
Iqbal segera pergi dengan menaiki angkuta. karena Ratih tidak pernah menawarkan kendaraanya untuk di bawa. boleh di pakai jika memang untuk keperluan Tiara atau dirinya. Ratih memang terlihat sangat pelit. berbeda dengan Imel yang pemurah.
cuma karena Imel tidak banyak uang. jadi dia hanya membantu sebisanya.
Ratih saat tau bapak Iqbal masuk rumah sakit. boro boro menawarkan pinjaman biaya. menjenguk saja tidak pernah. memang tidak berharap seperti itu. setidaknya sebagai seorang bos harusnya memiliki empati sedikit untuk karyawan nya
...•••••...
Tok... tok ... tok...
"masuklah." terdengar suara sahutan dari dalam ruangan
Iqbal segera membuka pintunya dan menyembulkan kepalanya saat pintu itu belum sepenuhnya terbuka
"K..kau" gumam Syakila
Iqbal segera masuk dan segera mendekat kearah meja di mana Syakila berada
"saya datang kesini atas desakan mantan istri saya, jika saya harus bertanggung jawab dari semua rencana mantan istri saya." ucapnya
Syakila mengangguk lalu menatap Iqbal yang masih belum melanjutkan kata katanya
"Saya bersedia menikahi anda kapanpun anda siap, saya akan bawa orang tua saya pada orang tua anda. kapan saya bisa membawa mereka keorang tua anda?" tanya Iqbal
Syakila segera menghela nafas. beberapa detik kemudian Syakila berkata
"Datanglah besok malam, Saya dan orang tua saya akan menunggu keluarga anda "
"baiklah. kalo begitu saya permisi dulu. karena harus kembali bekerja"
Sepeeginya Iqbal
Diana langsung masuk menemui bosnya.
"bagaimana Sya, apa dia masih kukueh menolak.?"
"Tidak, aku meminta keluarganya untuk datang ke rumahku dan bicara pada ibuku tentang niatnya." jawabnya
"Syukurlah, aku merasa lega Sya, mereka menepati janjinya." kata Diana
...••••...
Ditempat yang beda
Seorang wanita tengah menikmati kesendiriannya di sebuah restoran. Tangannya sibuk memainkan benda pipih.
sesekali bibirnya menyunggingkan senyum.
Imelda, wanita itu tengah sibuk mencari tempat untuk berlibur selama 1 Minggu. sudah lama dirinya menginginkan liburan di sebuah pulau yang indah yang sangat terkenal.
Imelda mencari paket yang sederhana, karena dirinya masih ingin menghabiskan uangnya dengan pelan
Setelah mendapat penawaran harga lewat online. Imel segera mengeklik. setelah itu dirinya segera berdiri menyudahi ketenangan nya.
Brugghhh....
__ADS_1
Imelda meringis sambil tangannya memengang keningnya yang terkana jedutan dari seseorang.
"maaf nona, apa anda tidak apa apa?" tanyanya
"saya tidak apa apa, hanya ..."
"kening anda memar nona. silahkan duduk di sana saya akan mengobatinya." ucap pria yang memotong ucapannya Imelda
"tidak usah, saya tidak apa apa. ini hanya sakit sedikit." jawabnya
"ayolah nona jangan menolak. saya jadi merasa tidak enak."
Tak ada pilihan lain. Imelda pun mengikuti langkah pria yang sudah menabraknya
Pria itu segera memasuki ruang karyawan dan segera mengbil obat untuk membantu Imelda.
"silahkan duduk no..."
"Imelda, sebut saja nama saya Imel." ucap Imel yang memotong perkataan pria itu
"Ohh, ok.. Saya Herman. saya pemilik restoran ini." jawabnya
"ohh... salam kenal pak Herman." sapa Imel
"jangan pak, saya belum tua tua amat." candanya
Mereka pun ngobrol biasa. dan diselingi sedikit bercanda. mereka sudah sedikit akrab. Imel mulai memanggil Herman dengan sebutan mas Herman. karena Herman yang memintanya.
"ohh iya, saya permisi dulu. karena saya mau beberes." ucap Imel
"tidak saya berencana untuk liburan besok. dan saya harus membereskan pakaian saya " jawab Imel
"waaahh seru tu. liburan kemana?" tanya Herman
"saya mau ke pulau Lombok. saya melihat destinasi disana sangat bagus bagus."
