Keyakinan(new)

Keyakinan(new)
.c9


__ADS_3

Alarm berbunyi mengusik tidur sang putri. Menarik paksa kesadarannya, ia duduk dengan mata masih terpejam. Aroma masakan mengusik penciumannya, membuat perutnya jadi lapar. Dara membuka mata dan langsung menuju wastafel hingga nampaklah wajah basahnya. Ia mencari ikat rambut di meja rias lalu memakainya asal. Berlalu keluar kamar mencari seseorang yang sudah sibuk di dapurnya. Senyum mengembang ketika sampai dapur mendapatkan sapaan senyuman manis dari kekasihnya.


"Sayang kamu kok di sini," ujarnya sambil memeluk Nanta dari belakang.


"Baru bangun Hem? aku udah masakin kamu sop ayam+udang goreng tepung." Sambil mengusap tangan yang melingkar di pinggangnya.


Dara masih memeluk kekasihnya itu tanpa mau melepas begitu juga Nanta. Mereka mengerakkan badan seperti berdansa, hingga Nanta menarik Dara perlahan membuat mereka saat ini berhadapan. Menempelkan Dahi, memejamkan mata dengan posisi saling berpelukan. Menikmati kebersamaan pagi yang jarang sekali ada.


"Sayang, Will you marry me," ucap Nanta dengan posisi yang sama.


Dara terkejut, ia membuka mata. Dilihatnya sang kekasih yang masih memejamkan mata ia melihat dekat wajah sang kekasih. Dikecupnya pelan hidung Nanta hingga pemilik hidung itu membuka mata.


"Aku ingin di setiap bangun tidur selalu melihat kamu, setiap malam bisa melihatmu tertidur di sampingku, bisa memilikimu seutuhnya tanpa harus menahan rindu untuk bertemu."


Mereka masih saling menatap. ungkapan Nanta barusan adalah apa yang selama ini ada di hatinya. Ia memang serius ingin menjaga Dara dalam status yang lebih baik. Bukan berarti ini tidak baik hanya saja akan lebih baik jika mereka telah menikah.


"Kamu tau aku mau, tapi bukankah ini terlalu dini?"


Dara mencintai Nanta tanpa di ragukan lagi. Tapi menikah berarti menyatukan segalanya. ia masih bingung bagaimana dengan perbedaan mereka, bagaimana dengan keluarga Nanta, untuk keluarganya ia tak mengambil pusing karna bahkan mereka tak pernah menemuinya.


Nanta tak menjawab tapi ia semakin erat memeluk Dara menghirup aroma manis dari rambut Dara. ia juga sebenarnya belum siap menghadapi keluarganya. Bukan, bukan karena tidak mau tapi ia belum siap jika nanti keluarganya menolak dan membuat Dara jadi terluka.


"Ayo kita makan." ajak Nanta langsung menarik Dara duduk.


"Kamu harus makan yang banyak, dan biasakan sarapan pagi!, ngerti?" Nanta mengambilkan makanan ke piring Dara.


"Iya sayangku!"


Mereka sarapan bersama. Karena setelah ini Nanta harus berangkat kuliah sedangkan Dara berangkat sekolah.


"Nanti pulangnya mau aku jemput?"


"Boleh, nanti aku kabarin lagi."


"Oke habis ini segera mandi nanti setelah nganter kamu sekolah, baru aku balik apart." Sambil mengusap rambut Dara sayang.


"Siap bosku."


Mereka tertawa menghabiskan sarapan dengan di selingi candaan receh.


.......


Mobil Nanta sudah sampai di depan gerbang sekolah Dara. tapi Dara tak kunjung keluar ia masih terus bercanda menggoda Nanta karna tadi di lampu merah, ada nenek-nenek yang mengedipkan matanya pada Nanta. Itu menjadi bahan ejekan bagi Dara. Sedangkan Nanta ia sedikit malu tapi setidaknya yang menggodanya bukan wanita cantik, bisa gawat urusannya jika tadi wanita cantik.


"Sudah sana, seneng banget pacarnya di godain cewek lain."


