
Andara membuka matanya perlahan, kepalanya masih pusing tapi badannya sudah merasa baikan. Ketika matanya terbuka yang pertama di perhatikannya adalah atap plafon. Ini bukan kamarnya, karna lampu di kamarnya sangat unik dan jelas suasananya tidak seperti ini. Ia menengok ke arah tangannya, ada jarum infus melekat di sana. Ah Dara sudah tau ini di mana, rumah sakit!.
Matanya terarah ke laki-laki yang tidur terlentang di sofa, yang tak muat menampung besar tubuhnya. Bibirnya sedikit terangkat, manisnya kekasih tampannya itu.
Setelah beberapa menit Nanta terbangun, di lihatnya sang kekasih yang sudah membuka mata terlebih dahulu.
"Hei sayang, kamu udah bangun dari tadi?" tanya Nanta, sambil meregangkan badannya yang terasa kaku. Ia melangkah mendekati Dara di kecupnya tangan kekasihnya itu yang masih di infus. Di usap dan di genggam dengan sayang.
Mereka tak saling bicara hanya saling menatap penuh rasa. Nanta yang merasa bersalah karena terlambat mengetahui jika kekasihnya terkena demam tinggi, bahkan dokter bilang jika terlambat beberapa jam lebih lama di bawa ke rumah sakit, mungkin Andara harus di opname karena demamnya terlalu tinggi, bahkan sempat kejang-kejang tadi. Sungguh ia takut melihat Andara seperti tadi.
Sedangkan Andara, ia merasa beruntung mempunyai Nanta dalam hidupnya. Jika tidak ada Nanta siapa lagi yang mau peduli padanya. Senyum terbit di bibirnya, tangan kirinya menggenggam tangan kanan Nanta lebih erat.
Nanta mengusap pipi Dara. Ia senang sekarang gadisnya sudah bisa tersenyum lagi. Ia akan terus berdoa kepada Allah agar terus memberi Andara kesehatan. Sudah cukup banyak luka yang di derita Andara, ia tak ingin melihat Andara lebih terluka lagi.
Sedangkan Dara juga meminta pada Tuhan agar terus mengijinkan Nanta tetap ada di hidupnya. Ia rajin ke gereja setiap hari Minggu tanpa di ketahui siapapun. Meski Nanta tau ia jemaat Katolik. Ia tak memberitahukan karna memang ia lebih suka setiap langkahnya menuju gereja adalah untuk Tuhan dan biarlah Tuhan yang mengetahui.
Jangan tolong jangan bedakan kami, jika pencipta kami sama. Hubungannya sudah berjalan sekitar 2 tahun. Dia ingat jika tak bertemu laki-laki ini mungkin ia tak akan sekuat ini menjalani harinya yang sudah kacau saat itu.
flashback on
Dulu awal ia bertemu Nanta adalah ketika ia pergi dari rumah dengan membawa serta kopernya. Air hujan mengguyur tubuhnya membasahi bumi seakan sedang meluruhkan sakitnya. Ia berjalan tanpa tujuan dengan pandangan menerawang jauh. Sejak kecil ia terbiasa melihat pertengkaran orang tuanya. Ia akan bersembunyi di lemari bajunya saat mereka mulai mengeraskan suara dan saling membentak. Andara kecil ketakutan, selalu seperti itu bahkan sampai bertahun-tahun. hingga ia mulai terbiasa dan mengabaikan mereka.
Tapi saat ia pulang, setelah kelulusan dengan nilai terbaik di SMP nya. Andara memasuki rumah dengan air mata mengalir deras karna ia melihat orang tuanya saling membawa pasangan lainnya, untuk menunjukkan siapa yang baik dan siapa yang salah selama ini. Ia menatap empat orang dewasa yang tadinya saling beradu argumen itu terdiam menatap ke datangannya.
Ia tertawa meski air matanya terus mengalir, tawanya semakin keras. Hingga empat orang itu bingung. kemudian kedua orang tua Andara akan menghampiri putri mereka itu.
