
...•••...
Sang surya menampakkan dirinya dari ufuk timur. memberi keindahan suasana pagi yang begitu cerah. secerah masa depan yang sudah ada di benak seorang wanita yang tengah menatap langit langit kamarnya. bangun pagi lebih nyaman ia rasakan. kepenatan dan juga kehawatiran itu mulai menghilang
Entah kenapa di saat malam tiba, akan selalu muncul bayangan bayangan gelap yang menghampirinya. namun saat pagi tiba Bayangan itu seolah pergi dan tergantikan oleh bayangan indah hari ini dan hari hari yang akan datang.
Tuhan menciptakan pagi hari ini dengan indah, maka mulailah dengan penuh keceriaan dan semangat.
Cukup dengan secangkir coklat panas dan senyuman manis berhasil membuat pagi menjadi sempurna. seolah bayangan bayangan hitam yang tadi malam menghampirinya hilang tanpa meninggalkan jejak.
Syakila segera beranjak dari tempat tidurnya. lalu segera mengambil benda pipih yang ada di nakas. Syakila mulai ngecek kembali ponselnya. siapa tau sang suami membaca dan segera membalas pesannya.
Namun wajah cerianya menghilang dan tergantikan dengan wajah murung. tiba tiba perasaanya mulai tidak karuan. hawatir akan terjadi dengan suami ataupun mertuanya.
Syakila segera menekan tombol merah pada layar ponselnya setelah kontak berhasil di klik.
Namun lagi lagi Syakila di buat kecewa. karena sang suami tidak ada menjawabnya.
Tak habis akal, Syakila segera menghubungi bik Darmi. biasanya jam segini bik Darmi sudah datang dan sudah mulai dengan kesibukannya di dapur.
Syakila mulai melakukan panggilan dengan nya. Hingga deringan ke 4 baru ada jawaban.
"Bik, bibik sedang apa?" tanya Syakila
"anu non, ini lagi di dapur masak untuk sarapan Bu Rohmi dan mas Iqbal." jawabnya
"mas Iqbal sedang apa bik?" tanyanya
"ada non, sedang duduk di teras, sambil ngopi." jawabnya.
"di rumah?" tanyanya dengan nada kecewa.
padahal istrinya sejak dari malam sudah berusaha menelpon. tapi nggak ada sahutan. batinnya
"Ya sudah bik. tolong sampaikan ke mas Iqbal untuk membuka ponselnya." ucap Syakila
"baik Non. akan segera saya sampaikan." jawabnya.
Syakila segera menaruh ponselnya kembali, setelah itu menikmati coklat yang sudah mulai mendingin
...••••...
Ditempa yang berbeda,
Iqbal duduk sambil mempelajari berkas yang kemarin di bawa.
"Mas Iqbal, non Syakila ingin ngobrol dengan mas Iqbal." ucap Bik Darmi
Iqbal mengerutkan keningnya. "kenapa tidak menelpon saya, malah menelpon bibik." ujarnya
"Nona sudah menghubungi mas Iqbal sejak tadi malam. namun mas Iqbal tidak menjawab dan juga tidak membalas pesannya." jawab Bik Darmi
__ADS_1
"Ya Tuhan.." gumamnya
Iqbal lupa setelah dari rumah Syakila, Iqbal tidak lagi membuka ponselnya. Iqbal segera masuk kemobil dan mencari keberadaan ponsel miliknya. namun tidak menemukannya. setelah itu Iqbal kekamar dan mencarinya. namun juga tidak menemukan ponsel itu.
"di mana ponselnya." gumamnya
karena tidak menemukan nya. Iqbal segera memanggil bik Darmi untuk meminjam sebentar ponsel milik bik Darmi.
Setelah terhubung, Iqbal menjekas jikavl dirinya tidak menemukan ponsel yang di cari.
...•••...
Iqbal mengendarai mobilnya menuju kantor.
Sesampai di kantor Iqbal di kejutkan dengan kehadiran Imel.
Imel sudah menunggu di lobi.
"Sebenarnya apa sih yang kamu inginkan Mel? kau tau kan jika mantan suamimu itu itu hidup bahagia bersama Syakila." ujar Diana, Diana tidak menyukai Imel, sejak wanita itu dengan kata tegas dan penuh keangkuhan ingin menjual suami yang baik.
