Kubeli Suamimu

Kubeli Suamimu
Istri Arrogant & sombong


__ADS_3

Syakila berbalik karena tidak tahan dengan kata kata pedas mertuanya. namun tanpa di sengaja Syakila menyenggol tangan Bu Rohmi yang sedang membawa gelas.


PRAANG...


Dada Syakila naik turun. ingin rasanya meluapkan segala kekesalan yang ada di hatinya. Namun lagi lagi Syakila berusaha meredam nya. bukan karena takut akan ocehan mertuanya. namun karena telinganya begitu panas saat Bu Rohmi mencelanya.


"Dasar... menantu sombong. mertuanya mau ambil minum saja di larang. menyesal saya sudah merestui kalian." geram Bu Rahmi


Syakila segera pergi meninggalkan mertuanya yang masih menjelek jelekkan dirinya.


terdengar suara wanita paruh baya yang bicara pada Bu Rohmi.


"biar saya saja Bu yang bersihin." ujar Bik Darmi


"Apa memang majikanmu itu seperti itu. arogant dan sombong?" tanya Bu Rohmi


"non Syakila baik kok Bu. mungkin hanya ibu saja yang belum mengenalnya." sahut bik Darmi


Brakk...


Syakila menutup pintu dengan sangat keras. Iqbal yang sedang berganti pakaian pun jadi terlonjak kaget.


"Aku ingin ke rumah mama. nggak tau mau sampai kapan. urusi ibumu di sini sampai ibumu bosan." ucap Syakila sambil membereskan pakaiannya.


"Ada apa Sya?" tanya Iqbal mulai gelisah. bagaimana mungkin dirinya bisa tinggall berdua di rumah megah ini hanya bersama ibunya. karena mereka berdua tidak punya hak sebenarnya disini. kalo bukan karena Iqbal berstatus suaminya


"Dek, mas mohon maaf atas perilaku ibu. mas akan mengantar ibu untuk pulang," jawabnya


"Terserah kamu mas, yang jelas selama masih ada ibu disini. aku lebih baik pergi." sahutnya


"Tolong ya, jangan tinggalkan rumah ini." bujuk Iqbal


"Mas, aku tetap mau tinggal bersama mama, aku mau menenangkan hati dan pikiran ku. jadi nggak usah larang aku." sahutnya.


Setelah selesai beberes Syakila segera menarik koper dan segera menyambar tasnya.


"Dek,, tunggu Dek. mas mohon tolong jangan pergi dari sini." Iqbal lagi lagi mencegah Syakila untuk pergi.


Namun karena Syakila sudah tidak tahan dengan mertuanya, Syakila tetap harus pergi.


"Iqbal,, apa yang kau lakukan? tidak pantas Seorang suami mengemis seperti itu." teriak Bu Rohmi

__ADS_1


Iqbal tak menghiraukan ucapan ibunya. dan tetap mengejar Syakila agar tidak pergi.


"Iqbal,," Bu Rohmi segera menarik tangan putranya.


"nggak pantas seorang suami berlutut dan memohon mohon seperti itu. kalo dia mau pergi. biarkan saja, paling nanti dia juga akan kembali lagi." sinisnya.


Syakila segera mengambil kunci mobilnya dan segera keluar dari rumah.


"Bik, saya titip rumah dulu ya, saya mau pergi." pamit Syakila pada bik Darmi


"baik Non. saya akan menjaga rumah non dengan baik." balas bik Darmi


"Ya begini niihh.. kalo tidak pernah mendapat didikan dari orang tua, bagaimana cara memperlakukan mertuanya dengan baik. jangan kan pamit sama mertuanya, bahkan dia tidak menganggap jika di sini ada mertuanya." cibir Bu Rahmi


"Ibu, jangan bawa bawa nama orang tua saya. orang tua saya sudah mendidik saya dengan sebaik baiknya. hanya ibu saja yang tidak bisa memperlakukan menantu dengan baik." sahut Syakila


"Dek, tolong jangan bicara seperti itu. ibu ini adalah ibu suamimu. jadi bicaralah yang baik pada ibu suamimu." tegur Iqbal


Syakila beralih menatap suaminya. lalu menyunggingkan senyum hambar.