"Haha, Dara seneng Tauk." Tawanya sedikit mereda melihat wajah kesal kekasihnya.


"Ya udah aku keluar ya." Dikecupnya pipi Nanta lalu berbalik membuka pintu mobil dan keluar dari mobil itu. Ia melambaikan tangannya pada Nanta.


"Wih senengnya yang di anter pacar."


"Ya dong, makanya Lo buruan punya pacar." balasnya pada Tyas.


"Belom ada yang ganteng Kayak Jimin."


"Eleh, ya sana ke Korea dulu baru Lo temu yang kayak Jimin." Mereka mengobrol sambil terus masuk ke halaman sekolah.


"Eh besok Lo jadi izin buat pemotretan?"


"Jadi, gue besok harus pergi selama satu Minggu." Ia menoleh ke arah Tyas.


"Wah enak dong jalan-jalan."


"Ye gue kerja, bukan liburan." Percakapan mereka terganggu oleh kedatangan Vian.

__ADS_1


Vian datang langsung memposisikan diri berada di antara kedua cewek itu. Ia tadi sedikit mendengar tentang libur.


"Siapa yang mau liburan?" tanyanya penasaran.


"Bukan liburan tapi kerja!" jawab Dara sewot.


"Emang boleh sama pihak sekolah?" Tyas yang memiliki pertanyaan sama dengan Vian ikut mengangguk.


"Boleh gak boleh ya tetep ijin dong gue."


"Pengen ikut gue," kata Vian ceplos yang mendapat pukulan di tangannya dari Tyas dan Dara.


Mereka memasuki kelas yang sudah cukup ramai, di sana Saka juga sudah duduk di tempatnya.


Mereka duduk melanjutkan candaan tadi. hingga pertanyaan dari Saka menghentikan tawa mereka


"Lo gak boleh pergi!" ucap Saka tanpa memandang Dara.


"Kenapa." pertanyaan itu reflek keluar dari mulut Vian, yang mewakili pertanyaan dari Dara dan Tyas.


"Gue gak ijinin Lo pergi ke sana." ya Saka sudah tau lebih dulu setelah Nanta.


"Gue udah tanda tangan kontrak Ka. Bisa kena pinalti kalo batal." protes Dara karna ia memang tak mau membatalkan kontrak yang menghasilkan uang lumayan banyak itu. meski harus Cuti sekolah selama seminggu.


"Gak karena gak ada yang jaga Lo di sana."


"Kan ada mbak Tia yang nemenin." Tak ada yang ingin mengganggu perdebatan mereka. Vian dan Tyas tau jika Saka sudah mengambil keputusan maka tak ada yang berani membantah. Kecuali Andara dan Fita.


"Tetep itu terlalu jauh dan lama." Ia menatap mata Dara tajam. tak ingin ada bantahan lagi.


"Gue tetep ambil job itu." Dara kekeh dengan keputusannya lalu keluar dari kelas membawa tasnya.


Mereka bisa menebak kalo gadis itu pasti akan membolos, suasana hatinya sedang buruk, jadi mereka memutuskan untuk membiarkan Dara sendirian dulu.


"Ka, emang Dara ada pemotretan itu di mana?." tanya Vian penasaran.


Mereka membeku mendengar jawaban Saka. Pantas Saja Saka tak mengijinkan. biasanya tak pernah sejauh itu. Dan lagi pula ini 3 negara yang mengharuskan Dara transit beberapa kali, itu membuat mereka khawatir Dara akan kelelahan. Projek ini memang mengharuskan para model untuk pergi ke beberapa tempat. Di sana ada banyak model lainnya yang berasal dari Indonesia. Tetap saja itu membuat Saka tak bisa membiarkan Dara pergi sendiri.


Saka diam tapi perasaannya gelisah memikirkan kemana perginya Dara.


Bahkan jam pelajaran pertama dan kedua, ia tidak bisa fokus sehingga saat bell istirahat berbunyi, ia segera beranjak pergi dengan membawa tasnya.


"Saka Lo mau kemana?" tanya Tyas yang tak mendapat jawaban karena Saka berlalu begitu Saja.