__ADS_1
Sebelum mereka mendekat Andara sudah mengerikan histeris agar mereka menjauh. ia melempar tas di hadapan mereka. Menjerit sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Bunuh saja aku, bunuh aku. Tapi akhiri semua ini, tolong akhiri saja."
Dengan suaranya yang bergetar ia mengatakan agar membunuhnya saja dari pada terus menyiksanya. Ada rasa sesal di mata orang tua Andara tapi karna keegoisan lah yang masih menguasai keduanya. Mereka menggeleng, dan menyuruh Andara masuk ke kamarnya.
Andara sudah tidak bisa lagi bertahan. Ia berteriak akan pergi dari rumah yang sudah seperti neraka ini. Dengan atau tanpa ijin mereka. Ia memasuki kamarnya, mengambil semua baju yang di perlukan ke dalam koper. lalu berjalan keluar melewati orang tuanya. Jelas mereka melarang Putri satu-satunya itu pergi dari rumah apalagi hujan deras di luar sana.
Andara tetap kekeh jika mereka melarang ia akan menyayat lengannya. Ia sudah membawa pecahan kaca dari guci yang tadi tersenggol kopernya. Orang tua Andara pasrah. Andara berjalan melewati pagar rumahnya dengan air mata berlinang yang tercampur air hujan.
Ia terus berjalan tanpa menghiraukan beberapa orang yang melihatnya aneh. Ia tak peduli, hujan membungkam suaranya, melemahkan fikirannya. Tapi hujan juga menyamarkan lukanya. Ia merasa tak ada gunanya lagi ia hidup. Ia berjalan agak ke tengah jalan raya. Jika ia mati ini semua akan berakhir kan?
Hingga ia merasa hujan tak membasahi bajunya padahal masih hujan. Ia tak fokus hingga baru mengetahui ada laki-laki tersenyum manis kearahnya, sambil memegang payung yang memayungi mereka dari hujan.
Ia terus melangkah di temani laki-laki asing yang tetap diam tak bertanya lagi.
Hingga hujan mereda ia juga merasa lelah, badannya lemas dan lagi matanya tak mau berhenti menangis.
Ia berhenti begitu juga laki-laki itu. ia berbalik lalu menatap laki-laki itu.
"Mengapa kau peduli, kenapa, kenapa orang tuaku tidak?" ia berbicara sedikit berteriak sambil terus menangis.
laki-laki itu tidak menjawab malah tersenyum lalu memeluknya. Ia terkejut tapi ia memang butuh pelukan. Ia butuh bersandar, bebannya berat, ia tak kuat.
Setelah cukup tenang laki-laki itu menarik tangan Andara, mereka terus berjalan perlahan menyusuri jejak basah yang di tinggalkan hujan.
__ADS_1
Hingga mereka sampai di suatu apartemen.
Mereka menuju ke resepsionis di loby depan. Mengurus data untuk sewa apartemen.
Andara sedikit takut tapi genggaman tangan laki-laki itu begitu hangat.
Setelah mendapat ijin dan segalanya.
laki-laki itu mengajak gadis tadi memasuki lift. Mereka hanya diam tanpa ada yang berbicara dengan tangan yang masih tertaut.
Setelah sampai dan masuk laki-laki itu menaruh koper, yang sejak tadi memang sudah di bawanya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan menggandeng gadis itu.
"Tinggallah di sini, besok aku bakal ke sini lagi, tapi janji ya jangan menangis lagi," ujar laki-laki itu sambil memegang kedua pundak Andara.
"Aku Ananta, boleh aku tau namamu?"
"Andara." jawab gadis itu pendek.
"Oke, istirahat lah nanti akan ada makanan yang di antar ke sini," ucapnya setelah mengusap puncak kepala Andara lalu tersenyum berlalu meninggalkan Andara sendirian.
Flashback end
Itu adalah kejadian dimana pertama kali mereka bertemu. Andara menatap Nanta yang tertidur di sebelahnya. ya mereka tidur berdempetan di ranjang rumah sakit itu. Nanta tidak pulang ia akan menemani gadisnya malam ini. Andara menggenggam tangan Ananta di dekatkan tangan mereka menempel di pipinya.
Terimakasih sudah hadir di hidupku Ananta.
__ADS_1