
Hari ini Andara sudah boleh pulang. Ia bersiap pulang dengan di bantu Ananta.
Ketika tangannya akan mengambil sepatu, sudah ada tangan lain yang mengambilnya. Ia tersenyum, melihat tangan itu dengan telaten membantunya memakai sepatu.
"Makasih kak." Senyum manisnya sebagai hadiah karena sudah di bantu.
Nanta membalasnya dengan mengacak pelan rambut Andara. Ia melanjutkan, dengan membereskan semua barang Andara yang di bawa Saka ke sini. Anak itu seperti tidak peduli, tapi semua di bawa ke sini. Pakai segala gelas dan piring Andara juga di bawa kesini, dengan alasan agar Andara nafsu makan seperti di rumah.
Jadilah ia yang repot sekarang, karena ia yang paling dewasa di antara mereka, maka ia harus ekstra sabar. Bahkan tadi pagi, Saka mengomel karena Andara sudah ingin pulang. Sedangkan dokter belum memperbolehkan. Andara dan Saka bertengkar sedangkan Nanta menemui dokter agar Andara di perbolehkan pulang. Ia mendapat izin asalkan Andara menjaga pola makan dan aktivitas nya.
"Kak kita jadikan mampir ke rumah Alin, Andara mau ambil Mian sekarang!"
Nanta mengangguk, lalu membantu Andara berdiri.
"Dara udah bisa jalan sendiri kak." Andara malu di perhatikan para suster.
Nanta mengangguk saja tanpa melepaskan tangganya dari Andara. Rion yang kebetulan lewat situ, ia hanya tersenyum masam. Apalah daya jika dia hanya bisa menatap tanpa menyentuh, menyukai tanpa memiliki. Gadis pertama yang membuat perasaannya merasakan aneh.
........
Di sekolah Saka sedang latihan voli dengan teman-temannya. Kelas pertama sedang kosong, mereka mengambil kesempatan untuk latihan. Ada Tyas,Fita, dan Alan yang menunggu di bangku penonton. Vian punya hobi yang sama dengan Saka, mereka berada di ekstrakurikuler yang sama. Keringat mengucur deras, rambut nya basah dan berantakan.
Tidak hanya mereka yang menonton, tapi ada banyak anak lain yang juga menonton anak voli latihan. Jika biasanya basket yang famous di beberapa sekolah, di sini voli nya yang famous karena banyak memenangkan pertandingan. Selain itu pemainnya yang juga punya ketampanan yang di atas rata-rata, yang memberikan daya tarik sendiri bagi para kaum hawa.
"Eh Ta, liat noh si Saka banyak bener penggemarnya," ujar Tyas pada Fita.
"Ya jelaslah, cuman sayang aja. Gak respon dia."
Mereka memperhatikan para cewek yang memanggil-mannggil nama Saka di barisan depan. Ada Glen juga yang tak kalah jadi rebutan, tapi karena ia sudah memiliki kekasih, jadilah mereka sedikit sungkan dengan pacarnya yang juga duduk di bangku penonton, membawakan minum untuk kekasihnya.
"Saka males sama cewek yang ngejar-ngejar cowok," ucap Alan menimpali sambil terus memainkan gadget nya.
Mereka berdua menengok ke arah Alan. Mengangguk setuju dengan pendapat Alan, kembali mengawasi para pemain di lapangan.
"Btw Andara hari ini pulangkan? entar main yuk ke apart nya." Ajak Tyas yang mendapat gelengan dari Fita juga Alan.
"Kenapa?" tanya Tyas heran.
"Saka kemaren gak ngebolehin kita jenguk kan!" Fita mengangguk menyetujui yang di katakan Alan.
"Ah, jenguk aja gak boleh. Untung Dara bukan ceweknya, bisa-bisa di kunciin tu Andara di kamar, gak boleh keluar." mereka menatap Saka, prihatin dengan Andara.
Mereka tak memahami alasan Saka sangat posesif terhadap Andara. Sejak mereka mengenal Andara, itu sudah ada Saka sebagai temannya.
Mereka sempat mengira mereka pacaran, di tambah Saka sering membawakan bekal buatan bundanya. Tapi semuanya salah! Andara sudah memiliki kekasih, mereka tau itu karena Andara sering di jemput oleh lelaki tampan yang tak lain adalah Nanta.
