
3 hari sudah berlalu.
Iqbal dan juga Ratih sudah kembali dari luar kota. Iqbal pun tinggal bersama Ratih di rumah mewah Ratih.
"Ratih, buka pintunya." seru bu Rohmi dari luar gerbang.
Ratih yang tengah sibuk memasak pun tak menghiraukannya. Ratih memang mendengar teriakan ibu mertuanya, tapi malas untuk membuka pintu dan berjalan kedepan.
"Nyonya, apa saya buka pintu nya?" tanya Pelayan dirumah Ratih
"Tidak usah bik, biarkan saja dia diluar." jawab nya
Pelayan yang sudah bekerja dengan Ratih itu pun hanya menggelengkan kepalanya. Dalam hatinya pun berkata "Menantu durhaka." namun hanya dalam hati
Hingga beberapa menit kemudian, Iqbal datang bersama ibunya.
"Kenapa kau tidak membuka pintu untuk ibu Rat," tanya nya
"Ibu.. Oohh ibu ada disini, maaf Ratih nggak denger bu." jawabnya. Lalu berbasa basi menawarkan minum.
"Ibu mau es? Atau teh panas? Oohh ita ibu kan tidak boleh minum es, manis juga nggak boleh." ujarnya
"Bik, bawakan air putih hangat satu gelas untuk ibu" seru Ratih. Sedangkan Iqbal sudah masuk kekamar terlebih dahulu untuk berganti pakaian.
"Ibu lapar Rat, apa kau sudah memasak?" tanya Bu Rohmi
"Oohh iya, ibu sudah saya siapkan makanan di belakang bersama bibik. Nggak papa kan ibu makan di belakang." ujarnya
"hmmm.. Nggak papa." jawabnya walau terasa di paksa.
Ratih segera menyusul ke kamar bersama Iqbal. Ratih melihat Iqbal masih fokus pada pekerjaan.
"Iqbal, kau tidak istirahat?" tanya Nya seraya berjalan mendekati Iqbal
"Banyak kerjaan." jawab Nya.
"Kau sedang ngobrol dengan siapa?" tanya nya saat melihat ada obrolan lewat line
"Klien baru," jawab nya
"Aku udah masak, kapan kau akan mengantar ibu?" tanyanya
"Rat, ibu baru sampai loh." ujar Iqbal, Seraya memandang wajah istrinya dengan pikiran yang bingung.
"Ibu sendiri yang mau di antar pulang." sahutnya. lalu segera berdiri untuk mengambil baju ganti.
__ADS_1
"Ibu bilang begitu?" tanya Iqbal
"Iya, kau tau kan dari dulu aku sangat menyayangi ibu." kata Ratih seraya berlalu ke kamar mandi.
Iqbal pun segera menutup laptop nya, lalu berjalan keluar mencari ibunya. Iqbal mengambil kunci mobil dan segera menghampiri ibunya yang terdengar dari suaranya di arah dapur.
"Ibu, Ayo Iqbal antar pulang." ucap Iqbal seraya membuka almari yang biasa tempat menyimpan makanan.
"Kok pulang," gumamnya
"Bukankah ibu mau minta di antar pulang, sudah, ayo Iqbal antar, Karena setelah ini Iqbal harus lanjut kerja lagi." ucapnya
"Tapi ibu masih kangen sama anak ibu" rajuknya
"Bukankah ibu yang meminta untuk di antar pulang?" tanya Iqbal memastikan
"Mas, tunggu sebentar," ucap Ratih yang memotong ucapan ibu mertuanya saat akan menjawab pertanyaan dari putranya.
"Ada apa Rat?" tanya Iqbal
"Ini oleh oleh untuk ibu. dan ini Ratih sudah siapkan uang untuk satu bulan bu." ucap Ratih seraya mengangsurkan amplop coklat dan juga bingkisan oleh oleh
Bu Rohmi ragu untuk menerimanya, secara halus Ratih sudah mengusirnya dan menjauhkan dari anak nya sendiri.
"Ayo bu, di terima." ujar Ratih. Bu Rohmi memandang Iqbal yang masih fokus pada ponselnya. lalu beralih pada Ratih sang menantu. ahirnya tidak ada pilihan lain selain harus menerimanya.
Iqbal sudah berjalan lebih dulu untuk mengantar ibunya pulang. lalu disusul oleh bu Rohmi. bu Rohmi mengambil kembali tas besarnya yang berisi beberapa pakaian. niatnya dirinya mau menginap di rumah mewah milik menantu barunya. tapi ternyata sang menantu tidak mau menerima.
