
Langit semakin gelap, Matahari sudah menutup dirinya di balik awan hitam. seorang wanita masih berada di kantornya, setelah rapat tadi siang Syakila tau jika PT Dirtama sedang di ambang kebangkrutan. itulah kenapa pemasokan bahan baku sering terlambat.
Syakila berencana untuk membeli PT Dirtama, agar semuanya berjalan dengan lancar, Syakila butuh seseorang yang bisa mendukungnya.
"Sya, sudah malam. bukankah kau punya janji dengan keluarga?" tanya Diana, yang dari tadi masih memperhatikan ruangan bosnya itu masih ada kehidupan.
Syakila mendongak, lalu melihat jam yang ada di pergelangan tangannya
"iya, aku hampir lupa." jawabnya
Ponsel Syakila berdering, tertera nama yang tengah melakukan panggilan.
"iya ma," sapa Syakila
"sayang, kau masih di kantor? bukannya kau akan ada tamu malam ini?" tanya sang mama
"iya ma, ini Killa juga udah mau pulang." jawabnya
Syakila segera membereskan berkas berkasnya. lalu segera mengambil tas yang selalu di bawa untuk bekerja.
"Di, aku balek dulu ya," ucapnya
"ohh iya jangan lupa, sampaikan pada Pak Sofyan untuk mengaudit keuangan bulan ini." ucap Syakila yang sudah menghampiri meja Diana
"iya, ada lagi?" tanya Diana
"aku ingin besok pagi laporan itu sudah ada ruangan kerjaku." ucapnya
"siaapp bos akan saya laksanakan." sahut Diana, yang di angguki oleh Syakila. Syakila segera keluar dari kantor. dan segera menuju tempat parkir mobil.
...•••••...
"Assalamualaikum," sapa Iqbal sesaat setelah sampai di rumah Syakila.
"Wa'alaikumussalam." jawabnya
"silahkan masuk den. silahkan duduk sebentar lagi non" ucap Bil Siti pada keluarga Syakila
tak berapa lama Amelia keluar dan menyambut tamu putrinya.
"Selamat malam Bu," sapa Iqbal
"selamat malam," balas Amelia. laku menyalami ketiga Tamu putrinya.
"silah duduk." ucap Amelia
Mereka segera duduk.
__ADS_1
"Sebenar lagi Syakila pasti datang. masih lembur di kantor." kata Amelia
"iya, kami akan menunggu bu." Jawab Iqbal
Bik Siti keluar dengan membawa minuman hangat.
"Silahkan di minum." ucap Amelia
di halaman rumah.
terlihat seorang wanita tengatur nafasnya. jantungnya berdegup tidak karuan. entah bahagia atau grogi. sejujurnya Syakila bersyukur pria yang beberapa hari bertemu telah mengganggu pikirannya. ahirnya bisa ia dapatkan dengan sangat mudah.
Syakila segera memantapkan hatinya untuk segera masuk.
"Assalamualaikum.." ucap Syakila. kedua tangannya membawa berkas dan tas kantor.
"wa'alaikumussalam.." jawab Keempat orang yang ada di ruang tamu.
"ini dia Syakila, ayo sayang ini orang tua Iqbal." kata Amelia
Syakila segera menaruh berkas dan tasnya di atas meja kecil yang berada di pojo.
Syakila segera menyalami kedua orang tua Iqbal. lalu tersenyum pada Iqbal. sedangkan Iqbal segera memalingkan wajahnya untuk menunduk
Syakila tau akan perasan Iqbal. Dia menerima itu karena terpaksa. Syakila bukannya egois akan merebut suami orang. namun karena wanita itu sudah menukar dengan uang, dan wanita itu yang mengajukan nya sendiri.
"iya pak, banyak pekerjaan di kantor." jawabnya
sedangkan Bu Rohmi hanya menatap sinis pada Syakila. Bu Rohmi sama sekali tidak menyukai Syakila. entah kenapa, padahal disini yang jelas salah ada menantunya. Syakila hanya ingin membantu apa yang menjadi kebutuhan wanita itu.
"bapak, ibu dan mas Iqbal sehat semua kan?" tanya Syakila
"Kaki baik nak, walau bapak masih harus menjalani rawat jalan." jawab pak Pras atau bapak Iqbal.