Perbincangan mereka di interupsi oleh suara peluit dari pelatih, yang menandakan berakhirnya sesi latihan.
Saka dan Vian menghampiri mereka. Mengambil handuk untuk mengelap keringat dan minum.
"Gimana maen kami tadi? keren kan?" Tanya Vian dengan gaya sombongnya.
Itu membuatnya mendapat kan lemparan kulit kacang. Saka tak ikut bicara, tapi ikut melempar kulit kacang yang di ambilnya dari Fita.
Tapi semua jadi diam, karena ada 2 Anak cewek kelas satu yang tiba-tiba mendekat ke arah mereka. Ia membawa cake menuju ke tempat Saka berdiri.
"Kak, em ini buat kakak. Aku bikin sendiri kuenya," ujar salah satu anak itu dengan malu-malu.
Saka tak menerima kue itu. bahkan tak memandang wajahnya, ia malah sibuk melihat ponselnya. Vian yang berada tepat di samping Saka, merasa tak enak karena temannya itu diam saja. Ia menyenggol lengan Saka, dan berbisik pelan.
Saka mengangkat pandangannya tanpa minat.
"Gue gak suka manis," ujarnya pelan dan fokusnya langsung balik lagi ke ponselnya.
Teman-temannya yang melihat cewek itu sedih dan malu, langsung menimpali karena tak enak dengan kelakuan tak sopan Saka.
"ehem, dek maaf ya. Saka menang gak suka manis." Tyas menjelaskan sambil tersenyum canggung. Cewek itu balas tersenyum, lalu mendekat ke temennya tadi.
Tapi, suara cowok yang sedari tadi sibuk main gadget menambah canggung suasana.
__ADS_1
"Kecuali kalo Lo Andara, dia bakal suka." Alan berbicara tanpa rasa bersalah.
Fita,Tyas dan Vian melotot ke arah Alan. Sedangkan Saka dia tak terganggu dengan pembicaraan di sekitarnya. Ia sedang membalas chat dari bundanya.
Ke dua cewek tadi akhirnya permisi pergi dengan perasaan kecewa dan malu. Tyas yang memahami perasaan cewek itu hanya menggeleng dengan mengelus dadanya menatap prihatin.
Vian, sudah biasa dengan kedekatan Saka dan Andara. Karena sebenarnya saingan cintanya adalah Ananta. Sedangkan Saka seperti calon kakak iparnya. Asal ia bisa mendekatinya maka ia bisa dekat juga dengan Andara.
Mereka meninggalkan lapangan karena ini saatnya jam pelajaran kedua. Vian yang sudah akan mangkir dari pelajaran ke dua ini menuju kantin, sudah tertarik di bagian bajunya. Yang menariknya tak lain adalah Saka.
"Gak ada bolos, Lo musti masuk! besok Andara bakal minta ajarin Lo. dan Lo harus bisa!" Saka menarik Vian masuk kelas.
"Gue pasti bisa ngajarin, meskipun gak masuk!" Bela Vian yang tak di dengarkan oleh Saka
Saka tau pasti Vian mau merokok. Ia heran beruntung banget Vian di berkahi otak pintar, sedangkan dirinya harus mati-matian belajar untuk dapetin nilai bagus. Ah, dia bangga punya teman seperti Vian.
Saka jadi teringat Dara, ah gadis itu juga seperti Vian malas masuk kelas, hanya bedanya ia tak di berkahi otak pintar seperti Vian. Bibirnya sedikit terangkat mengingat tingkah gadis itu.
Setiap ujian Dara hampir selalu kena remidi, kecuali jika mencontek. Tapi ada saja yang mau memberikan nya contekan. Dara memang tidak pintar! untung cantik.
.......
"Fit, Napa deh tuh muka?" tanya Vian yang melihat muka kusut Fita.
Mereka saat ini sedang berada di kantin. kecuali Saka, ia bersama teman laki-lakinya yang lain di koridor sekolah.
"Gue musti siapin jadwal clasmeeting setelah ujian nanti." keluh Fita, ya tugas Fita sebagai wakil ketua OSIS memang agak berat.
