
Alex membuka selfbelt nya , namun tangan Rani menariknya untuk sejenak tidak turun dulu.
"eh..ada apa Ran..." ucap Alex merasa cemas karena melihat Rani yang sudah pucat.
Alex pun sudah semakin panik, dia segera menyalakan mobilnya dan bergegas membawa Rani ke rumah sakit terdekat.
"Ran ..Ran..kamu gak apa apa kan..bertahan sayang sebentar lagi nyampek..." ucap Alex dengan panik dan sesekali memegangi kening dan pipi Rani yang sudah tergolek tak berdaya.
Sesampainya di rumah sakit Alex segera meminta petugas medis untuk membawa Rani ke ruang pemeriksaan.
Alex menghubungi kak Rangga yang tengah bekerja di kantornya..
Tak lama kemudian Rangga pun tiba dan saat itu Rani sudah sadar dengan ditemani Alex yang tak pernah melepaskan genggaman tangannya.
Rangga segera menghampiri adik kesayangannya itu.
"kamu kenapa sih Ran..." ucap Rangga kawatir sambil mendekat dan membelai rambut adiknya..
"Rani gak apa apa kak, hanya kecapekan saja...beberapa hari terakhir banyak sekali tugas dari dosen.." ucap Rani dengan keadaan masih lemah dan selang infus yang masih berada di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"ya udah Ran..aku mau ke toilet dulu biar kak Rangga temani kamu dulu ya..." ucap Alex sambil beranjak.
Rani dan Rangga mengangguk.
Alex pun keluar dari ruangan itu, sebenarnya Alex bukan mau ke toilet tapi menemui dokter yang memeriksa Rani, karena akhir akhir ini dia merasa ada yang berbeda dari Rani..
Saat berada di depan ruang dokter kebetulan dokter yang dia cari sedang berjalan , dan langsung Alex memanggilnya karena mau menanyakan sesuatu..
Dokter memintanya masuk untuk bicara.
" kebetulan mas, saya tadi mau ke ruangan mbak Rani.." ucap dokter itu sambil membuka sebuah laporan hasil laboratorium.
"begini mas, menurut hasil lab , jantung mbak Rani bermasalah..." ucap dokter.
Seperti tersambar petir jantung Alex pun seperti berhenti berdetak..
"apa dok, jantung..." ucap Alex sambil berdiri dan mengacak rambutnya karena kaget dan panik.
'iya mas , dan jalan satu satunya hanya tlaspantasi, semoga kita bisa segera menemukan donor jantung buat mbak Rani.." ucap dokter dengan berat hati.
__ADS_1
" mas yang sabar ya, semua atas kehendak yang di atas mas, kita hanya bisa berdoa dan beriktiar yang terbaik...semoga semua baik baik saja..." ucap dokter sambil menepuk pundak Alex yang terduduk lemas di kursi ruangan itu .
Tak lama kemudian Rangga muncul di belakang Alex yang sudah lemas dan terdiam membisu karena syok.
"permisi dok ,saya mencari adek saya..eh lex kamu ternyata di sini, ayo kita ke ruangan Rani, dari tadi Rani nyariin kamu.." ucap Rangga yang sudah menganggap Alex seperti adik nya sendiri.
Alex berjalan mengikuti Rangga di belakangnya, namun ketika sudah mau sampai kamar Rani, Alex malah terduduk lemas di kursi.
Rangga pun kaget dan mendekati Alex, dia tertegun apa yang terjadi dengan alex. dan Rangga pun kemudian mengambil kertas hasil laporan lab milik rani.
Rangga pun kaget melihat hasil lab Rani, dan lebih kaget lagi mendengar penjelasan Alex..
Rangga pun lemas seperti tak bertenaga.
"apakah Rani tau tentang ini lex" tanya Rangga.
Alex pun menggeleng..
" biar kan dia tidak tau kak, cukup kita yang tau , dan ijinkan aku menjaga dan merawat Rani..aku akan pastikan moodnya terjaga selama berada di sisiku kak..karena pengaruh terbesar untuk rani adalah mood dan beban pikiran...dia tidak boleh bersedih dan banyak pikiran.." ucap Alex lemas sambil sesekali mengusap air mata yang terjatuh .
__ADS_1
Rangga yang melihat ketulusan dari seorang Alexander pun terharu dan tak kuasa menahan air matanya juga. mereka saling berpelukan untuk saling menguatkan demi gadis yang sama sama mereka sayangi.