"wahh kebetulan. saya juga ada perlu disana, bagaimana kalo kita berangkat bareng." usul Herman
Imel sedikit berpikir
Herman menyadari rasa ketidak nyamanan Imel
"oohh maaf mungkin anda mau pergi bersama suami? maaf saya tidak tau." ucap Herman merasa menyesal telah menawarkan dirinya menemani liburan
"saya .. saya belum bersuami." jawabnya
Imel terpaksa menyatakan jika dirinya nya belum bersuami. karena tidak ingin mengecewakan Herman
"masak sih, wanita secantik kamu belum bersuami?" tanya Herman menilisik
"iya, saya belum bersuami." jawabnya
ahirnya Imel pun menyetujui ajakan Herman.
...•••...
__ADS_1
"Bu, besok malam Ibu dan bapak, Iqbal aja melamar seorang wanita." ucap Iqbal saat mereka tengah berada di ruang makan
"melamar wanita? kau kan baru saja cerai Bal, masak udah mau nikah lagi." sahut bapaknya
"Iya pak, Iqbal harus segera menikahi wanita itu"
"Iqbal, apa kau telah berbuat kesalahan. sehingga Amel kecewa dan minta cerai dari kamu?" tanya bapak Iqbal
"tidak pak. Iqbal tidak melakuka. apapun. ini juga permintaan Imel."
"sebenarnya apa yang terjadi Bal, kenapa kau tiba tiba cerai dari Imel. dan sekarang kau mengajak kami untuk melamar wanita untuk kau jadikan istrimu? apa kau menghamili nya?" tanya bapak Iqbal lagi
sedangkan Bu Rahmi hanya diam sebagai pendengar setia dari obrolan suami dan anaknya.
"bapak, ibu.. sebenarnya Imel telah menukar Iqbal dengan uang pada wanita itu " terang Iqbal
"APAA....??" tanya orang tua Iqbal bersamaan. mereka sangat terkejut dengan pernyataan anak nya
Iqbal mengangguk,
"Jadi Imel telah menjualmu nak? keterlaluan dia," gumam bapak Iqbal yang tidak terima.
"Dia sudah mempermainkan sebuah pernikahan yang suci. bapak kecewa pada Imel." ucap bapak Iqbal lagi
"sudah lah pak. wong bapak juga mendapatkan uangnya juga. uang untuk biaya bapak itu dari Imel" Bu Rohmi menyahuti suaminya bicara.
Tentu saja Bu Rohmi sangat membela Imel. karena hanya Imel yang tau kesusahan mertuanya.
"tidak begitu juga Bu. jika bapak tau asal usul uang itu. bapak tak sudi menerima uang itu."
"Terus Imel sekarang di mana Bal?" tanya Bu Rohmi
"Iqbal tidak tau Bu. karena Iqbal sudah tidak pernah bertemu lagi setelah kemarin kami bertemu di pengadilan." jawab Iqbal
"kasian anak itu. sudah tidak memiliki orang tua. dan kini malah bercerai dari suaminya." gumam Bu Rohmi
"Bu, kau jangan membela Imel seperti itu. dia sudah merendahkan putra kita. putra kita dia perjual belikan seenaknya." ucap sang bapak
"pak, Imel tidak akan melakukan itu jika tak ada paksaan. ibu yakin wanita yang membeli Iqbal itu bukan wanita baik baik. orang dia tau jika Iqbal adalah suami orang. tapi kenapa dia mau membeli?" kesal Bu Rohmi
"Itu juga bukan semuanya salah wanita itu. Imel yang tak bisa menghargai suaminya." sahut bapaknya
"Pak, Bu.. sudah yaa jangan diributkan. mungkin memang perjalan rumah tangga kami harus seperti ini. Iqbal tidak apa apa Bu, pak." sela Iqbal agar kedua orang tuanya tidak lagi mendebat tentang rumah tangganya yang tidak bisa dirinya pertahankan.
Iqbal memang harus cerita itu. agar orang tuanya tidak menanyakan lagi tentang rumah tangganya. mereka adalah orang tua Iqbal. cepat atau lambat mereka juga akan tau kenapa bisa bercerai.
Iqbal segera beranjak dari tempat duduknya. dan segera masuk kekamar. Iqbal segera duduk di kursi dan mengambil foto foto dirinya bersama Imel.
Ponsel Iqbal berdering. Iqbal melihat siapa yang sudah melakukan panggilan selarut ini.
Ratihh... lirihnya
Iqbal segera mengangkat panggilan bos nya.
"Ya mbak, ada yang bisa saya bantu?"
__ADS_1
"Iqbal, tolong datang kerumah. Tiara Tiara tiba tiba pingsan." ucap Ratih