"saya hanya ingin ngobrol sebentar mbak Diana, dan ini semua tidak ada sangkut pautnya dengan mbak Diana " jawabnya
"Dengar yaa,, jelas ada sangkut pautnya denganku. Iqbal itu suami sahabatku, jadi aku wajib melindungi dia dari wanita berbulu seperti kamu." ucap Diana tidak suka
"apa maksud mbak saya wanita berbulu?" tanya Imel
"perlu ku jelaskan hmm.." tanya Imel
"Iya, karena saya bukan wanita berbulu." sahutnya
"saya tidak merebut mbak. saya hanya ingin membeli mas Iqbal lagi." katanya
"Imel,,, apa maksudmu.. kau pikir aku ini barang yang mudah di perjual belikan. aku ini manusia yang punya hati, jadi jangan menganggap aku adalah barang yang kau buang dan kau ambil sesukanya." ucap iqb tiba tiba. sejak tadi Iqbal mendengarkan obrolan dua wanita yang ada tidak jauh dari dirinya berdiri
"mas,,, bukan itu maksudku mas." bela Imel
"lalu apa? maaf aku masih banyak kerjaan." ucapnya
"mas, beri aku sedikit waktu untuk ngobrol denganmu. cuma sebentar aja." mohonnya
"maaf Imel, aku masih sibuk." tolaknya
"Mas,, Aakkk..." pekik Imel
"Imel, apa yang terjadi?" tanya Iqbal
"mas,,, aku tidak tau kenapa. tiba tiba perutku sakit." jawabnya
Iqbal ikut panik, lalu melihat kearah di mana Diana berada. sedangkan Diana hanya mengedikkan bahu acuh.
"Ayo, mas antar kerumah sakit." ucap Iqbal kemudian.
__ADS_1
Diana tidak percaya dengan penuturan Iqbal, bagaimana bisa, pria ini lebih percaya pada wanita berbulu. batin Diana
"aduuhh mas, aku nggak kuat berjalan." ringisnya
Iqbal kembali melihat Diana yang masih berdiri di dekatnya. Iqbal hanya ingin Diana membantu untuk memapah saja. namun sepertinya Diana memang tidak ada inisiatif untuk menolong.
Karena tidak tega melihat raut wajah Imel yang sedang merasakan kesakitan. Iqbal segera memapah keluar dan membawa Imel kedalam mobilnya.
"Sakitt mas,," ringisnya lagi
"Iya Mel, kau tenang saja. aku akan membawamu kerumah sakit." jawabnya
tak berapa lama mereka sudah sampai di rumah sakit. Imel segera di bawa kedalam oleh petugas rumah sakit dengan kursi roda.
"Bapak tunggu di sini dulu ya, biar kami periksa." ucap seorang wanita berjas putih.
"iya dok." Iqbal mengangguk
Iqbal menunggu di depan rawat UGD . ada rasa kasian juga terhadap mantan istrinya itu. ternyata kehidupannya jauh dari kata baik baik saja.
Tak berapa lama sang dokter keluar.
"Bapak suaminya?" tanya dokter cantik
"saya.. saya saudaranya dokter." jawabnya
"lalu suaminya?" tanya nya
"Ada apa dokter?" tanya Iqbal
Dokter itu menatap Iqbal. ragu ingin memberikan keterangan. pasalnya dia hanya saudara
"kami sudah seperti adik dan kakak dokter. katakan saja." ujar Iqbal
"Baiklah.. sepertinya ibu itu, berusaha untuk menggugurkan kandungannya. karena ada bercak darah yang keluar. tapi kami masih akan mengecek kembali jenis obat apa yang di konsumsinya. karena jika usahanya gagal saya takut janinnya akan bermasalah." ucapnya
"baik dokter, lakukan yang terbaik buat janin dan ibunya." kata Iqbal
"Saya akan berusaha." jawabnya
...•••...
Syakila berhenti di parkiran perusahaan. hari ini Syakila ingin mengajak suaminya untuk membeli handphone baru.
Syakila melangkah dengan sangat pelan. lalu segera memasuki gedung yang sudah di anggap rumahnya sendiri. bagaimana tidak begitu? jika setiap hari Syakila di gedung ini Berjam jam.
"Selamat siang Bu Syakila." sapa beberapa karyawan.
Syakila hanya membalas dengan senyum seperti yang sering dia lakukan.
Syakila memasuki lift dan segera menekan tombol 3.
__ADS_1
"Syakila," Diana terpekik saat melihat kedatangan sahabatnya.
"Ada apa Di.. kok kaget gitu." tanyanya