"Udah, mending fokus ujian aja dulu." Tyas kasihan melihat wajah lelah temannya itu.
Mereka sudah memesan makanan, tinggal menunggu Alan. tapi pembicaraan di sebelah meja mereka, membuat mereka semua diam.
*"Tadi gue denger Saka berantem dengan kak Josh."
"iya, mereka adu jotos gitu."
"iya mereka sekarang ada di kantor BK kan?"
"iya di sidang kali."*
Setelah mendengar berita itu, Fita, Tyas dan Vian langsung beranjak dari meja mereka. Pergi menuju ke ruang BK.
Alan yang baru datang membawa mangkok baksonya hanya bisa menggeleng tragis. Ia ditinggalkan, entah kemana.
Mereka bertiga menunggu di luar ruang BK. Tak terdengar suara dari dalam. Tapi mereka yakin, di dalam sana masih ada perdebatan.
.......
"Apa alasan kamu mukul Josh?" tanya buk Nita pada Saka, selaku guru BK di sekolah ini.
Saka diam tak menjawab, mukanya biru di mana-mana. Ada sedikit darah di ujung bibirnya. Bajunya kusut, dengan beberapa kancing yang terlepas.
Sebenarnya kondisi Josh juga tak kalah memprihatinkan. Mereka hanya diam saja dengan rahang mengeras dan mata sedikit merah karena marah.
Buk Nita dengan sabar menatap ke dua siswanya.
"Yakin tidak ingin menjawab? jika tak ada yang menjawab, berarti tak ada yang boleh keluar dari ruangan ini." Setiap katanya mengandung ketegasan.
"Josh, kau ingin mengatakan sesuatu?"
Josh pun tetap diam. Saka yang tak mendengar apapun dari laki-laki di sampingnya, ia tersenyum sinis.
"Baiklah, saya akan menunggu hingga kalian bicara." Buk Nita sedikit pusing menghadapi mereka berdua.
Josh termasuk di takuti di sekolah ini karena ia tak segan memukul orang. Sedangkan Saka, ia hanya tak suka di ganggu. Jika ada yang mengganggunya, ya akan seperti ini kejadiannya.
Sudah 30 menit tidak ada yang membuka suara. Buk Nita menelpon guru lain untuk membawa saksi mata atas kejadian ini.
"Permisi." seorang murid masuk dengan wajah takut.
__ADS_1
"Kamu di sana saat mereka berkelahi?"
Murid itu mengangguk sambil melirik takut ke arah keduanya. Wajah keduanya memang seperti biasanya, tapi tatapan mata mereka menyorotkan aura kekejaman.
Kakinya melemas, tangannya berkeringat. Tapi ia tetap menjawab pertanyaan buk Nita dengan jujur. Buk Nita yang telah mendapatkan jawaban darinya menyuruh untuk keluar.
"Jadi, karena perempuan?" Buk Nita menggeleng saja. Karena tetap diam tak menjawab.
"Hah Andara? kenapa dengan Andara?" menurut murid tadi mereka sempat menyebut nama Andara sebelum perkelahian terjadi.
"Salah paham saja, jadi bisakah saya keluar." Josh ingin segera keluar dari sana.
"Kalian tetap tak ingin menjelaskan?"
"Baiklah, saya tidak mau kejadian ini terjadi lagi. setelah kalian saling berjabat tangan, baru boleh keluar!"
Buk Nita berdiri mendekat menunggu inisiatif dari mereka.
5 menit berlalu
Akhirnya Josh lebih dulu mengangkat tangannya ke arah Saka. Menunggu Saka membalas jabatan tangannya.
Saka membalas jabatan itu cepat dan berlalu pergi lebih dulu dengan wajah kesal. Josh hanya tersenyum sinis menatap tangannya.
Kedua murid itu keluar dengan penampilan yang kusut berantakan. Untung saja kelas setelah jam istirahat sudah di mulai. Teman-teman Saka yang tadi menunggu di luar pun sudah tidak ada.
Mereka melangkah di arah yang berlawanan. Josh kelas tiga, sedangkan Saka kelas dua. Mereka melewati kelas lain untuk sampai ke kelas masing-masing. Saka masuk ke kelas dan mendapatkan pandangan dari teman sekelasnya. Fita,Tyas,Alan dan Vian pun memandangnya dengan tatapan bertanya.