Beberapa siswa yang melihat Saka membawa tas pun bertanya, tapi sama di acuhkan saja. Mereka tak ambil hati karena tau jika Saka sedang kesal, mereka juga tadi melihat Dara masih pagi sekali membawa tasnya keluar dari kelas. Bisa ditebak keduanya sedang ada masalah.


Saka mencari keberadaan Dara. Jika masih di sekolah, biasanya Andara akan pergi ke rooftop tapi jika tidak ada maka berarti Dara pergi ke suatu tempat untuk melukis. Dan benar saja di rooftop itu tidak ada keberadaan Dara.


Ia berlari cepat menuruni tangga menuju parkiran. Menaiki motornya membelah jalanan kota yang cukup lenggang. Ia mencari kemungkinan di mana keberadaan Dara. Ia ingat untuk mengecek ponselnya, di sana ia bisa melacak Ponsel Dara berada.


Tapi sepertinya ponsel Dara juga di matikan, karena posisi terakhir Dara di ponselnya adalah di kelas.


"sial." Dia mengumpat kesal, mengacak rambutnya frustasi. harusnya tadi ia mengikuti Dara. Kalau sudah begini kemana ia akan mencari anak itu.


Dara sangat sensitif, karna ia sedang belajar mengenali perasaannya. Saka teman pertama Dara setelah bertemu Nanta. Ia mengetahui betapa sulitnya Dara berteman dan betapa mudahnya Dara terluka. Saka juga mengetahui semuanya, semua kisah Dara dan keluarganya.


Ia terus menyusuri jalan mencari gadis itu hingga ketemu, ia tak akan kembali jika belum menemukan Dara. Ia takut Dara menangis sendirian, karena saat sendirian Dara punya kecenderungan untuk duduk dan menutup telinganya kuat. Ia ingin ada di sampingnya. air matanya mengalir, Saka tak pernah menangis untuk orang lain bahkan orang tuanya. Tapi Andara berbeda, Andara seperti belahan hatinya.


Kasih sayangnya untuk Dara sangat besar. Ia menengok ke arah taman. Mencari Dara di taman tempat biasanya ia ke sini bersama Dara untuk mencari mie ayam. Tapi nothing, ke mana lagi ia harus mencari Dara. ia menelpon Nanta.


"Halo, Lo di mana kak." ucap Saka cepat.


"Gue di kelas lah, Napa."


"Enggak iseng aja gue." jawab Saka bohong lalu mematikan teleponnya.

__ADS_1


Sedangkan Nanta ia heran, tapi karena ia memang sedang ada kelas ia tak ambil pusing dengan keanehan Saka. Anak seusia Dara dan Saka memang suka aneh-aneh, jadi ia mengabaikan sikap Saka tadi.


Saka berhenti di depan gedung apartemen Dara. Ia berlari cepat menuju lift tapi karena lama ia memutuskan memakai tangga saja.


Berlari cepat ke lantai 3 hingga berhenti tepat di depan pintu apartemen Dara. Saka masuk, ia mengetahui Sandi pintu itu karna sering berkunjung. Dara sangat malas membuka pintu, jadi dia menyuruh Nanta dan Saka untuk menghafal kode pintu apartemennya.


Dilihatnya apartemen ini sepi, ia memastikan untuk melihat ke kamar yang ternyata juga tak terkunci. Perlahan ia masuk ke sana, tapi tidak ada. Ia menyusuri pintu lain yaitu kamar mandi tapi juga kosong. Hingga ia buru-buru mengecek lemari pakaian Dara yang ternyata isinya masih utuh. Ya setidaknya berarti Dara tidak pergi jauh. Ia keluar dari apartemen itu dengan terburu-buru.


Tapi belum juga sampai lantai bawah ia teringat, jika Dara sering berada di rooftop apartemen ini. Ia naik lagi menuju ke rooftop setelah sampai atas barulah ia lega ternyata benar, gadis itu berada di sini. Sedang berbaring memejamkan matanya. Di sebelahnya terdapat lukisan yang catnya masih basah. Berarti dari tadi Dara di sini. ia kesal juga lega, ia berjalan mendekat. Ikut berbaring di sebelah Dara. Dara tak bergeming meski tau ada yang ikut berbaring di sebelahnya.


