
Syakila mengerutkan keningnya. lalu melihat Imel dan beralih pada pria yang Imel anggap suaminya.
Dengan memberanikan diri Syakila pun melontarkan pertanyaan yang membuat pasangan suami istri itu seperti orang bodoh
"Apa kau yakin, jika kau adalah istri satu satunya?" tanya Syakila
Imel segera melihat suaminya dan mengangkat alisnya. Sedangkan Iqbal hanya mengangkat kedua tangannya tidak tau apa maksud dari pertanyaan wanita yang sudah bertemu dengannya secara kebetulan
"Maksud mbak Syakila?" Imel balik bertanya
"Aku pernah melihat dia bersama wanita lain di mall, dan tidak jauh dari mereka ada gadis kecil mungkin itu adalah anak mereka" Syakila menjelaskan.
"ohh.. itu bos suami saya mbak, dan anak kecil itu adalah anak bos suami saya." jawab Imel
Iqbal hanya diam tidak menanggapi ocehan dari wanita yang belum dia kenal. dalam hatinya bertanya "bagaimana mungkin, istrinya mengenal wanita yang punya kedudukan tinggi di perusahaan ini."
"kalo begitu ayo masuk." Sayakila kemudian mempersilahkan kedua tamu itu untuk memasuki ruangan
"Silahkan duduk." kata Syakila lagi.
"Mbak, saya ingin urusan ini cepat selesai," ucap Imel kemudian
Iqbal mengerutkan keningnya. "dek, kau punya masalah apa dengannya? apa kau telah berbuat kesalahan pada orang ini?" tanya Iqbal . Iqbal merasa menjadi suami yang tak berguna saja jika istrinya memiliki masalah dan dirinya tidak tau apa apa.
"tidak mas,"
"ok, saya akan panggil sekretaris saya dulu. untuk menyiapkan berkas dan uangnya." ucap Syakila
Syakila segera berjalan ke meja kerjanya. lalu segera menelpon seseorang yang terhubung dengan ruangan lain.
"Diana, cepat keruangan ku dan bawa surat perjanjian kemarin."
setelah selesei Syakila kembali duduk dan menatap pria yang dudu di samping Imel.
tak berapa lama Diana datang dengan membawa satu lembar kertas yang sudah di siapkan.
"silahkan tanda tangan di sini, dan ini uangnya." ucap Syakila
"dek ini... ini tanda tangan apa, dan uang ini, buat apa? kau mau pinjam uang padanya?" tanya Iqbal
__ADS_1
Syakila dan Diana saling memandang , kenapa Imel tidak bicara dulu dan terus terang pada suaminya? batin mereka
"mas,, maaf.. emmm . akuu.. kita akan segera bercerai." jawabnya kemudian
"apa apaan ini dek, cerai? kau bercanda kan?" tanya Iqbal
"mas nanti aku jelaskan dirumah. biar kan aku mengurus berkas berkas ini untuk aku tanda tanganni." ucapnya
Iqbal segera mengambil kertas itu. lalu membaca dengan sangat teliti.
"Dek, kau.. kau menjual suamimu demi uang 750 jt? kau ini apa maksudnya?" tanya Iqbal sambil menatap istri yang sangat di cintai.
"mas, aku harus melakukan ini. ini juga demi orang tuamu. aku juga bosan hidup seperti ini. tidak pernah kebagian uang hasil kerjamu." ucapnya. lalu segera mengambil kertas itu dan segera menandatangani.
"Saya akan segera mencereikan suami saya, mbak Syakila tenang saja." ucap Imel
"dek aku tidak akan pernah menyetujui itu semua dek. aku tak bisa mencintai wanita lain." Iqbal kembali berkata
"mas, aku sudah menandatangani ini semua. tolong jangan persulit aku."
"Sudah selesei. kuharap kau secepatnya urus perceraian kalian. karena aku tidak ingin menunggu terlalu lama. aku memberi waktu 1 Minggu untuk urus perceraian kalian." kata Syakila
"Saya pastikan. saya akan secepatnya urus perceraian saya mbak. saya permisi dulu." Imel segera menyusul suaminya
Seperginya Imel dan Iqbal
"gila, wanita itu benar benar sudah gila. demi uang dia rela menjual cinta suaminya untuk orang lain." rancau Diana.