"Karena aku masih menghargai ibumu adalah mertuaku mas. jadi aku hanya bicara sedikit agar ibumu tidak membawa bawa orang tuaku. asal kamu tau mas. mama ku sudah membesarkan aku denga. sebaik baik yang mama mampu. aku tidak rela jika ibuku di hina oleh ibumu." sahut Syakila


"Aku pergi mas. Assalamualaikum." pamitnya kemudian. tak lupa Syakila tetap mencium tangan suaminya. walaupun hatinya dalam keadaan nyesek


Syakila segera keluar dari gerbang dan segera melajukan di jalan raya bersama dengan mobil lainnya.


Air mata Syakila tak bisa untuk ditahan agar tidak keluar. dirasa semakin lama semakin deras air mata yang keluar , Syakila segera menepis dan menumpahkan segala sesak di dadanya.


"Aku nggak nyangka mas, seharusnya kau menasehati ibumu . bukan malah ikut memojokkan keluargaku. selama ini aku kurang baik apa sama kamu mas. aku berusaha menjadikan kamu pria terhormat, pria yang hidup dengan percaya diri. tapi apa.. kamu malah melukai hatiku berkali kali." lirihnya


...••••...


"ibu, seharusnya ibu jangan bicara seperti itu Bu. Syakila itu wanita yang baik." ujar Iqbal


"baik dari mana. kamu lihatkan pergi saja tidak pitam sama ibu. dia memang tidak pernah menyukai ibu, Iqbal." sahut Bu Rahmi


"ibu yang tidak menyukai Syakila. kalau ibu masih ingin tinggal disini bersama kami. ibu harus jaga sikap ibu." Iqbal kembali berkata dengan lembut sama ibunya. karena bagaimanapun juga Bu Rohmi adalah wanita yang sudah melahirkannya dan merawat hingga dewasa seperti ini


"istrimu yang tidak menyukai ibu. mungkin dia pikir ibu ini mata duitan. yang suka meminta duit. tapi Iqbal, ibu ini kan hidup sendiri. seharusnya kau ngertiin ibu dong." ujar Bu Rohmi


"ibu, Iqbal sudah berusaha ngertiin ibu. tapi ibu juga harus ngertiin iqbal dan Syakila Bu..." Saat Iqbal mau melanjutkan omongannya. namun tiba tiba ponsel Iqbal berdering

__ADS_1


Dertttt .. dertttt..


"Iya Hallo Diana. ada apa?"


"pak, bapak ada rapat pagi ini." sahut Diana


"Astaghfirullah.. ok ok . aku segera sampai."


"ibu, Iqbal ada meeting pagi ini. ibu dirumah ya, iqbal harus kekantor "


"iya , hati hati." jawabnya


...•••...


Sesampainya di kantor, Iqbal segera keluar dari mobilnya. dan segera menuju ruangannya. saat berada di lift, Iqbal di kejutkan oleh tepukan tangan di punggungnya.


"Iqbal," seru wanita itu


"mbak Ratih " gumamnya


"Hari ini kita ada meeting," ucapnya


Iqbal terheran saat Ratih mengatakan itu. Iqbal tidak tau jika meeting pagi ini adalah bersama Ratih.


"Santai saja Iqbal, cuma membahas pekerjaan kok, tidak ada yang aneh." jawabnya


"baiklah mbak. selamat datang di kantor kami. mbak akan di antar oleh Diana keruangan meeting nya." ungkap Iqbal. lalu segera menelpon Diana untuk menunggu di lift.


tak berapa lama lift pun berhenti dan mereka sudah sampai di lantai 3.


"Diana, antar Bu Ratih keruangan meeting. dan aku segera menyusul." ucapnya


"baik pak." jawab Diana


"Ohh ya pak, semua berkas sudah saya siapkan di meja ruangan bapak. bapak boleh revisi lagi." ujar Diana


Iqbal mengangguk lalu segera berjalan meninggalkan Diana dan juga Ratih.


Iqbal membuka map warna biru yang di bawa sekertaris Ratih beberapa Minggu lalu. namun baru kali ini Iqbal menyadari jika map itu adalah milik perusahaan Ratih.


Perusahaan Ratih mengajukan kerjasama. rencananya Ratih ingin membuka cabang mall, namun belum ada yang mendukung. makanya Ratih mengajukan kerja sama bersama PT Ghanesa Ibrahim. perusahaan yang terkenal tidak pernah memiliki masalah. dan semua keuangan berjalan dengan lancar.

__ADS_1


Untuk hal ini Iqbal tidak bisa memutuskan sendiri. karena ini ada hubungan perasaan istrinya. jika istrinya menyetujui maka Iqbal akan melakukan tanda tangan kerja sama. namun jika tidak setuju maka Ratih siap siap gigit jari.


__ADS_2