Syakila mengangguk lalu menatap Iqbal yang hanya menunduk.
obrolan pun segera di ahiri. setelah bapak Iqbal mengucapkan kedatangan nya malam ini.
"Terimakasih Bu Amelia atas waktunya yang sudah di berikan pada kami. saya Iqbal Prastyo datang kesini bermaksud untuk menyambung kekeluargaan dengan Bu Amelia. saya datang kesini untuk menyunting putri ibu yang bernama Syakila Ibrahim."
"Saya terima niat baik nak Iqbal, saya serahkan semuanya pada putri saya Syakila, karena dia yang akan menjalaninya."
"bagaimana nak Syakila? apa kau menerima lamaran putra kami?" tanya pak Pras
Syakila terdiam menatap satu persatu orang ada di ruangan ini.
Iqbal merasa sangat deg degan. bukan karena dirinya mencintai Syakila. namun hawatir dirinya akan di tolak dan di permalukan. jika sampai Syakila mempermainkan dirinya. Iqbal sudah berniat akan menutu hatinya untuk siapapun. dan tak ingin berdekatan pada wanita manapun. kecuali ibunya.
__ADS_1
Syakila mengangguk lalu menunduk.
"Alhamdulillah,, terimakasih nak Syakila." ujar Pak Pras kemudian.
Syakila tersenyum pada pak Pras. pria tua yang sangat baik. hanya dia yang dari tadi mengajak ngobrol Syakila.
Pak Pras tau, Syakila tidak salah dalam hal ini. Iqbal juga pasti belum bisa menerima Syakila sepenuh hatinya.Pak Pras tau putranya itu sangat mencintai istrinya yang sudah membuangnya. Gimanapun kedua anak ini hanya di peainkan oleh mantan menantunya.
Setelah acara lamaran selesei mereka segera pindah keruang makan untuk makan malam bersama.
sesuai permintaan Syakila cukup di hidangkan menu seperti biasa. karena hawatirnya jika di hidangkan menu ala apa resto. keluarga calon suaminya tidak suka.
jadi malam ini hanya ada menu yang iada ada di saat lebaran.
...••••...
Keluarga Iqbal sudah sampai rumah. setelah menentukan hari pernikahannya. mereka segera pamit dari rumah mewah milik keluarga Syakila
Disinilah keluarga Iqbal saat ini duduk di ruang tamu sambil ngobrol
"ibu tidak yakin pada wanita itu. ibu hawatir kau hanya akan jadi pelayan dia saja nak." ucap Bu Rohmi
"ibu tidak boleh bicara seperti itu. jangan berpikir buruk pada gadis itu." kata pak Pras yang menasehati istrinya.
sedangkan Iqbal hanya diam. dari kemarin dirinya tidak pernah membela Syakila saat sang ibu menggunjingnya.
"lihat saja pak. masak jam segitu baru pulang. seharusnya seorang istri berdiam dirumah dan menunggu suaminya pulang. seperti Imel walau dia bekerja, tapi saat putra kita pulang dua sudah dirumah." sahut ibunya
"kalo soal itu, biarkan saja mereka berdua yang menyelesaikan. kita cukup memberi dia yang terbaik untuk keduanya." jawab pak Pras
"pak, Bu .. sudah nggak usah ngomongin dia. biarkan kita berjalan sesuai langkah kita." Iqbal kemudian memberi tanggapan tentang rumah tangga yang akan ia jalani.
"ya sudah. pokonya kamu jangan mau kalo di suruh suruh, kamu itu kepala keluarga dan kamu yang harus berkuasa di keluargamu." tegas sang ibu.
Bu Rohmi segera berdiri dan langsung menuju kamarnya. setelah itu sang suami menyusul.
"bapakbingatkan padamu, seperti nya Syakila anak yang baik, jangan kau lukai hatinya." nasihat pak Pras
"baik dari mana nya to pak. kalo orang baik itu usia segitu sudah memilki anak satu atau dua. hlaahh ini masak baru mau nikah, itupun dari membeli suami orang." cibir Bu Rohmi
"sudah Bune.. jangan mulai lagi." tegur pak Pras.
Hehhhh... Bu Rohmi menghela nafas dengan kasar
"bapak itu jangan tertipu dengan wajah polosnya." cibir Rohmi laku segera berjalan kedapur.
Sedangkan pak Pras hanya geleng geleng kepala.
__ADS_1