Semua diam. Bahkan guru yang saat ini sedang mengajar pun diam, ia malas berurusan dengan murid yang tidak tepat waktu masuk kelas.
Saka tidak duduk, ia hanya mengambil tasnya dan berlalu begitu saja. Gurunya pun hanya menggeleng, dan menyuruh muridnya untuk melanjutkan tugas yang di berikan.
Saka mengendarai motornya cepat. Masih teringat kejadian tadi, masih kesal hingga rasanya masih ingin memukul orang itu saat ini. Ia pergi latihan boxing. Jam segini biasanya memang belum buka, tapi ia mengenal dekat pelatihnya.
"Kenapa? Gerakanmu tidak fokus, tendanganmu kuat tapi tidak tepat," ujar si pelatih
Komentar pelatihnya memang benar. Pikirannya tidak fokus, seperti ada api membakar dalam dirinya. Terngiang-ngiang dengan ucapan si brengsek Josh.
"Tenangkan dulu dirimu." perintah pelatihnya.
Saka menurut, ia menarik napas dalam-dalam. Mengeluarkan dengan perlahan sambil menutup matanya.
Pelatih tau Saka sedang ada masalah terlebih lebam di wajahnya sangat kentara karena belum di obati.
Mereka latihan lagi. Hingga lelah menghampiri, Saka meminta berhenti.
Ia beristirahat, tidur terlentang di atas Ring.
Tak mungkin ia pulang dengan keadaan begini. Bisa di omeli bunda nanti.
Ia terpikir apartemen Andara. Ia bangun dan mengambil seragam yang tadi di lepaskannya.
Mengendarai motornya perlahan, menikmati angin yang menerpa wajahnya. Setelah sampai di parkiran. Ia langsung menuju ke lift. Menunggu dengan memejamkan mata. Saat lift terbuka ada orang yang menatapnya aneh. Ia tak peduli dan langsung keluar lift menuju pintu apartemen Andara.
Di sana ia menelpon Andara yang ternyata masih dalam perjalanan pulang, setelah mengambil Mian, kucingnya Alin. Tatapan Saka terpaku pada bunga Baby breath yang tergeletak di depan pintu. Ia tak peduli tapi sedari tadi, matanya tak beralih sedikitpun dari bunga yang ia tahu adalah favorit Andara.
Tangannya meraih bunga itu curiga. Ia menemukan surat kecil dalam bahasa asing. Ia tahu ini bahasa Italia, Karena sering mendengar Andara mengobrol dengan temannya di telpon dengan bahasa seperti ini.
"aspettami tra poco"
Saka menatap curiga pada bunga di tangganya. Tak mungkin Nanta yang memberikan ini. Karena dia sedang bersama Andara saat ini. Lalu siapa? Saka membuka apartemen dengan masih memperhatikan bunga ditangannya. Saat akan meletakkan bunga itu di sofa. Ia melihat bunga lain yang sama namun sudah sedikit layu di meja.
Ia melihat ada kertas lain di dalamnya dengan bahasa yang sama seperti tadi. Andara kan belum pulang. Lalu siapa yang membawa masuk? Ia akan menanyakan ini nanti pada Nanta
Saka berjalan ke arah dapur mengecek apa yang bisa dimakan, membuka kulkas itu. Ia lapar, dan haus. Tapi di dalam tidak ada apapun karena Andara belum pulang ke apartemen sejak dari luar negeri.
Saka berjalan kembali ke ruang depan. Mencari ponselnya, ia akan delivery order saja. Sekalian untuk Andara, sebentar lagi gadis itu pasti akan sampai. Saka duduk di sofa menatap sekeliling dinding ruangan ini yang penuh lukisan dalam bentuk sedikit lebih kecil. Ia tak pernah bosan untuk melihat lukisan itu. Ada banyak cerita di setiap lukisan yang di pajang di sini.
Di lukisan itu , Ada dia yang sedang duduk melihat senja. Ada juga Nanta yang sedang tertawa lepas. Dan masih banyak lagi lukisan penuh cerita. Bibirnya tersenyum tipis, entah apa yang di pikirkan nya.
__ADS_1