Mereka hanya diam, sama-sama memejamkan mata. Hingga Dara bergeser memeluk orang di sampingnya. Ia tau itu Saka karena mengenali parfum khas lelaki itu.


Ia berbaring menghadap ke atas lagi dengan berbantal lengan Saka. Ini masih siang pukul 02.00 p.m tapi karena cuaca mendung dari pagi, mereka tidak kepanasan.


"Cuma Lo yang bakal nyari'in gue Ka." ucap Dara pelan.


"Gue tau."


"Ka, kalo Lo punya pacar nanti jangan cuekin gue ya."


"Itu tergantung, kalo pacar gue gak suka gue terlalu Deket sama Lo ya gue gak deketin Lo."


"Yah, gue gak mau kehilangan Lo Ka." ujarnya pelan. hatinya sakit ia tak mau ditinggalkan.


"Kalo sebaliknya kak Nanta yang gak mau Lo deket gue?" tanya Saka yang sebenarnya tak mau mendengarkan jawaban Dara, takut ia akan benar-benar terpisah dari Gadis ini.


"Lo kok nanya gitu. Kak Nanta gak bakal larang gue deket Lo tauk." jawab Dara sedikit kesal.


"Mereka tak lagi melanjutkan pembahasan memuakkan itu."


Mereka di sana hingga menjelang malam. Lalu Dara teringat jika ia tadi pagi bilang kak Nanta jika akan di jemput sekolah ia buru-buru memakai sepatunya. Sedangkan Saka ia hanya santai saja melihat Dara terburu-buru. Hingga hampir selesai memakai sepatunya, Saka baru berbicara jika tadi Nanta menyuruhnya mengantar kekasihnya itu pulang, karena ia ada tugas tambahan. Tentu saja Dara kesal karena Saka sengaja ingin melihatnya sibuk memakai sepatunya tadi.


Mereka tertawa. Saka adalah orang yang akan mencarinya ketika menghilang, sedangkan Nanta adalah orang yang akan mendamaikan hatinya dalam keadaan apapun. Mereka berdua lelaki paling berarti dalam hidup Dara.


.......


"Masak apa lo?"


"Ayam kecap dong." jawab Dara sambil menyiapkan bumbu.


"Itu mulu, yang Laen dong." Saka memang bosan dengan makanan itu karna terlalu sering makan itu di sini.


"Terus masak apa?"


"Coba cari di internet aja. entar gue bantuin."


Saka beranjak mendekati Dara, ia mengecek bahan di kulkas.


"Coba aja ada kak Nanta, pasti gak bingung," ucap Dara polos yang membuat Saka kesal, Saka cemberut sambil terus berpikir Bahan apa yang bisa di olah jadi makanan enak.


Hingga sang penyelamat datang.


"Assalamualaikum"


Mereka menoleh ke arah pintu dengan wajah bahagia. Saka menghela nafas lega, akhirnya perut laparnya bisa di selamatkan.


"Wallaikumsalam," mereka menjawab berbarengan dan penuh semangat. Membuat Nanta jadi curiga. pasti ada maunya pikirnya sambil meneliti mereka.


Dara, Saka,Vian adalah non Muslim. Tapi mereka tau tata Krama juga mengajarkan mereka untuk saling menghargai, dengan menjawab salam.


"Apa'an deh semangat bener liat gue," ujar Nanta yang mendapat respon gelengan dari keduanya. Fix, Nanta makin yakin jika mereka berdua ada apanya ini.


.......


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya masakan Nanta yang di bantu Dara selesai juga. Jangan tanya di mana Saka ia malah sibuk menonton tv asik menonton serial kartun favoritnya.

__ADS_1


Mereka makan dengan di selingi candaan seperti biasa. Hingga mulailah pembahasan mengenai pemotretan Andara.


__ADS_2