Didalam mobil Iqbal tetap fokus mengemudi. sedang Bu Rohmi sesekali menyeka air matanya.
Iqbal melihat gerakan tangan ibunya dari tadi lewat spion.
"Ibu ini kenapa sihh?" tanya Iqbal tiba tiba
"Iqbal, sebenarnya ibu itu pingin nginap di rumahmu." ucap
Iqbal mendesah dengan sikap ibunya. Iqbal tidak ingin ibunya itu kembali menghujat istrinya.
"Ibu, sebaiknya memang ibu itu tinggal di rumah ibu sendiri." ujar Iqbal
"Iqbal. sepertinya Ratih bukan wanita yang baik. dia tega mengusir ibu Iqbal." ujar Bu Rohmi
"Ibu ini, maunya apa sihh.. dulu Ibu sering membully Syakila, yang di mana menurut Iqbal Syakila adalah wamita yang baik. dan sekarang ibu ingin memisahkan lagi pernikahan kami. wanita yang mana lagi yang ingin ibu jodohkan pada Iqbal, bu?" tanya Iqbal
"Buksn begitu nak. ternyata Syakila dengan Ratih masih baik Syakila. Ratih di awal aja baik sama ibu." adunya
__ADS_1
"Ibu, sepertinya ibu ini tidak bisa berbuat baik pada istri Iqbal, sudah bu.. jangan membenci lagi istri Iqbal." ujar Iqbal
"Iqbal, kemarin itu ibu melihat cucu ibu." ucap nya
"Cucu? cucu darimana ibu?" tanya Iqbal
"Dari pernikahanmu dengan Syakila, ternyata cucu ibu sangat mirip dengan mu Iqbal." ucapnya
°°°°°°°
Syakila duduk di atas kursi kebesarannya. Pandangannya masih fokus pada laptop nya. Di sana Syakila tengah ngobrol dengan seseorang yang baru saja masuk di emailnya.
Bertanya tanya tentang pengajuan kerjasama. Syakila sedikit berhati hati karena kalau di lihat ini perusahaan baru.
Obrolan itu terus berlanjut. hingga sang pengirim obrolan itu memutuskan untuk membicarakan secara face to face.
Syakila pun mengiyakan pertemuan sore ini di sebuah restoran sekalian makan siang. Dan sekalian menjemput Shanum dari sekolah. Baru hari ini Shanum mulai sekolah di taman kanak kanak.
Syakila menaruh Shanum di full day, agar dirinya bisa fokus dengan pekerjaan dan Shanum juga bisa memilki teman di sekolah yang baru.
Syakila Melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, setelah di lihat waktu sudah menunjukkan di jam 2 siang, Syakila segera menutup laptop nya dan segera memasukkan kedalam tas laptop.
Syakila kekuar dari kantor dan tidak lupa menghampiri meja Diana sekertaris nya untuk berpamitan.
Disinilah Syakila berada.
setelah menjemput sang putri tercinta, Syakila segera menuju restauran yang sudah di reservasi oleh orang yang mengajak kerjasama.
"Bunda, Shan boleh minum es krim ya?" tanya Shanum. " Tapi sedikit yaa.. Bunda takut Shanum hachimm hachiimm." sahutnya
Syakila duduk berdampingan dengan Shanum. Seraya mengecek ponselnya. Menunggu seseorang untuk mengadakan pertemuan di sini.
"Heii.. " ucap Seorang pria dari belakang Syakila. Syakila seperti mengenal suara itu. Dan itu sangat tidak asing di telinganya.
Syakila berdiri lalu berbalik untuk melihat pria yang sudah menyapanya.
"Kau," gumamnya.
"iya ini aku, aku yang tadi ngobrol lewat line." ucap nya
"Untuk apa lagi kau menemaniku? Kita sudah tidak ada hubungan apa apa mas." ucap Syakila. Seraya membuang pandangannya pada kasir.
"Aku sengaja, aku ingin menemui putriku, maaf jika kau keberatan Sya, tapi dia juga putriku." ujar Iqbal
"Bunda, ini kan Ayah yang menolong Shanum pas mau jatuh." ujar Shanum dengan wajah yang terlihat girang.
__ADS_1
"Mas. Kau sudah memilki istri. Jadi sebaiknya kau hindari kami , aku tau istrimu sangat tidak menyukaiku. Jadi tolong jangan libatkan lagi kami pada masalah dan kecemburuan istrimu." ucap Syakila.