal masih di depan rumah orang.


Bunda menggeleng mendengar suara teriakan itu. Ternyata anak perempuannya datang berkunjung. Bunda adalah orang yang tak kalah heboh seperti Andara. Makanya mereka sangat cocok jika bertemu. Bahkan Ayah, dan Saka akan kesal karena di abaikan.


Setelah sudah berada di depan Bunda, Andara tersenyum sambil menghela nafas lelah. Ternyata lumayan juga perjalanan nya.


Bunda mengajak Andara masuk untuk sarapan terlebih dahulu. Ia membantu Bunda menyiapkan makanan. Emang rezeki tak kemana, baru datang sudah di kasih makan.


"Bangunin dulu Saka, biar Bunda yang lanjutin," ujar bunda sambil mengambil alih piring di tangan Andara.


Andara menyerahkan tugas menata meja makan pada Bunda. Ia berjalan ke arah kamar Saka, Mengetuk pintunya berkali-kali. Namun tak kunjung di respon.


"Bunda, di ketok-ketok pintunya gak di bukain." Teriak Andara yang di dengar bunda dari ruang makan.


"Masuk aja nak, palingan masih molor dia," jawab Bunda dengan teriakan juga.


Ayah yang sedang baca koran di teras samping hanya menggeleng saja. Untung beda rumah, jika satu rumah. Bisa hancur rumahnya mendengar teriakan mereka setiap hari.


Andara membuka pintu itu perlahan, memasukkan kepalanya lebih dulu. Ternyata benar laki-laki itu masih nyenyak dalam tidurnya.


Tapi di dinding bagian atas kepala tempat tidur, ada lukisan Andara di sana. Itu sebenarnya adalah fotonya dengan Saka yang di ambil dari kamera ponsel Bunda. Mereka saling merangkul tersenyum lucu dan nampak aneh. Ia melukis foto itu khusus untuk menghias kamar Saka yang monoton dan membosankan.


Lukisan berukuran besar itu menjadi satu-satunya hiasan yang menempel di dinding kamar Saka. Itupun dirinya yang memaksa untuk menempelkan lukisan itu di sana.


Andara bahkan selalu ingin tertawa melihat mimik wajah mereka di lukisan itu. Matanya beralih dari lukisan ke arah wajah kusut Saka yang masih nyaman dalam tidurnya.


Dara naik ke tempat tidur. meloncat-loncat sengaja, sehingga kasur itu bergoyang. Saka menutup wajahnya dengan selimut. Menggeram kesal karena goyangan kasur itu mengganggunya.


Dara masih semangat dengan loncatannya. Hingga tangganya di tarik, ia jatuh terlentang di samping Saka.


"Ahh Saka, kaget gue," ujarnya sambil memukul tangan Saka yang masih memegang tangannya.


Saka masih belum mau membuka matanya. Ia meraih wajah Dara dengan tangan besarnya dan menutup hampir sebagian wajah Andara. Andara semakin berteriak kesal.


"Diem!" teriak Saka yang berhasil membuat Andara diam.


Saka melepas tangannya dari sana tapi malah turun memeluk Andara erat dari samping. Matanya terpejam tapi Bibirnya tersenyum. Andara sudah bisa tenang dan ikut rileks berbaring di sebelah Saka.


Setelah beberapa menit diam, saka membuka pembicaraan.


"Bukannya Lo mau sepedaan sama Nanta. Napa malah kesini? mengganggu ketenangan di rumah ini tau!" Lanjutnya yang membuat Dara memukul tangannya yang masih memeluk di bagian perut.


"Nanta lagi nemenin kakeknya. Gue ke sini karena pengen sepedaan bareng Lo." Dara menoleh menatap wajah Saka yang matanya masih terpejam.

__ADS_1


"Gue males!"


"Tapi gue terlanjur pengen Ka!" Eyel Dara dengan wajah memelas.


"Dari semalem juga gue dah bilang males," Balas Saka kekeh dengan pendiriannya.


"Lo tega, gue kan dah terlanjur ke sini Ka."


"Ya udah lukis aja di gudang." Saran Saka karena ia sungguh malas.


"Yah, gak mood lukis gue. Em sepedaan aja deh Ka, entar gue traktir ice cream pulangnya." rayu Dara salah.


Saka tak suka ice cream! ini malah ditawari traktir ice cream. Saka membuka matanya, bibirnya menipis, lalu memperhatikan gadis di sampingnya. Bagaimana bisa gadis itu menawarkan sesuatu yang tidak ia suka sebagai imbalan.


"Oke, tapi setelah kita sarapan," Ujarnya sambil duduk lalu berdiri meninggalkan Andara yang tersenyum senang.


"Gak mau jauh-jauh!" jelas Saka, dengan wajah datarnya.


Andara mengangguk cepat. Saka mau menemaninya saja, ia sudah senang. Setidaknya tetap bersepeda kan?.


Saka yang melihat Andara mengangguk. Ia berbalik menuju kamar mandi. Ia tersenyum kecil.


"Dasar pemaksa" ucap nya dalam hati.


Saka dan Andara keluar dari kamar menuju meja makan. Di sana Ayah dan bunda sudah stay di kursi masing-masing. Andara segera berlari mendahului Saka yang berjalan di depannya. Ia mengambil posisi duduk di sebelah Bunda.


Saka menunjukkan wajah aneh melihat kelakuan Andara. Bahkan tanpa berlari diapun tak ingin duduk di posisi itu. Jika duduk di samping Bunda, ia akan makan lebih banyak karena Bunda mangambilkan semua menu ke piringnya.


Tapi beda dengan Andara yang malah senang jika duduk di samping Bunda, ia akan kenyang. Maka dari itu mereka sangat cocok.


"ya sudah, ayo Saka pimpin doa" Suruh Ayah ada Saka yang masih dengan wajah malasnya.


"Terimakasih Tuhan, atas semua limpahan nikmatMu pagi ini. Semoga kami bisa menjalani hari dengan baik." Mereka menyatukan tangan mengikuti Saka. dan mendengarkan Saka memimpin doa.


Mereka makan dengan di temani celotehan Andara. Ia manjadi keceriaan pagi untuk keluarga ini. Setelah selesai sarapan mereka masih melanjutkan dengan makan buah segar.


Setelah itu Dara menagih janji Saka yang tadi ingin menemaninya bersepeda. ini masih jam 8 pagi. Masih belum terlalu panas untuk berkeliling menggunakan sepeda.


Saka mengeluarkan sepedanya dari garasi.


Mengeceknya terlebih dahulu karena sudah lama tidak di gunakan.


"Jangan ngebut-ngebut ya sayang," ujar Bunda berteriak dari halaman depan ke garasi.


"Iya Bunda, gak ngebut kok! kan cuma naek sepeda." Balas Dara berteriak ceria.


Ayah dan Saka yang mendengar itu hanya menahan tawa. Untung saja Dara tidak sering berkunjung. Bisa sakit perut mereka tertawa terus dengar perbincangan aneh Bunda dan Dara.


_____


Kadang mereka yang hadir dalam hidup kita bisa jadi Salah satu hadiah dari Tuhan untuk kita. Ada yang membawa luka tapi mengajarkan jadi kuat, ada yang membawa bahagia tapi hanya sementara agar kita tau arti memiliki dan kehilangan, kemudian ada juga yang membawa banyak rasa tapi dalam bentuk yang sederhana.

__ADS_1


__ADS_2