Sedangkan Syakila hanya masih mencerna ucapan pria yang baru saja keluar. pria itu benar benar sangat mencintai istrinya.
"Jika memang pria itu tidak mau bercerai. sebaiknya aku tidak terlalu berharap banyak. akan aku anggap wanita itu berhutang uang padaku." kata Syakila dalam hati
"Sya,, apa kau yakin pria itu akan bercerai? aku malah berfikir pasti perempuan itu akan kembali dan mengembalikan uangnya." kata Diana kemudian.
"Aku tidak tau Di, dan sebaiknya kita lanjut bekerja."
Diana segera pergi dari ruangan Syakila.
...••••...
__ADS_1
"Mas, bapak butuh duit, ini berikan pada bapak. dan aku akan segera urus perceraian kita." ucap Imel
"Aku tidak akan bercerai dek. aku tidak akan hidup dengan wanita selain kamu. aku tidak bisa." jawab Iqbal
"terserah mas, tapi aku udah daftarkan perceraian kita pada pengacara. dan kau cukup menunggu sidang saja." kata Imel
Ternyata Imel sudah melangkah lebih ceoat. dia sudah mendaftar perceraian nya.
"mas tidak akan pernah tanda tangani surat itu." jawabnya
"kamu jangan egois mas, aku butuh bahagia, aku butuh liburan. aku tidak pernah menikmati hasil kerjamu. selama ini aku diam bukan karena aku menerima mas. tapi aku mencoba berdamai dengan keluargamu. aku mencoba menyikapi semua ini dengan hati yang tenang. kau jangan egois hanya memikirkan kebahagiaanmu. tapi juga pikirkan kebahagiaanku." ucap Imel yang mulai tidak terkontrol
"jadi selama ini... kau tidak bahagia bersama mas? kemana Imelku yang selalu bilang bahagia asal dekat denganku?" tanya Iqbal
"itu aku hanya tidak ingin terlalu mengharap yang tidak akan pernah aku bisa dapat. aku pura pura bahagia dan aku pura pura menjadi wanita yang tak banyak menuntut padamu mas, karena aku sadar kau tak akan mungkin bisa memenuhinya." lagi lagi kata kata Imel sangat menusuk hati Iqbal.
Wanita yang selalu dirinya agungkan akan sikapnya. wanita yang selalu di puja ibunya karena kebaikannya. itu ternyata hanya topeng saja.
"Ini semua baju mas sudah ada di sini. dan ini uang untuk biaya bapak dirumah sakit." ucapnya sambil wajahnya Imel palingkan.
jujur Imel sangat berat mengusir suaminya. apalagi suaminya itu adalah pria yang setia dan baik. mungkin Imel tidak akan pernah menemukan lagi pria seperti Iqbal
"dek, kau mengusirku?" tanya Iqbal
"iya. karena sebentar lagi kita bukan lagi menjadi suami istri." ucapnya
Dengan berat hati Iqbal segera mengangkat tas yang di dalamnya terdapat baju bajunya.
Airmatanya tak bisa ia tahan setelah berhasil memalingkan wajahnya dari istri tercintanya.
"Maafkan aku mas, jujur aku sangat mencintaimu. tapi aku tidak bisa hidup miskin seperti ini. aku pikir kau akan membahagiakanku dengan segenap kemampuanmu. tapi aku salah. kau lebih mengutamakan orang tuamu." tangis Imel pecah bersamaan denga suara petir yang menggelegar.
Imel segera membuka pintunya dan memastilan jika suaminya belum pergi dari rumahnya. lagi lagi Imel di buat tercengang. suami dan tas nya sudah tidak ada lagi.
"apa yang aku harapkan dari pria yang sudah ku usir. dia tak mungkin kembali untuk wanita sepertiku." gumamnya
"Semoga kau bahagia mas, dan akupun akan bahagia dengan kehidupanku."
...•••••...
__ADS_1
"Bal, dari mana kau dapat uang sebayak ini?"